- 1Teologi dan Kosmogenesis Primordial
- 1.1Mitologi Asal-usul Aksara
- 1.2Veda Śarīra : Tubuh Kosmik Dewata dan Cabang Ilmu Vedāṅga
- 2Anatomi Esoteris : Yogākṣara, Saptapada dan Catur Daśākṣara
- 2.1Jaringan Fisik dari Pañca-viṅśākṣara (Dua Puluh Lima Aksara)
- 2.2Dinamika Getaran Dévī Svarāñjikā (Aksara Vokal)
- 2.3Penempatan Ongkara pada Indra Penglihatan
- 2.4Konsep Kesadaran Saptapada dalam Tubuh
- 2.5Catur Daśākṣara dan Mantra Ang Ah
- 3Sistem Catur Varṇa dan Klasifikasi Ekologis
- 3.1Asal-usul Kosmik Catur Varṇa
- 3.2Degradasi Status Sosial-Keagamaan
- 4Klasifikasi Alam Sthāvara dan Jaṅgama
- 5Catur Yuga dan Soteriologi Kalepasan
- 5.1Perbandingan Eksistensial Manusia dalam Siklus Catur Yuga
- 5.2Konstruksi Penghalang Batin : Ṣodaśa Vikāra
- 5.3Pembersihan Jiwa dan Proses Laya Kosmik
- 6Terjemahan Lontar Brahmokta Widhi Sastra
- 6.1Keadaan Sebelum Penciptaan (Lembar 1b - 2a)
- 6.2Perwujudan Catur Weda pada Tubuh (Lembar 2a - 2b)
- 6.3Organ Wajah, Huruf, dan Sastra Tubuh (Lembar 2b - 3a)
- 6.4Penciptaan Pañcamahābhūta dan Alam Semesta (Lembar 3b - 4a)
- 6.5Penciptaan Manusia Berdasarkan Catur Varṇa (Lembar 4a - 5b)
- 6.6Anatomi Tubuh dari Pañcaviṅśākṣara dan Swarakṣara (Lembar 4b - 5b)
- 6.7Hukum Kemerosotan Perilaku dan Kasta (Lembar 5b - 6a)
- 6.8Golongan Caṇḍāla dan Kemerosotan Jiwa (Lembar 6a - 6b)
- 6.9Penciptaan Tumbuh-tumbuhan (Sthāvara) (Lembar 6b - 7b)
- 6.10Penciptaan Hewan dan Hubungannya dengan Dewata (Lembar 7a - 8a)
- 6.11Penciptaan Binatang Buas dan Satwa Caṇḍāla (Lembar 7b - 8a)
- 6.12Binatang Melata, Serangga dan Batas Terbawah Paling Nista (Lembar 8a - 8b)
- 6.13Perilaku Durjana yang Menyeret ke Neraka (Lembar 8b - 9a)
- 6.14Perilaku Utama Menuju Surga dan Pengenalan Catur Yuga (Lembar 9a)
- 6.15Karakteristik Zaman Kerta dan Zaman Treta (Lembar 9a - 9b)
- 6.16Karakteristik Zaman Dwapara dan Jenis-Jenis Dāna (Lembar 9b - 10a)
- 6.17Persembahan Tingkat Tinggi dan Ketulusan Hati (Lembar 10a - 10b)
- 6.18Keutamaan Pengorbanan Ksatria di Medan Laga (Lembar 10a - 10b)
- 6.19 Nubuat Karakteristik Zaman Kali (Kali Yuga) (Lembar 10b - 11a)
- 6.20Batas Usia Manusia pada Catur Yuga dan Musuh dalam Diri (Lembar 11a - 12a)
- 6.21 Noda Pañcéndriya dan Pañca Kārmméndriya (Lembar 11b - 12b)
- 6.22Perbandingan Zaman Treta, Dwapara dan Kali (Lembar 12a - 13b)
- 6.23Sifat Pikiran Manusia Sepanjang Zaman dan Cara Kembali ke Kesucian (Lembar 12b - 14b)
Anatomi Esoteris : Yogākṣara, Saptapada dan Catur Daśākṣara
Dimensi mikrokosmik (bhuana alit) dalam Brahmokta Widhi Śāstra dijalankan melalui praktik yogākṣara, yaitu penempatan getaran aksara suci pada bagian-bagian tubuh fisik manusia. Tubuh manusia diyakini sebagai rajahan kosmik yang hidup, di mana setiap jaringan fisik dan saraf halus ditenun dari kombinasi aksara suci.
