Rangkaian Upacara Manusa Yadnya


Download Semua Konten PDF – 12 Bulan

Rp 100.000,00

Total: Rp100.000,00


Contoh PDF hasil dari download
Klik disini

  • Donasi untuk download semua konten yang ada di website ini ke versi PDF.
  • Hak akses download berlaku untuk 12 bulan.
  • Konten akan terus ada penambahan, dan anda bebas untuk download konten baru (selama akun aktif).
  • Pastikan menggunakan Email aktif untuk konfirmasi akun.
  • Pembayaran dengan Transfer Bank
  • Aktivasi akun mak. 1×24 jam setelah pembayaran. Mohon melakukan konfirmasi dengan membalas email jika sudah melakukan pembayaran. Tanpa konfirmasi, pihak admin tidak dapat mengetahui jika sudah ada pembayaran.

Manusa Yadnya adalah suatu upacara suci atau pengorbanan suci demi kesempurnaan hidup manusia. Di dalam pelaksanaan upacara Manusa Yadnya masalah tempat, keadaan, dan waktu sangat penting. Secara umum upacara itu dilaksanakan pada saat anak mengalami masa peralihan. Sebab ada anggapan bahwa pada saat-saat itulah anak dalam keadaan kritis, sehingga perlu diupacarai atau diselamati. Dalam menyelenggarakan segala usaha serta kegiatan spiritual tersebut masih ada lagi kegiatan dalam bentuk yang lebih nyata demi kernajuan pendidikan, kesehatan dan lain-lain guna persiapan menempuh kehidupan bermasyarakat.

1. Magedong- gedongan (Garbhadhana Samskara)

Upacara ini dilaksanakan pada saat kandungan berusia 7 bulan.

Sarana :

  • Pamarisuda: Byakala dan prayascita.
  • Tataban: Sesayut, pengambean, peras penyeneng dan sesayut pamahayu tuwuh.
  • Di depan sanggar pemujaan : benang hitam satu gulung kedua ujung dikaitkan pada dua dahan dadap, bambu daun talas dan ikan air tawar, ceraken (tempat rempah-rempah).

Waktu : Upacara Garbhadhana dilaksanakan pada saat kandungan berusia 210 hari (7 bulan). Tidak harus persis, tetapi disesuaikan dengan hari baik.

Tempat : Upacara Garbhadhana dilaksanakan di dalam rumah, pekarangan, halaman rumah, di tempat permandian darurat yang khusus dibuat untuk itu, dan dilanjutkan di depan sanggar pemujaan (sanggah kamulan).

Tata Pelaksanaan :

Upacara ini dipimpin oieh Pandita, Pinandita atau salah seorang yang tertua (pinisepuh).

1 lbu yang sedang hamil terlebih dahulu dimandikan (siraman) di parisuda, dilanjutkan dengan mabyakala dan prayascita.
2 Si lbu menjunjung tempat rempah-rempah, tangan kanan menjinjing daun talas berisi air dan ikan yang masih hidup.
3 Tangan kiri suami memegang benang, tangan kanannya memegang bambu runcing.
4 Si Suami sambil menggeser benang langsung menusuk daun talas yang dijinjing si Istri sampai air dan ikannya tumpah.
5 Selanjutnya melakukan persembahyangan memohon keselamatan.
6 Ditutup dengan panglukatan dan terakhir natab.

Mantram Magedong-gedongan

Om Sang Hyang paduka lbu Pertiwi Bhetari Gayatri, Bhetari Sawitri, Bhetari Suparni, Bhetari wastu, Bhetari Kedep, Bhetari Angukuni, Bhetari Kundang Kasih, Bhetari Kamajaya- Kamaratih, samudaya, iki tadah saji aturan manusanira si-anu (sebutkan nama yang diupacarai) ajakan sarongwangan ira amangan anginum, menawi ana kirangan kaluputan ipun den agung ampuranen manusaniro, mangke ulun aminta nugraha ring sira den samua aja sira angedonging, angancingin muwang anyangkalen, uwakakena selacakdana uwakakena den alon sepunganenuta anak-anakan denipun den apekik dirghayusa yowana weta urip tan ana saminiksan ipun.
Om Siddhirastu swaha.

Artinya:

Om Sang Hyang Widhi dalam manifestasi Bhatari Gayatri, Bhatari Sawitri, Bhatari Suparni, Bhatari Wastu, Bhatari Kedep, Bhatari Angkuni, Bhatari Kundang Kasih, Bhatari Kamajaya Kamaratih, seperti Yang Mulia Hyang Widhidara- Widhidari, Hyang Kuranta-kuranti, kesemuanya silahkan menikmati persembahan hambamu si anu (nama yang diupacarai), sertakan semuanya menikmati makanan-minuman, seandainya ada yang kurang karena kelupaan olehnya, mohon dimaafkan hambamu, hamba mohon waranugraha Hyang Widhi semoga tidak mendapatkan halangan, bukakanlah pintu keselamatan, panjang umur dan kebahagiaan, semoga permohonan hamba terpenuhi.


2. Upacara kelahiran (Jatakarma Samskara)

Upacara ini dilaksanakan pada waktu bayi baru dilahirkan. Upacara ini adalah sebagai ungkapan kebahagiaan atas kehadiran si kecil di dunia.

Sarana:

  1. Dapetan, terdiri dari nasi berbentuk tumpeng dengan lauk pauknya (rerasmen) dan buah-buahan.
  2. Canang sari / canang genten, sampiyan jaet dan penyeneng.
  3. Untuk menanam ari-ari (mendem ari-ari) diperlukan sebuah kendil (periuk kecil) dengan tutupnya atau sebuah kelapa yang airnya dibuang.

