Bhatara Guru

Kaputusan Bhatara Guru – Ajaran Tertinggi Tentang Kesucian Diri


Historiografi dan Transmisi Ajaran

Lontar Kaputuran Bhatara Guru mencatat sejarah transmisi ajaran Aji Sabda Tunggal yang diwariskan secara rahasia lintas generasi, berawal dari peradaban di Bumi Sumedang, berlanjut ke era Majapahit, hingga akhirnya berkembang di pulau Bali.

Kisah transmisi ini diabadikan melalui peristiwa bersejarah di kerajaan Majapahit, ketika Sri Dalem yang bertakhta berkeinginan luhur untuk mengetahui hakikat sejati dari ajaran Sabda Tunggal. Beliau mengumpulkan seluruh pendeta kerajaan dan ahli aksara suci (nyastakara) untuk menanyakan rahasia tersebut. Namun, tidak ada satu pun pendeta kerajaan yang mampu menjawab rasa penasaran sang raja. Para pendeta kemudian menyarankan Sri Dalem untuk memanggil seorang pertapa suci berkelayakan indra keenam (dibya caksu) dari wilayah utara yang bernama Sang Kaler.

Ketika dipanggil menghadap, Sang Kaler dengan jujur mengakui keterbatasan pengetahuannya dan menyatakan bahwa sosok yang benar-benar menguasai rahasia terdalam ajaran Aji Sabda Tunggal adalah Sang Sinuhun Kidul. Sri Dalem kemudian mengutus utusan untuk menghadirkan Sang Sinuhun Kidul ke hadapan takhta kerajaan. Pada saat itulah, Sri Dalem diberikan penglihatan gaib yang membuktikan otoritas spiritual Sang Sinuhun Kidul :

  • Ketika Sri Dalem memandang ke arah langit utara, tampak oleh beliau Sang Sinuhun Kidul melayang-layang di angkasa dengan mengendarai seekor angsa putih.
  • Ketika Sri Dalem mengalihkan pandangannya ke bawah bumi, penglihatan beliau menembus hingga ke dasar bumi lapis tujuh (sapta patala), menyaksikan Sang Sinuhun Kidul sedang menunggangi Naga Bhumi.
  • Ketika Sri Dalem memandang ke arah angkasa luar, pandangannya menembus hingga ke langit lapis tujuh (sapta langit), melihat golongan dewa-dewati sedang memuji bhatara dan menunjukkan bakti suci mereka seperti saat mereka masih hidup di dunia nyata.

Di dalam visi spiritual tersebut, Sri Dalem juga menyaksikan dengan jelas kehadiran Sang Sinuhun Kidul bersama daya kesadaran I Kulisah serta jalannya brata yang dilaksanakan oleh para dewa. Sang Sinuhun Kidul kemudian memaparkan bahwa ajaran Sabda Tunggal ini merupakan pusaka spiritual tertinggi yang disebut sebagai Sang Hyang Licin. Ajaran inilah yang menjadi rahasia kekuatan para raja Jawa sehingga mereka mampu memahami suara surga dan menyatukan sabda ketuhanan di dalam dirinya.

Menyaksikan kedahsyatan visi spiritual tersebut, Sang Kaler (pendeta utara) merasa sangat malu karena menyadari bahwa laku spiritualnya selama ini tidak mencerminkan jalan kebenaran yang sejati.

Sang Kaler kemudian memutuskan untuk pergi meninggalkan lingkungan istana Majapahit dan menyeberang ke pulau Bali. Di Bali, ia menetap di wilayah Swecapura (Gelgel) dan dipuja oleh Sri Dalem Bali karena kemahirannya yang luar biasa dalam mempraktikkan ajaran yoga tingkat tinggi (siddhi yoga) serta penguasaan kekuatan mantra (japa mantra).

Sang Kaler akhirnya dinobatkan sebagai guru suci duniawi (guru lokaning rat) dengan gelar kebesaran Sang Wawu Rauh.

Kisah sejarah ini memberikan legitimasi kuat bahwa ajaran esoterik yang berkembang di Bali memiliki akar sejarah mistik yang mendalam dari peradaban Jawa Kuno.


Sumber Lontar :
Ida Wayan Kompyang
Griya Tengah Budakling, Karangasem.


HALAMAN TERKAIT
Baca Juga