Lontar Tutur Parakriya

Ajaran Yoga Aksara dan Kelepasan dalam Lontar Tutur Parakriya


Sebuah lontar ajaran filsafat yang disebut dengan yoga aksara, dimana isi Lontar Tutur Parakriya ini sebagian besar adalah tentang aksara dan kombinasi aksara yang melahirkan berbagai wujud di alam semesta ini. Dengan mengolah berbagai jenis aksara akan didapatkan berbagai macam energi. Dan memuat tentang ajaran yoga untuk pembebasan (moksa). Beberapa penekun ilmu mistik di Bali menggunakan kombinasi aksara untuk mendapatkan kekuatan mistik.

Bingkai naratif teks ini menyajikan interaksi spiritual yang sangat intim dalam keluarga surgawi, di mana Batari Uma meminta putranya, Sang Hyang Kumara, untuk menghadap Bhatara Iswara (Bhatara Siwa) guna memohon pengajaran tentang jalan spiritual yang membebaskan jiwa dari belenggu keduniawian (kamoksan). Batari Uma menegaskan bahwa pengetahuan keagamaan eksoteris (pradana sastra kabeh) tidak akan pernah dijumpai di dalam ajaran kebenaran tertinggi (tan ana mungguh nira ring aji). Realisasi spiritual sejati hanya dapat dicapai melalui jalan Nista Yoga, sebuah metode kontemplasi hening yang berfokus pada pelepasan internal secara total. Berbekal restu sang ibu, Sang Hyang Kumara mendekati Bhatara Siwa dengan mempersembahkan sarana upacara suci yang tulus (sahopancopacarasara) untuk menanyakan asal-mula keberadaan alam semesta dan takdir spiritual makhluk hidup.

Kosmogoni Aksara : dari Niskala menuju Swara-Wianjana

Bhatara Siwa menjelaskan kepada Sang Hyang Kumara bahwa sebelum alam material tercipta, seluruh eksistensi berada dalam kondisi kehampaan absolut (Sunya) yang abadi dan tidak dapat dimusnahkan (nitya tan kahilangan). Dalam kondisi pra-penciptaan ini, tidak ada tanah (pritiwi), air (apah), cahaya (teja), angin (bayu), maupun ruang (akasa). Tidak ada pula siklus alamiah seperti siang (dina) dan malam (ratri), bahkan tidak ada benda-benda langit seperti matahari, bulan, awan, badai, petir, ataupun getaran suara kasar. Dari keheningan abadi yang bersifat tak berwujud (Niskala) inilah, ketuhanan mulai memancarkan energi kreatif-Nya melalui proses pemadatan kosmis yang digerakkan oleh getaran aksara suci.

Proses emanasi bertahap dari kondisi transendental Niskala menuju realitas material yang kasar (Sakala) digambarkan melalui rantai sebab-akibat (kausalitas) getaran energi suara. Setiap tahapan merupakan proses kondensasi atau pengkristalan energi spiritual menjadi entitas yang lebih padat dan terstruktur.

Tahapan Istilah Tekstual Mekanisme Getaran & Hakikat Metafisis
I Niskala

Realitas mutlak yang tak berwujud, tanpa batas, melampaui ruang dan waktu.

II Tan Matra / Matra

Kristalisasi pertama dari energi potensial gaib menjadi benih-benih energi material.

III Nadanta

Getaran suara halus primordial yang mengawali seluruh dinamika ciptaan.

IV Nada

Getaran suara kosmis yang mulai memadat dan mengarah pada pembentukan rupa.

V Windu

Titik konsentrasi energi cahaya spiritual ketuhanan (amreta joti).

VI Ardacandra

Lengkungan cahaya bulan sabit kosmis, simbol pengembangan energi kreatif.

VII Wiswa

Realitas keduniawian awal yang mempersiapkan terbentuknya polaritas energi.

VIII Triaksara

Tiga aksara suci primordial (Ang, Ung, Mang) sebagai representasi kekuatan kosmis.

IX Pancabrahma

Lima getaran aksara suci penciptaan awal yang mendominasi energi batin.

