Pengruatan Cempaka Gadang

Pangruatan (Penebusan Dosa) dalam Lontar Cempaka Gadang


Naskah dalam Lontar Cempaka Gadang menyajikan ajaran esoteris mengenai penyatuan mikrokosmos dan makrokosmos yang sangat detail, memetakan silsilah dan hirarki kekuatan kegelapan (anaranjana) secara runtut, serta memberikan dasar teologis bagi pelaksanaan ritual pembersihan dunia (marayascitta).

Esensi utama naskah ini menegaskan bahwa kekuatan kegelapan (pangiwa) dan kesucian (panengen) merupakan dualitas yang tidak terpisahkan dari pancaran suci Sanghyang Taya. Ketidakseimbangan alam yang ditimbulkan oleh penyalahgunaan ilmu kegelapan tidak dihadapi dengan kebencian, melainkan dikelola dan disucikan kembali melalui kombinasi spiritualitas Siwa-Buddha serta upacara liturgi kurban suci (caru).

Relevansi naskah ini terus terjaga dan hidup di tengah masyarakat Bali melalui integrasi liturgisnya ke dalam seni pertunjukan sakral Calonarang, menjadikannya sebuah pedoman ekologi ritual yang abadi dalam menjaga keharmonisan jagat raya.

Karakter utama naskah ini, yakni Dewi Ratna Cempaka Gadang (yang juga dipanggil Dewi Ratna Cempaka Wilis atau I Ratna Cempaka Kresna), digambarkan sebagai personifikasi dari kekuatan mistis luar biasa yang menguasai ajaran anaranjana (ilmu kegelapan atau pangiwa). Tokoh ini sangat populer dalam seni pertunjukan sakral Bali, khususnya dalam teater ritual Calonarang dan Wayang Kulit Calonarang, di mana karakter ini dipentaskan sebagai representasi dari aspek destruktif sekaligus potensi penyucian jagat.

Pengungkapan Asal-Usul Kama dan Konvergensi Kosmis

Naskah dimulai dengan memaparkan pengetahuan rahasia (kaweruhaning) mengenai Dewi Ratnakama pada masa lampau ketika ia menciptakan benih (kama) kehidupan. Benih ini bersumber dari Sanghyang Taya — representasi dari Realitas yang transenden dan tak terpikirkan (Nirguna Brahman) — yang diletakkan pada sebuah pohon cemara yang hangus terbakar (cemara geseng).

Benih tersebut kemudian jatuh ke dalam aliran Sungai Patanu yang keramat. Pancaran cahaya dari benih ini sangat dahsyat, menyerupai kecemerlangan Sanghyang Surya hingga menembus alam kedewatan tertinggi, yaitu Siwa Bhuwana. Kekuatan suci benih ini membuat kawanan ikan di Sungai Patanu tidak ada yang berani memakannya; sebaliknya, seluruh golongan ikan berhimpun untuk menjaga benih tersebut di dalam air.

Keagungan kewibawaan benih tersebut digambarkan sangat menyilaukan bagi siapa saja yang melihatnya, bagaikan kekuatan lensa suryakanta yang memusatkan cahaya matahari. Narasi berlanjut, di mana Sanghyang Taya dikisahkan tiba di aliran Sungai Gangga untuk bercengkerama (macangkrama). Ketika sedang mandi (adyus), sebagian benih-Nya jatuh ke dalam air tanpa Beliau sadari.

Sanghyang Taya segera mengambil kembali benih tersebut dan memasukkannya ke dalam bagian dalam pohon kamboja (taru jepun). Proses penyusupan ini disertai dengan penanaman aksara-aksara suci tingkat tinggi sebagai kode genetik spiritual, yang terdiri atas tastra dasaksara (sepuluh aksara suci), aksara, pancaksara (lima aksara suci), dasaksara, ongkara, dan kekuatan Sanghyang Ulucandra.

Setelah penyatuan aksara tersebut selesai, dibacakanlah mantra keyakinan (pakidhepa) yang agung (Teks 2b – 3a), yang menguraikan pengembalian secara mikrokosmis seluruh organ tubuh manusia kembali ke asalnya di alam makrokosmos (Bhuana Agung). Pengucapan mantra ini bertujuan untuk merekonstruksi tubuh fisik menjadi wujud manusia sakti (jadma wisesa).

