Yoga dan Kelepasan dalam Lontar Tutur Parakriya


Ketuhanan dan Yoga dalam Lontar Tutur Parakriya

Segala yang ada, yang pernah lahir, pernah hidup itu sebenarnya akan kembali keasalnya yaitu kehadapan Tuhan Yang Maha Esa.  Tuhan merupakan penyebab pertama serta sebagai tempat kembalinya dari segala yang ada. Di samping itu Tuhan bersifat maha gaib dan bersifat abstrak, yang tidak dapat dicerna oleh pikiran manusia namun beliau tetap kekal abadi. Sehubungan dengan kemahakuasaan Tuhan sebagai pencipta segala yang ada, Lontar Tutur Parakriya menyebutkan sebagai berikut :

tan ana lemah, tan anangjala, tan anang teja muwah angin lawan candra, ditya muwah akasa, tan ana wintang, tan ana kabeh, tan ana sabda, tan anang mega, tan anang dina ratri, tan angin, tan udan, tan ana kilap, tan ana kabeh, yatika sunya nga. Nitya tan kahilangan. Ngkana ta sangkaning mami purwa, nihan sangkaning dadi.
Artinya :
Tidak ada tanah, tidak ada air, tidak ada sinar dan angin, bulan, matahari, langitpun tidak terbentang, bintang, planet, semuanya tidak ada, tidak ada suara, tidak ada mendung, tidak ada siang dan malam, tidak ada angin, tidak ada hujan, tidak ada tatit, keadaan seperti itu disebut sunya (kosong), itu yang abadi tidak pernah hilang, dari sanalah asal mula-Ku dahulu kala dan dari sana asal kelahiranku.
(Lontar Tutur Parakriya, 2a-2b).

Kutipan di atas pada dasarnya adalah memberikan suatu penjelasan bahwa alam semesta beserta isinya adalah ciptaan dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa yang merupakan asal mula kelahiran. Tuhan itu tidak pernah lahir dan juga tidak pernah mati, beliau adalah langgeng, abstrak wujudnya sukar dibayangkan dan sangat mengagumkan. Dalam ilmu filsafat dikaitkan sebagai keadaan dalam alam transendental artinya diluar dari lingkaran kemampuan pikir.

Tuhan dalam alam Transendental adalah Tuhan wujud Paramasiwa yang disebut dengan Cetana (Purusa), keadaan tanpa aktivitas, kekal abadi, tak berawal, tidak berakhir, ada dimana-mana, maka diberi gelar Nirguna Brahma (Sunya). Sedangkan Tuhan dalam alam Imanen adalah Tuhan berwujud Sadasiwa, yang berkrida, sudah kena imbas dari Prakerti Acetana, sehingga mempunyai sifat dan aktivitas, maka diberi gelar Saguna Brahma. Sadasiwa lah yang banyak mendapat perhatian yang dengan bermacam-macam manifestasinya, sebab dengan mempunyai sifat, fungsi, aktivitas beliau dapat mengatur Utpeti, Sthiti dan Pralina dari alam semesta beserta isinya (Bhuana Agung dan Bhuana Alit).

Pangiderider Bhuana merupakan arah kiblat mata angin yang terdapat di alam semesta ini. Adapun pangider-ider Bhuana tersebut menunjukkan arah yaitu: timur, tenggara, selatan, barat daya, barat, barat laut, utara, timur laut dan juga di tengah, yang setiap arah dikuasai oleh para dewa yang merupakan manifestasi dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Sehubungan dengan uraian tersebut di atas, Lontar Tutur Parakriya menyebutkan sebagai berikut:

Ika ta magawe idep ring ati, Iswara ring purwa, Maheswara agneya, Brahma daksina, Rudra neriti, Mahadewa pascima, Sangkara wayabia, Wisnu utara, Sambhu airsania, Siwatma ring arda, sadasiwa ring madia, Paramasiwa ring urda, Dharma Hiang karuning purwa lawan gneya, Kala wiantaraning agneya lawan daksina, Mretiyu wiantaraning daksina lawan neriti, Krodha wiantaraning neriti lawan pascima, Wisma wiantaraning pascima lawan wayabia, kama wiantaraning wayabia lawan utara, Pasupati wiantaraning utara lawan airsania, Satia wiantaraning airsania lawan purwa.
Artinya :
Ini yang dilaksanakan di dalam hati, Iswara di timur, Dewa Brahma tempatnya di selatan, Dewa Rudra menguasai di Barat daya, Dewa Mahadewa tempatnya di Barat, Dewa Sangkara tempatnya di Barat laut, Dewa Wisnu tempatnya di Utara, Dewa Sambhu tempatnya di Timur laut, Dewa Siwatma tempatnya di tengah bagian bawah, Dewa Sadasiwa tempatnya ditengah bagian madya, Dewa Parama Siwa tempatnya di tengah bagian atas, Sang Hyang Dharma diantara timur dengan tenggara, Sang Hyang Kala diantara tenggara dengan selatan, Sang Hyang Mretiyu diantara selatan dengan barat daya, kroda diantara barat dengan barat, Wisma diantara diantara barat dengan barat laut, Kama diantara barat lautdengan utara, Sang Hyang Pasupati diantara Utara dengan timur laut, Satia diantara timur laut dengan timur (Untara & Suardika, 2020).
(Lontar Tutur Parakriya, 4b). 

