Brahmokta Widhi Sastra

Brahmokta Widhi Sastra – Kosmologi dan Jalan Kalepasan


Naskah Lontar Brahmokta Widhi Sastra ini mengulas kosmologi Siwaistik, teologi aksara, sistem Catur Warna dan jalan kalepasan. Penyelidikan filologis terhadap teks ini menunjukkan struktur bahasa yang khas, di mana bait-bait sloka ditulis menggunakan bahasa Sanskerta sebagai otoritas keagamaan tertinggi (śruti), sementara penjelasan doktrinalnya (kaliṅan) dijabarkan menggunakan prosa bahasa Jawa Kuna. Kombinasi linguistik ini mencerminkan tradisi pelestarian sastra tattwa kuno, sejajar dengan naskah-naskah otoritatif lainnya seperti Bhuwana Kośa, Ganapati Tattwa, Wṛhaspati Tattwa dan Tattwa Jñāna.

Teologi dan Kosmogenesis Primordial

Doktrin ketuhanan yang diuraikan dalam naskah Brahmokta Widhi Śāstra memiliki corak teologi Śiwaitas yang sangat kuat, menempatkan kesadaran tertinggi pada satu prinsip ketuhanan imanen sekaligus transenden. Kosmologi teks ini diawali dengan penjelasan mengenai keadaan pra-penciptaan yang disebut sebagai keadaan Śūnyatatva atau hakikat kesunyian dan ketiadaan mutlak.

Pada fase primordial ini, segala unsur materi kasar, badan angkasa, angin, hingga manifestasi kedewataan kosmik (Brahma, Wisnu, dan Maheswara) belum mewujud ke alam nyata. Teks menggambarkan keadaan ini sebagai kekosongan murni (huwuṅ-huwuṅ) di mana dunia hampa tanpa bentuk fisik. Pandangan kosmologis ini selaras dengan ajaran dalam naskah Bhuana Sangkṣepa dan Ganapati Tattwa, yang menegaskan bahwa alam semesta bermula dari kehampaan kosmik (Śūnya) yang diatur oleh kesadaran tertinggi Tuhan sebagai asal mula dari segala yang ada.

Transisi dari ketiadaan (niskala) menuju penciptaan fisik (sakala) dipicu oleh kehendak bebas dari kesadaran tertinggi yang disebut Sanghyang Wiśeṣa. Sifat kehendak ini diistilahkan sebagai īśvarecchā, yaitu dorongan dari dalam diri Tuhan untuk memanifestasikan diri-Nya menjadi penguasa dunia (māvaka prabhu) dan menciptakan alam semesta (bhuvana).

Begitu kehendak penciptaan ini aktif, Sanghyang Wiśeṣa memanifestasikan diri-Nya sebagai Bhaṭāra Īśwara. Dalam kerangka teologis ini, Tuhan diposisikan sebagai penggerak utama yang tidak digerakkan oleh kekuatan lain. Setelah bertransformasi menjadi Bhaṭāra Īśwara, esensi ilahi tersebut membagi diri-Nya menjadi tiga wujud (pinatelu), di mana dua wujud lainnya beralih rupa menjadi Bhaṭāra Brahmā (sebagai kekuatan pencipta atau jagatkarttā) dan Bhaṭāra Wiṣṇu (sebagai kekuatan pemelihara).

Proses manifestasi materi fisik alam semesta berlangsung secara gradual melalui pembentukan lima unsur zat materi utama yang disebut Pañca mahā bhūta. Setiap unsur dilahirkan dari unsur pendahulunya yang lebih halus, menciptakan rantai emanasi kosmologis yang teratur. Hubungan antara unsur-unsur pembentuk alam semesta beserta karakteristik utamanya (guṇa) yang melekat secara indrawi dijelaskan secara spasial di bawah ini :

No Unsur Pañcamahābhūta Asal Mula Kelahiran Unsur Karakteristik Utama (Guṇa) Representasi Fisik Alam Semesta
1 Ākāśa (Angkasa) Manifestasi awal dari kehendak penciptaan Śabda (Suara) Ruang hampa, medium getaran suara primordial
2 Vāyu (Angin) Dilahirkan dari unsur Ākāśa Sparśa (Sentuhan) Udara, atmosfir, dinamika gerakan nafas kosmik
3 Teja (Cahaya/Api) Dilahirkan dari unsur Vāyu Rūpa (Wujud/Bentuk) Matahari, bulan, bintang, kilat, api, pelangi
4 Jala / Toya (cairan/Air) Dilahirkan dari unsur Teja Rasa (Rasa) Zat cair, samudera, kelembapan kosmik
5 Pṛthivī / Bhūmi (Tanah/Bumi) Dilahirkan dari unsur Jala Gandha (Aroma/Bau) Tanah, zat padat, struktur fisik bumi dan planet