Unsur Anatomi Elemen Alam Transformasi 
Kulit Pretiwi (Bumi) Sutra
Hulu (Kepala) Lungsir (Kain Sutra Halus)
Daging Apah (Air) Emas
Getih (Darah) Mirah (Merah Delima)
Jajaringan (Selaput Organ) Wastra Sakalor (Kain Sakalor)
Otot Panon (Penglihatan) Suryya Amanca Warna (Cahaya Lima Warna)
Usus Sagara (Samudra) Cangko Warangan (Keris Berbisa)
Papusus (Usus Kecil) Kain Manjeti
Paparu (Paru-paru) Ineban (Pintu Penutup)
Ampru (Empedu) Permata Jomaten
Tumpuking Hati Pisya (Koin Uang)
Tungtunging Hati Komala Winten (Kemala Intan)
Tungtung (Ujung Organ) Nure
Ineban (Katup Organ) Salang Mute (Untaian Mutiara)
Donira (Daun Organ) Jameji
Limpa Sutra Katipa (Karpet Sutra)
Kembang Waru Talam Demas (Piringan Emas)
Wawayangan (Bayangan) Dwi Paripe Emas (Perhiasan Emas)
Balung (Tulang) Bayu (Angin) Gagamanya (Senjata Gaib)
Sabdha (Suara) Gereh (Guntur)
Kedek (Tawa) Tolerep (Kilat)
Soca Tengen (Mata Kanan) Raditya (Matahari)
Soca Kiwa (Mata Kiri) Ulan (Bulan)
Rambut Akasa (Angkasa)

Mantra penyatuan kosmis ini ditutup dengan penguncian aksara suci Om Sa Ba Ta A I, Na Ma Si Wa Ya. Setelah proses alkimia penciptaan manusia sakti (jadma wisesa) ini selesai, Sanghyang Taya kembali ke alam sunyi (awang-awang).

Setelah genap sepuluh bulan berada di dalam pohon kamboja (tutug candranya), lahirlah anak kecil perempuan tersebut dari tempat perlindungannya (pakukuh). Anak ini memiliki keunikan karena tidak makan dan tidak minum (nora amangan anginum), dan meskipun belum diberi nama, ia sudah mampu berbicara secara fasih. Ia berjalan menyusuri tepi aliran air hingga tiba di sebuah tempat suci (kahyangan) milik Bhatari Gangga. Di sanalah ia berhenti dan mula-mula dikenal dengan nama Dewi Kama.

Setelah menetap selama tujuh hari, Bhatari Gangga menampakkan diri dalam wujud manusia perempuan dan menanyakan asal-usul, orang tua, serta negeri asal anak tersebut. Karena anak itu tidak mengetahuinya, Bhatari Gangga menyadari di dalam lubuk hatinya bahwa anak ini adalah benih suci Sanghyang Taya yang dahulu jatuh di aliran air masa lampau. Beliau kemudian memberinya nama resmi : Dewi Ratnakama.

Inisiasi Gni Anglayang dan Formasi Aksara Esoteris

Setelah satu bulan berada di kahyangan Bhatari Gangga (sacedra), Sanghyang Taya hadir pada tengah malam untuk memberikan anugerah tertinggi kepada Dewi Ratnakama. Anugerah tersebut berupa gni anglayang (api yang melayang), yang merupakan simbol dari kekuatan api kundalini atau energi spiritual esoteris.

Dewi Ratnakama segera masuk ke dalam tempat perapian suci (pakundhan), berpamitan kepada penguasa Gangga, dan naik ke atas api yang melayang tersebut. Sanghyang Taya juga menganugerahkan kekuatan spiritual bernama Cempaka Gadang yang ditempatkan tepat di ubun-ubunnya (cudamani atau chakra mahkota). Sejak saat itu, ia dikenal sebagai Dewi Ratna Cempaka Gadang karena dianugerahi kewibawaan yang sangat utama oleh Sanghyang Taya.

Selanjutnya, entitas suci bernama Sanghyang Sarigah memberikan pengajaran mengenai asal-usul kekuatan leyak (ilmu transformasi diri). Sanghyang Sarigah menjelaskan bahwa asal mula leyak bersumber dari kekuatan mistis kembang sungsang (sekar sungsang) dan kembang anggrek. Kedua bunga ini menjadi dasar dari dua jenis leyak utama karena dalam jangka waktu yang lama tidak ada penganut ajaran Siwa yang durhaka (sewa doraka).