Jaringan Fisik dari Pañca-viṅśākṣara (Dua Puluh Lima Aksara)
Tubuh material kasar (sthūla śarīra) manusia tersusun dari kelompok dua puluh lima aksara konsonan (Pañcaviṅśākṣara vargga). Aksara-aksara ini bertindak sebagai energi pembentuk organ fisik sebagai berikut :
- Ka-Wargga (ka, kha, ga, gha, ṅa) menjelma menjadi organ kulit dan bulu/rambut tubuh.
- Ca-Wargga (ca, cha, ja, jha, ña) menjelma menjadi organ daging dan selaput lendir (lamad-lamad).
- Ta-Wargga (ta, tha, da, dha, na) menjelma menjadi cairan darah (rudhira), keringat, dan zat cair tubuh.
- Ṭa-Wargga (ṭa, ṭha, ḍa, ḍha, ṇa) menjelma menjadi pembuluh darah (nadi), otot, serta seluruh persendian.
- Pa-Wargga (pa, pha, ba, bha, ma) menjelma menjadi organ dalam rongga perut, seperti jantung dan organ dalam lainnya.
Sebagai pengikat dan pelindung jaringan lunak disebutkan :
- Aksara semi-vokal La, Wa, Ya (tryākṣara) bertransformasi membentuk tulang kepala/tengkorak (kapāla) dan tulang-belulang.
- Aksara desis Ṣa (mūrḍhanya) mewakili ruang hampa (ākāśa) yang membentuk lubang-lubang tubuh sebagai sirkulasi nafas.
- Aksara Śa (thalavya) membentuk perpaduan fisik antara kulit dan daging yang padat.
- Sementara aksara Sa (dantya) bersama dengan aksara vokal A bertindak sebagai perantara sirkulasi udara nafas untuk naik-turun di dalam tiga saluran energi utama (trinadhī).
Dinamika Getaran Dévī Svarāñjikā (Aksara Vokal)
Jika aksara konsonan membentuk struktur tubuh fisik yang statis, maka kelompok aksara vokal (swara) yang dipersonifikasikan sebagai Dévī Svarāñjikā bertindak sebagai energi dinamis yang menghidupkan seluruh organ tersebut. Aksara vokal ini ditempatkan pada titik-titik vital tubuh sebagai motor penggerak fungsi sensorik manusia :
- A, Ā bertempat di kedua tangan sebagai alat pemegang.
- I, Ī bertempat di kepala dan otak (uttamāṅga) sebagai pusat kesadaran.
- U, Ū bertempat di kedua kaki sebagai penggerak mobilitas penciptaan.
- Ṛ, Ṝ bertempat di kedua buah dada sebagai sumber kehidupan.
- Ḷ, Ḹ bertempat di kedua mata sebagai indra penglihat.
- E, Ai bertempat di kedua telinga sebagai indra pendengar.
- O, Au bertempat di kedua lengan sebagai pusat kekuatan fisik (vāyudhaṇḍa).
- Aṃ bertempat di pusar (nābhi) sebagai persemayaman api pencernaan (agni).
- Aḥ bertempat di hidung dan mulut sebagai wadah nafas utama (vāyu viśéṣa) yang mengalirkan jiwa.
Penempatan Ongkara pada Indra Penglihatan
Dalam teks komparatif Tutur Bhuwana Mareka, pemetaan aksara suci ini diperluas secara sangat esoteris pada organ mata. Energi ketuhanan dalam wujud aksara Ongkara (pranawa suci) ditempatkan secara spesifik pada empat bagian bola mata manusia guna membangkitkan kekuatan penglihatan spiritual, yaitu :
- Ongkara Sari bersemayam pada bagian hitam bola mata.