Pelaksanaan:

  • Upacara Jatakarma dilaksanakan pada waktu bayi baru dilahirkan dan telah mendapat perawatan pertama.
  • Tempat Upacara Jatakarma dilaksanakan di dalam dan di depan pintu rumah.
  • Pelaksana Upacara kelahiran dilaksanakan atau dipimpin oleh salah seorang keluarga yang tertua atau dituakan, demikian juga untuk menanam (mendem) ari-arinya. Dalam hal tidak ada keluarga tertua, misalnya, hidup di rantauan, sang ayah dapat melaksanakan upacara ini

Tata Cara

  • Bayi yang baru lahir diupacarai dengan banten dapetan, canang sari, canang genten, sampiyan dan penyeneng. Tujuannya agar atma / roh yang menjelma pada si bayi mendapatkan keselamatan.
  • Setelah ari-ari dibersihkan, selanjutnya dimasukkan ke dalam kendil lalu
    ditutup. Apabila mempergunakan kelapa, kelapa itu terlebih dahulu dibelah menjadi dua bagian, selanjutnya ditutup kernbali. Perlu diingat sebelum kendil atau kelapa itu digunakan, pada bagian tutup kendil atau belahan kelapa bagian atas ditulisi dengan aksara OM KARA (OM) dan pada dasar alas kendil atau bagian bawah kelapa ditulisi aksara AH KARA (AH) .
  • Kendil atau kelapa selanjutnya dibungkus dengan kain putih dan di dalamnya diberi bunga.
  • Selanjutnya kendil atau kelapa ditanam di halaman rumah, tepatnya pada bagian kanan pintu ruangan rumah untuk anak Iaki-laki, dan bagian kiri untuk wanita bila dilihat dari dalam rumah.

Mantram Menanam ari- ari

Om lbu Pertiwi rumaga bayu, rumaga amerta sanjiwani, angermertani sarwa tumuwuh si anu (kalau bayi sudah diberi nama sebutkan namanya) mangde dirgayusa nutugang tuwuh.

Artinya: Om Hyang Widhi Wasa dalam manifestasi sebagai pertiwi, penguasa segala kekuatan, penguasa kehidupan menghidupi segala yang lahir/ tumbuh, si anu (nama si bayi) semoga panjang umur.


3. Upacara kepus puser

Upacara kepus puser atau pupus puser adalah upacara yang dilakukan pada saat puser bayi lepas.

Sarana :

  1. Banten penelahan: Beras kuning, daun dadap.
  2. Banten kumara: Hidangan berupa nasi putih kuning, beberapa jenis kue, buah-buahan (pisang emas), canang, lengawangi, burat wangi, canang sari.
  3. Banten labaan: Hidangan/ nasi dengan lauk pauknya.
  4. Segehan empat buah dengan warna merah, putih, kuning, dan hitam. Masing-masing berisi bawang, jahe dan garam.

Waktu : Upacara kepus puser dilaksanakan pada saat bayi sudah kepus pusemya, umumnya pada saat bayi berumur tiga hari.

Tempat: Upacara ini dilaksanakan di dalam rumah terutama di sekitar tempat tidur si bayi.

Pelaksana : Untuk melaksanakan upacara ini cukup dipimpin oleh keluarga yang tertua (sesepuh), atau jika tidak ada, orang tua si bayi.

Tata cara

  • Puser bayi yang telah lepas dibungkus dengan kain putih lalu dimasukkan ke dalam “ketupat kukur” (ketupat yang berbentuk burung tekukur) disertai dengan rempah-rempah seperti cengkeh, pala, lada dan lain-lain, digantung pada bagian kaki dari tempat tidur si bayi.
  • Dibuatkan kumara (pelangkiran) untuk si bayi, tempat menaruh sesajian.
  • Di tempat menanam ari-ari dibuat sanggah cucuk, di bawahnya ditaruh sajen segehan nasi empat warna, dan di sanggah cucuk diisi dengan banten kumara.
  • Tidak ada mantram khusus untuk upacara ini, dipersilakan memohon keselamatan dengan cara dan kebiasaan masing-masing.

4. Upacara nglepas hawon (12 hari)

Setelah bayi berumur 12 hari dibuatkan suatu upacara yang disebut Upacara Ngelepas Hawon. Sang anak biasanya baru diberi nama (nama dheya) demikian pula sang catur sanak atau keempat saudara kita setelah dilukat berganti nama di antaranya: Banaspati Raja, Sang Anggapati, Banaspati dan Mrajapati.

Sarana:

  1. Upakara yang kecil: Peras, Penyeneng, Jerimpen tunggal dll, semampunya.
  2. Upacara yang biasa (madia): Peras, Penyeneng, Jerimpen tunggal, di sini hanya ditambah dengan penebusan.
  3. Upacara yang besar: Seperti upacara madia hanya lebihnya jerimpen tegeh dan diikuti wali joged atau wayang lemah.

Waktu: Upacara ngelepas hawon dilaksanakan pada saat si bayi sudah berumur genap 12 hari.
Tempat: Upacara ini dilaksanakan di dalam rumah pekarangan yaitu di sumur (permandian), di dapur, serta di sanggah kamulan.
Pelaksana: Untuk melaksanakan upacara ini dipimpin oieh keluarga yang paling dituakan.

