- 1Kosmogoni Aksara : dari Niskala menuju Swara-Wianjana
- 1.1Homologi Makrokosmos dan Mikrokosmos
- 1.2Sodasa Desa dan Teologi Warna Dewata
- 1.3Siklus Waktu (Kala) : Karakteristik Pancawara, Sadwara dan Saptawara
- 1.4Mandala Nyasa : Matriks Lima Atribut Kosmis
- 2Psikologi Meditatif dan Transendental Aksara Yoga
- 3Pralaya : Proses Pembubaran Kosmis dan Dewata Pralina
- 4Arsa Timbangan - Hukum Keseimbangan Kehendak Pikiran
- 5Kontekstualisasi Komparatif dalam Tradisi Tattwa Siwa-Siddhanta
- 6Terjemahan Lontar Tutur Parakriya
Sebuah lontar ajaran filsafat yang disebut dengan yoga aksara, dimana isi Lontar Tutur Parakriya ini sebagian besar adalah tentang aksara dan kombinasi aksara yang melahirkan berbagai wujud di alam semesta ini. Dengan mengolah berbagai jenis aksara akan didapatkan berbagai macam energi. Dan memuat tentang ajaran yoga untuk pembebasan (moksa). Beberapa penekun ilmu mistik di Bali menggunakan kombinasi aksara untuk mendapatkan kekuatan mistik.
Bingkai naratif teks ini menyajikan interaksi spiritual yang sangat intim dalam keluarga surgawi, di mana Batari Uma meminta putranya, Sang Hyang Kumara, untuk menghadap Bhatara Iswara (Bhatara Siwa) guna memohon pengajaran tentang jalan spiritual yang membebaskan jiwa dari belenggu keduniawian (kamoksan). Batari Uma menegaskan bahwa pengetahuan keagamaan eksoteris (pradana sastra kabeh) tidak akan pernah dijumpai di dalam ajaran kebenaran tertinggi (tan ana mungguh nira ring aji). Realisasi spiritual sejati hanya dapat dicapai melalui jalan Nista Yoga, sebuah metode kontemplasi hening yang berfokus pada pelepasan internal secara total. Berbekal restu sang ibu, Sang Hyang Kumara mendekati Bhatara Siwa dengan mempersembahkan sarana upacara suci yang tulus (sahopancopacarasara) untuk menanyakan asal-mula keberadaan alam semesta dan takdir spiritual makhluk hidup.
Bhatara Siwa menjelaskan kepada Sang Hyang Kumara bahwa sebelum alam material tercipta, seluruh eksistensi berada dalam kondisi kehampaan absolut (Sunya) yang abadi dan tidak dapat dimusnahkan (nitya tan kahilangan). Dalam kondisi pra-penciptaan ini, tidak ada tanah (pritiwi), air (apah), cahaya (teja), angin (bayu), maupun ruang (akasa). Tidak ada pula siklus alamiah seperti siang (dina) dan malam (ratri), bahkan tidak ada benda-benda langit seperti matahari, bulan, awan, badai, petir, ataupun getaran suara kasar. Dari keheningan abadi yang bersifat tak berwujud (Niskala) inilah, ketuhanan mulai memancarkan energi kreatif-Nya melalui proses pemadatan kosmis yang digerakkan oleh getaran aksara suci.
Proses emanasi bertahap dari kondisi transendental Niskala menuju realitas material yang kasar (Sakala) digambarkan melalui rantai sebab-akibat (kausalitas) getaran energi suara. Setiap tahapan merupakan proses kondensasi atau pengkristalan energi spiritual menjadi entitas yang lebih padat dan terstruktur.
