- 1Anatomi Mistik dan Konsep Sastra Kutaraja
- 2Dualisme Psiko-Spiritual : Catur Sanak dan I Kulisah
- 3Disiplin Brata Siwa Lingga dan Kesadaran Liminal
- 4Historiografi dan Transmisi Ajaran
- 5Fisiologi Spiritual Sweta Komala, Sumsumena, dan Moksa
- 6Protokol Ritual Bersuci dan Kehidupan Sehari-hari
- 7Terjemahan Lontar Kaputusan Bhatara Guru
Dualisme Psiko-Spiritual : Catur Sanak dan I Kulisah
Naskah ini menguraikan konsep tentang empat saudara spiritual (Catur Sanak) yang menyertai setiap manusia sejak lahir. Di bawah pengaruh ketidaktahuan, keempat saudara ini bermanifestasi sebagai kekuatan buruk (dursila) yang diutus oleh Bhatara Guru untuk menguji batin manusia, menciptakan kesalahan, dan menjerumuskan jiwa ke dalam kesengsaraan. Sebaliknya, jika praktisi tekun melaksanakan brata dan penyucian batin, keempat saudara tersebut akan mengalami transmutasi spiritual menjadi kekuatan suci yang menuntun jiwa menuju keselamatan pasca-kematian.
| Saudara | Manifestasi Buruk (Dursila) | Dampak Negatif pada Perilaku | Transmutasi Suci | Peran Pasca-Kematian (Moksa) |
| Saudara I | I Sugyan / Sang Anggapati | Kebingungan batin (paling) | Sang Sida Rasa | Menjadi jalan kebaikan (marga ayu) |
| Saudara II | I Abra / Sang Mrajapati | Kemurkaan dan egoisme | Sang Sida Sakti | Menjelma menjadi Widyadara-Widyadari |
| Saudara III | I Kered / Sang Banaspati | Penderitaan dan duka | Sang Ratu Mas Kuhideng | Menjadi keadaan surga mulia |
| Saudara IV | I Yala / Sang Banaspati Raja | Kematian tidak wajar (salah pati) | Sang Ratu Aji Putra Putih | Bersatu sebagai Bhatara Guru Tunggal |
Di samping keempat entitas tersebut, terdapat kekuatan buruk kelima yang bernama I Buwes, yang memicu timbulnya kemarahan (kroda). Jika seorang praktisi menginginkan kekuatan batin yang sakti, ia harus mampu mengendalikan dan menjauhkan pengaruh buruk dari I Buwes.
Apabila seorang manusia mengabaikan penyucian saudaranya selama hidup di dunia, keempat saudara tersebut tidak akan mau mengakui hubungan kekerabatan spiritual saat kematian tiba. Akibatnya, tidak ada kekuatan yang membela atma tersebut sehingga ia terperosok ke dalam kawah penyiksaan. Keempat saudara tersebut justru akan tertawa menyaksikan atma disiksa oleh pasukan Kingkara Bala di kawah tembaga.
Lebih jauh, kelalaian spiritual akan mengundang Sang Bhuta Kapiragan untuk menyusup ke dalam raga jasmani. Bhuta Kapiragan digambarkan sebagai entitas kegelapan yang memakan kekuatan mantra batin manusia. Ia membalikkan segala perbuatan baik menjadi buruk, memicu kesombongan, ketamakan, serta perilaku menyimpang. Kehadiran entitas ini mendatangkan penyakit batin yang sangat berat (gring maha bara) yang tidak dapat diobati, yang pada akhirnya membusukkan raga praktisi dari dalam hingga melahirkan jutaan ulat (uler) yang memangsa jasadnya sendiri.
Untuk menangkal kehancuran spiritual ini, praktisi harus memperkuat kedudukan diri sejati yang dipersonifikasikan sebagai I Kulisah. I Kulisah adalah representasi dari diri murni, anak kecil yang suci (rare), hampa (taya), murni tanpa noda (licin), dan bermanifestasi sebagai dewa pelindung (gana). I Kulisah adalah satu-satunya saudara sejati yang setia mendampingi jiwa melewati masa-masa kritis kematian dan mengantarkannya menghadap ke hadapan Bapa Betara Guru Tunggal.