Tata cara :

Pelaksanaan upacara ini ditujukan kepada si ibu dan si anak. Upacaranya dilakukan di dapur, di permandian dan di kemulan berfungsi memohon pengelukatan ke hadapan Bhatara Brahma, Wisnu dan Siwa.
Inti pokok upacara yang ditujukan kepada si ibu adalah: banten byakaon dan prayascita disertai dengan tirta pebersihan dan pengelukatan. Sedangkan banten inti yang diperuntukkan kepada si bayi adalah, banten pasuwungan yang terdiri dari peras, ajuman, daksina, suci. soroan alit pengelukatan, dan lainnya.
Banten pengelukatan di dapur, permandian dan kemulan pada pokoknya sama, hanya saja warna tumpengnya yang berbeda. Yaitu:

  • tumpeng merah untuk di dapur
  • tumpeng hitam untuk di permandian dan
  • tumpeng putih untuk di kemulan.

Inti pokok banten pengelukatan tersebut antara lain: peras dengan tumpeng, ajuman, daksina, pengulapan, pengarnbian, penyeneng dan sorotan alit serta periuk tempat tirta pengelukatan.


5. Upacara kambuhan (42 hari)

Upacara ini dilakukan setelah bayi berusia 42 hari. Tujuannya untuk pembersihan lahir batin si bayi dan ibunya, di samping juga untuk membebaskan si bayi dari pengaruh-pengaruh negatif (mala).

Sarana untuk upakara kecil :

  1. Upakara untuk ibu : Byakala, prayascita, tirtha panglukatan dan pabersihan.
  2. Upakara untuk si bayi : Banten pasuwungan, banten kumara dan dapetan.

Sarana untuk upakara besar :

  1. Upakara untuk ibu : Byakala, prayascita, tirtha panglukatan dan pabersihan.
  2. Upakara untuk si bayi : Banten pasuwungan, banten kumara, jejanganan, banten pacolongan untuk di dapur, di permandian dan di sanggah kamulan serta tataban.

Waktu: Upacara kambuhan dilaksanakan pada saat bayi berusia 42 hari.
Tempat: Keseluruhan rangkaian upacara kambuhan dilaksanakan di dalam lingkungan rumah, di dapur, di halaman rumah dan di sanggah kamulan.
Pelaksana: Untuk upacara kambuhan dipimpin oleh seorang pinandita atau pandita.

Tata cara:

Untuk upacara kecil:

  1. Kedua orang tua si bayi mabyakala dan maprayascita.
  2. Si bayi beserta kedua orang tua diantar ke sanggah kamulan untuk natab.

Untuk upacara yang lebih besar

  1. Si bayi dilukat di dapur, di permandian, dan terakhir di sanggah kamulan.
  2. Kedua orang tua si bayi mabyakala dan maprayascita
  3. Si bayi beserta kedua orang tuanya natab di sanggah kamulan.
Mantra-Mantra:

Mantram pengelukatan di dapur:

Om indah ta kita Hyang Utsana, sira masarira sarwa baksa, iki manusane si anu (nama si anak) aneda nugraha Widhi, angeseng lara roga wighena, mala papa patakane si anu (nama si anak) wastu geseng dadi awu.
Om ang ri geni rudra ujar ala niya namah.

Artinya : 

Om Sang Hyang Widhi Wasa, Dikaulah Hyang Utsana yang Maha Kuasa, perkenankanlah ini hamba-Mu si anu memohon wara nugraha-Mu. Dikau adalah pembasmi semua penderitaan dan bencana yang diderita si anu semoga hilang lenyap jadi abu. Semoga Hyang Brahma berkenan menghilangkan segala nodanya.

Mantram panglukatan di permandian:

Om Ang gangga Saptajiwa ya namah, Om Gangga miliya namah, pakulun ulun aminta atmane si anu (nama si anak) manawita atmanipun ketepuk ketegah olih sarwa bhuta kala, karun ring sumuragung, ndaweg antukakena ring raga walunganipun, ulun anebas ring sira Hyang Bhetari Gangga pati.
Om sriyam bawantu, pumam bawantu, sukam bawantu swaha.

Artinya:

Om Sang Hyang Widhi Wasa, Dikaulah Dewi Saptagangga yang kami puja, Dikaulah Dewi Gangga yang dimulyakan. Hamba mohon waranugraha-Mu untuk menyelamatkan roh si jabang bayi si anu. Andaikata rohnya itu dicelakai oleh sarwa bhuta kala pada saat di sumur/ telaga besar/ permandian, mohon dikembalikanlah ke tubuhnya, hamba menebus ke hadapan Hyang Maha Kuasa Bhatari Gangga.
Om Sang Hyang Widhi Wasa semoga Dikau memberikan kebahagiaan, kesempurnaan dan kesenangan.

Panglukatan ring Hyang Guru Kernulan:

Om pukulun Sang Hyang Guru Reka, Sang Hyang Kawi swara, Sang Hyang Saraswati suksema, Sang Hyang Brahma, Wisnu, lswara, makadi Sang Hyang Surya Candra Untang teranggana, ulun aneda nugraha Widhi, anglukat dasamala, papa patakane si anu (nama anak) wastu moksa ilang raga wigena danda upadrawane si anu (nama anak)
Om Sidgirastuya namah swaha.

Om Dirgayusa amretaning raga langgeng, angapusing balung pila pilu, angapusing atma juwitane sang sinebas tebasan, tunggunen denira Sang Hyang Bayu Pramana. Amuwuhana tuwuhipun,
Om dirga yusa aweta urip sidhi rastu tatastu astu Swaha.