- Ongkara Aksare bersemayam pada bagian putih bola mata.
- Ongkara Modre bersemayam pada bagian sela-sela mata (sela ning mata).
- Ongkara Sumungsang bersemayam pada bagian merah bola mata.
Konsep Kesadaran Saptapada dalam Tubuh
Integrasi anatomi spiritual ini mencapai puncaknya pada doktrin Saptapada, yaitu tujuh tingkat kesadaran kosmik yang bertakhta di dalam tubuh manusia. Setiap tingkat kesadaran ini dikuasai oleh manifestasi dewa tertentu (Saptadewata) dan dialiri oleh energi jiwa tertentu (Saptātma). Pemetaan anatomi esoteris Saptapada ini dijabarkan secara rinci pada tabel berikut :
| No | Tingkat Kesadaran | Titik Fokus | Dewa Penguasa | Karakteristik | Manifestasi | Intensitas |
| 1 | Parama Kewalyapada | 12 jari di atas ujung rambut (tungtung ing rambut) | Bhaṭāra Paramāśiva | Nada | Parama Atma | Tak Terbatas (Ngewu) |
| 2 | Kewalyapada | Ubun-ubun kepala | Bhaṭāra Sadāśiva | Windu | Siddha Atma | Sangat Agung |
| 3 | Turyantapada | Sela-sela alis mata | Bhaṭāra Siddharudra | Ardhacandra / Merah-Emas bagaikan matahari terbit | Nir Atma | 10.000 Sinar |
| 4 | Turyapada | Tujuh lubang kepala (2 hidung, 2 mata, 2 telinga, 1 mulut) | Bhaṭāra Mahādéwa | Kuning | Ati Atma | Agung |
| 5 | Suptapada / Supyapada | Pangkal leher (wit ning gulu) | Bhaṭāra Īśvara | Makara / Putih (Sweta) | Paramatma | 3.000 Sinar |
| 6 | Swapanapada | Jantung / Hati | Bhaṭāra Viṣṇu | Ukara / Hitam (Kṛṣṇa) | Antar Atma | 2.000 Sinar |
| 7 | Jagrapada | Pusar (Nābhi) | Bhaṭāra Brahmā | Akara / Merah (Rakta) | Atma | 1.000 Sinar |
Catur Daśākṣara dan Mantra Ang Ah
Di samping pemetaan Saptapada, naskah Brahmokta Widhi Śāstra juga mengajarkan rahasia kelompok empat belas aksara suci yang disebut Catur Dasaksara atau Catur Dasa Pranawa.
Kelompok empat belas aksara ini memiliki tingkat religiusitas dan kesucian yang sangat tinggi karena merupakan perwujudan langsung dari kesadaran tertinggi Tuhan (Bhaṭāra Paramāśiva). Di dalam teks, pembaca diperintahkan untuk memusatkan pikiran pada salah satu aksara dari Catur Dasaksara ini sebagai bekal atau jalan utama saat menghadapi kematian (awaning mati).
Hal ini dikarenakan esensi dari peristiwa kematian bagi manusia biasa adalah kelupaan (ring pati jatinya lupa). Kelupaan tersebut dipicu oleh munculnya rasa ketakutan dan kemelekatan duniawi (trṣṇā) yang membuat jiwa salah arah saat keluar dari tubuh.
Asalkan menjadi penawar dari kemerosotan mental dan penderitaan saat ajal mendekat, teks memberikan metode praktis berupa pengucapan mantra pelindung Ang Ah. Mantra Ang Ah ini diistilahkan sebagai mantra kunci pintu gerbang spiritual (adwara kunci), yang berfungsi sebagai penutup pikiran-pikiran yang salah arah dan membingungkan (panutup salah suruping idep). Melalui pemusatan getaran mantra Ang Ah, batin praktisi akan terkunci dari segala ilusi duniawi, mengarahkan jalannya atman secara lurus menuju alam kebebasan abadi tanpa tersesat ke alam bawah.

















