Yoga dan Kelepasan dalam Lontar Tutur Parakriya


Bhuana Agung dan Bhuana Alit di Lontar Tutur Parakriya

Bhuana Agung adalah istilah untuk menyebutkan alam semesta atau alam raya. Bhuana Agung juga disebut Makrokosmos, jagat raya, alam besar, dan Brahmanda. Sedangkan Bhuana Alit sering disebut Mikrokosmos adalah alam kecil atau dunia kecil (isi dari alam semesta), seperti manusia, binatang dan tumbuh-tumbuhan.

Hubungan antara Bhuana Agung dengan Bhuana Alit dalam Lontar Tutur Parakriya adalah sangat erat sekali, yaitu terlihat dari jasmani mahluk dan manusia tidaklah dapat dipisahkan dengan alam, karena zat pembentuknya sama yaitu dari unsur-unsur Panca Maha Bhuta, bagian dari Alam Semesta.
Lontar Tutur Parakriya menyebutkan hubungan antara kedua bhuana itu sebagai berikut :

 

Buh loka nga. Nabi. Manusa loka nga. Bwah.loka nga. weteng, ya candra ditya nga. Swah loka nga. Ati Wisnuloka ya. Mahaloka nga. mulakanti ya Brahmaloka. Janaloka nga. Cangkem; Rudraloka, tampoloka nga. irung, ya Mahadewaloka. Satyaloka nga. sirah, ya Siwaloka nga. Nihan sinangguh saptaloka ring sarira nga. kamung Kumara.
Artinya:
Yang disebut Buhloka adalah nabi. Yang disebut manusa loka dan Bwahloka adalah weteng atau perut juga disebut bulan matahari. Yang disebut Swahloka adalah hati atau disebut Wisnuloka. Yang disebut Mahaloka adalah mulakanta/ leher juga disebut Brahmaloka. Yang disebut Janaloka adalah mulut juga disebut Rudraloka, yang disebut Tampoloka yaitu hidung juga disebut Mahadewaloka. Yang disebut dengan Satyaloka adalah kepala juga disebut Siwaloka. Demikianlah yang disebut dengan Saptaloka di dalam tubuh manusia, Kumara.
(Lontar Tutur Parakriya, 14a).

Tala nga. tlapakaning suku, ya Mahaniraya nga. sultala nga. walakang tlapakaning suku; ya Niraya nga. pogeloganing tlapakaning suku; ya ta aweci nga. santala nga. wisia maharorawa ngarania atala nga. jejengku, ya rorawa arania. Wetala nga. pupu ya, Yamaloka ngarania; tala-tala nga. let, ya kumbaka ngarania. Nahan ta Saptapatala ring sarira kramania.
Artinya :
Yang disebut Tala, adalah telapakan kaki, itu Mahaniraya namanya, sultala yaitu bagian belakang telapakan kaki Niraya namanya, pada pergelangan kaki, Aweci namanya, yang disebut Santala yaitu: wisia Maharorawa namanya, Atala yaitu jejengku, itu rorawa namanya. Wetala yaitu paha, itu namanya Yamaloka, Tala-tala yaitu tempatnya pada pangkal paha, kumbaka namanya. Itu disebut dengan Saptapatala dalam tubuh manusia.
(Lontar Tutur Parakriya, 14b)

Kutipan di atas, menjelaskan bahwa itulah yang dinamakan tingkatan-tingkatan Sorga dan Neraka, yaitu tujuh ke atas (Saptaloka) dan tujuh ke bawah (Saptapatala) yang ada dalam tubuh manusia, ini mengingatkan sesorang pada Bhuana Agung dengan Bhuana Alit yang tidak bisa dilepaskan dari Ātma dengan Sang Pencipta.

Selanjutnya mengenai hubungan Bhuana Agung dan Bhuana Alit, adalah sebagai berikut :

Kuruparwata nga. lambung, Satia Hiangnia. Rasiaparwata nga. susu Sambu Hiangnia. Iraniaparwata, susukiwa, Pasupati Hiangnia. Ndalaparwata nga. bahu tengen, Kala Hiangnia. Ariparwata nga. bahu kiwa, Mretiyu Hiangnia. Kiranaparwata nga. irung, Kama hilangnia. Bhataraparwata nga. ulu, Siwa Hiangnia. Nahan tang Saptaparwata aneng sarira.
Artinya :
Yang disebut dengan Gunung kuru adalah lambung, Satya dewanya, Gunung Rasya pada susu Sambhu dewanya, Gunung Eraniya pada susu kiri Pasupati dewanya, Gunung Ndala pada tangan kanan Kala dewanya, Gunung Ari pada tangan kiri Mretiyu dewanya, yang disebut Gunung Kirana pada hidung Hiang Smara dewanya, Gunung Bhatara pada kepala, Hiang Siwa dewanya. Demikianlah tujuh gunung yang ada pada tubuh manusia.
(Lontar Tutur Parakriya, 15a)

Kutipan di atas menjelaskan bahwa ketujuh gunung itu dapat mengingatkan sesorang dalam hubungan antara Bhuana Agung dengan Bhuana Alit, dimana Tuhan sebagai pencipta tidak lepas dari apa yang diciptakannya di dunia fana ini. Tubuh manusia merupakan dari alam semesta. Tuhan adalah penguasa, kekuasaan beliau itu dapat mempengaruhi dunia secara tidak langsung, seperti dalam tubuh manusia bahwa letak Gunung Kuru pada lambung, dewa penguasanya adalah Dewa Satya. Tentunya dewa-dewa penguasa itu merupakan sinar-sinar suci dari pada Ida Sang Hyang Widhi Wasa/ Tuhan Yang Maha Esa.