| Tahapan | Istilah Tekstual | Mekanisme Getaran & Hakikat Metafisis |
| I | Niskala |
Realitas mutlak yang tak berwujud, tanpa batas, melampaui ruang dan waktu. |
| II | Tan Matra / Matra |
Kristalisasi pertama dari energi potensial gaib menjadi benih-benih energi material. |
| III | Nadanta |
Getaran suara halus primordial yang mengawali seluruh dinamika ciptaan. |
| IV | Nada |
Getaran suara kosmis yang mulai memadat dan mengarah pada pembentukan rupa. |
| V | Windu |
Titik konsentrasi energi cahaya spiritual ketuhanan (amreta joti). |
| VI | Ardacandra |
Lengkungan cahaya bulan sabit kosmis, simbol pengembangan energi kreatif. |
| VII | Wiswa |
Realitas keduniawian awal yang mempersiapkan terbentuknya polaritas energi. |
| VIII | Triaksara |
Tiga aksara suci primordial (Ang, Ung, Mang) sebagai representasi kekuatan kosmis. |
| IX | Pancabrahma |
Lima getaran aksara suci penciptaan awal yang mendominasi energi batin. |
| X | Pancaksara |
Lima aksara suci (Na, Ma, Si, Wa, Ya) sebagai pilar penyangga kesadaran spiritual. |
| XI | Swara-Wianjana |
Kombinasi vokal (Swara) dan konsonan (Wianjana) yang menjadi tubuh fisik para dewa. |
Melalui rantai emanasi ini, naskah Tutur Parakriya membangun konsep teologi fonetis (Aksara Yoga). Suara dan huruf vokal (Swara) serta konsonan (Wianjana) tidak dipandang sebagai instrumen linguistik buatan manusia, melainkan diyakini sebagai perwujudan langsung dari tubuh batin para dewa (wak de batara wuwah dewa kabeh).
Aksara-aksara ini didistribusikan di enam belas penjuru kosmis (sodasa desa) untuk menjaga struktur kestabilan jagat raya. Oleh karena itu, bagi para praktisi spiritual (Yogiswara), penguasaan terhadap vibrasi huruf-huruf suci ini merupakan satu-satunya metode praktis untuk menarik kembali energi material tubuh menuju asal-mula ketuhanan yang tak berwujud.
Homologi Makrokosmos dan Mikrokosmos
Prinsip dasar yang melandasi seluruh teologi tubuh dalam Lontar Tutur Parakriya adalah keyakinan bahwa tubuh manusia (Bhuana Alit) merupakan replika geometris dan fungsional dari alam semesta (Bhuana Agung). Seluruh unsur geografi suci Hindu, termasuk di dalamnya tingkat-tingkat surga (Saptaloka), dunia bawah (Saptapatala), pulau-pulau kosmis (Saptadwipa), barisan gunung suci (Saptaparwata), hingga aliran sungai-sungai suci (Sapta Tirtha), dipetakan secara homologis bersemayam di dalam tubuh manusia.
Sistem homologi ini mengajarkan bahwa tubuh fisik manusia bukanlah entitas yang terpisah dari alam semesta, melainkan sebuah jalinan energi suci yang terus bergetar secara paralel dengan gerakan kosmis. Dengan menyadari keberadaan dewa-dewa di dalam organ-organ tubuhnya, seorang yogi tidak perlu lagi mencari perlindungan spiritual ke dunia luar, sebab seluruh kuil suci alam semesta telah aktif di dalam dirinya sendiri.
| Bhuana Agung | Bhuana Alit | Dewata | Representasi |
| Saptaloka (Tujuh Dunia Atas) |
|||
| Buh Loka | Nabi (Pusar) | Dewa Bumi / Manusa |
Tingkat kesadaran fisik dasar, kelangsungan hidup material. |
| Bwah Loka | Weteng (Perut) | Candra Aditya |
Pusat pencernaan, wilayah emosional dan energi vital. |
| Swah Loka | Ati (Jantung) | Dewa Wisnu |
Istana ketenangan batin, cinta kasih, dan pemeliharaan. |
| Mahaloka | Mulakanti (Pangkal Jantung) | Dewa Brahma |
Pusat kreativitas spiritual, kehendak kuat penciptaan. |
| Janaloka | Cangkem (Mulut) | Dewa Rudra |
Pusat suara, artikulasi kebenaran, dan komunikasi. |
| Tapoloka | Irung (Hidung) | Dewa Mahadewa |
Pusat pengendalian nafas kehidupan, gerak sirkulasi udara. |
| Satyaloka | Sirah (Kepala) | Dewa Siwa |
Pusat kesadaran spiritual tertinggi, penyatuan mutlak. |
| Saptapatala (Tujuh Dunia Bawah) |
|||
| Mahaniraya | Tlapakan Suku (Telapak Kaki) | Energi Bawah |
Tingkat eksistensi bawah yang paling gelap dan berat. |
| Niraya | Walakang Suku (Tumit Kaki) | – |
Penopang stabilitas fisik bagian bawah. |
| Aweci | Pogeloganing Suku (Lengkung Kaki) | – |
Wilayah pemurnian noda-noda karma dasar. |
| Santala | Wisia (Mata Kaki) | Maharorawa |
Batas transisi energi fisik bawah. |
| Atala | Jejengku (Lutut) | Rorawa |
Pusat keseimbangan gerak langkah fisik. |
| Wetala | Pupu (Paha) | Yamaloka |
Wilayah penghakiman atas keinginan-keinginan indrawi. |
| Tala-tala | Let / Sela Panggul | Kumbhaka |
Wadah penampung energi material tubuh bagian dalam. |
Sistem pemetaan teologis ini berlanjut pada pengelompokan pulau-pulau kosmis (Saptadwipa), pegunungan (Saptaparwata), dan aliran air suci (Sapta Tirtha) yang mengalir di dalam jaringan biologis manusia. Pengkaitan ini memberikan landasan bahwa setiap aktivitas biologis memiliki konsekuensi spiritual yang sakral.
