Bhatara Guru

Kaputusan Bhatara Guru – Ajaran Tertinggi Tentang Kesucian Diri


Dokumen yang tertuang dalam naskah Lontar Kaputusan Bhatara Guru merupakan himpunan pengetahuan suci tentang diri (kawruhaning sarira) dan keputusan tertinggi Bhatara Guru yang setara dengan ajaran ketetapan Bhatara Siwa serta Sang Hyang Ardhanareswari.

Ajaran ini diturunkan langsung oleh Bhatara Guru ke dunia nyata (mercapada) sebagai penuntun spiritual bagi mereka yang telah memahami aksara suci, dengan tujuan membersihkan raga (pasocaning sarira), menyucikan budi pekerti (suci bhudinya), serta menegakkan perilaku susila dharma.

Kepatuhan terhadap ajaran ini diyakini mendatangkan berkah kerahayuan dari para dewa, yang diwujudkan melalui persembahan tulus di tempat suci (prahyangan) dan tempat leluhur (kabuyutan). Persembahan tersebut mencakup penyediaan nasi, makanan, serta hidangan panca bhoga sebagai wujud syukur atas kebahagiaan Sang Pencipta Jagat (Sang Amurweng Jagat), yang sekaligus berfungsi menyucikan dan mengokohkan kejayaan kerajaan serta menghadirkan surga nyata di dunia.

Naskah ini juga memberikan peringatan keras agar manusia tidak salah arah dalam meyakini anugerah dewa-bhatara, sebab ketidaktahuan akan asal-mula kesejatian leluhur (kawitan) sering kali menipu diri sendiri. Kebanyakan manusia mencari kebaikan tetapi takut menanggung beban yang berat, padahal bagi mereka yang teguh melaksanakan brata dan memuja Nya yang berhak menerima anugerah tertinggi.

Inti kekuatan teologis dalam naskah ini bersandar pada konseptualisasi Dasaksara (sepuluh aksara suci) yang dipandang sebagai getaran kosmis yang menyusun keberadaan mikrokosmos dan makrokosmos. Melalui ritual penyucian dari kelalaian (pawintenaning ewer), seorang praktisi dibimbing untuk menyadari bahwa ayahanda yang telah wafat (bapa wangke) pun menyembah sembilan aksara suci (sastra sanga) dengan dibantu oleh kekuatan Buddha (Rama Buda) yang menghapuskan segala bentuk noda kelalaian batin. Pemetaan teologis Dasaksara di dalam tubuh dan kosmos dirinci secara sistematis dalam naskah guna menghindari kesalahan arah spiritual yang berujung pada penderitaan di kawah neraka.

Aksara Makna Kosmis dan Teologis Manifestasi dan Perwujudan Mikrokosmos
Sa Suara orang mati (sabdaning wong pejah) Pelepasan energi kesadaran dari jasad
Ba Bhatara Kehadiran entitas ilahi universal
Ta Taya (suwung atau kekosongan agung) Dimensi hampa yang mendahului penciptaan
A Aksi (Penglihatan atau cermin) Kaca yang memantulkan kulit (carma), berujung pada diri anak kecil (rare atau I Kulisah)
I Raga (Tubuh fisik) Perwujudan nyata dari aksara suci Ongkara
Na Kehidupan dunia (urip sekala) Dinamika penggerak jasmani manusia
Ma Manusia Wadah kesadaran kemanusiaan
Si Siwa Kesadaran spiritual murni
Wa Wadah Selubung atau ruang penyimpanan energi
Ya Adnyana (Kesadaran tinggi) Pikiran spiritual yang tercerahkan

Seluruh getaran Dasaksara ini pada akhirnya menyatu menjadi satu entitas tunggal yang dikenal sebagai Sang Hyang Taya. Entitas ini mengambil wujud nyata di dalam diri manusia sebagai sosok I Kulisah, yang merupakah personifikasi dari Ongkara, bermanifestasi sebagai manusia yang taat berbakti, sekaligus merepresentasikan kehadiran Bhatara Siwa di dalam tubuh. Penyatuan supranatural ini disimbolkan melalui getaran mantra penutup berupa suku kata Hang, Hang, Hang yang diucapkan bersamaan dengan hembusan bisah.

Penyelarasan aksara berlanjut pada penguraian sistem Anacaraka. Suku kata dalam deret aksara ini dipetakan secara detail ke dalam bagian-bagian fisik dan metafisik tubuh manusia, guna mengintegrasikan kesadaran indrawi dengan kesadaran kosmis.

Aksara Kedudukan Anatomi dan Makna Esoteris
Hang Mata (aksi)
Nang Hidung (nasika)
Cang Mulut (cangkem)
Rang Perwujudan aksara suci Ongkara
Kang Asal mula atau sumber penciptaan (kamimitan)
Dang Perwujudan raga jasmani secara utuh
Tang Kekosongan agung (taya)
Sang Suara dari ucapan batin
Wang Wadah fisik tempat energi mengalir
Lang Kejelasan atau kejernihan batin (jlene)
Mang Representasi kedirian manusia
Gang Wujud raga kasat mata
Bang Kehadiran bhatara pelindung
Ngang Perwujudan dari Sang Hyang Tiga
Pang Penglihatan batin (patingal)
Jang Kesejatian atau realitas absolut
Yang Dewa yang menaungi jiwa
Nyang Pengisi kesunyian raga

Melalui pemahaman atas sistem Anacaraka ini, seorang praktis spiritual dapat mengonsentrasikan seluruh aksara tersebut menuju konsep penyatuan Tri Aksara (Ang, Ung, Mang). Secara eksoterik, ketiga aksara ini melambangkan tubuh (Ang), keutamaan (Ung), dan suara ucapan (Mang) yang menyatu membentuk vibrasi suci. Namun, secara esoterik, Tri Aksara merujuk pada integrasi kehidupan duniawi (Ang), aliran air suci Tirtha Kamandalu (Ung), dan manusia sejati (Mang / Manusa Jati). Manusia yang membawa air kehidupan (amreta) di dalam tubuhnya diakui sebagai perwujudan nyata dari Sang Hyang Tiga. Penyatuan ini diperkuat oleh ajaran Nawa Sanga, yang menerangkan bahwa aksara Na (kehidupan duniawi), Wa (wadah raga), dan Sa (terang benderang) merupakan kesatuan yang menuntun pada cermin kesadaran. Sembilan (sanga) merujuk pada wilayah kepala (hulu) atau wajah (muka) bagian depan, yang mewakili pikiran (idep) dan kesadaran (adnyana) untuk melakukan sembah bakti sebanyak sembilan kali.


Sumber Lontar :
Ida Wayan Kompyang
Griya Tengah Budakling, Karangasem.


HALAMAN TERKAIT
Baca Juga