Lontar Dewa Tattwa

Lontar Dewa Tattwa – Ritual Upakara dan Rekonstruksi Ekologi-Sosial


Caru Manca Walikrama – Harmonisasi Energi

Ketika bumi mengalami kekacauan energi yang ditandai dengan perubahan iklim ekstrem, konflik sosial, dan kegagalan pertanian, Lontar Dewa Tattwa menginstruksikan pelaksanaan Caru Manca Walikrama.

Upacara ini merupakan bentuk persembahan berskala besar (Bhuta Yadnya) yang bertujuan untuk menstabilkan lima unsur pembentuk alam (Panca Maha Bhuta) di bawah kepemimpinan para dewa penjaga arah mata angin (Lokapala).

Caru ini menggunakan metode pengolahan khusus bernama winangun urip, yaitu menyajikan hewan korban dalam kondisi anatomi yang ditata kembali seolah-olah masih hidup setelah disembelih.

Arah Mata Angin (Widik) Hewan Korban Utama Komposisi Sengkwi, Sate, dan Calon Lauk Tambahan & Jenis Babangkit Dewata Penjaga / Aspek Spiritual
Timur (Purwa) Sapi (Goh Winangunurip)

50 sangkwi, 50 sate galahan, 50 calon, 50 sate watang.

Babangkit Putih, 2 Suci, 1 Babi Guling.

Dewa Iswara; pembersih energi timur dan peneguh iman.

Selatan (Daksina) Kijang (Kidang Winangunurip)

90 sangkwi, 90 sate galahan, 90 calon, 90 sate watang.

Babangkit Merah, 1 Babi Guling.

Dewa Brahma; pengendali energi api dan transformasi.

Barat (Pancima) Menjangan (Winangunurip)

70 sangkwi, 70 sate galahan, 70 calon, 70 sate watang.

Babangkit Kuning, 2 Suci, 7 Kawisan, 1 Babi Guling.

Dewa Mahadewa; penjaga kesucian dan kejernihan pikiran.

Utara (Uttara) Kerbau (Kebo Yosbrana)

40 sangkwi, 40 sate galahan, 40 calon, 40 sate watang.

Babangkit Hitam, 2 Suci, 1 Babi Guling.

Dewa Wisnu; pelindung kehidupan dan kelimpahan pangan.

Tengah (Madhya) Anak Kambing Belang (Wiwi Belang)

80 sangkwi, 80 sate galahan, 80 calon, 80 sate watang.

Babangkit Manca Warna, 2 Suci, 1 Babi Guling.

Dewa Siwa; poros penyeimbang makrokosmos dan mikrokosmos.

 

Sebagai pelengkap di area transisi gerbang tengah (lawang ring madhyan), disajikan sesajen khusus berupa lima ekor bebek putih (5 sangkwi), sembilan ekor anjing Bang Bungkem (9 sengkwi), tujuh ekor angsa (7 sangkwi), empat ekor babi pelen (4 sengkwi), dan delapan ekor bebek belang kalung (8 sengkwi).

Semua olahan daging ini diletakkan di atas panggungan agung yang diapit panggungan alit.

Tujuan akhir dari pelaksanaan caru ini adalah menyucikan (menyupat) roh hewan-hewan korban tersebut agar dalam kelahiran berikutnya (punarbhawa) mereka dapat meningkat ke derajat kehidupan yang lebih tinggi.

Ritual Transisi Kematian dan Rekonstruksi Sawa

Naskah Lontar Dewa Tattwa memberikan perhatian yang sangat mendalam terhadap transisi jiwa setelah mengalami kematian fisik (atiwa-tiwa atau ngaben). Proses pembebasan roh (atma) dari belenggu badan kasar (Panca Maha Bhuta Alit) menuju alam leluhur membutuhkan serangkaian upakara rekonstruktif agar roh tersebut tidak tersesat atau mengalami penderitaan di alam baka.

Sebagai langkah awal, naskah ini menginstruksikan pendirian palinggih atau stana khusus bagi Sang Hyang Prajapati yang diletakkan di bagian hulu kuburan (Smasana).

Palinggih ini dibangun menggunakan bata merah dengan bentuk arsitektural menyerupai Padmasana yang menghadap ke arah barat. Teologi di balik penempatan ini didasarkan pada peran Sang Hyang Prajapati sebagai penguasa dan pelindung jiwa-jiwa orang mati (Sang Pitra) selama berada di area kuburan. Selain itu, terdapat pengakuan terhadap Bhatari Hyang Basundari (ibu bumi di smasana) dan Sang Asedahan Kawah yang bertugas menjaga jenazah dari gangguan kekuatan gaib destruktif.

Untuk memfasilitasi transisi spiritual tersebut, Lontar Dewa Tattwa menetapkan empat jenis sesajen utama dalam proses penguripan dan rekonstruksi sawa.

Sesajen Transisi Komponen Utama dan Struktur Sesajen Nilai Moneter Simbolis & Benang Makna Filosofis dan Teologis
Makebat Dawun

Babi yang dipotong-potong lalu ditata kembali utuh (bawi recah winangun urip), nasi temboan satu catu, 2 jarimpen punggul, 22 bantal, 22 ketupat, 22 pesor, nasi balean, selam kapir (6 tumpeng kuning).

1.000 (babi), 700 (di bawah sasayut) dengan benang tridatu dan grenteng.

Merekonstruksi kembali struktur fisik sawa yang hancur agar jiwa dapat mengenali bentuk wadah kasarnya sebelum dilebur.

Tatebasan Panca Kelud

Pangkonan lima warna yang ditancapi rumput lepas dan wal mimang, 5 sasayut berlauk udang, nyalian, lele, kepiting, serta pangkonan brumbun dalam periuk tanah liat baru berisi sinjeng mimang dan klungah kelapa gading.

Menggunakan kelapa gading utuh sebagai simbol kesucian tertinggi.

Membersihkan roh dari panca klesa (kotoran batin) dan menenangkan gejolak energi negatif di kuburan.

Ngebekin

Babi chopped-reconstructed, nasi tomboan satu catu beralas ujung daun pisang (rwani tatrujungan), tumpeng putih-kuning abale, 2 jarimpen tunggul, 1 sasantun lengkap.

1.000 (babi) ditambah 1 sasantun utama.

Memberikan bekal spiritual yang melimpah bagi roh agar tidak kelaparan di jalan menuju alam leluhur.

Nyenukin

Beras dalam sok berisi bumbu lengkap, kapas, baju emas, cangkir prapatan, sasantun agung, sirih ambungan, pinang satu tandan, jawuman, serta 6 jenis guling (bebek, ayam, sudang fish, belalang, capung, telur) yang masing-masing disertai tumpeng adanan.

Menggunakan sasantun besar dengan koin ratusan lengkap.

Merayakan kembalinya roh dalam wujud suci (Dewa Hyang) setelah berhasil melampaui proses peleburan fisik.

 

Prosesi Nyenukin juga menyajikan sesajen Perangkatan yang sangat unik, berisi daging lebah, tawon, subatah (ulat pohon), ancruk, kacang-kacangan, nasi tepeng satu ceper, nasi baingin dengan lauk telengis, nasi kerak bubur (sego entip) berlauk bawang, serta nasi kukus berlauk garam dan terasi.

Penyajian unsur-unsur serangga hutan dan makanan sederhana ini merupakan simbolisasi bahwa roh telah menyatu kembali dengan seluruh spektrum kehidupan di alam semesta, baik yang berderajat tinggi maupun rendah.



HALAMAN TERKAIT
Baca Juga