Lontar usana bali

Tutur Usana Bali : Jejak Kosmis, Ekologi dan Peradaban Bali Kuno


Rekonstruksi Kesenian Melalui Kakawin Mayantaka Carita

Fungsi krusial lain dari turunan korpus sastra Uśana Bali — terutama manifestasi sastranya pada masa keemasan Kerajaan Gelgel dalam bentuk Kakawin Uśana Bali Mayantaka Carita — adalah kemampuannya berfungsi sebagai pelacak awal inventarisasi kebudayaan seni pertunjukan Bali Kuna pra-Majapahit. Kekurangan sumber artefak tertulis yang mendetail tentang kesenian Bali dari era sebelum abad ke-14 sering kali membingungkan sejarawan seni. Prasasti lempeng tembaga menyisakan jejak yang parsial dan terpotong, terutama di masa kekacauan awal pendudukan Majapahit yang ditandai dengan peperangan sengit yang meluluhlantakkan keraton di Samprangan. Namun, naskah Uśana Bali bertindak sebagai memori komunal yang merestorasi fakta bahwa seni pertunjukan era Bali Kuno, alih-alih hancur, tetap dipertahankan dengan kukuh, direproduksi, mengalami penambahan instrumen, dan berkembang subur dalam pengayoman kerajaan pasca-Majapahit.

Ketika Bhatara Indra dan pasukannya merayakan keberhasilan gilang-gemilang atas pengorbanan Mayadanawa dan pasukannya, mitologi merekam pendirian panggung surgawi di alam fisik. Menurut naskah, para Dewa berhimpun di Manukraya, lantas mendirikan empat kompleks kahyangan (sebagai penanda spasial kemenangan kosmis) : yakni wilayah Kedisan, Tihingan, Manukraya, dan Keduhuran. Setelah keempat altar paripurna didirikan, dilangsungkanlah festival yadnya agung perdana di Manukraya, di mana pertunjukan kesenian yang bernilai teologis dibawakan bukan oleh warga desa biasa, melainkan dipentaskan langsung oleh makhluk surgawi.

Di dalam suasana pementasan religius ini, widyadari (bidadari surga) diceritakan menampilkan tarian sakral Rejang yang melambangkan penyambutan dan penyucian; sementara para widyadara dengan postur herois menarikan Tari Baris. Pada saat bersamaan, para gandarwa bertugas memukul perkusi dan menabuh gamelan, menghembuskan napas magis ke rebab dan seruling bambu.

Dokumentasi instrumen dan komposisi pertunjukan ini dieksplorasi secara filologis oleh para ilmuwan dari bait demi bait syair (Wirama) pada Kakawin Uśana Bali Mayantaka Carita. Naskah ini merinci orkestrasi masa purba secara definitif.

Identifikasi Wirama Deskripsi Praktik Kesenian & Instrumen dalam Teks Makna Kesinambungan Kesenian Bali Kuna
Wirama 22 : Syair 2 Penggunaan repertoar instrumen Bheri (sejenis gong datar/simbal tembaga tua) dan Gubar (gong besar sakral pembawa aba-aba perang).

Bukti eksistensi gamelan perang kuno Bali abad ke-10 (mredangga).

Wirama 23 : Syair 1 & 2 Menampilkan kesenian Mawayang (Pertunjukan Wayang bayang-bayang) beserta lantunan gending, kidung (angidung), tarian (yangigel).

Konfirmasi bahwa tradisi Wayang Kulit telah eksis sangat lama sebagai sarana didaktis spiritual pra-Gelgel.

Wirama 24 : Syair 1 & 4 Penyebutan juru baca yang berfungsi sebagai penyanyi kidung/pedalangan, serta sistem tarian mangigel yang ditarikan oleh penari kembar empat, delapan, hingga enam belas formasi.

Koreografi tarian upacara sakral yang masih direplikasikan dalam ritual Dewa Yadnya di pura-pura komunal.

Wirama 27 : Syair 2 Identifikasi tegas terhadap nama instrumen gamelan Gambang dengan karakteristik suara kayu (bilah bambu/kayu keras).

Membuktikan Gamelan Gambang adalah representasi alat musik kuno pengiring ritus transisi (Pitra Yadnya).

Wirama 43 : Syair 10 & 17 Instruksi khusus aktivitas angindung, angigel, serta tarian spesifik angrejang (Menari Rejang) bagi kaum wanita.

Tari Rejang sebagai bentuk tarian komunal sakral yang tertua dan paling dijaga puritasnya dalam sistem adat.

 

Hasil analisis hermeneutik naskah tersebut membuktikan tanpa celah bahwa bentuk-bentuk seni yang disebutkan — Wayang, Baris, Rejang, Gambang — bukanlah penemuan sekuler masa Majapahit, melainkan memiliki akar ontologis yang panjang pada masa pemerintahan Bali Kuno, dan bahkan nama-nama instrumen dalam kesusastraan itu saat ini diformulasikan menjadi nama gending (komposisi lagu) pada perbendaharaan musik Gamelan Gambang modern.

Uśana Bali memosisikan kesenian sebagai bahasa transendental : sarana perantara bagi entitas duniawi (manusia) untuk berkomunikasi dan mensimulasikan kegembiraan murni dari alam surgawi (dewata).



HALAMAN TERKAIT
Baca Juga