Artinya:

Om Sang Hyang Widhi Wasa Dikaulah Sang Hyang Guru Reka, Sang Hyang Kawi swara, Sang Hyang Saraswati, Sang Hyang Brahma, Wisnu, lswara, ibaratkan Sang Hyang Surya, Chandra dan bintang-bintang. Hamba mohon wara nugraha-Mu untuk membersihkan segala dosa dan penderitaan si anu semoga hilang lenyap segala dosanya si anu. Semoga Sang Hyang Widhi Wasa memberkahinya.

Om sang Hyang Widhi Wasa sebagai sumber kehidupan yang kekal, pembasmi segala penyakit, pemelihara roh si anu, semoga Hyang Bayu Pramana menganugrahkan umur panjang.
Om Sang Hyang Widhi Wasa semoga berkenan mengabulkan.

Mantram Bajang Colong:

Om Sang Korsika, Sang Garga, Sang Metri, Sang Kurusia, Sang Pratenjala, imalipa-imalipi, mukadi bapa bajang, bajang toya, bajang lenga, bajang dodot, bajang tember, bajang deleg, bajang be julit, bajang sapi, bajang kebo, bajang papah, wmah sakwening ingaranan sarwa bajang-bajang susila, si bajang weking, iki tadah sajinira dena becik, manawi wonten kekiranganipun, iki pipis satak pitu likur, benang atukel nggena tuku ring pasar agung, apan kita agawe ala aya, mangkin ulun aminta sih nugraha, ring kita sadaya turuman atmaning rare raga waluman nira manika, aja sira munah manih, wastu pukulun sida rahayu, seger oger urip waras embanen rahina wengi.
Om Sidhi rastu ya namah swaha.

Om Sang Korsika, Sang Garga, Sang Metri, Sang Kurusia, Sang Pratanjala, Sang Malipa, Sang Malipi, pinaka bapa bajang, sakwehing araning bajang, yang wus sira amukti pamuliha sira kade sanira sawang-sawang.
Om syah, syah, syah poma.

Artinya:

Om Hyang Widhi Wasa dalam manifestasi sebagai Panca Korsika (Sang Korsika, Garga, Mentri, Kurusya dan Pratanjala) sebagai penguasa dari pengaruh-pengaruh jahat, terimalah persembahan ini dengan senang hati. Bila ada kekurangan, inilah sejumlah uang dan pelengkap lainnya sebagai penebus. Oleh karena Engkau yang menentukan baik dan buruk maka dengan ini hamba memohon wara nugrahamu semoga atma/ roh si anu mendapat keselamatan selamanya.
Om Sang Hyang Widhi Wasa semoga
berkenan mengabulkannya.

Om Hyang Widhi Wasa dalam manifestasi sebagai Sang Korsika, Sang Garga, Sang Metri, Sang Kurusia, Sang Pratanjala, sang malipa, sang malipi sebagai penguasa dari pengaruh-pengaruh jahat, apabila selesai menikmati persembahan ini, pulanglah ketempatmu masing-masing. Semoga tidak ada halangan.

Mantram Jejanganan:

Om bapa banglong, babu benang, babu calungkup, babu godobyak, babu suparni, babu dukut saburni, miwah sakwehing araning babu bajangan kabeh, iki tadah sajinira, sekul liwet jangan kacang setangkeban, amukti sari sira, aja sira nyumet, aja sira nyedut, asungane rare ring ulun, enak amangan enak aturu, aneng ameng-ameng sahudan hendan tekeng jejaka, luputa ring alara roga, sahut bagya sangkalan ipun, asing kirang asing luput, sampun ta ageng ampura nira amuktia, amuktia sariraning ulun aminta sari sira, lan bebekelan nira kabeh, iki ta pirak satak salawe atura sira ring pasar agung, wus sira amuktia sari, sun aminta sih raksenan ta rarening hulun amongan ta sunu mangkana pangeraksa nira ring jabang bayi, kadep sidhi pamastuku.
Om sriyame nama namah.

Artinya:

Om Hyang Widhi Wasa dalam manisfestasi sebagai pemelihara si bayi, nikmatilah persembahan ini, kernudian mohon lindungilah dia sehingga enak makan, tidur dan cepat jadi besar, serta bebas dari penderitaan. Kurang lebihnya mohon dimaafkan dan ini sejumlah uang serta bekal sebagai gantinya, demikian permohonan kami untuk si bayi, semoga mendapatkan wara nugraha-Mu.


6. Upacara nelu bulanin (umur 3 bulan) – Niskramana Samskara

Upacara yang dilakukan pada saat bayi berumur 105 hari, atau tiga bulan dalam hitungan pawukon.

Upakara kecil: panglepasan, penyambutan, jejanganan, banten kumara dan tataban.
Upakara besar: panglepasan, penyambutan, jejanganan, banten kumara, tataban, pula gembal, banten panglukatan, banten turun tanah.

Waktu: Upacara ini dilakukan pada saat anak berusia 105 hari. Bila keadaan tidak memungkinkan, misalnya, keluarga itu tinggal di rantauan dan ingin upacaranya dilangsungkan bersama keluarga besar sementara si anak terlalu kecil untuk dibawa pergi jauh, upacara bisa ditunda. Biasanya digabungkan dengan upacara 6 bulan.
Tempat: Seluruh rangkaian upacara bayi tiga bulan dilaksanakan di lingkungan rumah.
Pelaksana: Upacara ini dipimpin oleh Pandita atau Pinandita.

