- 1Etika dan Pengendalian Diri Wiku
- 2Patologi Spiritual dan Struktur Delapan Belas Mala
- 3Paradoks Kesadaran dan Kurangnya Yoga
- 4Esoteris Banten dan Kedirian Manusia
- 4.1Sinergi Saudara Kosmis dan Tri Karana dalam Wadah Kuil Suci
- 4.2Patologi Preta, Dengen dan Kala di Dalam Organ Tubuh
- 4.3Eksoterisme dan Esoterisme Banten Panjang Ilang
- 5Liturgi Kematian dan Siklus Ritual Perkembangan Hidup
- 5.1Dualitas Liturgi Kematian : Jalan Buddha dan Jalan Siwa
- 5.2Pengkodean Aksara Mistik dalam Upacara Siklus Hidup Manusia
- 5.3Liturgi Penebusan Utang Kosmis (Patebasan)
- 6Astrologi dan Genesis Sarana Upakara
- 6.1Pengaruh Kosmis Wuku Terhadap Kedirian dan Penyembuhan
- 6.2Genesis Bahan Ritual dan Transmutasi Yadnya
- 7Arti dan Makna Banten dan Sarana Upakara
- 7.1Banten dan Upakara Utama
- 7.2Sarana dan Perlengkapan Sesajen
- 7.3Jajanan Upakara (Sarana Jaja)
- 7.4Bahan Alam dan Tumbuh-tumbuhan (Sarwa Taru dan Padang)
- 8Terjemahan Naskah Lontar Tegesing Sarwa Banten
Etika dan Pengendalian Diri Wiku
Ajaran esoteris di dalam lontar Tegesing Sarwa Banten ditransmisikan dalam bentuk petuah spiritual (pawekas) oleh Sang Wiku kepada umat manusia (sang janapada) demi kelangsungan hidup yang harmonis. Epistemologi etika ini menempatkan orang tua (yayah rena atau ibu bapak) sebagai jalan awal keberadaan fisik dan spiritual manusia (sangkaning paran).
Berbakti dan meresapi nasihat orang tua dipandang sebagai fondasi mutlak yang harus diselesaikan sebelum seorang penempuh spiritual (sang Bhupala) dapat melangkah menuju pencapaian kebahagiaan sejati tanpa kembali berbalik menjadi kedukaan (suka tan mewalik duhkita).
Untuk menguasai keutamaan hidup (kotaman urip), seorang penempuh spiritual diwajibkan melakukan pengekangan diri yang ketat terhadap keinginan makan (amangan) dan gejolak pikiran (papineh).
Hanya dengan pikiran yang teguh dan terkendali, esensi dari ajaran suci (Sastra Aji) serta praktik yoga samadhi dapat dipahami secara utuh. Lontar Tegesing Sarwa Banten menetapkan definisi fungsional bagi setiap pilar disiplin spiritual guna menghindari kesalahpahaman dalam penerapannya.
| Pilar Spiritual | Definisi Esoteris | Sasaran Batin |
| Tapa |
Memanaskan raga melalui kedisiplinan fisik |
Pemurnian elemen fisik dari kekotoran duniawi. |
| Yoga |
Memusatkan pikiran (ngulengang manah) |
Penyatuan dualitas kesadaran batin. |
| Samadhi |
Ketenangan dan kelanduhan kesadaran (citta) |
Pencapaian kedamaian batin yang tidak tergoyahkan. |
| Dhyana |
Terangnya kesadaran batin dan pikiran |
Penerangan batin untuk menembus kegelapan ilusi. |
| Japa |
Kepastian hakikat kebenaran yang diulang |
Peneguhan vibrasi kesucian di dalam diri. |
| Mantra |
Sarana ucapan suci (ucap-ucap) |
Kendaraan suara untuk menghubungkan diri dengan dewa. |
| Puja |
Mengetahui secara jelas apa yang dituju |
Ketepatan orientasi spiritual dalam ritual. |
Kelalaian dalam merenungkan inti sari petuah sastra ini setiap hari dipandang sangat berbahaya karena jalan spiritual bersifat sangat rahasia dan sulit dipahami (durghama). Tanpa adanya anugerah dari Sang Hyang Guru Wisesa yang bermanifestasi sebagai penuturan Siwa (Siwa Katuturan), manusia tidak akan pernah mampu merealisasikan pengetahuan nyata mengenai isi Catur Weda maupun ajaran Tattwa Agama.


















