Tatacara Upakara dan Mantra Pasupati saat Tumpek Landep


Pasupati Lontar dan Sastra Lainnya saat Tumpek Landep

Di bawah ini diuraikan urutan-urutan pelaksanaan pasupati Prasasti Lontar ataupun untuk cakepan dan sastra lainnya yang sangat sederhana (nistha) dan dapat diselesaikan oleh seorang pemangku. Sebelum upacara dimulai, terlebih dahulu diadakan persiapan.

Persiapan Sarana

1. Menyiapkan dupa beberapa bungkus
2. Bahan-bahan yang diperlukan untuk membuat Tirtha pemlaspas, yaitu :
  • air bening (boleh ditempatkan dalam gelas atau mangkok yang baru),
  • bunga lima warna, yaitu : putih, merah, kuning, hitam, dan mancawarna,
  • samsam, yaitu dibuat dari daun dhadhap yang diisi dengan air cendana dan parfum, dan
  • beras kuning
  • Semua bunga, samsam, dan beras kuning tersebut dimasukkan ke dalam air.
3. Bantn atau sesaji pmlaspas yang terdiri dari : peras, daksina, ajuman, dan tebasan.
4. Banten masegeh yang terdiri dari :
  • segahan lima tanding yang berisi sepotong bawang dan jahe,
  • sepasang canang,
  • sepasang canang base tampel yang diisi beras sedikit,
  • air bening (boleh ditempatkan dalam gelas dan disediakan mangkok dari daun pisang), dan
  • tuak kelapa (boleh ditempatkan dalam botol).

Pelaksanaan

1. Menghaturkan asap dengan sikap duduk.

Pemangku memegang dupa yang sudah dibakar, kedua tangan diletakkan di depan dada. Membaca mantra :

Ong, asep menyan majagahu, asep cendana mewakji, mrik sumirit ambu nin menyan kasturi ka ksa lawan prthiwi.
Artinya:
Ong, asap menyan majagahu, asap cendana mewangi, harum semerbak bau menyan kasturi ke angkasa dan ke bumi.

 

2. Membuat tirtha pemlaspas

Caranya : mengambil persiapan yaitu air yang sudah diisi dengan bunga, samsam, dan beras kuning (seperti sebelumnya). Sikap memegang gelas seperti memegang dupa tadi. Membaca mantra :

Ong, hyang paramawisesa, mkrtisakti, ahkurip sahananin sarwa tumuwuh ring bhuwana kabeh, ring wetan gne daksina, nairtya pascima, wyawi uttara, isaña, madhya, ring sor, ring luhur kahurip de nira hyang paramawisesa mkrtisakti, mapupul dadi sawiji, matmahan sang hyang hayu saraswati asri, apasang hanâmrta kiwana ahurip jnarya bhatara guru asung nugraha, salwirin winakun mwang pinuja de ikhulun, pkrnajati tan pamiruddha.
Artinya:
Ong wastu siddhir astu namas swaha.’Ong, Hyang Paramawisesa yang berbadan sakti yang telah memberi hidup semua makhluk di dunia (baik yang ada) di Timur, Tenggara, Selatan, Barat Daya, Barat, Barat Laut, Utara, Timur, Tengah, Bawah, dan Atas. (Semua makhluk itu) dihidupkan oleh Sang Hyang Paramawisesa yang berbadan sakti. (Semua makhluk itu) berkumpul menjadi satu menjadi Sang Hyang Ayu Saraswati yang cantik yang jika berpasangan dengan tirtha di sebelah kiri, maka dia menjadi hidup. (Tempat memujanya) di kaki Bhatara Guru yang memberi anugerah. Semua yang kubangun dan kupuja menjadi sempurna tanpa kekurangan. Ong, duhai sembah serta puja kepada Yang Sempurna’.

Selesai mengucapkan mantra lalu :

  • mengambil samsam dan beras kuning yang ada dalam air itu, lalu dioles-oleskannya pada prasasti-lontar tersebut,
  •  memercikkan air yang ada dalam gelas tadi dengan menggunakan bunga pada sesaji dan prasasi-lontar tersebut.

 

3. Melaksanakan Pasupati
Prasasti-lontar yang akan dipasupati sejak awal diletakan di dekat sesaji dengan memakai alas dulang. Membaca mantra :
Ong, brahmamkrti, wisnumkrti, siwamkrti, pasupati bajrâgniyas-traya namah.
Artinya :
Ong, sembah kepada perwujudan Brahma, perwujudan Wisnu, dan perwujudan Siwa (yang ketiganya menjadi satu) Pasupati yang bersenjata panah bajragni.
 
4. Menghaturkan banten pemlaspas
yaitu sesaji yang terdiri dari pras, daksina, ajuman dan tebasan.
mantranya :
pukulun hyang tiga wisesa mkrtisakti, manusa Katurin banten pamlaspas suddha parisuddha. Ong bhkmi ginawe suddha, suddha bhkmi suddha kayu, suddha dewata dewatamkrti hyang, suddha papa hana n swarga, akanti sor suddha, suddha mala, sari-sarin tuwuh.
Ong suddhya namah swaha.
Artinya:
O Dewa yang menguasai tiga dunia yang berbadan sakti, manusia menghaturkan banten untuk membersihkan menjadi bersih (dan) bersih sekali.
Ong, bumi dibuat bersih, bumi bersih, pohon bersih, dewa yang perwujudannya sebagai dewa-dewa bersih dari noda, di sorga sampai bawah bersih, bersih dari nodanya noda, itulah inti sarinya kehidupan.
Ong, duhai sembah kepada Yang Bersih.
 
5. Masegeh
Caranya : mengambil sesaji yaitu segahan 5 tanding yang berisi bawang dan jahe, lalu diletakkan di atas lantai menurut arah mata angin dan yang sebuah lagi diletakkan di tengah. Canang, canang base tempel dan beras diletakkan di depannya, lalu diisi dupa yang sudah dibakar. Setelah itu diperciki air suci tadi. Membaca mantra :
ih sang bhuta saKa pati, sawa wigraha, iki tadah saji nira sowang, aja elik salah gawe, poma, poma, poma.
Artinya:
Wahai yang merajai makhluk di sembilan penjuru, yang dapat menghasilkan segala macam (kesalahan) ini makanlah masing-masing sesajinya. Jangan dicela (bila ada) kesalahan pekerjaan, poma, poma, poma.
 
6. Sembahyang
Setelah prasasti-lontar tersebut menjadi sakral, keluarga pemiliknya bersembahyang menghadap ke arah prasasti-lontar yang baru saja diupacarai tersebut tiga kali yang ditujukan kepada Dewi Saraswati.
Membaca mantra :
Mm, brahma putri dewi, brahmanyo, brahmawandini, saraswati sdhya dhryanam, prajñanasaraswati.
Artinya :
Om, putri Brahma, istri Brahma, (adalah) Saraswati. Semua tujuan yang harus dipegang teguh untuk Saraswati Dewi Kebijaksanaan.
 



Beryadnya dengan Sharing

Tak akan Mengurangi Pengetahuan

Baca Juga