Bhatara Guru

Kaputusan Bhatara Guru – Ajaran Tertinggi Tentang Kesucian Diri


Anatomi Mistik dan Konsep Sastra Kutaraja

Naskah ini memaparkan rahasia perputaran ajaran Sastra Kutaraja di dalam tubuh fisik manusia sebagai upaya transmutasi unsur biologi menjadi spiritual. Proses ini digambarkan sebagai sirkulasi energi yang bergerak melingkar dari unsur terdalam hingga menghasilkan kesadaran indrawi.

Tahap  Komponen Manifestasi
I Sari darah yang bening (sarining getih hening) Menjadi perwujudan dari Sang Hyang Atma
II Sang Hyang Atma Bermanifestasi dalam diri Ibu (I Meme)
III Ibu (I Meme) Mewujud sebagai api suci (Sang Hyang Agni)
IV Sang Hyang Agni Menghidupkan eksistensi dunia nyata (urip sekala)
V Bakti kehidupan duniawi Menghasilkan asap spiritual (kukus)
VI Asap spiritual (kukus) Mengembun menjadi unsur air (yeh)
VII Air (yeh) Bermanifestasi dalam diri Ayah (I Bapa)
 VIII Ayah (I Bapa) Menjelma menjadi kekuatan pikiran (idep)

Sirkulasi ini menempatkan kutub ayah (I Bapa) di dalam organ mata (netra) untuk melihat rupa dan warna, serta membedakan hal buruk (ala) dan baik (ayu). Sebaliknya, kutub ibu (I Meme) ditempatkan di dalam organ telinga (karna) untuk mendengar suara atau ucapan yang buruk maupun baik.

Penyatuan kedua kutub ini dilakukan dengan menghadirkan cahaya suci Sang Hyang Sweta Komala ke dalam diri, yang secara mistik bertempat di kedua mata. Penyatuan pandangan dan pendengaran ini menghasilkan Sang Hyang Amreta Sanjiwani, sebuah ramuan keabadian batiniah yang dirumuskan secara teologis melalui persamaan kesadaran sebagai berikut :

Amreta Sanjiwani = Mertha (Kulisah) + Sa (Swara) + Jiwa + Wani (Purusa)

Jika seorang praktisi teguh dalam memanifestasikan suara spiritual dari diri sejati (I Kulisah), ia akan mencapai kondisi Amreta Sanjiwani, di mana diri sejati bertindak sebagai puncak sembah untuk memuji keagungan dewa-bhatara.

Anatomi mistik ini diperdalam melalui penempatan pusat atma pada organ paru-paru (peparu) yang diidentifikasi sebagai “hati yang putih” (ati putih). Paru-paru dibagi menjadi tiga wilayah ketuhanan yang sejajar dengan konsep tri-murti Siwaistik : pangkal paru-paru adalah stana Dewa Siwa, bagian tengah paru-paru adalah stana Dewa Sadasiwa, dan ujung paru-paru adalah stana Dewa Paramasiwa atau Guru Siwa. Penyatuan ketiga stana ini melahirkan kesatuan rasa (pulung rasa).

Praktisi kemudian diarahkan untuk melakukan regulasi napas (pranayama) dengan mengarahkan napas menuju pusat langit (puser langit) dan menyumbat pusat bumi (puser bhumi). Aliran udara yang membubung ke atas akan menuntun atma menuju surga Hyang Suksma.

Untuk menampilkan bagian ini, diperlukan
Login Membership

Integrasi organ tubuh ini divisualisasikan dalam bentuk tempat suci internal yang berada di dalam raga (sanggah ring raga). Kuil batin ini digambarkan sebagai istana manik beratap intan (gedong manic meraab inten) yang berdiri di atas fondasi emas berukir (bebaturan mas maukir), ditempatkan pada tanah suci di dalam diri. Di dalam kuil batin terdapat dua buah batu yang berfungsi sebagai jendela penglihatan mistik (penawangan) untuk mengamati kehadiran Sang Hyang Atma.

Ketika Sang Hyang Atma dalam kondisi tidur, ruang batin akan tampak terang benderang, namun saat terjaga, keberadaan-Nya justru menghilang dari pandangan jasmani. Apabila tampak gerakan berputar saat mata terbuka, itu adalah tanda bahwa diri sejati sedang melakukan penyembahan. Dan jika tampak cahaya berkelap-kelip bagaikan bintang, itulah tanda visual dari kehadiran kesejatian hidup yang abadi.


Sumber Lontar :
Ida Wayan Kompyang
Griya Tengah Budakling, Karangasem.


HALAMAN TERKAIT
Baca Juga