Tata cara:

  1. Pandita / Pinandita memohon tirtha panglukatan.
  2. Pandita / Pinandita melakukan pemujaan, memerciki tirtha pada sajen dan pada si bayi.
  3. Bila si bayi akan memakai perhiasan-perhiasan seperti gelang, kalung dan lain-lain, terlebih dahulu benda tersebut diparisudha dengan diperciki tirtha.
  4. Doa dan persembahyangan untuk si bayi, dilakukan oleh ibu bapaknya diantar oleh Pandita / Pinandita.
  5. Si bayi diberikan tirtha pengening (tirtha amertha) kernudian ngayab jejanganan.
  6. Terakhir si bayi diberi natab sajen ayaban, yang berarti memohon keselamatan.
Mantra-Mantra

Mantram panglepas aon:

Pukulun Bhatara Bhrahma, Bhatara Wisnu, Bhatara lswara, manusanira si anu (nama anak) anglepas aon, ipun ribatara tiga, pukulun anyuda leteh ipun, teka sudha, teka sudha, teka sudha, lepas malanipun.

Pukulun kaki sambut, nini sambut, tanedanan sambut agung tanedanan sambut alit, yen lunga mangetan, mangidul, mangalor, mangulon, mwang maring tengah, atmane si jabang bayi, tinututan dening pawatek dewata, pinayungan kala cakra, pinageran wesi, sambut ulihakena atma bayu premanane si jabang bayi maka satus delapan, amepeki raga sariranipun.

Artinya:

Om Hyang Widhi Wasa dalam manifestasi sebagai Bhatara Brahma, Wisnu, lswara. Hamba Mu si anu anglepas aon, membersihkan kekotorannya sehingga menjadi suci dan bebas dari kesengsaraan atau penderitaan.

Om Hyang Widhi Wasa dalam manifestasi sebagai kaki sambut, nini sambut, tanpa kecuali sambut besar dan kecil, perkenankanlah hamba memohon apabila roh si jabang bayi barangkali ia pergi ke Timur, Selatan, Barat, Utara dan berada di Tengah, agar selalu mendapat perlindungan dari para Dewata ibarat dipayungi oieh Kalacakra dan pagar besi. Selanjutnya kembalikanlah kesempurnaan roh si bayi ke badannya.

Mantram mengelilingi lesung (simbul tanam):

Om sang wawu pade wawu anak ira si tunggul ametung putunira sikarang jarat, sira anak-anakan watu, sira anak-anakan antiga, ingusan anak-anakan manusa.

Artinya:

Om Hyang Widhi Wasa, putra-Mu adalah si anu beserta cucu-Mu si anu yang sedang tumbuh dan sehat, adalah merupakan bibit yang diharapkan dapat berguna di masa mendatang.

Mantram ngayab (natab banten penyambutan dan lain-lain):

Pukulan Kaki Prajapati, Nini Prajapati, Kaki Citragotra, Nini Citragotri, ingsun aneda sih nugraha ring kita sambuta, ulapi atmane si anu (nama anak) manawi wenten atmanipun angati ring pinggiring samudra, ring tengahing udadi, ndaweng ulihakena ring awak nia si anu (sebut nama anak), depun tetap mandel kukuh, pageh aweta urip.
Om ayu werdhi, yasa werdhi pradnya suka sriyah dharma santana wredisca, santute sapta wredhayah.

Artinya:

Om Hyang widhi Wasa dalam manifestasi sebagai Kaki Prajapati, Nini Prajapati, Kaki Citragotra, Nini Citragotri (empat saudara: air tuba, lendir / lamad, ari-ari, darah) hamba mohon kehadapan-Mu suatu kehidupan yang sejahtera lahir batin, diberikan panjang umur, dijauhkan dari penyakit dan mara bahaya.

Mantram menurunkan bayi (menginjak tanah):

Pukulun Kaki Citragotra, Nini Citragotri, ingsung minta nugraha nurunaken rare ring lemah, turun ayam ameng-ameng sarwa kencana sri sedana, katur ring Bhatari Mangkurat, Bhatari Wastu, Bhetari Kedep makadi Kaki Citragotra, Nini Citragotri, iki aturanipun srahatan aweta urip waras, dirgha yusa, tan keneng geget, wewedinan, asung ana aweta urip, waras teguh timbul, abusana kulit, akulit tembaga, aotot kawat, abalung wesi, anganti atungkel bubungan, angantos batu makocok, ulihakena pramana nama maka satus dua lapan maring raga waluna nta si jabang bayi.

Artinya:

Om Hyang Widhi Wasa, hamba mohon wara nugraha-Mu dengan turunnya bayi ke tanah, turun ayam, bermain-main dan memakai harta benda emas perak yang berharga untuk dipersembahkan kehadapan-Mu. Inilah persembahan hamba guna mohon keselamatan jasmani dan rohani.


7. Upacara otonan (210 hari)

Ini upacara yang dilakukan setelah bayi berumur 210 hari atau enam bulan pawukon. Upacara ini bertujuan untuk menebus kesalahan-kesalahan dan keburukan-keburukan yang terdahulu, sehingga dalam kehidupan sekarang mencapai kehidupan yang lebih sempurna.

Sarana:

  • Upakara kecil: Prayascita, parurubayan, jajanganan, tataban, peras, lis, banten pesaksi ke bale agung (ajuman) sajen turun tanah dan sajen kumara.
  • Upakara yang lebih besar: Prayascita, parurubayan, jejanganan, tataban, peras, lis, banten pesaksi ke bale agung (ajuman) sajen turun tanah, sajen kumara, ditambah gembal bebangkit.