Salah satu tattwa atau filsafat yang dipaparkan dalam Tutur Parakriya menekankan pada ajaran Yoga untuk pembebasan (moksa). Yoga merupakan pengendalian aktivitas pikiran dan merupakan penyatuan Jiva pribadi (Atman) dengan Jiva tertinggi (Brahman). Kebahagiaan yang sejati akan tercapai oleh sesorang, apabila telah dapat menyatukan jiwanya dengan Ida Sang Hyang Widhi. Penyatuan dengan Tuhan itu baru akan didapat apabila telah melepaskan semua bentuk ikatan pada dirinya. Moksa berarti kelepasan dan kebebasan. Dari segi istilah, Moksa disamakan dengan nirwana dan nisreyasa atau keparamarthan

Batari Uma mawuwus; Pradana sastra kabeh tan ana mungguh nira ring aji. Ndan dana tang nistayoga nga. Wenang tamtamana mangdadiaken kamoksan; ya tika tapwan awruhnira tinakwan anaknira Bhatara Iswara. Rowangnira atekwan Sang Hyang Kumara, ndan sahapancopacarasara, ikang ling nira patakwan ring Batara.
Artinya:
Bhatari Uma berkata; yang disebut pradana sastra semua itu tidak terdapat di dalam ajaran (agama). Yang ada hanya Nista Yoga namanya, itu patut dipelajari untuk menuju kemoksaan. Hal itu tidak di ketahuinya itu yang ditanyakan kepada Bhatara Iswara. Yang menyertai bertanya adalah Sang Kumara, lengkap dengan tatacara upacara untuk menanyakan. Katanya bertanya kehadapan Bhatara.
(Tutur Parakriya, 1b).

Tutur Parakriya ada menyebutkan kebenaran yang utama atau mulia tentang moksa, antara lain :

Ikang nada, nadanta, windu, ardacandra, Ongkara pasamuhania, sedeng wisesaning mantra kabeh. Mangkana kamung Kumara. Ikanang Ongkara pinakawakku kamung Kumara. Tan dadiana yan tan ana, Ongkara yan tan ana aku, ana aku ana Ongkara,ana aku muwah ana ongkara, matangian ta ring aku magawe yoga. Ikanang windhu, nada-nadanta, katiga pada suksmania, jawat wruhika tatelu, ya ta paramartawit; wruh ring paramarta nga.
Artinya :
Yang disebut nada, windhu, ardacandra, itu ikut dalam Ongkara, sebagai utamanya mantra semua. Begitu halnya kamu Kumara! Tidak bisa jadi itu ada, jika tidak ada Ongkara, tidak ada aku, ada aku, ada Ongkara, ada aku ada lagi Ongkara, itulah sebabnya dari aku ada semua atau mengerjakannya. Itu windhu, nada-nada, ketiganya sama-sama gaib, jika diketahui yang tiga tersebut, itulah keutamaan, jadi mengetahui yang disebut dengan utama.
(Lontar Tutur Parakriya, 8a-8b).

Kutipan di atas menjelaskan yang disebut dengan nada, windhu dan ardacandra itu ikut dalam Ongkara sebagai utamanya semua mantra, tidak ada Ongkara tidak ada “Aku”, jika ada Ongkara ada “Aku”, dan itulah yang menyebabkan semua ini ada, dan itu windhu, nada dan ardacandra, ketiganya sama-sama gaib, apabila diketahui kesemua ini itulah yang disebut dengan utama, dalam hal ini adalah simbul dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Demikianlah keistimewaan dari Wijaksara Omkara itu.

Yoga mempunyai arti yang sangat luas, hal ini tergantung pada konteks kalimatnya. Dalam hal ini, Catur Marga Yoga yang terdiri dari: Bhakti Marga Yoga, Karma Marga Yoga, Jnana Marga Yoga dan Raja Marga Yoga. Keempat yoga itu merupakan jalan atau cara untuk mencapai kesempurnaan yaitu moksa, dengan menghubungkan diri dan pemusatan pikiran kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa/ Tuhan Yang Maha Esa dengan berbagai manifestasinya. Keempat yoga tersebut di dalam pelaksaannya erat sekali hubungannya dengan sifat, bakat, watak serta kemampuan masing-masing orang dalam usahanya untuk menghubungkan diri dengan Tuhan, dengan berbagai manifestasinya dan juga mempunyai tujuan yang sama, hanya berbeda dalam tata pelaksanaannya.
Bertitik tolak dari penjelasan di atas, Lontar Tutur Parakriya menyebutkan sebagai berikut :

Ikang Ongkara Rudra dewatanya, Ardhacandra Mahadewa Dewatanya, mantra Dewa Guru dewatanya, nahan Sang Yogiswara magawe yoga, ya marganing pada Moksa ika.
Artinya :
Yang disebut Ongkara Rudra dewatanya, Ardhacandra Mahadewa dewatanya, Mantra Dewa Guru dewatanya. Demikian olehnya Sang Yogiswara melaksanakan yoga, untuk jalan mencapai moksa.
( Lontar Tutur Parakriya, 9a). 