X Pancaksara

Lima aksara suci (Na, Ma, Si, Wa, Ya) sebagai pilar penyangga kesadaran spiritual.

XI Swara-Wianjana

Kombinasi vokal (Swara) dan konsonan (Wianjana) yang menjadi tubuh fisik para dewa.

 

Melalui rantai emanasi ini, naskah Tutur Parakriya membangun konsep teologi fonetis (Aksara Yoga). Suara dan huruf vokal (Swara) serta konsonan (Wianjana) tidak dipandang sebagai instrumen linguistik buatan manusia, melainkan diyakini sebagai perwujudan langsung dari tubuh batin para dewa (wak de batara wuwah dewa kabeh).

Aksara-aksara ini didistribusikan di enam belas penjuru kosmis (sodasa desa) untuk menjaga struktur kestabilan jagat raya. Oleh karena itu, bagi para praktisi spiritual (Yogiswara), penguasaan terhadap vibrasi huruf-huruf suci ini merupakan satu-satunya metode praktis untuk menarik kembali energi material tubuh menuju asal-mula ketuhanan yang tak berwujud.

Homologi Makrokosmos dan Mikrokosmos

Prinsip dasar yang melandasi seluruh teologi tubuh dalam Lontar Tutur Parakriya adalah keyakinan bahwa tubuh manusia (Bhuana Alit) merupakan replika geometris dan fungsional dari alam semesta (Bhuana Agung). Seluruh unsur geografi suci Hindu, termasuk di dalamnya tingkat-tingkat surga (Saptaloka), dunia bawah (Saptapatala), pulau-pulau kosmis (Saptadwipa), barisan gunung suci (Saptaparwata), hingga aliran sungai-sungai suci (Sapta Tirtha), dipetakan secara homologis bersemayam di dalam tubuh manusia.

Sistem homologi ini mengajarkan bahwa tubuh fisik manusia bukanlah entitas yang terpisah dari alam semesta, melainkan sebuah jalinan energi suci yang terus bergetar secara paralel dengan gerakan kosmis. Dengan menyadari keberadaan dewa-dewa di dalam organ-organ tubuhnya, seorang yogi tidak perlu lagi mencari perlindungan spiritual ke dunia luar, sebab seluruh kuil suci alam semesta telah aktif di dalam dirinya sendiri.

Bhuana Agung  Bhuana Alit Dewata Representasi
Saptaloka
(Tujuh Dunia Atas)
     
Buh Loka Nabi (Pusar) Dewa Bumi / Manusa

Tingkat kesadaran fisik dasar, kelangsungan hidup material.

Bwah Loka Weteng (Perut) Candra Aditya

Pusat pencernaan, wilayah emosional dan energi vital.

Swah Loka Ati (Jantung) Dewa Wisnu

Istana ketenangan batin, cinta kasih, dan pemeliharaan.

Mahaloka Mulakanti (Pangkal Jantung) Dewa Brahma

Pusat kreativitas spiritual, kehendak kuat penciptaan.

Janaloka Cangkem (Mulut) Dewa Rudra

Pusat suara, artikulasi kebenaran, dan komunikasi.

Tapoloka Irung (Hidung) Dewa Mahadewa

Pusat pengendalian nafas kehidupan, gerak sirkulasi udara.

Satyaloka Sirah (Kepala) Dewa Siwa

Pusat kesadaran spiritual tertinggi, penyatuan mutlak.

Saptapatala
(Tujuh Dunia Bawah)
     
Mahaniraya Tlapakan Suku (Telapak Kaki) Energi Bawah

Tingkat eksistensi bawah yang paling gelap dan berat.

Niraya Walakang Suku (Tumit Kaki)

Penopang stabilitas fisik bagian bawah.

Aweci Pogeloganing Suku (Lengkung Kaki)

Wilayah pemurnian noda-noda karma dasar.

Santala Wisia (Mata Kaki) Maharorawa

Batas transisi energi fisik bawah.