| Bhuana Agung | Bhuana Alit | Dewata | Fungsional & Esoteris |
| Saptadwipa (Tujuh Pulau Kosmis) |
|||
| Jambudwipa | Tumpuk / Bagian Tengah | Bhatara Mahadewa |
Pengendali poros keseimbangan organ tubuh bagian dalam. |
| Sangkadwipa | Ungsilan (Ginjal) | Bhatara Iswara |
Pengatur kesucian aliran cairan dan penyaringan racun. |
| Kusadwipa | Ampru (Empedu) | Bhatara Sangkara |
Penjaga stabilitas emosional dari luapan kemarahan. |
| Kroncadwipa | Limpa | Bhatara Rudra |
Pengendali sistem kekebalan tubuh dan sirkulasi zat vital. |
| Salmalidwipa | Paru-paru | Bhatara Brahma |
Istana pernafasan hangat yang membakar kotoran batin. |
| Gomedadwipa | Pusuh-pusuh (Hati/Liver) | Bhatara Wisnu |
Pusat pemeliharaan nutrisi kehidupan bagi seluruh tubuh. |
| Puskaradwipa | Ati (Jantung Terdalam) | Bhatara Siwa |
Istana spiritual tertinggi tempat bersemayamnya Atman. |
| Saptaparwata (Tujuh Gunung Suci) |
|||
| Kuruparwata | Lambung | Bhatara Satia |
Gunung stabilitas pencernaan dan keteguhan batin. |
| Rasiaparwata | Susu Tengen (Payudara Kanan) | Bhatara Sambhu |
Sisi maskulin tubuh, penyalur energi pengasihan aktif. |
| Iraniaparwata | Susu Kiwa (Payudara Kiri) | Bhatara Pasupati |
Sisi feminin tubuh, pelindung vitalitas spiritual batin. |
| Ndalaparwata | Bahu Tengen (Bahu Kanan) | Bhatara Kala |
Pusat kekuatan tindakan fisik, gerak waktu di tangan kanan. |
| Ariparwata | Bahu Kiwa (Bahu Kiri) | Bhatara Mretyu |
Pusat peluruhan energi fisik, penyeimbang gerak dinamis. |
| Kiranaparwata | Irung (Hidung) | Bhatara Kama |
Gunung penciuman, penarik keindahan duniawi. |
| Bhataraparwata | Ulu (Ubun-ubun) | Bhatara Siwa |
Puncak spiritual tertinggi, pintu gerbang keluar-masuknya roh. |
| Sapta Tirtha (Tujuh Sungai Suci) |
|||
| Narmada | Manah (Pikiran) | – |
Aliran emosional, imajinasi, dan hasrat berpikir. |
| Sindhu | Budi (Intelektualitas) | – |
Arus analisis rasional, kebijaksanaan diskriminatif. |
| Gangga | Kanta Mula (Pangkal Leher) | – |
Arus suara suci dan nafas penyucian batin. |
| Saraswati | Jiwa (Roh Vital) | – |
Aliran kesadaran intuitif, pengetahuan mistis terdalam. |
| Dwarawati | Talinga (Telinga) | – |
Aliran pendengaran spiritual, penerima getaran sabda kosmis. |
| Siwanadi | Wunwunan (Fontanelle) | – |
Saluran pembebasan roh menuju kesadaran kosmis Siwa. |
| Siwaprasta Nadi | Tungtunging Rambut | – |
Aliran energi prana halus yang memancar ke luar tubuh. |
Penjelasan teologi tubuh ini disempurnakan dengan menetapkan kedudukan para dewa pada jaringan anatomi biologis manusia (anatomical pantheon). Di dalam raga manusia, sumsum berfungsi sebagai perwujudan esensi Bhatara Siwa, sedangkan tulang-tulang diidentifikasi sebagai manifestasi Bhatara Iswara. Jaringan daging merupakan perwujudan Bhatara Brahma, sirkulasi darah dikuasai oleh Bhatara Rudra, sedangkan sistem urat saraf diwakili oleh naga Basukih.
