Bhatara Guru

Kaputusan Bhatara Guru – Ajaran Tertinggi Tentang Kesucian Diri


Disiplin Brata Siwa Lingga dan Kesadaran Liminal

Penyatuan mikrokosmos dengan makrokosmos dicapai secara metodologis melalui pelaksanaan Brata Siwa Lingga. Brata ini merupakan disiplin yoga esoterik yang menyatukan unsur siang hari sebagai representasi makrokosmos (bhuana agung) dan malam hari sebagai representasi mikrokosmos (bhuana alit), atau sebaliknya.

Sebelum melaksanakan brata ini, seorang praktisi diwajibkan memahami ajaran Sastra Sanga dan Buddha Kecapi, serta menguasai rahasia genta pengganda tujuh (genta katikelaning pinara pitu). Ketidaktahuan akan prasyarat ini akan mendatangkan kesengsaraan yang terus-menerus sejak hidup hingga kematian tiba.

Secara filosofis, Sastra Sanga diposisikan sebagai wadah spiritual yang menguasai kesadaran pada saat manusia dalam keadaan tidur (aturu), sedangkan Buddha Kecapi diposisikan sebagai isi spiritual yang menguasai batin ketika manusia terjaga (atangi). Kedua ajaran ini bersatu membentuk kesadaran kosmis yang melahirkan keadaan liminal yang sangat spesifik, di mana praktisi berada dalam kondisi antara tidur dan terjaga :

Kesadaran Liminal = Tidur tetapi Bukan Tidur + Terbangun tetapi Bukan Terbangun

Pada titik transendental inilah jiwa menetap di stana Sang Hyang Wiswa Pangeran, mengalami keadaan tanpa wujud fisik (awake tanpa awak), dan terbebas dari belenggu keduniawian.

Brata ini diawali pada bulan pertama (sasih kasa) dengan menyediakan sarana upakara berupa daksina, canang burat wangi, minyak wangi, serta pelita (dipa). Pada hari Purnama dan Tilem, praktisi melakukan pembersihan raga secara total ketika fajar menyingsing di timur. Setelah bersuci, praktisi melakukan sembah bakti sebanyak empat kali lipat, lalu segera berbaring tidur tanpa menegangkan pandangan mata, melainkan mengarahkan kesadaran (adnyana) untuk membangkitkan cahaya suci Sang Hyang Sweta Komala. Praktisi menahan napas (pepet ikang bayu) dan mengalirkannya secara perlahan hingga merasakan kesunyian batin.

Penyatuan unsur spiritual di dalam raga digambarkan melalui penggabungan unsur Pradana (feminin) yang diwakili oleh Dewa Brahma (unsur api) dengan unsur Purusa (maskulin) yang diwakili oleh Dewa Wisnu (unsur air). Penyatuan ini digambarkan melalui metafora esoterik yang sangat mendalam :

“…duhung manjing urangka, urangka manjinging duhung…”

(…bagaikan keris masuk ke dalam sarungnya, atau sarung masuk ke dalam keris…)

Penyatuan unsur api dan air di dalam diri ini menyebabkan Sang Hyang Atma tidak dapat mati di dalam raga fisik, karena posisinya berada tepat di tengah-tengah sembah bakti yang dilakukan siang dan malam.

Sebaliknya, manusia yang tidak menuntaskan ajaran batin ini dan tidak teguh selama hidupnya diibaratkan laksana binatang liar (laru-laru) yang baru keluar dari guanya. Ketika ajal menjemput raga kasat matanya, jiwanya akan terlunta-lunta menghadapi duka, rintangan, serta siksaan (amidandha) selama bertahun-tahun. Jiwa yang kotor tersebut akan terperosok ke dalam kawah tembaga berkepala lembu (Tambra Gohmukha atau tembaga matenggek lembu). Hal ini terjadi karena sewaktu hidup, kesadaran suksma disalahgunakan untuk menuruti ucapan yang membingungkan (sabda moho), tenaga yang liar (bayu loka), serta pikiran yang murka (idep murka), sehingga jiwa ditenggelamkan ke dalam kawah kesengsaraan Walukarlawa.

Selama pelaksanaan Brata Siwa Lingga, terjadi pergantian sifat spiritual antara unsur batin (suksma) dan fisik (sekala) yang diatur secara berpasangan.

Fase Pembagian Waktu Karakteristik Sang Hyang Suksma Karakteristik Raga Sekala
Kala Melakukan Sembah Bersifat Laki-laki (Purusa), Hidup, Terbangun Bersifat Perempuan (Pradana), Mati, Tertidur
Setelah Selesai Menyembah Bersifat Perempuan (Pradana), Mati, Tertidur Bersifat Laki-laki (Purusa), Hidup, Terbangun

Untuk menampilkan bagian ini, diperlukan
Login Membership


Sumber Lontar :
Ida Wayan Kompyang
Griya Tengah Budakling, Karangasem.


HALAMAN TERKAIT
Baca Juga