Waktu: Upacara wetonan dilaksanakan pada saat bayi berusia 210 hari. Pada saat itu kita akan bertemu dengan hari yang sama seperti saat lahimya si bayi (pancawara, saptawara, dan wuku yang sama). Selanjutnya boleh dilaksanakan setiap 210 hari, semacam memperingati hari ulang tahun. Tentu saja semakin dewasa, semakin sederhana bantennya.

Tempat: Seluruh rangkaian upacara ini dilaksanakan di rumah.

Pelaksana: Upacara dipimpin oieh Pandita / Pinandita atau oleh keluarga tertua.

Tata cara

  1. Pandita / Pinandita sebagai pimpinan upacara melakukan pemujaan untuk memohon persaksian terhadap Hyang Widhi Wasa dengan segala manifestasinya.
  2. Pemujaan terhadap Siwa Raditya (Suryastawa).
  3. Penghormatan terhadap leluhur.
  4. Pemujaan saat pengguntingan rambut (potong rambut). Ini dilakukan pertama kali, untuk wetonan selanjutnya tidak dilakukan.
  5. Pemujaan saat pawetonan dan persembahyangan.
Mantra-Mantra:

Mantram untuk gunting:

Om yatawya sakai panem sudi kesuma anindih papa klesa winasasyat. Bhangkara mantram utaman.

Artinya :

Om Hyang Widhi Wasa dalam manifestasi sebagai pencipta, hamba mohon agar gunting ini suci sanggup melebur mala petaka.

Mantram cincin:

Om ong tejo sakalpanem sud katri maha sidhi papa kiesa winasasyat. Tatkara mantram utaman.

Artinya: Om Hyang Widhi Wasa dalam wujud aksara maha suci yang merupakan mantram utama sebagai anugrah-Mu semoga lebur segala dosa.

Mantram Panca Kusika:

Om kusa srikusa widnyanem pawitrem, papanasanem papa klesa winasasyat Mangkara mantram utama.

Artinya: Om Hyang Widhi Wasa dalam wujud aksara suci Mangkara, semoga melimpahkan kebahagiaan, pengetahuan suci dan melebur segala dosa.

Mantram menggunting rambut :

Depan: Om Sang sadya ya namah, hilanganing papa klesa pataka.

Kanan : Om Bhang Bama Dewa ya namah, hilanganing tara roga wighena.

Kiri : Om Ang Agora ya namah, hilanganing gring sasab merana.

Belakang: Om Tang tat purusa ya namah, hilanganing gegodan satru musuh.

Tengah : Om Ing Isana ya namah, hilanganing sebel kandel sang pinetik.

Artinya:

Depan: Om Hyang Widhi Wasa, semoga musnah segala dosa dan kesengsaraan anak ini.

Kanan : Om Hyang Widhi Wasa, semoga musnah segala penyakit anak ini.

Kiri: Om Hyang Widhi Wasa, semoga hilang wabah yang akan menimpa anak kami.

Belakang: Om Hyang Widhi Wasa, semoga anak kami terhindar dari godaan musuh.

Tengah: Om Sang Hyang Widhi Wasa, semoga hilang segala noda anak ini.


8. Upacara tumbuh gigi (Ngempugin)

Upacara yang dilakukan pada saat anak tumbuh gigi yang pertama. Upacara ini bertujuan untuk memohon agar gigi si anak tumbuh dengan baik.

Sarana :

  • Upacara kecil Petinjo kukus dengan telor.
  • Upacara besar Petinjo kukus dengan ayam atau itik, dilengkapi dengan tataban.

Waktu: Upacara ini dilaksanakan pada saat bayi tumbuh gigi yang pertama dan sedapat mungkin tepat pada waktu matahari terbit.

Tempat: Keseluruhan rangkaian upacara dilaksanakan di rumah.

Pelaksana: Upacara ini dipimpin oleh seorang pandita / pinandita atau salah seorang anggota keluarga tertua.

Tata cara:

  1. Pemujaan terhadap Hyang Widhi Wasa dengan mempersembahkan segala sesajen yang tersedia.
  2. Si bayi natab mohon keselamatan.
  3. Selesai upacara si bayi diberikan sesajen tadi untuk dinikmatinya dan selanjutnya gusinya digosok-gosok dengan daging dari sesajen.

Mantra:

Om Hyang Surya, Brahma ndih empug saka wetan untune si anu (sebut nama anak), wesi kari pinaka untune, bumi kari pinaka gusine arata jajare kaya walandingan sinigar, sira Bhetari Sri angelukata untune si anu (sebut lagi nama anak) tan keneng jamuran, tan keneng subatahan munggah ke untune maha Bhatari Siwa Bumi Maha Sidhi.

Artinya: Om Sang Hyang Widhi Wasa dalam wujud Hyang Surya, semoga gigi si anu tumbuh sehat dan kuat. Mohon Bhatari Sri berkenan mensucikan sehingga giginya terhindar dari penyakit.


9. Upacara tanggalnya gigi pertama (Makupak)

Upacara ini bertujuan mempersiapkan si anak untuk mempelajari ilmu pengetahuan.

Sarana:

  1. Banten byakala dan sesayut tatebasan.
  2. Canang sari.

Waktu: Saat si anak untuk pertama kalinya mengalami tanggal gigi. Upacara ini dapat pula disatukan dengan wetonan berikutnya.
Tempat: Keseluruhan rangkaian upacara dilaksanakan di rumah.
Pelaksana: Upacara dipimpin oleh keluarga tertua.