Persendian dikuasai oleh naga penjaga kosmis, selaput pembungkus organ diwakili oleh Bhatara Sambhu, lambung dan perut besar dikuasai oleh Bhatara Mahadewa, serta kulit luar dilindungi oleh Bhatara Wisnu.
Pada kaki kanan dan kiri bersemayam dewa penjaga pintu gerbang, Nandiswara dan Mahakala, sementara pada kedua mata bersemayam dewa kembar penerang dunia, Candra dan Aditya.
Integrasi yang sangat rinci ini menegaskan bahwa setiap detak kehidupan dan struktur anatomi manusia adalah manifestasi dari jaringan ketuhanan yang hidup.
Sodasa Desa dan Teologi Warna Dewata
Dalam pandangan teologi Lontar Tutur Parakriya, ruang tidak bersifat kosong, melainkan terstruktur sebagai mandala spiritual yang dihuni oleh kekuatan kosmis yang memancarkan warna dan suara tertentu. Pengaturan ruang ini diformulasikan ke dalam konsep Sodasa Desa (Enam Belas Penjuru), yang menggabungkan sembilan dewa penjaga arah utama (Dewata Nawa Sanga) dengan dewa-dewa penyeimbang yang menjaga ruang transisi (antara) di antara penjuru-penjuru utama tersebut.
Suku kata mantra (vija-mantra) bertindak sebagai kunci spiritual untuk mengaktifkan pancaran energi dari setiap dewa pelindung penjuru tersebut. Ketika seorang yogi memusatkan pikirannya pada arah mata angin tertentu, ia harus memvisualisasikan dewa pelindung yang bersangkutan lengkap dengan karakteristik warna magisnya.
| Sodasa Desa | Dewata Pelindung | Wija-Mantra | Karakteristik Warna & Visual Dewata |
| Arah Utama | |||
| Purwa (Timur) | Bhatara Iswara | Ong Ang Isanaya namah svaha |
Putih berkilau laksana berlian murni (kadi ira/hira). |
| Agneya (Tenggara) | Bhatara Maheswara | Ong Ang Mahesvaraya namah svaha |
Cokelat kemerahan atau kuning kecokelatan (pila/umrani). |
| Daksina (Selatan) | Bhatara Brahma | Ong Ing Brahmane namah svaha |
Merah membara (rakta/raktanam). |
| Neriti (Barat Daya) | Bhatara Rudra | Ong Ing Rudraya namah svaha |
Abu-abu gelap, kelabu tua laksana besi cair (siama/loha drawa). |
| Pascima (Barat) | Bhatara Mahadewa | Ong Ung Mahadevaya namah svaha |
Kuning keemasan murni (pita/pitavarna). |
| Wayabia (Barat Laut) | Bhatara Sangkara | Ong Ung Sangkaraya namah svaha |
Kuning keemasan berkilau bagai emas murni (kanakadraba/mas). |
| Utara (Utara) | Bhatara Wisnu | Ong Reng Vescave namah svaha |
Hitam pekat (kresna/kresnata). |
| Airsania (Timur Laut) | Bhatara Sambhu | Ong Reng Sambave namah svaha |
Berwarna-warni atau keabu-abuan pucat bagai cangkang telur (anda varna). |
| Madia (Tengah) | Bhatara Sadasiva | Ong Hlong Sadasivaya namah svaha |
Bening berkilau bagai kristal es murni (spatika varna). |
| Ruang Transisi (Antara) | |||
| Purwa-Agneya | Dewa Dharma | Ong Leng darmaya namah svaha |
Putih bersih penuh kedamaian (santa varna). |
| Agneya-Daksina | Dewa Kala | Ong Leng kalaya namah svaha |
Merah awan badai (mega varna). |
| Daksina-Neriti | Dewa Mretyu | Ong Eng Mretiuve namah svaha |
Hitam kelam membawa maut (kresna). |
| Neriti-Pascima | Dewa Krodha | Ong Aing krodaya namah svaha |
Merah menyala bagai kobaran api raksasa (magis varna). |
