Lontar usana bali

Tutur Usana Bali : Jejak Kosmis, Ekologi dan Peradaban Bali Kuno


Kosmologi Kekuasaan, Hubris Mayadanawa dan Anomie Sosial

Intisari dari naskah Uśana Bali bergerak dari sebuah premis kosmologis : alam semesta (bhuana agung) dan manusia (bhuana alit) dapat berdiri kokoh apabila terdapat keharmonisan antara ciptaan dan Pencipta, yang difasilitasi melalui pelaksanaan ritual (yadnya). Naskah ini mendedikasikan sebagian besar narasinya untuk mengeksplorasi apa yang terjadi ketika keseimbangan rapuh ini dihancurkan secara sengaja oleh tirani politik. Metafora utama untuk kehancuran tatanan ini dikristalisasikan dalam figur Sri Mayadanawa, seorang raja Bedahulu yang terekam dalam ingatan kolektif Bali sebagai personifikasi absolut dari adharma (kejahatan kosmis).

Naskah merunut asal-usul tatanan suci dengan mendeskripsikan bahwa pada zaman purba, para Bhatara atau manifestasi suci Tuhan turun ke mrecapada (dunia fana) untuk bersemayam di berbagai parhyangan (pura) di Bali, memberikan perlindungan dan kesejahteraan bagi umat manusia. Pada era pemerintahan Sang Ratu Jayapangus — seorang raja dari dinasti awal yang dipuja sebagai figur yang bijaksana — tempat-tempat suci ini dirawat dengan penuh devosi, dan Pulau Bali berada dalam kondisi yang aman, makmur, dan sentosa.

Namun, transisi kekuasaan membawa petaka kosmis. Pucuk pimpinan pemerintahan jatuh kepada putranya, Sang Mayadanawa, yang diceritakan sebagai seorang raja dari keturunan raksasa atau Daitya, putra dari Ratu Jayapangus dan dewi air Dewi Danu Batur. Lokasi pusat pemerintahannya berada di Bedahulu (Gianyar), kawasan strategis antara sungai Petanu dan Pakrisan yang telah lama menjadi urat nadi peradaban Bali Kuno.

Naskah Uśana Bali mencatat bahwa Mayadanawa dibekali dengan kemampuan spiritual magis (kesaktian) yang tak tertandingi. Ia mampu mentransformasikan dirinya menjadi berbagai wujud makhluk, menjadikannya figur yang menebar teror dan ketidakpastian di medan perang maupun di lingkungan istana.

Hubris, Avidya dan Krisis Anomie Spiritual

Kejayaan militer dan penguasaan teritorial yang nirkendali ini melahirkan hubris — kesombongan dan arogansi yang melampaui batas kodrat manusia. Dalam terminologi teologis naskah lontar, kondisi psikologis Mayadanawa dideskripsikan sebagai kasuran (mabuk akan kekuasaan, keberanian yang buta) dan avidya (kegelapan spiritual atau ketidaktahuan eksistensial tertinggi). Dikuasai oleh egoisme, Mayadanawa mengalami delusi kemahakuasaan dan memproklamasikan dirinya sendiri sebagai tuhan tunggal yang harus disembah.

Sebagai konsekuensi logis dari proklamasi teologis yang menyimpang ini, Mayadanawa mengeluarkan dekrit politik yang paling menghancurkan dalam sejarah Bali Kuno bahwa ia melarang seluruh rakyatnya, di seluruh wilayah kekuasaannya, untuk melakukan pemujaan kepada manifestasi Tuhan (Bhatara) dan melaksanakan yadnya (upacara suci). Larangan ini berlaku sangat keras untuk beribadah di kompleks suci Pura Basukih, pusat spiritual utama masyarakat Bali. Ia menuntut agar semua bentuk persembahan dan kepatuhan hanya diarahkan kepada dirinya seorang.

Dari sudut pandang antropologi dan sosiologi agama, kebijakan Mayadanawa ini tidak sekadar menghasilkan represi politik, tetapi menginduksi anomie — suatu kondisi di mana struktur dan norma sosial masyarakat hancur berantakan.

Psikologi anomi merebak karena masyarakat agraris, yang kehidupan dan siklus panennya sangat bergantung pada ritual harmonisasi alam (seperti subak dan pemujaan Dewi Sri), menjadi terputus dari akar spiritual mereka. Ketakutan kontekstual melanda rakyat, mereka dihadapkan pada dilema eksistensial antara mematuhi tradisi leluhur atau menghadapi murka raja tiran yang sakti.

Ketiadaan upacara agama ini secara perlahan menggerus kualitas kehidupan, memicu kemiskinan, penderitaan sosial yang berkepanjangan, keresahan kolektif, dan membiarkan tempat-tempat suci terbengkalai menuju keruntuhan fisik.

Naskah Uśana Bali secara brilian mengonstruksi kondisi ini sebagai tesis bahwa adharma (kejahatan) memang diizinkan ada sebagai instrumen pengukur untuk membuktikan signifikansi dharma (kebenaran), di mana kehidupan tidak akan bergerak dinamis tanpa adanya resistensi terhadap kebatilan.



HALAMAN TERKAIT
Baca Juga