Tatacara Upakara dan Mantra Melakukan Pasupati


Download Semua Konten PDF – 12 Bulan

Rp 100.000,00

Total: Rp100.000,00


Contoh PDF hasil dari download
Klik disini

  • Donasi untuk download semua konten yang ada di website ini ke versi PDF.
  • Hak akses download berlaku untuk 12 bulan.
  • Konten akan terus ada penambahan, dan anda bebas untuk download konten baru (selama akun aktif).
  • Pastikan menggunakan Email aktif untuk konfirmasi akun.
  • Pembayaran dengan Transfer Bank
  • Aktivasi akun mak. 1×24 jam setelah pembayaran. Mohon melakukan konfirmasi dengan membalas email jika sudah melakukan pembayaran. Tanpa konfirmasi, pihak admin tidak dapat mengetahui jika sudah ada pembayaran.

Masyarakat Bali masih melakukan konsekrasi seni atau pensakralan seni di era modern. Eksistensi seni budaya Bali harus diakui sangat terkait dengan agama Hindu. Salah satu faktor penting keterkaitan antara agama Hindu dengan seni budaya Bali adalah adanya proses konsekrasi terhadap seni budaya tersebut. Konsekrasi yang dimaksud adalah proses menjadikan seni budaya itu sesuatu yang suci dengan cara pasupati, pamelaspas, pamarisudhan, pawintenan, dan sejenisnya.

Jika dilihat dari kata Pasupati sendiri, merupakan kata yang mengandung makna mistisisme yang dalam. Secara umum Pasupati atau pemasupatian dapat dimaknai sebagai sebuah proses pensakaralisasian benda, sehingga benda yang akan dipasupati diyaknini memiliki kekuatan megis atau supranatural. Kekuatan yang ada dalam benda setelah dipasupati inilah diyakini dapat memberikan perlindungan, keselamatan, kekuatan bahkan dapat menghalau segala macam penyakit dan segala rintangan.

Dalam mistisime Sivaistik, Pasupati dapat diartikan sebagai Tuhan Shiva sebagai penguasa dari segala sifat hewan, sebab kata pasu sendiri berarti ‘binatang’ dan pati berarti ‘penakluk atau penguasa’. Kita sering melihat bahwa dalam setiap tempat pemujaan Shiva, pasti di depannya ada arca Lembu Nandini (Sapi jantan) dan linggam. Keberadaan lembu ini mungkin hanya kita pahami sebatas sebagai wahana Dewa Shiva, akan tetapi Lembu Nandini tersebut ladalah lambang pasu, dan pasu adalah jiwa. Sedangkan lingam adalah lambang Shiva.

Mistisisme Sivaistik menekankan untuk mencapai kemanunggalan antara pasu (jiwa) dengan lingam (Shiva). Mistisisme Sivaistik juga menyatakan bahwasannya orang-orang yang masih dalam keadaan terikat oleh segala macam keinginan, rasa kepemilikan, egoisme, maka mereka dapat disebut Pasu, akan tetapi jika mereka dapat melepaskan belenggu tersebut maka mereka layak disebut sebagai Pasupati atau Nandiswara. Dan mereka sangat layak diberikan penghormatan sebagai orang suci. Dengan kata lain, orang yang sudah dapat menguasai sifat kebintangan dalam dirinya, maka orang tersebut dapatlah dikatakan orang yang sudah dipasupati.

Pada era modern, aktivitas pasupati sangat berbeda dengan makna pasupati yang lebih filosofis. Konsekrasi seni dilakukan untuk tujuan menkonsumsi citra dan image sakral dalam benda tersebut. Hal ini menunjukkan karakteristik masyarakat posmodern yakni mengkonsumsi simbol dan tanda sakral. Masyarakat tidak lagi mengkonsumsi benda lantaran memiliki nilai guna dan tukar, tetapi karena memiliki nilai simbolik.

Upacara Pasupati bermakna pemujaan memohon berkah kepada Hyang Widhi (Sang Hyang Pasupati) untuk dapat menghidupkan dan memberikan kekuatan magis terhadap benda-benda tertentu yang akan dikeramatkan. Dalam kepercayaan umat Hindu (ajaran Sanatana Dharma) di Bali, upacara Pasupati merupakan bagian dan upacara Yadnya. Proses pasupati bisa dengan hanya mengisi energi atau kekuatan tuhan atau menstanakan sumber kekuatan tertentu di dalam benda tertentu. Tergantung kemampuan orang yang melakukan upacara pasupati tersebut. 

Upacara Pasupati Tumpek Landep

Salah satu hari suci agama Hindu yang cukup istimewa adalah Tumpek Landep yang jatuh setiap 210 hari sekali tepatnya pada setiap hari Saniscara Kliwon wuku Landep.

Secara umum untuk merayakannya, masyarakat Hindu menggelar kegiatan ritual untuk benda-benda dan teknologi, yang berkat jasanya telah mampu memberikan kemudahan bagi umat dalam mencapai tujuan hidup. Utamanya adalah benda-benda pusaka, semisal keris, tombak, sampai kepada kendaraan bermotor, komputer, dan sebagainya.

Disamping hal tersebut, sesungguhnya hari suci Tumpek Landep merupakan hari Rerahinan gumi dimana umat Hindu bersyukur kepada Ida Sang Hyang Widhi yang telah memberikan kecerdasan, pikiran tajam serta kemampuan yang tinggi kepada umat manusia (Viveka dan Vinaya), sehingga mampu menciptakan berbagai benda yang dapat memudahkan hidup termasuk teknologi. Mesti disadari, dalam konteks itu umat bukanlah memuja benda-benda tersebut, tetapi memuja kebesaran Tuhan.

Menurut keyakinan Hindu khususnya di Bali segala sesuatu yang diciptakan oleh Ida Hyang Widhi mempunyai jiwa, termasuk yang diciptakan oleh manusia mempunyai jiwa/kekuatan magis dengan cara memohon kehadapan Sang Pencipta menggunakan upacara Pasupati. Seperti contohnya yaitu benda yang disakralkan berupa Pratima, keris, barong, rangda, dan lain-lain.

Penggambaran hubungan manusia dengan Tuhan dapat melalui permohonan doa, dalam kesucian pikiran ada kekuatan magis. Secara simbolik upacara Pasupati berarti memberkahi jiwa (kekuatan magis) pada benda-benda budaya yang mempunyai nilai luhur.

Dalam rangka sakralisasi maupun penyucian suatu benda seperti keris, barong, arca, pratime, pis bolong dan lain-lain harus melalui upacara prayascita dulu yang bermakna menghilangkan noda/kotoran yang melekat karena proses pembuatan benda tersebut.

Upacara pasupati sebagai media sakralisasi, bervariasi menurut desa, kala dan patra masing-masing desa di Bali.

Sarana Upacara Banten Pasupati

Dalam setiap upacara; maka keberadaan upakara tentu tidak dapat dikesampingkan, demikian pula halnya ketika umat Hindu melaksanakan upacara Pasupati saat  hari Tumpek Landep.

Adapun sarana/upakara yang dibutuhkan dalam pasupati saat Tumpek Landep, yang paling sederhana adalah canang sari, Dupa Pasupati dan tirtha pasupati.

Yang lebih besar dapat menggunakan upakara Banten Peras, Daksina atau Pejati.

Dan yang lebih besar lagi biasanya dapat dilengkapi dengan jenis upakara yang tergolong sesayut, yaitu Sesayut Pasupati dengan kelengkapan banten prayascita, sorohan alit, banten durmanggala dan pejati.



Baca Juga

Beryadnya dengan Sharing

Tak akan Mengurangi Pengetahuan