| Pascima-Wayabia | Dewa Wiswa | Ong Ong visvaya namah svaha |
Berwarna-warni indah laksana aneka kelopak bunga (puspa varna). |
| Wayabia-Utara | Dewa Kama | Ong Ong kamaya namah svaha |
Hijau muda kekuningan bagai bambu muda (kicaka). |
| Utara-Airsania | Dewa Pasupati | Ong Ang Pasupatiya namah svaha |
Putih keperakan bersinar lembut bagai cahaya rembulan (candrasca). |
| Airsania-Purwa | Dewa Satia | Ong Ah satiaya namah svaha |
Abu-abu kebiruan samar bagai kepulan asap (dumra varna/kadi kukus). |
Melalui sistem Sodasa Desa ini, naskah Parakriya menekankan bahwa ruang tidak pernah netral secara spiritual. Setiap jengkal ruang dialiri oleh getaran warna dan aksara tertentu. Ketika seorang yogi melafalkan getaran mantra pembuka penjuru tersebut, ia secara aktif memancarkan harmoni spiritual yang mengikat seluruh energi kosmis di sekelilingnya, menundukkan kekuatan destruktif, dan memurnikan lingkungan sekitarnya dari pengaruh negatif batin.
Siklus Waktu (Kala) : Karakteristik Pancawara, Sadwara dan Saptawara
Dimensi waktu dalam Lontar Tutur Parakriya dipandang memiliki getaran energetik yang sama sucinya dengan ruang. Siklus harian tradisional Nusantara yang meliputi siklus lima hari (Pancawara), enam hari (Sadwara), dan tujuh hari (Saptawara) diyakini memiliki getaran rahasia yang digerakkan oleh dewa-dewa penjaga waktu. Getaran-getaran ini diaktifkan melalui vija-mantra khusus yang mewakili esensi batiniah dari setiap hari tersebut.
Suku kata mantra ini berfungsi sebagai getaran spiritual penyeimbang bagi fluktuasi energi kosmis yang dialami manusia setiap harinya. Penguasaan atas karakteristik spiritual waktu ini memungkinkan manusia untuk menentukan hari penyucian batin yang paling tepat.
| Siklus Waktu | Vija-Mantra | Dewata | Representasi |
| Siklus Pancawara | |||
| Umanis (Timur) | Ong | Bhatara Iswara |
Energi kemurnian batin, putih. |
| Paing (Selatan) | Cong | Bhatara Brahma |
Energi kekuatan kehendak aktif, merah. |
| Pon (Barat) | Jong | Bhatara Mahadewa |
Energi penyeimbang emosi, kuning. |
| Wage (Utara) | Bang | Bhatara Wisnu |
Energi perlindungan fisik dasar, hitam. |
| Kliwon (Tengah) | Nyang | Bhatara Sadasiva |
Energi transendental spiritual, bening. |
| Siklus Sadwara | |||
| Tungleh | Tang | Dewa Wisnu / Hermaprodit (Kedi) |
Sifat tidak bergender, kestabilan netral. |
| Aryang | Tang | Dewa Mahadewa / Perempuan (Anakbi) |
Sifat feminin, kepekaan dan pengasihan. |
| Urukung | Dang | Dewa Brahma / Laki-laki (Laki) |
Sifat maskulin, keberanian dan ketegasan. |
| Paniron | Dang | Dewa Wisnu / Kerabat dekat (Wandu) |
Sifat persahabatan, keharmonisan relasi. |
| Was | Bang | Dewa Mahadewa / Laki-laki (Laki) |
Sifat kekuatan aktif, kemakmuran material. |
| Maulu | Bang | Dewa Brahma / Perempuan (Istri) |
Sifat kreativitas emosional, kelembutan batin. |
| Siklus Saptawara | |||
| Aditya (Minggu) | Tang | Surya / Laki-laki (Puman) |
Cahaya kemuliaan jiwa, putih kemerahan (petak/rakta). |
| Soma (Senin) | Tang | Candra / Perempuan (Stri) |
Ketentraman emosional, putih bersih (petak). |
| Anggara (Selasa) | Dang | Mangala / Laki-laki (Lakia) |
