- 1Kosmologi Kekuasaan, Hubris Mayadanawa dan Anomie Sosial
- 2Hubris, Avidya dan Krisis Anomie Spiritual
- 3Peperangan Kosmik - Intervensi Dewata dan Mpu Sangkulputih
- 4Teologi Yeh Cetik dan Penciptaan Tirta Empul
- 5Kematian Mayadanawa dan Ekologi Kutukan Petanu
- 6Hari Suci Galungan - Monumen Triumfalisme Dharma
- 7Rekonstruksi Kesenian Melalui Kakawin Mayantaka Carita
- 8Transformasi Politik, Hegemoni Majapahit dan Legitimasi Babad
- 9Konstruksi Babad Dalem dan Re-Legitimasi Wangsa Gelgel
- 10Peran Mpu Kuturan dan Sentimen Identitas
- 11Terjemahan Naskah Lontar Tutur Uśana Bali
Naskah Lontar Uśana Bali menempati kedudukan yang sangat sentral. Naskah ini merupakan sebuah monumen literasi yang merekam dialektika peradaban Bali Kuno, menghadirkan sintesis yang luar biasa antara rekaman historiografi politik, mitologi peperangan kosmis, teologi sosial yang emansipatoris, hingga kodifikasi seni pertunjukan dan tata kelola ekologi.
Artikel ini disusun sebagai sebuah analitis terhadap naskah Uśana Bali, dengan mengambil referensi dari manuskrip lontar Tutur Uśana Bali serta mengintegrasikan berbagai korpus teks suci, jurnal filologi, dan studi sejarah yang tersebar luas. Kajian ini tidak hanya membedah teks pada tataran leksikal dan sintaksis, tetapi lebih jauh membongkar lapisan-lapisan semantik tingkat kedua dan ketiga yang mengungkap rasionalitas di balik institusi-institusi keagamaan Bali, relasi kuasa antara kerajaan Bali Kuna dan hegemoni Majapahit, serta strategi adaptasi ekologis masyarakat agraris. Melalui pembacaan yang komprehensif, narasi mitologis tentang tirani Raja Mayadanawa, intervensi Dewata, penciptaan Pura Tirta Empul, lahirnya hari raya suci Galungan, dan transformasi dinasti kekuasaan menuju era Gelgel akan diurai secara akademis, menghadirkan panorama utuh dari teks yang menjadi tulang punggung identitas ke-Bali-an tersebut.
Dalam peta taksonomi kesusastraan tradisional Bali dan Jawa Kuno, naskah-naskah lontar dikategorikan ke dalam beberapa genre utama berdasarkan struktur linguistik, metrum puitika, dan fungsi sosial-religiusnya. Naskah Uśana Bali berada dalam persimpangan yang unik antara literatur sejarah murni dan teks keagamaan.
Secara garis besar, kesusastraan Bali dikelompokkan ke dalam beberapa divisi, di mana Uśana Bali secara tradisional dimasukkan ke dalam genre sejarah atau Babad, yang juga mencakup entitas teks seperti Pamancangah (silsilah dinasti) dan Uwud. Teks-teks Babad periode awal, seperti Uśana Bali, Uśana Bali Pulina, dan Kusuma Dewa, diakui sebagai rujukan primer setiap kali sejarah kuno Bali didiskusikan oleh para sejarawan maupun penafsir tradisional. Kelompok ini mendahului teks-teks genealogi spesifik klan seperti Babad Pasek, Babad Kayu Selem, atau Babad Bhujangga, yang menceritakan awal mula peradaban Bali dengan variasi detail yang minor namun esensial.
Meskipun diklasifikasikan sebagai Babad, Uśana Bali tidak untuk didefinisikan semata-mata sebagai historiografi empiris dalam pengertian ilmu sejarah modern. Naskah ini adalah apa yang oleh para sarjana disebut sebagai mitologi dengan karya sejarah yang mengandung elemen-elemen novelistik dan mitologis. Epistemologi sejarah dalam tradisi tulisan Bali tidak memisahkan antara dimensi fisik (sekala) dan metafisik (niskala). Kebenaran historis dalam teks ini diartikulasikan melalui peristiwa-peristiwa kosmis, di mana kehendak para dewa menjadi motor penggerak utama bagi perubahan-perubahan sosial dan politik di bumi. Di sinilah letak kedalaman naskah Uśana Bali; ia bukan sekadar merekam kapan seorang raja bertakhta, tetapi mengapa pergantian kekuasaan itu secara moral dan teologis harus terjadi.
