Melalui bagan emanasi ini, teks mengajarkan bahwa dunia fisik lahiriah yang tampak nyata secara lahiriah sesungguhnya bersumber dari kesadaran halus Tuhan yang bersifat paling gaib di antara yang gaib (sūkṣmāti-sūkṣma). Tuhan tidak dapat dijangkau atau dilihat langsung oleh indra makhluk ciptaan-Nya karena Beliau “menyelinap” dan menyamar di dalam jalinan unsur Pañca mahā bhūta tersebut, bertindak sebagai penggerak proses kemunculan (utpatti), pemeliharaan (sthiti), dan peleburan (pralīṇa) alam semesta.

Mitologi Asal-usul Aksara

Kajian mendalam terhadap lontar Brahmokta Widhi Śāstra menjadi semakin kaya ketika dikomparasikan dengan teks sealiran, salah satunya adalah kitab Tutur Bhuwana Mareka yang juga dikenal dengan judul lengkap Tutur Bhuwana Mareka Brahmokta Widhisastra Medang Kemulan. Melalui perbandingan ini, ditemukan jalinan mitologi spiritual yang menghubungkan asal-usul manusia, raja-raja di Jawa dan Bali, serta penciptaan aksara suci melalui perantara entitas primordial bernama Sanghyang Tunggal.

Dalam Tutur Bhuwana Mareka, dijelaskan bahwa Sanghyang Tunggal merupakan penyebab utama keberadaan para raja dan umat manusia di Pulau Jawa dan Pulau Bali. Salah satu keturunan spiritual penting yang muncul adalah I Joko Sangkola, putra dari pendeta suci Mpu Angganjali. Setelah dewasa dan mencapai kematangan spiritual, I Joko Sangkola dinobatkan menjadi raja di kerajaan legendaris Medang Kamulan dengan gelar Aji Soka (atau dikenal dalam sejarah tutur sebagai Aji Saka). Raja Aji Soka dikisahkan memiliki dua orang abdi setia yang sangat sakti, bernama I Yana dan I Yalip. Akibat kesalahpahaman yang mendalam, kedua abdi tersebut terlibat dalam pertikaian sengit yang berujung pada pertempuran hebat. Pertempuran tersebut berlangsung seimbang karena keduanya memiliki tingkat kesaktian yang sama, hingga akhirnya kedua abdi tersebut gugur bersama-sama di medan laga.

Untuk mengabadikan kesetiaan dan peristiwa tragis tersebut, jasad kedua abdi itu dikutuk oleh Raja Aji Soka menjadi deretan aksara suci. Jasad I Yalip dikutuk menjadi aksara Arab, sedangkan jasad I Yana ditransformasikan menjadi deretan aksara Jawa dan Bali, yang tersusun dalam rangkaian fonetis legendaris :

A – Na – Ca – Ra – Ka – Da – Ta – Sa – Wa – La – Pa – Da – Ja – Ya – Nya – Ga – Ba – Ta – Nga

Rangkaian aksara ini mengandung makna filosofis yang mendalam mengenai dualitas dunia yang saling meniadakan, yaitu : “Ada dua orang abdi bertengkar, sama-sama sakti, yang akhirnya keduanya gugur bersama-sama”. Melalui mitologi ini, penciptaan aksara dalam tradisi sastra Jawa-Bali diposisikan bukan sekadar sebagai alat komunikasi sekuler, melainkan sebagai monumen spiritual yang lahir dari peleburan dualitas energi kosmik (Rwa Bhineda) menjadi satu kesatuan harmoni bahasa tulis yang sakral.

Veda Śarīra : Tubuh Kosmik Dewata dan Cabang Ilmu Vedāṅga

Puncak estetika teologis dalam Brahmokta Widhi Śāstra terletak pada konsep Veda Śarīra, yaitu personifikasi kitab suci Catur Veda beserta seluruh cabang pembantunya (Vedāṅga) ke dalam satu kesatuan organ fisik tubuh Bhaṭāra Brahmā.

