Brahmokta Widhi Sastra

Brahmokta Widhi Sastra – Kosmologi dan Jalan Kalepasan


Sistem Catur Varṇa dan Klasifikasi Ekologis

Brahmokta Widhi Śāstra menyajikan pandangan yang seimbang antara kehidupan spiritual transenden dan tata kelola sosial keduniawian melalui penegakan institusi Catur Varṇa. Dalam teks ini, pembagian kelas masyarakat tidak didasarkan pada keturunan biologis yang kaku (catur wangsa), melainkan diposisikan sebagai pembagian profesi yang harmonis secara paralel-horizontal berdasarkan kualitas pribadi (guna) dan perbuatan nyata (karma).

Asal-usul Kosmik Catur Varṇa

Integrasi sosiologis ini dihubungkan dengan tubuh kosmik Sanghyang Brahmā sebagai perlambang kesatuan sosial yang organis :

  1. Brahmana dilahirkan dari kening (lalāṭa). Mereka berstatus Dwijati (lahir dua kali secara spiritual) dan diposisikan sebagai perwujudan fisik dari Brahma (Brahma śarīra). Tugas utama mereka adalah tekun mempelajari, memelihara, dan mengajarkan Veda serta membimbing umat menuju dharma.
  2. Ksatria dilahirkan dari lengan / tangan (bāhu). Mereka dibekali pengetahuan ilmu senjata (Dhanur veda śāstra) dengan tugas utama memimpin pemerintahan, menjaga keamanan negara, dan mengayomi masyarakat. Mereka diposisikan sebagai penjelmaan (avatāra) Dewa Viṣṇu di bumi.
  3. Waisya dilahirkan dari paha (pupū). Peran mereka adalah menggerakkan roda ekonomi melalui usaha pertanian (kṛṣi kāryya), perdagangan, dan memelihara lembu sebagai sumber kemakmuran bersama.
  4. Sudra dilahirkan dari telapak kaki (dalamakaning suku). Mereka bertugas memberikan pelayanan fisik secara tulus, bekerja keras, serta menyediakan kebutuhan sandang dan pangan bagi kasta-kasta lainnya.

Degradasi Status Sosial-Keagamaan

Sifat dinamis dari ajaran Catur Varṇa dalam naskah ini terlihat jelas pada penegasan mengenai adanya hukum kemerosotan kasta akibat runtuhnya moralitas pribadi. Teks secara tegas menguraikan doktrin Viprāḥ Śūdrāvada Carét, yaitu seorang Brahmana atau Ksatria yang melakukan perbuatan buruk, menanggalkan sumpah kebrahmanaan, berbicara kasar, melakukan pekerjaan yang menyimpang, serta mengambil alih pekerjaan orang lain demi mengejar kenikmatan materi (bhogopabhoga), secara otomatis jatuh kasta menjadi seorang Sudra.

Meskipun ia kaya raya menumpuk emas dan perak, martabat spiritualnya telah hancur dan ia dikategorikan sebagai bhagna brata (orang yang merusak sumpah suci) serta bhagna krama (orang yang merusak tata susila).

Bagi golongan Waisya dan Sudra yang melakukan pelanggaran serupa dan melakukan pekerjaan yang bertentangan dengan tatanan moral, mereka dikeluarkan dari sistem catur kasta (catur janma) dan dikategorikan sebagai golongan Caṇḍāla (kasta yang terbuang). Teks menyebutkan lima jenis pekerjaan yang diklasifikasikan sebagai perbuatan Caṇḍāla (Caṇḍālāḥ parikīrttitāḥ), yaitu :

  • Surasut : Orang yang menyadap nira/pohon enau untuk membuat minuman keras.
  • Krimidāha : Orang yang mencuci pakaian kotor (binatu) atau membakar ulat.
  • Prāṇaghna : Orang yang bekerja sebagai penjagal atau pembunuh hewan hidup.
  • Kumbhakārikā : Orang yang membuat periuk atau buyung dari tanah liat.
  • Dhātudagda : Orang yang bekerja melebur logam atau pandai emas.

Rumah dari golongan Caṇḍāla ini dilarang keras untuk dimasuki oleh golongan manusia utama (uttama janma) karena watak dan pikiran mereka dipandang telah merosot ke tingkat kenistaan terdalam.

Klasifikasi Alam Sthāvara dan Jaṅgama

Sistem ciptaan dalam Brahmokta Widhi Śāstra juga menjangkau klasifikasi terperinci mengenai dunia tumbuh-tumbuhan (Sthāvara) dan dunia hewan (Jaṅgama). Klasifikasi ini didasarkan pada bagian tubuh dewa pencipta saat rontok ke bumi, serta hubungan fungsionalnya dengan upacara keagamaan :

  1. Sthāvara (makhluk diam yang tidak dapat memindahkan tubuhnya sendiri) dilahirkan dari rontokan rambut Bhaṭāra.
    Pohon-pohonan besar (vṛkṣa) seperti pohon Bodhi lahir dari rambut kepala (kéśa) Bhaṭāra.
    Perdu-perduan (gulma) seperti pohon lontar (intala) lahir dari rambut janggut dan kumis.
    Tumbuhan merambat (lata) lahir dari bulu dagu.
    Sementara rumput-rumputan (tṛṇa) lahir dari bulu halus di seluruh tubuh (sarvvāṅga) Saṅhyaṅ.
    Tumbuhan yang mengandung racun seperti pohon daun racun (si viṣapatra) dan jamur liar (jamūr tahi papuṅ) dikategorikan sebagai tumbuhan kasta Caṇḍāla.
  2. Jaṅgama (makhluk bergerak atau hewan) dilahirkan berdasarkan kondisi emosi Bhaṭāra saat mencipta.
    Hewan suci seperti lembu lahir dari lidah (jihvā) Bhaṭāra, ketika Beliau berada dalam wujud damai (somya rūpa), menjadikannya hewan yang sangat suci (mahā pavitra) yang menghasilkan air susu (kṣīra) dan minyak samin (dadhighṛta) untuk sesaji yajna.
    Sebaliknya, binatang buas seperti singa (mṛga rodra) lahir dari sela taring (sihuṅ), burung pemangsa lahir dari sela kuku (kukū), dan ikan mengerikan lahir dari rontokan kuku telapak kaki Bhaṭāra ketika Beliau berada dalam wujud murka (rodra rūpa).
    Binatang yang jatuh ke status Caṇḍāla dalam kelompok ini adalah keledai (garddhabha) untuk hewan darat, burung gagak (vayasa) untuk unggas, dan ikan raksasa (timinggila) untuk hewan air.


Sumber :

Lontar Salinan I Nyoman Rai
(Pranaraga, Saka 1825 / 1903 M)


HALAMAN TERKAIT
Baca Juga