Tata cara

  1. Pemujaan mempersembahkan sesajen kehadapan Hyang Widhi Wasa.
  2. Si anak bersembahyang.
  3. Setelah selesai sembahyang, dilanjutkan dengan natab sesayut / tetebasan.
  4. Si anak diperciki tirtha.

10. Upacara menek deha (Rajaswala)

Upacara ini dilaksanakan pada saat anak menginjak dewasa. Upacara ini bertujuan untuk memohon ke hadapan Hyang Samara Ratih agar diberikan jalan yang baik dan tidak menyesatkan bagi si anak.

Sarana:

Banten pabyakala, banten prayascita, banten dapetan, banten sesayut tabuh rah (bagi wanita), banten sesayut ngraja singa (bagi Iaki-laki), banten padedarian.

Waktu:

Upacara menginjak dewasa (munggah deha) dilaksanakan pada saat putra/ putri sudah menginjak dewasa. Peristiwa ini akan terlihat melalui perubahan-perubahan yang nampak pada putra-putri. Misalnya pada anak Iaki-laki perubahan yang menonjol dapat kita saksikan dari sikap dan suaranya. Pada anak putri mulai ditandai dengan datang bulan (menstruasi) pertama. Orang tua wajib melaksanakan upacara meningkat dewasa (munggah deha) ini.

Tempat: Upacara dilaksanakan di rumah.

Pelaksana: Dilakukan oleh Pandita / Pinandita atau yang tertua di dalam lingkungan keluarga.

Tata cara:

Dalam upacara meningkat dewasa, pertama-tama putra / putri yang diupacarai terlebih dahulu mabyakala dan maprayascita. Setelah itu dilanjutkan dengan natab sesayut tabuh rah (bagi yang putri), sayut raja singa bagi yang putra.


11. Upacara potong gigi (mepandes / metatah)

Upacara ini bertujuan untuk mengurangi pengaruh Sad Ripu yang ada pada diri si anak.

Sarana:

  1. Sajen sorohan dan suci untuk persaksian kepada Hyang Widhi Wasa.
  2. Sajen pabhyakalan prayascita, panglukatan, alat untuk memotong gigi beserta perlengkapannya seperti: cermin, alat pengasah gigi, kain untuk rurub serta sebuah cincin dan permata, tempat tidur yang sudah dihias.
  3. Sajen peras daksina, ajuman dan canang sari, kelapa gading dan sebuah bokor.
  4. Alat pengganjal yang dibuat dari potongan kayu dadap. Belakangan dipakai tebu, supaya lebih enak rasanya.
  5. Pengurip-urip yang terdiri dari kunyit serta pecanangan lengkap dengan isinya.

Waktu: Upacara ini dilaksanakan setelah anak meningkat dewasa, namun sebaiknya sebelum anak itu kawin. Dalam keadaan tertentu dapat pula dilaksanakan setelah berumah tangga.
Tempat: Seluruh rangkaian upacara potong gigi dilaksanakan di rumah dan di pemerajan.
Pelaksana: Upacara potong gigi dilaksanakan oleh Pandita/Pinandita dan dibantu oleh seorang sangging (sebagai pelaksana langsung).

Tata cara:

  1. Yang diupacarai terlebih dahulu mabhyakala dan maprayascita.
  2. Setelah itu dilanjutkan dengan muspa ke hadapan Siwa Raditya memohon kesaksian.
  3. Selanjutnya naik ke tempat upacara menghadap ke hulu. Pelaksana upacara mengambil cincin yang dipakai ngerajah pada bagian-bagian seperti: dahi, taring, gigi atas, gigi bawah, lidah, dada, pusar, paha barulah diperciki tirtha pesangihan.
  4. Upacara dilanjutkan oieh sangging dengan menyucikan peralatannya.
  5. Orang yang diupacari diberi pengganjal dari tebu dan giginya mulai diasah, bila sudah dianggap cukup diberi pengurip-urip.
  6. Setelah diberi pengurip-urip dilanjutkan dengan natab banten peras kernudian sembahyang ke hadapan Surya Chandra dan Mejaya-jaya.

1. Mantram prayascita dan bhyakala:

Om Hrim, Srim, Mam, Sam, Warn, Saçwa rogha satru winasa ya rah phat.
Om Hrim. Srim. Am. Tarn. Sam. Bam. Im, sarwa dandamala papa klesa, wenasaya rah, Um, phat.
Om Hrim, Srim, Am, Um, Mam, Sarwa, papa petaka wenasaya rah, Um phat,
Om Siddhi guru srom, Sarwasat.
Om sarwa weghena winasaya, sarwa papa wenasaya, astu ya namah swaha.

Artinya: Om Hyang Widhi Wasa, semoga semua musuh yang berupa penderitaan, kesengsaraan, bencana dan lain-lain menjadi sirna.

2. Mantram mohon persaksian:

Om adityasya parantyoti rakta tejo nama stute, swera pang kajo mandhyaste Bhaskara ya namo namah, pranamya bhaskara dewam, sarwa klesa wia sanam, pranamya ditya siwartham bhukti mukti warapradam.
Om rang ring sah paramya Çiva dityaya namo namah swaha.

Artinya:

Om Hyang Widhi Wasa, semoga hamba mendapat perkenanMu, untuk melalui tahapan hidup ini dalam jalanMu dengan pertolongan hanya dariMu.
Om dimulyakanlah Engkau ya Tuhan.

3. Mantram alat pengasah:

Om Sang perigi manik, aja sira geger lunga antinen kakang nira sang kanaka teka pageh, tan katekaning lara wigena, teka awet, awet, awet.

Artinya: Om Hyang Widhi Wasa, semoga alat-alat ini dapat memberikan kekuatan.