Konsep ini menempatkan pengetahuan suci tidak hanya sebagai teks-teks tertulis, melainkan sebagai organ-organ hidup dari tubuh kosmik kedewataan. Melalui pemetaan ini, setiap bait mantra dan aturan tata bahasa dipahami sebagai bagian anatomis yang dinamis. Integrasi organ fisik tubuh Veda Śarīra berdasarkan teks-teks sastra suci dijabarkan secara rinci dalam tabel di bawah ini :

No Bagian Tubuh Sastra Penjelasan Fungsi
1 Kaki Kanan Chandasī Bagian dari ilmu Chanda (irama/metrum lagu pujaan) yang berfungsi sebagai penopang langkah kanan dari Veda.
2 Kaki Kiri Upachandasī Bagian irama tambahan (Upachanda) yang berfungsi sebagai penopang langkah kiri dari Veda.
3 Tangan Kanan Kalpanā Śāstra Ilmu ritual keagamaan (Kalpa) yang terstruktur, mengatur pelaksanaan upacara secara formal.
4 Tangan Kiri Akalpanā Śāstra Ilmu ritual keagamaan yang bersifat intuitif dan bebas tanpa struktur kaku.
5 Mata Kanan Arkka Sphuṭa Bagian dari ilmu astrologi (Jyotiṣa); perhitungan pergerakan matahari nyata sebagai penglihatan kanan.
6 Mata Kiri Candra Sphuṭa Bagian dari ilmu Jyotiṣa; perhitungan pergerakan bulan nyata sebagai penglihatan kiri.
7 Wajah / Mulut Vyākaraṇa Śāstra Ilmu tata bahasa yang mengatur keseluruhan artikulasi sabda suci Veda.
8 Telinga Kanan Dhātu (Akar Kata) Bagian dari Vyākaraṇa; akar kata dasar sebagai penerima getaran suara kanan.
9 Telinga Kiri Avyaya (Partikel Tetap) Bagian dari Vyākaraṇa; kata tidak berinfleksi sebagai penerima getaran suara kiri.
10 Lubang Hidung Kanan Sandhi (Peleburan Bunyi) Bagian dari Vyākaraṇa; peleburan bunyi sebagai pengatur aliran nafas kanan.
11 Lubang Hidung Kiri Sūtra (Aturan Ringkas) Bagian dari Vyākaraṇa; aturan ringkas sebagai pengatur aliran nafas kiri untuk mengucapkan jenis aksara datta, anudatta, dan samavṛtti.
12 Alat Kelamin (Guhya) Kāmatantra Sastra yang mengelola hasrat, energi vital, dan penciptaan fisik manusia.
13 Perut (Kukṣi) Mīmāṅsā Śāstra Sastra filsafat penafsiran ritual dan hermeneutika keagamaan.
14 Hati (Hṛdaya) Paśupata Śāstra Sastra esoteris mengenai penyerahan jiwa kepada Tuhan (Śiva-Paśupati).
15 Dada (Uraka) Mahānātha Śāstra Sastra keagamaan yang menjadi pusat kekuatan pelindung dan keagungan spiritual.
16 Leher (Kanthē) Vaiśeṣika Śāstra Sastra filsafat tentang kategori materi dan fisika alam semesta.
17 Lidah (Jihvā) Śikṣā Śāstra Ilmu fonetika Veda yang mengatur petunjuk pengucapan tinggi-rendahnya tekanan suara mantra.
18 Puncak Kepala (Śīrṣa) Alépaka Jñānaśāstra Sastra pengetahuan spiritual tertinggi mengenai pencapaian kebebasan tanpa noda (nirmala-jñāna).

Melalui struktur Veda Śarīra ini, para praktisi spiritual diajarkan bahwa proses mempelajari sastra keagamaan dengan membaca, melafalkan, dan menghayati tata bahasa suci serta astrologi sesungguhnya merupakan bentuk yoga untuk menyentuh dan merasuki organ tubuh kosmik dari Tuhan itu sendiri.


Sumber :

Lontar Salinan I Nyoman Rai
(Pranaraga, Saka 1825 / 1903 M)


HALAMAN TERKAIT
Baca Juga