- 1Kosmologi Kekuasaan, Hubris Mayadanawa dan Anomie Sosial
- 2Hubris, Avidya dan Krisis Anomie Spiritual
- 3Peperangan Kosmik - Intervensi Dewata dan Mpu Sangkulputih
- 4Teologi Yeh Cetik dan Penciptaan Tirta Empul
- 5Kematian Mayadanawa dan Ekologi Kutukan Petanu
- 6Hari Suci Galungan - Monumen Triumfalisme Dharma
- 7Rekonstruksi Kesenian Melalui Kakawin Mayantaka Carita
- 8Transformasi Politik, Hegemoni Majapahit dan Legitimasi Babad
- 9Konstruksi Babad Dalem dan Re-Legitimasi Wangsa Gelgel
- 10Peran Mpu Kuturan dan Sentimen Identitas
- 11Terjemahan Naskah Lontar Tutur Uśana Bali
Hari Suci Galungan – Monumen Triumfalisme Dharma
Kemenangan pasukan kahyangan dimahkotai dengan sebuah kodifikasi ritual yang mengukir memori peperangan tersebut dalam siklus waktu. Pascakematian Mayadanawa, harmoni bhuana agung (alam semesta) berhasil dipulihkan. Pasukan Dewata Nawa Sanga yang memperoleh kemenangan gilang-gemilang diundang ke Kahyangan Besakih oleh sang perintis perjuangan, Mpu Sangkulputih, untuk merayakan keberhasilan yang agung tersebut. Tidak lama setelah perayaan syukuran ini, Mpu Sangkulputih dan para dewa diyakini kembali ke kahyangan asalnya dan mencapai moksa, kebebasan spiritual mutlak dari ilusi duniawi.
Kekosongan kekuasaan duniawi pascakehancuran rezim Mayadanawa kemudian diisi oleh penobatan Sri Aji Jayakasunu sebagai raja yang baru. Berbeda dengan Mayadanawa yang menyombongkan kemandirian rasionalitas materialistisnya, Sri Aji Jayakasunu merupakan prototipe pemimpin Dharmika yang memposisikan dirinya di bawah yurisdiksi dan panduan kebijaksanaan para bhatara.
Namun, tatanan baru ini belumlah sepenuhnya kebal dari ancaman. Kejahatan spiritual dan entitas kala selalu siap untuk kembali mencengkeram kedamaian. Sri Jayakasunu menerima mandat krusial dari Bhatara Mahadewa serta instruksi dan nasihat mistik dari penguasa alam kegelapan, Bhatari Durga.
Durga mengamanatkan bahwa ancaman terbesar bagi stabilitas dunia akan muncul pada masa yang dikenal sebagai Kala Tiga (Tiga Iblis/Tiga Masa Kegelapan) yang memuncak pada wuku Dungulan. Puncak peringatan marabahaya ini jatuh pada hari Anggara (Selasa) Wage wuku Dungulan.
Pada hari keramat tersebut — yang dalam tata waktu Bali kontemporer diidentifikasi sebagai hari Penampahan Galungan — seluruh rakyat diperintahkan untuk waspada dan melaksanakan upacara biakala dengan mengorbankan binatang serta menggunakan elemen ritual lamak untuk menghalau kejahatan, menetralisir ego jahat, dan menyucikan pikiran ke arah nirmala (kesucian batin).
Keesokan harinya, bertepatan dengan Buda (Rabu) Kliwon wuku Dungulan, diresmikanlah perayaan puncak kemenangan kosmis yang disebut dengan hari raya suci Galungan. Etimologi “Galungan” sendiri berakar kuat pada tradisi Jawa Kuno – Bali; istilah galungan sepadan dengan dungulan, yang memiliki gaung makna tentang kemenangan gemilang, keunggulan di atas medan perang, dan supremasi dharma.
Sri Aji Jayakasunu, berdasarkan wangsit tersebut, mewajibkan seluruh rakyat untuk memberikan persembahan (sesajen) dan melakukan yadnya paripurna di setiap jajaran pura dan parhyangan untuk menghormati Bhatara dan mensyukuri keselamatan dunia. Siklus perayaan 210 hari ini ditutup dengan Hari Suci Kuningan sepuluh hari kemudian (Saniscara Kliwon Kuningan), saat para dewata dan roh suci leluhur (Dewa Pitara) diyakini turun ke bumi kembali untuk memberikan anugerah dan proteksi.
Perayaan Galungan memuat dua lapis simbolisme yang sangat dalam. Secara material, hari raya ini dirayakan dengan mendirikan tegak Penjor — sebatang bambu panjang melengkung yang dihiasi dengan palawija dan dedaunan (plawa). Pemasangan penjor ini telah diamanatkan sejak kejatuhan Mayadanawa, di mana penjor tidak hanya berfungsi sebagai elemen estetis, melainkan memiliki fungsi teologis sebagai miniatur dari Gunung Agung (stana para dewa) dan simbol dari Naga Basuki penyangga bumi. Di badan penjor diletakkan sebuah sanggah bambu khusus untuk menghaturkan persembahan, menegaskan penolakan keras terhadap dogma Mayadanawa yang melarang aktivitas pemujaan.
Secara filosofis dan spiritual (bhuana alit), Galungan tidak dimaknai peringatan sejarah pembantaian raksasa, melainkan arena intropeksi peperangan di dalam batin manusia. Kemenangan dharma atas adharma adalah imperatif psikologis bagi setiap individu untuk merenungkan, membatasi, dan menaklukkan egoisme (kasuran), hawa nafsu hewaniah, kebiasaan buruk, kegelapan batin (avidya), dan seluruh energi negatif (sifat Daitya atau Mayadanawa) yang bercokol di dalam kesadaran mereka masing-masing.
Uśana Bali dengan demikian menyajikan kodifikasi etis di mana tatanan mitologi berhasil membudaya menjadi rutinitas eskatologis peradaban yang paling sentral.
