4. Mantram pengurip-urip:

Om urip-urip bayu, sabda idep teka urip, ang, ah.

Artinya : Om Sang Hyang Widhi Wasa, dalam wujud Brahma Maha Sakti, semoga tenaga, ucapan dan pikiran hamba memberikan kekuatan terhadap alat-alat ini.

5. Mantram Mejaya-jaya :

Om Dirgayur Astu ta astu,
Om subham astu tat astu,
Om Sukham bhawantu,
Om Pumam bhawantu,
Om sreyam bhawantu,
Om Sapta wrddhin astu tat astu astu swaha.

Artinya : Om Hyang Widhi Wasa semoga kami dianugrahi kesejahteraan, kebahagiaan, dan panjang umur


12. Upacara Perkawinan (Pawiwahan / Wiwaha)

Hakekatnya adalah upacara persaksian ke hadapan Tuhan Yang Maha Esa dan kepada masyarakat bahwa kedua orang yang bersangkutan telah mengikatkan diri sebagai suami-istri.

Sarana: 

  1. Segehan cacahan warna lima.
  2. Api takep (api yang dibuat dari serabut kelapa).
  3. Tetabuhan (air tawar, tuak, arak).
  4. Padengan-dengan/ pekala-kalaan.
  5. Pejati.
  6. Tikar dadakan (tikar kecil yang dibuat dari pandan).
  7. Pikulan (terdiri dari cangkul, tebu, cabang kayu dadap yang ujungnya diberi periuk, bakul yang berisi uang).
  8. Bakul.
  9. Pepegatan terdiri dari dua buah cabang dadap yang dihubungkan dengan benang putih

Waktu: Biasanya dipilih hari yang baik, sesuai dengan persyaratannya (ala-ayuning dewasa).
Tempat: Dapat dilakukan di rumah mempelai Iaki-laki atau wanita sesuai dengan hukum adat setempat (desa, kala, patra).
Pelaksana: Dipimpin oleh seorang Pendeta / Pinandita / Wasi / Pemangku.

Tata cara:

  1. Sebelum upacara natab banten pedengan-dengan, terlebih dahulu mempelai mabhyakala dan maprayascita.
  2. Kemudian mempelai mengelilingi sanggah Kamulan dan sanggah Pesaksi sebanyak tiga kali serta dilanjutkan dengan jual beli antara mempelai Iaki-laki dengan mempelai wanita disertai pula dengan perobekan tikar dadakan oleh mempelai Iaki-laki.
  3. Sebagai acara terakhir dilakukan mejaya-jaya dan diakhiri dengan natab banten dapetan.

1. Mantram prayascita:

Om Hrim, Srim, Nam, Sam, Wam, Yam, sarwa rogra satru winasaya rah um phat. Om Hrim, Srim, Am, Tarn, Sam, Bam, Im, Sarwa danda mala papa klesa winasaya rah, um, phat. Om Hrim, Srim, Am, Um, Mam, Sarwa papa petaka wenasaya rah um phat. Om siddhi guru srom sarwasat, Om sarwa wighna winasaya sarwa klesa wenasaya, sarwa rogha wena saya, sarwa satru wenasaya sarwa dusta wenasaya sarwa papa wenasaya astu ya namah swaha.

Artinya: Om Hyang Widhi Wasa, semoga semua musuh yang berupa penderitaan, kesengsaraan, bencana, dan lain-lain menjadi sirna.

2. Mantram bhyakala:

Om indah ta kita dang kala-kali, peniki pabhyakalane si anu (sebut namanya) katur ring sang kala-kali sadaya, sira reko pakulun angeluaraken sakvvehing kala, kacarik, kala patti, kala kaparan, kala krogan, kala mujar, kala kakepengan, kala sepetan, kala kepepek, kala cangkringan, kala durbala durbali, kala Brahma makadi sakwehing kala heneng ring awak sariranipun. Si anu (sebut lagi namanya) sama pada keluarana denira Bethara Ciwa wruh ya sira ring Hyang Ganing awak sarirania, kajenengana denira Hyang Tri Purusangkara, kasaksenan denira Hyang Trayodasa saksi, lahya maruat Sang kala-kali mundura dulurane rahayu den nutugang tuwuhipun si anu (sebut lagi namanya) tunggunen dening bayu pramana, mwang wreddhiputra listu ayu.

Artinya: Wahai Sang Kala-kali inilah upacara bhyakalanya si anu yang disuguhkan kepada Sang Kala-kali. Kiranya dapatlah oleh-Mu dikeluarkan segala perintang yang ada pada diri si anu ini yang juga diperintahkan oieh Hyang Widhi Siwa dan leluhurnya, sehingga dengan demikian ia dapat menyucikan dirinya untuk selanjutnya disemayami oleh Hyang Tri Purusa (Parama Siwa, dan Siwatma) serta disaksikan oleh Hyang Trayodasa saksi (ke tiga belas saksi).

3. Mantram mejaya-jaya:

Om dirghayur astu ta astu, Om Awighnam astu tat astu, Om Cubham astu tat astu, Om Sukham bhawantu, Om Pumam bhawantu, Om sreyam bhawantu. Sapta wrddhin astu tat astu astu swaha.

Artinya: Om Hyang Widhi Wasa semoga dianugerahi kesejahteraan, kebahagiaan dan panjang umur.

 

Untuk lebih jelasnya tentang upacara ini dapat dilihat disini.

 




Beryadnya dengan Sharing

Tak akan Mengurangi Pengetahuan

Blog Terkait