Dewi Ratna Cempaka Gadang, yang juga dijuluki Dewi Ratna Cempaka Wilis, kemudian melakukan meditasi mendalam (mayoga) pada api yang melayang (gni anglayang). Yoga tingkat tinggi ini membuatnya mencapai keadaan transenden di mana tubuh fisiknya tidak lagi terikat oleh bumi (Sanghyang Basundari), melayang-layang bebas di ruang hampa (anrawang-anruwung ring awang-awang ring uwung-uwung), tidak tersinari oleh matahari (Raditya), bulan, maupun bintang (Lintang Tranggana), serta tidak terhempas oleh angin (Sanghyang Maruta). Ia mencapai tingkat kedewatan di mana tidak ada yang dapat merendahkannya di bawah, dan tidak ada yang mengunggulinya di atas, serta ia memproklamirkan diri sebagai penguasa (atapaking) atas kekuatan spiritual leyak anggrek mas dan leyak sungsang mas.

Dalam melakukan meditasi dan pemujaannya, Dewi Ratna Cempaka Gadang menggunakan mantra aksara suci Ang Ung Mang (Triaksara) yang disalurkan melalui gerbang spiritual tubuhnya : masuk melalui ubun-ubun (Siwadwara), kembali ke anak mata, keluar melalui hidung, masuk ke mulut, dan keluar dari pusar. Kekuatan ini diperkuat dengan pengucapan sloka suci esoteris :

“Balampu, Siwa tatyam, gni rasyam, matrampu, Omkaran, tatwam, rasyam, dantisariyam rsyam, tri netram, sudantam, gni nrasnam.”.

Setelah mencapai puncak kesaktiannya, Sang Sinuhun Padmi (gelar spiritual Cempaka Gadang) mengajarkan pengetahuannya kepada para muridnya (para sisya kabeh). Beliau kembali ke singgasana teratai yang melayang (padma anglayang).

Pengaruh kesaktiannya begitu dahsyat sehingga siapa pun yang mendekatinya akan bertransformasi menjadi leyak, bahkan dewa-dewa dan binatang pun takluk di hadapannya. Binatang-binatang bertransformasi menjadi jenis-jenis leyak berwujud hewan, seperti leyak kerbau raja (kebo raja), leyak banteng raja, leyak babi (bawi) syati, ni leyak sugaplong, dan I Gendu Srayu.

Seluruh leyak yang merayap dan terbang (gumatap-gumitip) menjaga Sang Sinuhun Padmi dengan ketat, diiringi oleh entitas mistis kuat seperti gajah mina, I Nagaraja, dan sang garuda putih.

Nama Entitas Bentuk Wujud Peran
Dewi Ratna Cempaka Gadang Sang Sinuhun Padmi / Sang Nabe Padmi, menguasai api melayang (gni anglayang) Pemimpin Tertinggi / Mahaguru Ajaran Kegelapan (Anaranjana)
Ni Leyak Anggrek Mas Wujud leyak emas, menguasai transformasi api esoteris Murid Utama / Pengawal Barisan Depan
Ni Leyak Sungsang Mas Wujud leyak bunga terbalik (sekar sungsang), kekuatan destruktif pangerian Murid Utama / Pengawal Barisan Depan
Ni Leyak Kasela Petak Leyak putih, menguasai tanaman pelindung dan racun Penjaga Singgasana Teratai Melayang (Padma Anglayang)
Ni Leyak Sudamala Leyak pembebas noda, menguasai penatralisasian penyakit Penjaga Singgasana Teratai Melayang (Padma Anglayang)
Leyak Kebo Raja Leyak berwujud kerbau besar, kekuatan fisik masif Barisan Penghancur Lapangan
Leyak Banteng Raja Leyak berwujud banteng liar, kemarahan tak terkendali Barisan Penghancur Lapangan
Ki Leyak Bawi Syati Leyak berwujud babi hutan, keserakahan material Penjaga Teritorial Kuburan
Ni Leyak Sugaplong (Nyai Asu Gaplong) Leyak berwujud anjing kurus (leak cambra berag), penjaga setra Penjaga Kuburan dan Pengoyak Jiwa Pendosa
I Gendu Srayu Leyak berwujud makhluk merayap (gumatap-gumitip) Mata-mata dan Penyebar Ketakutan
Gajah Mina & I Nagaraja Makhluk hibrida laut dan naga spiritual Penjaga Kursi Kebesaran Sang Guru
Sang Garuda Putih Burung kosmis putih, menguasai mantra pemanggil Pemanggil Pasukan dan Penjaga Udara