Alam Semesta merupakan linggih dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa, yang sebenarnya dilambangkan dengan gunung. Di India, Gunung Mahameru dianggap simbul alam semesta, sehingga puncaknya disimboliskan sebagai tempat bersemayamnya para Dewa.

Lebih lanjut hubungan antara Bhuana Agung dan Bhuana Alit menyebutkan sebagai berikut :

Narmada tirta nga. manah: Sindhu tirta nga. budi; Gangga tirta ngaran kanta mula; Saraswati tirta nga. jiwa. Ndarawati tirta nga. talinga; Siwanadi tirta nga. wunwunan; Siwaprasta nadi nga. tungtunging rambut. Nahan ta Sapta tirta aneng sarira kamung Kumara.
Artinya :
Narmada tirta itu adalah pikiran, sindhu tirta adalah budhi, Gangga tirta adalah pangkal leher, Saraswati tirta adalah jiwa, Ndarawati tirta adalah telinga, Siwanadi tirta adalah ubun-ubun, Siwaprasta nadi adalah ujung rambut. Itulah yang disebut dengan Sapta Tirta yang ada di dalam badan kamu Kumara.
(Lontar Tutur Parakriya, 15b).

Kutipan tersebut, menyebutkan bahwa hubungan Bhuana Agung atau alam semesta yang ada di dalam tubuh manusia seperti di dalam wujud tirta (air suci) antara lain Narmada tempatnya pada pikiran, Sindhu tirta pada budhi, Saraswati pada jiwa, Gangga tirta pada pangkal leher, Ndarawati pada telinga, Siwanaditirta pada ubun-ubun dan Siwaprasta nadi tempatnya pada ujung rambut.

Lebih lanjut menjelaskan tentang hal-hal yang menyangkut tubuh manusia yang memegang peranan penting sebagai berikut :

Pinakasumsum, Siwa. Pinakakatawulan, Iswara. Pinakadaging, Brahma; pinakarah, Rudra; pinaka otot, Basukih; pinakasandi, naga; pinakalamad-lamad, Sambu; pinakawaduk, Mahadewa; pinakakulit, Wisnu; pinakasuku ro, Nandiswara Mahakala; pinakasiku rwa, Candraditia. Nahan ta dewata ring sarira kamung Kumara.
Artinya :
Sumsum adalah Dewa Siwa, tulang Dewa Iswara. Daging, Dewa Brahma; darah, Dewa Rudra; urat, Dewa Basukih; persendian, Dewa Naga; lendir, Dewa Sambhu; lemak Dewa Mahadewa; kulit, Dewa Wisnu; kedua kaki, Dewa Nadiswara dan Mahakala; kedua siku, Dewa Candraditia. Demikianlah para dewata ada pada tubuh, kamu Kumara.
(Lontar Tutur Parakriya, 16b).

Kutipan di atas menjelaskan tentang dewa-dewa yang ada dalam tubuh manusia, seperti Dewa Siwa pada sumsum, Dewa Iswara pada tulang, Dewa Brahma pada daging, Dewa Rudra tempatnya pada darah, Dewa Basukih pada otot, Dewa Naga pada persendian, Dewa Sambhu pada lendir, Dewa Mahadewa pada lemak, Dewa Wisnu pada kulit, Dewa Nadiswara dan Mahakala pada kedua kaki dan Dewa Candradinata pada kedua siku.

Selain dewa-dewa yang bersemayam pada tubuh manusia, juga tentang zat pembentukan dari pada manusia, bahwa manusia itu berasal dari unsur-unsur Panca Maha Butha, menyebutkan sebagai berikut :

Pertiwi pinaka daging, apah pinakarah, teja pinaka rasmi, bayu pinakaprana, akasa pinakadwara, saptawara ring sadwara pinaka rambut mwang ulu.
Artinya : 
Pertiwi menjadi daging, Apah menjadi darah, Teja menjadi sinar, Bayu adalah prana, Akasa menjadi dwara, Saptawara dan Sadwara adalah rambut dan kepala.
(Parakriya, lampiran 17a)

Di atas menjelaskan tentang unsur-unsur Panca Maha Bhuta, dimana pertiwi menjadi serba padat, seperti misalnya kulit, daging, otot dan lemak. Apah menjadi serba cair, seperti darah dan keringat. Teja menjadi serba bercahaya atau bersinar, seperti misalnya: sebagai mata dan panas badan. Bayu menjadi serba bergerak, seperti nafas atau prana, Akasa menjadi dwara atau serba berlubang, seperti lubang hidung, telinga dan lain sebagainya. Dan disebutkan tentang Sadwara dan Saptawara yaitu pada rambut dan kepala. Kedua alam ini yaitu Bhuana Agung dan Bhuana Alit.

Alam semesta dan alam tubuh makhluk mempunyai sifat-sifat dan keadaan bersamaan. Segala yang kental, padat dan keras pada alam maupun pada tubuh mahluk disebabkan oleh pertiwi. Segala yang cair di dunia maupun di badan disebabkan oleh unsur apah. Segala yang bercahaya panas pada mahluk disebabkan oleh unsur bayu, adapun kekosongan yang ada pada alam maupun pada mahluk disebabkan oleh unsur akasa.


Sumber

I Wayan Arya Adnyana
Balai Diklat Keagamaan Denpasar
Ni Wayan Yuni Astuti
Universitas Hindu Indonesia Denpasar
Ida Bagus Putu Eka Suadnyana
STAHN Mpu Kuturan Singaraja
Transkrip Tutur Parakriya
Koleksi Gedong Kirtya, No. IIIB.601/1



Beryadnya dengan Sharing

Tak akan Mengurangi Pengetahuan

Baca Juga