Makna Upacara Banten

Eksistensi Upacara Banten dan Maknanya dalam Agama Hindu Bali


Etika dan Pengendalian Diri Wiku

Ajaran esoteris di dalam lontar Tegesing Sarwa Banten ditransmisikan dalam bentuk petuah spiritual (pawekas) oleh Sang Wiku kepada umat manusia (sang janapada) demi kelangsungan hidup yang harmonis. Epistemologi etika ini menempatkan orang tua (yayah rena atau ibu bapak) sebagai jalan awal keberadaan fisik dan spiritual manusia (sangkaning paran).

Berbakti dan meresapi nasihat orang tua dipandang sebagai fondasi mutlak yang harus diselesaikan sebelum seorang penempuh spiritual (sang Bhupala) dapat melangkah menuju pencapaian kebahagiaan sejati tanpa kembali berbalik menjadi kedukaan (suka tan mewalik duhkita).

Untuk menguasai keutamaan hidup (kotaman urip), seorang penempuh spiritual diwajibkan melakukan pengekangan diri yang ketat terhadap keinginan makan (amangan) dan gejolak pikiran (papineh).

Hanya dengan pikiran yang teguh dan terkendali, esensi dari ajaran suci (Sastra Aji) serta praktik yoga samadhi dapat dipahami secara utuh. Lontar Tegesing Sarwa Banten menetapkan definisi fungsional bagi setiap pilar disiplin spiritual guna menghindari kesalahpahaman dalam penerapannya.

Pilar Spiritual Definisi Esoteris Sasaran Batin
Tapa

Memanaskan raga melalui kedisiplinan fisik

Pemurnian elemen fisik dari kekotoran duniawi.

Yoga

Memusatkan pikiran (ngulengang manah)

Penyatuan dualitas kesadaran batin.

Samadhi

Ketenangan dan kelanduhan kesadaran (citta)

Pencapaian kedamaian batin yang tidak tergoyahkan.

Dhyana

Terangnya kesadaran batin dan pikiran

Penerangan batin untuk menembus kegelapan ilusi.

Japa

Kepastian hakikat kebenaran yang diulang

Peneguhan vibrasi kesucian di dalam diri.

Mantra

Sarana ucapan suci (ucap-ucap)

Kendaraan suara untuk menghubungkan diri dengan dewa.

Puja

Mengetahui secara jelas apa yang dituju

Ketepatan orientasi spiritual dalam ritual.

Kelalaian dalam merenungkan inti sari petuah sastra ini setiap hari dipandang sangat berbahaya karena jalan spiritual bersifat sangat rahasia dan sulit dipahami (durghama). Tanpa adanya anugerah dari Sang Hyang Guru Wisesa yang bermanifestasi sebagai penuturan Siwa (Siwa Katuturan), manusia tidak akan pernah mampu merealisasikan pengetahuan nyata mengenai isi Catur Weda maupun ajaran Tattwa Agama.



HALAMAN TERKAIT
Baca Juga