 

Eskalasi Wabah Malarada Marana dan Intervensi Dewata

Sebagai manifestasi dari kekuatan destruktif pangiwa, Sang Sinuhun Padmi memberikan ganjaran berupa kesaktian mengerikan kepada murid-muridnya. Di kuburan suci Setra Gandhamayu yang ditudungi oleh pohon beringin besar, sesosok jenazah anak kecil (sawa wong rare) tiba-tiba bergerak dan berputar-putar di Tegal Penangsaran.

Kejadian mistis ini digerakkan oleh kekuatan napas (bayu) suci dengan mantra “Er Er” di atas hati, rasa ngilu di ginjal (werring ungsilan), sakit di jantung (gering papusuhan), rasa sesak di paru-paru (dur ring papuru), matahari di mata, “Om Om” di pusar, dan “Ang Ung Mang” di ubun-ubun. Dengan kesaktiannya, Sang Sinuhun mengubah wujud anak kecil di kuburan anak-anak (setra pabajangan) tersebut sehingga ditakuti oleh seluruh golongan leyak.

Namun, kekuatan destruktif ini mulai disalahgunakan untuk menyebarkan wabah penyakit mematikan (malarada marana) ke seluruh penjuru dunia (Teks 7b). Sarang dan wilayah kekuasaan para leyak menyebar luas ke 19 tempat utama, yaitu :

  1. Pangkal pohon kepuh (pukuhning kepuh).
  2. Pohon beringin sungsang (waringin sungsang).
  3. Tempat pembakaran jenazah (pamuhunan).
  4. Tempat sesaji (tarptug).
  5. Tempat persembahan (pasugon).
  6. Pura atau tempat suci (kahyangan).
  7. Sumur (semer).
  8. Jurang dalam (jurang ajro).
  9. Empat penjuru desa (catur desa).
  10. Tegalan (tegal).
  11. Pepohonan (kayu).
  12. Perempatan jalan (pempatan).
  13. Lembah atau jurang sungai (pangkung).
  14. Jalan setapak (sasunutan).
  15. Laut (sagara).
  16. Gunung Agung (gunung agung).
  17. Pertigaan jalan (marghga tiga).
  18. Tanah kosong (karang suwung).
  19. Pekarangan rumah (pakarangan).

Penyebaran ilmu kegelapan (anaranjana) yang masif ini membuat bumi marcapada dilanda malapetaka hebat. Bahkan, raja-raja dan binatang yang mati pun berubah menjadi leyak, serta setiap hari bumi dan surga dilanda penyakit. Kesaktian I Cempaka Gadang (yang kini dipanggil I Ratna Cempaka Kresna karena kekuatan penghancurnya yang gelap) membuat dewa-dewa tak berdaya. Sanghyang Paramesti Guru (Bhatara Guru) menangis melihat kehancuran bumi; hujan lebat bertubi-tubi turun, kilat menyambar ganas (kilap magalak), binatang berbisa menjadi sangat liar (sarwwa mandi galak), dan bumi berada di ambang kepunahan.

Melihat penderitaan dunia, Sanghyang Surya bersabda kepada golongan dewa bahwa ada satu cara untuk menghentikan Cempaka Gadang (Teks 8b). Di bawah bumi (soring basundhari), seorang pendeta Buddha (pandhita bhodha) memiliki anak kembar sakti bernama Sang Siwa Gendu dan Sang Windhu Bajra.

Mereka berdualah yang ditakdirkan memiliki otoritas spiritual untuk membunuh I Cempaka Gadang pada hari Jumat Umanis (Sukra Umanis), tanggal tiga belas pada bulan keempat (sasih kacatur). Kematian Cempaka Gadang diramalkan akan terjadi di tempat orang yang menderita penyakit kusta busung (gudung basur).