Atala Jejengku (Lutut) Rorawa

Pusat keseimbangan gerak langkah fisik.

Wetala Pupu (Paha) Yamaloka

Wilayah penghakiman atas keinginan-keinginan indrawi.

Tala-tala Let / Sela Panggul Kumbhaka

Wadah penampung energi material tubuh bagian dalam.

 

Sistem pemetaan teologis ini berlanjut pada pengelompokan pulau-pulau kosmis (Saptadwipa), pegunungan (Saptaparwata), dan aliran air suci (Sapta Tirtha) yang mengalir di dalam jaringan biologis manusia. Pengkaitan ini memberikan landasan bahwa setiap aktivitas biologis memiliki konsekuensi spiritual yang sakral.

Bhuana Agung Bhuana Alit Dewata Fungsional & Esoteris
Saptadwipa
(Tujuh Pulau Kosmis)
     
Jambudwipa Tumpuk / Bagian Tengah Bhatara Mahadewa

Pengendali poros keseimbangan organ tubuh bagian dalam.

Sangkadwipa Ungsilan (Ginjal) Bhatara Iswara

Pengatur kesucian aliran cairan dan penyaringan racun.

Kusadwipa Ampru (Empedu) Bhatara Sangkara

Penjaga stabilitas emosional dari luapan kemarahan.

Kroncadwipa Limpa Bhatara Rudra

Pengendali sistem kekebalan tubuh dan sirkulasi zat vital.

Salmalidwipa Paru-paru Bhatara Brahma

Istana pernafasan hangat yang membakar kotoran batin.

Gomedadwipa Pusuh-pusuh (Hati/Liver) Bhatara Wisnu

Pusat pemeliharaan nutrisi kehidupan bagi seluruh tubuh.

Puskaradwipa Ati (Jantung Terdalam) Bhatara Siwa

Istana spiritual tertinggi tempat bersemayamnya Atman.

Saptaparwata
(Tujuh Gunung Suci)
     
Kuruparwata Lambung Bhatara Satia

Gunung stabilitas pencernaan dan keteguhan batin.

Rasiaparwata Susu Tengen (Payudara Kanan) Bhatara Sambhu

Sisi maskulin tubuh, penyalur energi pengasihan aktif.

Iraniaparwata Susu Kiwa (Payudara Kiri) Bhatara Pasupati

Sisi feminin tubuh, pelindung vitalitas spiritual batin.

Ndalaparwata Bahu Tengen (Bahu Kanan) Bhatara Kala

Pusat kekuatan tindakan fisik, gerak waktu di tangan kanan.

Ariparwata Bahu Kiwa (Bahu Kiri) Bhatara Mretyu

Pusat peluruhan energi fisik, penyeimbang gerak dinamis.

Kiranaparwata Irung (Hidung) Bhatara Kama

Gunung penciuman, penarik keindahan duniawi.

Bhataraparwata Ulu (Ubun-ubun) Bhatara Siwa

Puncak spiritual tertinggi, pintu gerbang keluar-masuknya roh.

Sapta Tirtha
(Tujuh Sungai Suci)
     
Narmada Manah (Pikiran)

Aliran emosional, imajinasi, dan hasrat berpikir.

Sindhu Budi (Intelektualitas)

Arus analisis rasional, kebijaksanaan diskriminatif.

Gangga Kanta Mula (Pangkal Leher)

Arus suara suci dan nafas penyucian batin.

Saraswati Jiwa (Roh Vital)

Aliran kesadaran intuitif, pengetahuan mistis terdalam.

Dwarawati Talinga (Telinga)

Aliran pendengaran spiritual, penerima getaran sabda kosmis.

Siwanadi Wunwunan (Fontanelle)

Saluran pembebasan roh menuju kesadaran kosmis Siwa.

Siwaprasta Nadi Tungtunging Rambut

Aliran energi prana halus yang memancar ke luar tubuh.

