- 1Anatomi Mistik dan Konsep Sastra Kutaraja
- 2Dualisme Psiko-Spiritual : Catur Sanak dan I Kulisah
- 3Disiplin Brata Siwa Lingga dan Kesadaran Liminal
- 4Historiografi dan Transmisi Ajaran
- 5Fisiologi Spiritual Sweta Komala, Sumsumena, dan Moksa
- 6Protokol Ritual Bersuci dan Kehidupan Sehari-hari
- 7Terjemahan Lontar Kaputusan Bhatara Guru
Fisiologi Spiritual Sweta Komala, Sumsumena, dan Moksa
Naskah lontar Keputusan Bhata Guru memaparkan sirkulasi energi keabadian (amreta) yang mengalir dari pusat spiritual tertinggi menuju organ-organ bagian dalam tubuh guna mencapai pelepasan jiwa. Aliran energi ini digambarkan bergerak secara vertikal dan horizontal di dalam anatomi spiritual manusia.
Sirkulasi energi yang mengalir dari dahi menuju pusat pusar dengan mengikuti ujung hati dan empedu ini dikenal sebagai sistem Sang Sumsumena. Aliran ini bermanifestasi secara visual seperti pancaran indah bulan purnama di dalam tubuh.
Di bagian dada kanan, tepat di ujung jantung (papusuh), energi ini bersinar menyerupai lampu minyak yang menyala tanpa asap (dammar tanpa kukus).
Sementara di bagian dada kiri, tepat di ujung empedu (ampru), bersemayam aksara suci Ung yang sinarnya menyerupai tetesan air di atas ujung daun ilalang (kusa). Air spiritual tersebut terus mengalir dari sisi kanan tubuh dengan pancaran cahaya yang menyerupai kehangatan matahari pagi.
Pusat pengatur seluruh energi ini berada di ubun-ubun kepala (siwa dwara) yang dikendalikan oleh Sang Hyang Sweta Komala. Wilayah suci ini terletak tepat di tengah-tengah otak di dalam kepala.
Wujud mistik dari Sang Hyang Sweta Komala digambarkan sebagai bunga teratai putih berdaun seribu (terate putih alawa siyu). Di dalam mahkota teratai putih tersebut terdapat lingkaran bulan (candra mandala) yang melindungi sebuah struktur berbentuk telur tunggal yang sangat bening dan bebas dari noda (antiga tunggal nirmala).
Di dalam telur tunggal tersebut terdapat adwija yang wujudnya menyerupai lampu menyala tanpa asap yang teguh tidak bergerak. Di dalam adwija terdapat cahaya suci (jyotisa), dan di dalam jyotisa terdapat setetes air suci (windu sara) yang rupanya menyerupai tetesan air di atas daun keladi (kamumu). Di dalam ruang mikro-kosmis yang sangat suci inilah terletak stana dari Sang Siwa Penguasa yang mengambil wujud nyata sebagai aksara suci Ongkara.
Ajaran ini juga menerangkan keberadaan beberapa konfigurasi aksara Ongkara lainnya di dalam tubuh praktisi :
Login Membership
Mpu Kretha menjelaskan bahwa pemusatan pikiran yang terarah (idep tuduh) bertindak sebagai pelindung gaib yang melenyapkan segala bentuk dosa dan belenggu duniawi (upapa).
Mpu Kresna menambahkan bahwa jalan kelepasan (moksa) dicapai dengan mencari Sang Pencipta melalui pembangkitan api suksma (agni suksma) di dalam diri. Api suksma tersebut digambarkan menyala bagaikan disiram minyak, yang seketika membakar habis seluruh dosa dan malapetaka batiniah.
Pelepasan jiwa ini disimbolkan melalui mantra pembebasan yang diajarkan oleh Ki Sadumaya :
“Wahai kurung batang bumi suci, darah menjelma menjadi air kamandalu, Ki Sadumaya menjelma menjadi ajaran putra Bhatara Guru.”
Melalui mantra tersebut, terjadi proses penciptaan (utpeti) di mana energi air keabadian (amreta) mendekat ke dalam organ hati dan bermanifestasi menjadi gunung permata (ratna sagunung) yang memancarkan tujuh warna pelangi : putih, merah, hitam (kresna), jingga, kuning, biru, dan merah muda. Penglihatan mistik ini menjadi milik pendeta suci (wiku), yang diibaratkan laksana tindakan menarik tali timba untuk melihat kejernihan air di dasar sumur batinnya.













