Bhatara Guru

Kaputusan Bhatara Guru – Ajaran Tertinggi Tentang Kesucian Diri


Protokol Ritual Bersuci dan Kehidupan Sehari-hari

Naskah lontar Keputusan Bhata Guru menyediakan rangkaian panduan upacara praktis untuk menyelaraskan aktivitas fisik sehari-hari dengan kesadaran ketuhanan. Ritual harian diawali dengan posisi berdiri dengan satu kaki (angeka pada) sambil mencakupkan kedua telapak tangan (amusti). Praktisi kemudian mengucapkan salam penghormatan kepada diri murni: “Tabe aku I Masbun”.

Untuk menampilkan bagian ini, diperlukan
Login Membership

 

Kesimpulan Spiritual

Kajian mendalam terhadap naskah Lontar Kaputuran Bhatara Guru membuktikan bahwa keselamatan spiritual tidak ditentukan oleh kemegahan ritual luar atau penyembahan fisik pada batu lingga semata. Pencapaian spiritual sejati diperoleh melalui penyelarasan batin secara total. Tubuh manusia diubah fungsinya menjadi kuil suci batiniah (sanggah ring raga) yang memiliki fondasi emas ukiran, dinding kristal, dan atap intan permata yang berkilauan.

Darah di dalam tubuh disucikan menjadi air keabadian Tirtha Kamandalu, sementara raga fisik yang fana dihayati sebagai tanah suci Pulo Manyeti yang bertindak sebagai obat penawar bagi segala penyakit batin. Melalui disiplin pembersihan raga harian, regulasi napas yang teratur, dan pelaksanaan Brata Siwa Lingga, ego keduniawian dilebur secara paripurna.

Manusia yang berhasil mengamalkan ajaran suci ini diyakini tidak akan lagi terperosok ke dalam kawah penyiksaan. Jiwanya akan disambut dengan agung oleh para widyadara-widyadari di alam Siwa Bhuana. Atma tersebut akan diakui sebagai putra suci oleh para leluhur di Batur Hyang Kelawasan, memperoleh wujud kedewataan bertangan empat (catur bhuja) bermata tiga (tri locana), dan bersanding abadi bersama keagungan Sang Hyang Aji Eka Sabda.


Sumber Lontar :
Ida Wayan Kompyang
Griya Tengah Budakling, Karangasem.


HALAMAN TERKAIT
Baca Juga