 

Penjelasan teologi tubuh ini disempurnakan dengan menetapkan kedudukan para dewa pada jaringan anatomi biologis manusia (anatomical pantheon). Di dalam raga manusia, sumsum berfungsi sebagai perwujudan esensi Bhatara Siwa, sedangkan tulang-tulang diidentifikasi sebagai manifestasi Bhatara Iswara. Jaringan daging merupakan perwujudan Bhatara Brahma, sirkulasi darah dikuasai oleh Bhatara Rudra, sedangkan sistem urat saraf diwakili oleh naga Basukih.

Persendian dikuasai oleh naga penjaga kosmis, selaput pembungkus organ diwakili oleh Bhatara Sambhu, lambung dan perut besar dikuasai oleh Bhatara Mahadewa, serta kulit luar dilindungi oleh Bhatara Wisnu.

Pada kaki kanan dan kiri bersemayam dewa penjaga pintu gerbang, Nandiswara dan Mahakala, sementara pada kedua mata bersemayam dewa kembar penerang dunia, Candra dan Aditya.

Integrasi yang sangat rinci ini menegaskan bahwa setiap detak kehidupan dan struktur anatomi manusia adalah manifestasi dari jaringan ketuhanan yang hidup.

Sodasa Desa dan Teologi Warna Dewata

Dalam pandangan teologi Lontar Tutur Parakriya, ruang tidak bersifat kosong, melainkan terstruktur sebagai mandala spiritual yang dihuni oleh kekuatan kosmis yang memancarkan warna dan suara tertentu. Pengaturan ruang ini diformulasikan ke dalam konsep Sodasa Desa (Enam Belas Penjuru), yang menggabungkan sembilan dewa penjaga arah utama (Dewata Nawa Sanga) dengan dewa-dewa penyeimbang yang menjaga ruang transisi (antara) di antara penjuru-penjuru utama tersebut.

Suku kata mantra (vija-mantra) bertindak sebagai kunci spiritual untuk mengaktifkan pancaran energi dari setiap dewa pelindung penjuru tersebut. Ketika seorang yogi memusatkan pikirannya pada arah mata angin tertentu, ia harus memvisualisasikan dewa pelindung yang bersangkutan lengkap dengan karakteristik warna magisnya.

Sodasa Desa Dewata Pelindung Wija-Mantra Karakteristik Warna & Visual Dewata
Arah Utama      
Purwa (Timur) Bhatara Iswara Ong Ang Isanaya namah svaha

Putih berkilau laksana berlian murni (kadi ira/hira).

Agneya (Tenggara) Bhatara Maheswara Ong Ang Mahesvaraya namah svaha

Cokelat kemerahan atau kuning kecokelatan (pila/umrani).

Daksina (Selatan) Bhatara Brahma Ong Ing Brahmane namah svaha

Merah membara (rakta/raktanam).

Neriti (Barat Daya) Bhatara Rudra Ong Ing Rudraya namah svaha

Abu-abu gelap, kelabu tua laksana besi cair (siama/loha drawa).

Pascima (Barat) Bhatara Mahadewa Ong Ung Mahadevaya namah svaha

Kuning keemasan murni (pita/pitavarna).

Wayabia (Barat Laut) Bhatara Sangkara Ong Ung Sangkaraya namah svaha

Kuning keemasan berkilau bagai emas murni (kanakadraba/mas).

Utara (Utara) Bhatara Wisnu Ong Reng Vescave namah svaha

Hitam pekat (kresna/kresnata).

Airsania (Timur Laut) Bhatara Sambhu Ong Reng Sambave namah svaha

Berwarna-warni atau keabu-abuan pucat bagai cangkang telur (anda varna).

Madia (Tengah) Bhatara Sadasiva Ong Hlong Sadasivaya namah svaha

Bening berkilau bagai kristal es murni (spatika varna).

Ruang Transisi (Antara)      
Purwa-Agneya Dewa Dharma Ong Leng darmaya namah svaha

Putih bersih penuh kedamaian (santa varna).

Agneya-Daksina Dewa Kala Ong Leng kalaya namah svaha

Merah awan badai (mega varna).

Daksina-Neriti Dewa Mretyu Ong Eng Mretiuve namah svaha

Hitam kelam membawa maut (kresna).

