Sarana dan Perangkat Upakara (Uparengga) Yadnya


Download Semua Konten PDF – 12 Bulan

Rp 100.000,00
Donasi

Total: Rp100.000,00


Penting :

  • Donasi untuk download semua konten yang ada di website ini ke versi PDF.
  • Hak akses download berlaku untuk 12 bulan.
  • Konten akan terus ada penambahan, dan anda bebas untuk download konten baru (selama akun aktif).
  • Pastikan menggunakan Email yang aktif untuk Konfirmasi dan Login.
  • Pembayaran : Transfer Bank (VA Account), QRIS (QR scanner seperti BCA Mobile, OVO, Dana, LinkAja, Gopay, Shopee pay, Sakuku, dll).
  • Tidak diperlukan untuk melakukan konfirmasi pembayaran, karena sistem Gateway  akan melakukan verifikasi otomatis jika pembayaran sudah terverifikasi (sukses) oleh penyedia Payment Gateway kami di iPaymu.
  • Aktivasi akun 1×24 jam di Hari / Jam Kerja setelah pembayaran diterima.
  • Contoh PDF hasil dari download
    Klik disini

Upakara (Uparengga) yajña (Yadnya) yang dilaksanakan oleh umat Hindu selalu disertakan dengan segala perangkat upacara, sehingga upacara tersebut dapat berjalan dengan lancar, semarak, umat mendapatkan kepuasan (atmanastuti), dan selanjutnya dapat meningkatkan śraddha dan bhakti penyelenggara upacara yajña.

Perangkat upakara yang biasa dipergunakan pada setiap upacara Panca Yajña disebut dengan istilah Uparengga. Uparengga berasal dari suku kata ‘upa-re dan angga, selanjutnya upa diartikan sebagai perantara, ’re’ berasal dari kata Raditya (sinar suci) yang dapat diartikan sebagai pancaran sinar suci Ida Sang Hyang Widhi Wasa, sedangkan ’angga’ dapat diartikan sebagai wujud, bentuk, tubuh (simbolis dari Sang Hyang Widhi Wasa). Dengan demikian uparengga dapat diberikan arti bahwa semua bentuk perangkat upacara adalah merupakan simbul perwujudan Ida Sang Hyang Widhi Wasa melalui kekuatan sinar suci-Nya.
Dengan demikian yang dimaksud dengan simbolis uparengga adalah segala perangkat upacara Panca Yajña yang dipergunakan oleh umat Hindu sebagai perwujudan sinar suci Ida Sang Hyang Widhi Wasa yang merujuk pada makna tertentu sehingga umat yang melaksanakan upacara mendapatkan kebahagiaan dan dapat meningkatkan śraddhā dan bhakti

 

KLAKAT / PANCAK SUDHAMALA

Klakat Sudhmala merupakan simbol dari dua kemahakuasaan Sang Hyang Widhi yang memberikan kekuatan pada Purusha – Prakerti. Klakat ini sebagai simbol perpaduan kemahakuasaan Cadhu Sakti dan Asta Aiswarya, sifat kemahamuliaan-Nya ini biasanya dibuat dalam bentuk symbol sebagaimana disebutkan dalam sarana upacara umat Hindu. Klakat Sudhamala biasa digunakan sebagai sarana upa saksi.

Purusha dan Prakerti adalah dua unsur alam semesta, Purusha artinya Jiwa atau Diri atau Atma, Pradana (Prakerti) artinya badan material (tubuh). Semua makhluk hidup tercipta dari dua unsur tersebut. Demikian juga alam semesta ini berputar sesuai dengan “rta” karena adanya dua unsur tersebut. Konsep Pura Kahyangan Rwa Bhineda disebutkan, semua umat manusia agar mengupayakan kehidupan yang seimbang antara kehidupan mental spiritual dan kehidupan fisik material. Purusha dan Pradana sebagai kekuatan awal dalam urutan penciptaan manusia oleh Hyang Widhi yang disebutkan dalam dua unsur kekuatan tersebut yaitu:

  1. Unsur Purusha yaitu kekuatan hidup (batin/nama) dan
  2. Unsur Pradana atau Prakerti yaitu kekuatan kebendaan.

Terciptanya dua kekuatan tersebut, kemudian terciptalah cita, budi, manah, ahangkara dll, sebagai unsur-unsur pembentuk manusia. Purusha dan Pradana ini sebagai ciptaan Tuhan yang pertama sebagaimana dijelaskan dalam kutipan “Babad Bali” dalam artikel pura pusering jagat disebutkan bahwa: 

  1. Purusha sebagai benih laki-laki (pria)
  2. Pradana atau prakerti sebagai benih perempuan (wanita)

Sehingga dengan adanya pertemuan antara purusa dan pradana inilah disebutkan melahirkan kehidupan yang harmoni di alam ini. 

Pancak ini juga terbuat dari bambu, berbentuk segi empat bujur sangkar tetapi ukurannya lebih kecil dengan ukuran sisinya 10 – 15 cm. Namun anyamannya agak berbeda memakai tangkai, dan bentuk ini dibuat bentuk feminim dan maskulin (laki – laki atau perempuan).

Pancak Shudamala yang laki-laki, pada lubang tengahnya berisi tanda silang, sedangkan untuk yang perempuan hanya lubang bersudut delapan.

Dengan demikin Pancak Sudamala merupakan simbul dua kemahakuasaan Sang Hyang Widhi yang bersifat Purusha-Prakerti dengan kemahakuasaan sebagai Cadhu Sakti dan delapan sifat kemahamuliaan-Nya.
Pancak Sudamala biasanya dipakai sebagai pelengkap upakara dewa-dewi (Siwagotra-Siwagotri) yang ditaruh pada Sanggah Surya. 
Disamping itu dipakai merangkai sekah apabila ada upacara nyekah ngangseng.

Klakat Sudhamala Lanang

Panca Sudhamala pada lubang tengah memakai tanda silang, mengandung simbul Swastika memiliki maksud empat kemahakuasaan Sang Hyang Widhi yg disebut Chadu Sakti, yaitu :

  1. Wibhu Sakti  : Maha besar
  2. Sadu Sakti    : Maha ada
  3. Jnana Sakti  : Maha tahu
  4. Krya Sakti    : Maha kerja

Klakat Sudhamala Wadon / Istri

Klakat Sudhamala Istri memiliki lubang bersudut 8. Dibuat lubang bersudut 8 mengandung makna delapan kemahamulian Sang Hyang Widhi (Asta Aiswarya) yaitu:

  1. Anima : Sang Hyang Widhi bersifat kecil, sekecil – kecilnya.
  2. Laghima : Sang Hyang Widhi bersifat ringan, seringan – ringannya.
  3. Mahima : Sang Hyang Widhi maha besar
  4. Prapti : Sang Hyang Widhi dapat mencapai segala – galanya
  5. Prakamya : Sang Hyang Widhi dapat mencapai segala yang dikehendaki
  6. Isitwa : Sang Hyang Widhi merajai segalanya
  7. Wasitwa : Sang Hyang Widhi memiliki sifat Maha Kuasa
  8. Yatrakamawasayitwa : Sang Hyang Widhi memiliki sifat wyapi wyapaka



Beryadnya dengan Sharing

Tak akan Mengurangi Pengetahuan

Baca Juga