Keberanian bertindak, putih kemerahan (petak/rakta). |
| Buda (Rabu) | Vang | Budha / Suci (Sukla/Brahmacari) |
Kebijaksanaan intelektual murni, abu-abu gelap (sami). |
| Wrespati (Kamis) | Nang | Guru / Laki-laki (Lakia) |
Pengetahuan suci spiritual, kuning terang (kuning). |
| Sukra (Jumat) | Yang | Sukra / Perempuan (Stri) |
Keindahan rasa seni dan cinta, putih salju (petak). |
| Saniascara (Sabtu) | Lang | Sani / Kasim (Klivam) |
Pengendalian diri dari karma buruk, hitam pekat (kresnam). |
Pemetaan waktu kosmis ini menjelaskan bagaimana setiap detik perjalanan hidup manusia dipengaruhi oleh arus energi dewa-dewa penjaga waktu. Dengan melafalkan mantra pasaran yang sesuai pada hari yang bersangkutan, seorang praktisi spiritual dapat menyelaraskan getaran organ batinnya dengan aliran waktu kosmis, mencegah datangnya kemalangan hidup (marana), dan menetapkan kesadaran dirinya dalam harmoni abadi.
Mandala Nyasa : Matriks Lima Atribut Kosmis
Sastra esoteris Tutur Parakriya menjabarkan lima bentuk visualisasi mandala atribut (Mandala Nyasa) yang sangat penting sebagai instrumen perlindungan batiniah dan pemusatan energi konsentrasi (Aksara Yoga).
Kelima mandala ini — yaitu Postika (kemakmuran dan pertumbuhan), Raksana (perlindungan magis dari kekuatan jahat), Yasanta (kejayaan, nama baik, dan kedamaian), Moksaka (pembebasan rohani mutlak), serta Bijaruna (transformasi batiniah yang membara) — menggunakan simbol-simbol geometris alamiah dan persenjataan para dewa sebagai visualisasi batiniah.
| Penjuru Mandala | Mandala Postika | Mandala Raksana | Mandala Yasanta | Mandala Moksaka | Mandala Bijaruna |
| Purwa (Timur) | Gunung | Bajra | Dwaya (Bendera) | Soma (Rembulan) | Bajra |
| Agneya (Tenggara) | Angkus | Geni | Angkusa | Aditya / Iwaka (Ikan) | Angkus |
| Daksina (Selatan) | Mina (Ikan) | Danda | Cakra | Dwaja | Masa |
| Neriti (Barat Daya) | Sangka | Moksala | Sangka | Diu (Pelita) | Naga |
| Pascima (Barat) | Tahag (Danau) | Pasa | Pataah (Pataka) | Angkus | Talaga (Danau) |
| Wayabia (Barat Laut) | Cakra | Angkus | Gunung | Curiga (Keris) | Waringin (Pohon) |
| Utara (Utara) | Dwaya | Gada | Ardacandra | Dupa | Sangka |
| Airsania (Timur Laut) | Aditya (Matahari) | Trisula | Bajra | Itala | Trisula |
| Madia (Tengah) | Padma (Teratai) | Padma | Padma | Padma | Padma |
Konstruksi kelima mandala di atas merupakan peta pertahanan psikofisik bagi seorang yogi. Pada saat berada dalam meditasi mendalam, sang yogi memproyeksikan mandala-mandala ini di sekeliling medan energinya.
Sebagai contoh, dalam situasi batin yang terancam oleh kegelisahan atau gangguan kekuatan gaib destruktif, meditasi diarahkan untuk memvisualisasikan Mandala Raksana yang bersenjatai gada, trisula, dan kawat berduri api (geni) guna membentengi jiwa.
Sebaliknya, ketika sang yogi mengarahkan kesadarannya pada penyatuan tertinggi dengan Siwa, visualisasi batin beralih sepenuhnya pada Mandala Moksaka yang dipenuhi keharuman dupa, pelita batin (diu), dan rembulan murni (soma) yang mengantarkan kesadaran menuju kebebasan sejati.