Neriti-Pascima Dewa Krodha Ong Aing krodaya namah svaha

Merah menyala bagai kobaran api raksasa (magis varna).

Pascima-Wayabia Dewa Wiswa Ong Ong visvaya namah svaha

Berwarna-warni indah laksana aneka kelopak bunga (puspa varna).

Wayabia-Utara Dewa Kama Ong Ong kamaya namah svaha

Hijau muda kekuningan bagai bambu muda (kicaka).

Utara-Airsania Dewa Pasupati Ong Ang Pasupatiya namah svaha

Putih keperakan bersinar lembut bagai cahaya rembulan (candrasca).

Airsania-Purwa Dewa Satia Ong Ah satiaya namah svaha

Abu-abu kebiruan samar bagai kepulan asap (dumra varna/kadi kukus).

 

Melalui sistem Sodasa Desa ini, naskah Parakriya menekankan bahwa ruang tidak pernah netral secara spiritual. Setiap jengkal ruang dialiri oleh getaran warna dan aksara tertentu. Ketika seorang yogi melafalkan getaran mantra pembuka penjuru tersebut, ia secara aktif memancarkan harmoni spiritual yang mengikat seluruh energi kosmis di sekelilingnya, menundukkan kekuatan destruktif, dan memurnikan lingkungan sekitarnya dari pengaruh negatif batin.

Siklus Waktu (Kala) : Karakteristik Pancawara, Sadwara dan Saptawara

Dimensi waktu dalam Lontar Tutur Parakriya dipandang memiliki getaran energetik yang sama sucinya dengan ruang. Siklus harian tradisional Nusantara yang meliputi siklus lima hari (Pancawara), enam hari (Sadwara), dan tujuh hari (Saptawara) diyakini memiliki getaran rahasia yang digerakkan oleh dewa-dewa penjaga waktu. Getaran-getaran ini diaktifkan melalui vija-mantra khusus yang mewakili esensi batiniah dari setiap hari tersebut.

Suku kata mantra ini berfungsi sebagai getaran spiritual penyeimbang bagi fluktuasi energi kosmis yang dialami manusia setiap harinya. Penguasaan atas karakteristik spiritual waktu ini memungkinkan manusia untuk menentukan hari penyucian batin yang paling tepat.

Siklus Waktu Vija-Mantra Dewata Representasi 
Siklus Pancawara      
Umanis (Timur) Ong Bhatara Iswara

Energi kemurnian batin, putih.

Paing (Selatan) Cong Bhatara Brahma

Energi kekuatan kehendak aktif, merah.

Pon (Barat) Jong Bhatara Mahadewa

Energi penyeimbang emosi, kuning.

Wage (Utara) Bang Bhatara Wisnu

Energi perlindungan fisik dasar, hitam.

Kliwon (Tengah) Nyang Bhatara Sadasiva

Energi transendental spiritual, bening.

Siklus Sadwara      
Tungleh Tang Dewa Wisnu / Hermaprodit (Kedi)

Sifat tidak bergender, kestabilan netral.

Aryang Tang Dewa Mahadewa / Perempuan (Anakbi)

Sifat feminin, kepekaan dan pengasihan.

Urukung Dang Dewa Brahma / Laki-laki (Laki)

Sifat maskulin, keberanian dan ketegasan.

Paniron Dang Dewa Wisnu / Kerabat dekat (Wandu)

Sifat persahabatan, keharmonisan relasi.

Was Bang Dewa Mahadewa / Laki-laki (Laki)

Sifat kekuatan aktif, kemakmuran material.

Maulu Bang Dewa Brahma / Perempuan (Istri)

Sifat kreativitas emosional, kelembutan batin.

Siklus Saptawara      
Aditya (Minggu) Tang Surya / Laki-laki (Puman)

Cahaya kemuliaan jiwa, putih kemerahan (petak/rakta).

Soma (Senin) Tang Candra / Perempuan (Stri)

Ketentraman emosional, putih bersih (petak).