Dengan mengetahui ajaran-ajaran sebagai jalan untuk menuju moksa, maka pikiran dipusatkan pada kesucian, agar nantinya dapat tercapai tujuan yang hendak diinginkan. Sehubungan dengan hal tersebut, Tutur Parakriya menyebutkan sebagai berikut:

ikang jnyana kabeh lawan tatwa, Bhatara majaraken ndia ikanang nirbana-pada wekasning jnyana, suksmaning suksma ya, acin titing, tan kaucap dening ulun.
Artinya :
Itu jnyana dan tattwa, paduka Bhatara menyebutkan yang mana disebut nirbanapada, terakhirnya jnyana, yang sangat gaib dan suci nirmala tak terpikirkan oleh hamba.
(Tutur Parakriya,12a).

Kutipan di atas menjelaskan tentang pengetahuan yang benar dan sejati yang sangat suci untuk menuju kepada kenirbanaan, apabila tidak memiliki pengetahuan yang mulia, tentunya tidak akan menemui tujuan yang disebut nirwana. Agar moksa dan nirwana itu dapat tercapai maka harus terlebih dahulu lahir menjadi manusia, dengan lahir menjadi manusia adalah merupakan pintu gerbangnya moksa, karena dewa pun akan lahir menjadi manusia untuk dapat meningkatkan diri agar bisa mencapai moksa. Moksa berarti  yang kebebasan atau kelepasan, adalah suatu kebahagiaan dimana atma dapat lepas dari pengaruh maya dan ikatan Śubhāśubhakarma serta bersatu kembali dengan asalnya yaitu Brahman (Tuhan).

ātma (Jiva) tidak mengulangi kelahiran kembali, artinya bebas dari reinkarnasi dan mencapai kebahagiaan sejati dan abadi, sukha tan pawali dukha. Jadi ātma itu selalu rindu dan ingin kembali pada asalnya yaitu Brahman, seperti halnya titik-titik air laut yang menjadi embun kemudian jatuh menjadi hujan serta mengalir ke sungai melaju dengan derasnya karena rindu bertemu lagi dengan sumbernya.

Adapun disebutkan dalam Tutur Parakriya, mengenai pikiran-pikiran yang mengarah pada kesucian (kesadaran berpikir) disebutkan sebagai berikut:

Kalingania ikang cita tania cetana ika, sadanitia karma, ya ta adnyana sunia nga.
Artinya :
sebenarnya pikiran tania cetana itu, selalu bekerja, itu yang disebut dengan adnyana sunia.
(Tutur Parakriya, 12b)

Pengetahuan atau kesadaran pikiran itu selalu bekerja atau melakukan sesuatu untuk membebaskan pikiran untuk menuju pada kebenaran yang sejati (Brahman). Berdasarkan penjelasan di atas, manusia mampu membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Dengan kemampuannya manusia itu dapat meningkatkan taraf hidup dan kehidupannya baik lahir maupun bathin, Tutur Parakriya menyebutkan sebagai berikut:

Ika Sang Rsi winarah de Batara irikang jnyanasti, ya ta matangian kapangguh ikang kamoksan denira, mari masarira. Wenang yan tininggalaken boga kabeh, dumeh nihan mangkana, sangkania asih Bhatara.
Artinya :
Itu sang pendeta diajar oleh bhatara tentang jnyanasti, itu makanya beliau mencapai kemoksan, tidak masih berbadan, bisa beliau meninggalkan kehidupan semua, apa sebabnya demikian, memang dari karunia Ida Sang Hyang Widhi Wasa/ Tuhan kepadanya yang menyebabkan.
(Tutur Parakriya, 13a)

Kutipan di atas menjelaskan khususnya bagi yang mempunyai pengetahuan yang tinggi (Jnana) tentunya untuk menghubungkan diri dengan Ida Sang Hyang Widhi Wasa yaitu melalui jalan pemusatan pikiran atau melalui Yoga yang dapat tercapainya suatu kemanunggalan.


Sumber

I Wayan Arya Adnyana
Balai Diklat Keagamaan Denpasar
Ni Wayan Yuni Astuti
Universitas Hindu Indonesia Denpasar
Ida Bagus Putu Eka Suadnyana
STAHN Mpu Kuturan Singaraja
Transkrip Tutur Parakriya
Koleksi Gedong Kirtya, No. IIIB.601/1



Beryadnya dengan Sharing

Tak akan Mengurangi Pengetahuan

Baca Juga