Tatacara Upakara dan Mantra Pasupati saat Tumpek Landep


Masyarakat Bali masih melakukan konsekrasi seni atau pensakralan seni di era modern. Eksistensi seni budaya Bali harus diakui sangat terkait dengan agama Hindu. Salah satu faktor penting keterkaitan antara agama Hindu dengan seni budaya Bali adalah adanya proses konsekrasi terhadap seni budaya tersebut. Konsekrasi yang dimaksud adalah proses menjadikan seni budaya itu sesuatu yang suci dengan cara pasupati, pamelaspas, pamarisudhan, pawintenan, dan sejenisnya.

Jika dilihat dari kata Pasupati sendiri, merupakan kata yang mengandung makna mistisisme yang dalam. Secara umum Pasupati atau pemasupatian dapat dimaknai sebagai sebuah proses pensakaralisasian benda, sehingga benda yang akan dipasupati diyaknini memiliki kekuatan megis atau supranatural. Kekuatan yang ada dalam benda setelah dipasupati inilah diyakini dapat memberikan perlindungan, keselamatan, kekuatan bahkan dapat menghalau segala macam penyakit dan segala rintangan.

Dalam mistisime Sivaistik, Pasupati dapat diartikan sebagai Tuhan Shiva sebagai penguasa dari segala sifat hewan, sebab kata pasu sendiri berarti ‘binatang’ dan pati berarti ‘penakluk atau penguasa’. Kita sering melihat bahwa dalam setiap tempat pemujaan Shiva, pasti di depannya ada arca Lembu Nandini (Sapi jantan) dan linggam. Keberadaan lembu ini mungkin hanya kita pahami sebatas sebagai wahana Dewa Shiva, akan tetapi Lembu Nandini tersebut ladalah lambang pasu, dan pasu adalah jiwa. Sedangkan lingam adalah lambang Shiva.

Mistisisme Sivaistik menekankan untuk mencapai kemanunggalan antara pasu (jiwa) dengan lingam (Shiva). Mistisisme Sivaistik juga menyatakan bahwasannya orang-orang yang masih dalam keadaan terikat oleh segala macam keinginan, rasa kepemilikan, egoisme, maka mereka dapat disebut Pasu, akan tetapi jika mereka dapat melepaskan belenggu tersebut maka mereka layak disebut sebagai Pasupati atau Nandiswara. Dan mereka sangat layak diberikan penghormatan sebagai orang suci. Dengan kata lain, orang yang sudah dapat menguasai sifat kebintangan dalam dirinya, maka orang tersebut dapatlah dikatakan orang yang sudah dipasupati.

Pada era modern, aktivitas pasupati sangat berbeda dengan makna pasupati yang lebih filosofis. Konsekrasi seni dilakukan untuk tujuan menkonsumsi citra dan image sakral dalam benda tersebut. Hal ini menunjukkan karakteristik masyarakat posmodern yakni mengkonsumsi simbol dan tanda sakral. Masyarakat tidak lagi mengkonsumsi benda lantaran memiliki nilai guna dan tukar, tetapi karena memiliki nilai simbolik.

Upacara Pasupati bermakna pemujaan memohon berkah kepada Hyang Widhi (Sang Hyang Pasupati) untuk dapat menghidupkan dan memberikan kekuatan magis terhadap benda-benda tertentu yang akan dikeramatkan. Dalam kepercayaan umat Hindu (ajaran Sanatana Dharma) di Bali, upacara Pasupati merupakan bagian dan upacara Yadnya. Proses pasupati bisa dengan hanya mengisi energi atau kekuatan tuhan atau menstanakan sumber kekuatan tertentu di dalam benda tertentu. Tergantung kemampuan orang yang melakukan upacara pasupati tersebut.




Beryadnya dengan Sharing

Tak akan Mengurangi Pengetahuan

Baca Juga