Anggara (Selasa) Dang Mangala / Laki-laki (Lakia)

Keberanian bertindak, putih kemerahan (petak/rakta).

Buda (Rabu) Vang Budha / Suci (Sukla/Brahmacari)

Kebijaksanaan intelektual murni, abu-abu gelap (sami).

Wrespati (Kamis) Nang Guru / Laki-laki (Lakia)

Pengetahuan suci spiritual, kuning terang (kuning).

Sukra (Jumat) Yang Sukra / Perempuan (Stri)

Keindahan rasa seni dan cinta, putih salju (petak).

Saniascara (Sabtu) Lang Sani / Kasim (Klivam)

Pengendalian diri dari karma buruk, hitam pekat (kresnam).

 

Pemetaan waktu kosmis ini menjelaskan bagaimana setiap detik perjalanan hidup manusia dipengaruhi oleh arus energi dewa-dewa penjaga waktu. Dengan melafalkan mantra pasaran yang sesuai pada hari yang bersangkutan, seorang praktisi spiritual dapat menyelaraskan getaran organ batinnya dengan aliran waktu kosmis, mencegah datangnya kemalangan hidup (marana), dan menetapkan kesadaran dirinya dalam harmoni abadi.

Mandala Nyasa : Matriks Lima Atribut Kosmis

Sastra esoteris Tutur Parakriya menjabarkan lima bentuk visualisasi mandala atribut (Mandala Nyasa) yang sangat penting sebagai instrumen perlindungan batiniah dan pemusatan energi konsentrasi (Aksara Yoga).

Kelima mandala ini — yaitu Postika (kemakmuran dan pertumbuhan), Raksana (perlindungan magis dari kekuatan jahat), Yasanta (kejayaan, nama baik, dan kedamaian), Moksaka (pembebasan rohani mutlak), serta Bijaruna (transformasi batiniah yang membara) — menggunakan simbol-simbol geometris alamiah dan persenjataan para dewa sebagai visualisasi batiniah.

Penjuru Mandala Mandala Postika Mandala Raksana Mandala Yasanta Mandala Moksaka Mandala Bijaruna
Purwa (Timur) Gunung Bajra Dwaya (Bendera) Soma (Rembulan) Bajra
Agneya (Tenggara) Angkus Geni Angkusa Aditya / Iwaka (Ikan) Angkus
Daksina (Selatan) Mina (Ikan) Danda Cakra Dwaja Masa
Neriti (Barat Daya) Sangka Moksala Sangka Diu (Pelita) Naga
Pascima (Barat) Tahag (Danau) Pasa Pataah (Pataka) Angkus Talaga (Danau)
Wayabia (Barat Laut) Cakra Angkus Gunung Curiga (Keris) Waringin (Pohon)
Utara (Utara) Dwaya Gada Ardacandra Dupa Sangka
Airsania (Timur Laut) Aditya (Matahari) Trisula Bajra Itala Trisula
Madia (Tengah) Padma (Teratai) Padma Padma Padma Padma

 

Konstruksi kelima mandala di atas merupakan peta pertahanan psikofisik bagi seorang yogi. Pada saat berada dalam meditasi mendalam, sang yogi memproyeksikan mandala-mandala ini di sekeliling medan energinya.

Sebagai contoh, dalam situasi batin yang terancam oleh kegelisahan atau gangguan kekuatan gaib destruktif, meditasi diarahkan untuk memvisualisasikan Mandala Raksana yang bersenjatai gada, trisula, dan kawat berduri api (geni) guna membentengi jiwa.

Sebaliknya, ketika sang yogi mengarahkan kesadarannya pada penyatuan tertinggi dengan Siwa, visualisasi batin beralih sepenuhnya pada Mandala Moksaka yang dipenuhi keharuman dupa, pelita batin (diu), dan rembulan murni (soma) yang mengantarkan kesadaran menuju kebebasan sejati.


Sumber Lontar :
Transkrip Tutur Parakriya
Koleksi Gedong Kirtya, No. IIIB.601/1


HALAMAN TERKAIT
Baca Juga