Atas titah Sanghyang Parameswara, Bhagawan Sampeyana diutus pergi ke lapisan bumi ketujuh (sapta patala) untuk meminta bantuan spiritual dari sang pendeta suci (mahamuni) di Sapta Guminta.

Bhagawan Sampeyana mengubah wujudnya menjadi burung gagak putih (gagak petak) dan terbang menuju Sapta Guminta. Di sana, ia menemui sang pendeta Buddha yang sedang melantunkan kitab suci dengan segala atribut upacara keagamaannya yang lengkap. Setelah menyampaikan keluh kesah para dewa dan penderitaan dunia akibat kesaktian Cempaka Gadang, sang pendeta suci merestui kedua anaknya untuk mengemban tugas suci tersebut.

Sebelum berangkat, sang pendeta memberikan ajaran perlindungan jiwa (raksanen jiwa atmanta) berupa mantra pertahanan kosmis yang menempatkan dewa-dewa penjaga pada setiap organ tubuh Sang Siwa Gendu dan Sang Windhu Bajra. Dewa Siwa ditempatkan di ubun-ubun, matahari di mata, Sanghyang Iswara di mulut, Sanghyang Mahadewa di jantung, Brahma di paru-paru, Wisnu di hati, Sanghyang Antabhoga di dalam suara, dan Sanghyang Bayu di seluruh anggota gerak kaki dan tangan.

Dilengkapi dengan perlindungan ini, kedua bersaudara tersebut menghaturkan sembah bakti kepada sang Adiguru dan berangkat ke surga untuk memohon restu langsung dari Sanghyang Siwa.

Peperangan Kosmis dan Alkimia Transformasi

Setelah menerima restu dari Sanghyang Siwa, Sang Siwa Gendu dan Sang Windhu Bajra melangkah menuju bumi marcapada diiringi petunjuk dari Bhagawan Wesampayana. Mereka menuju ke arah timur laut (lor wetan), tempat di mana pohon cemara yang hangus (cemara geseng) berada. Di tengah perjalanan, mereka bertemu dengan Sanghyang Surya yang memberikan ujian sekaligus taktik penyamaran. Sanghyang Surya memerintahkan mereka untuk menyamar menjadi seorang pendeta desa cacat (dukuh) yang kakinya berbongkol-bongkol (pabrotong) dan tangan kirinya tidak memiliki jari (tangan kiwa tan pajriji).

Ketika tiba di pekarangan rumah milik Sang Siwa Gendu, penyamaran Sanghyang Surya sebagai dukuh cacat tersebut menimbulkan rasa iba di hati sang pahlawan. Sang dukuh kemudian menjelaskan secara rinci mengenai kelemahan terbesar Cempaka Gadang. Ia mengungkapkan bahwa jiwa dan kekuatan Cempaka Gadang berpusat di ubun-ubunnya (cudamani). Untuk membuktikannya, sang dukuh memberikan sebuah alat peneropong gaib bernama suryakanta kuranta bolong.

Melalui alat suci tersebut, Sang Siwa Gendu dapat melihat dengan jelas keberadaan Cempaka Gadang yang tengah berada di Setra Gandhamayu, duduk di pangkal pohon kepuh yang dikelilingi oleh tumpukan bangkai (kawanda), isi perut (basang-basang), jantung, paru-paru, dan kepala manusia di puncak pohon, serta dijaga ketat oleh seluruh bala tentara leyak.

Setelah memantapkan niat suci mereka, Sang Siwa Gendu dan Sang Windhu Bajra berpamitan kepada sang dukuh dan meluncur ke wilayah cemara geseng. Suasana bumi sangat sunyi senyap tanpa ada satu pun manusia yang terlihat. Tepat pada tengah malam (madyaning dalu), kedua bersaudara ini memulai serangan taktis mereka. Sang Siwa Gendu berubah wujud menjadi gagak putih dan Sang Windhu Bajra menjadi burung walet putih (sesapi petak). Mereka hinggap di pohon beringin besar dekat kediaman musuh.

Sang Windhu Bajra kemudian melepaskan ajian sirep yang luar biasa sakti (Sanghyang Aji Sirep) untuk menidurkan seluruh penjaga. Mantra penidur tersebut berbunyi : “Om Ang, Ang Om, Ang Garudha, iki wruh ring Siwatman, lingging aji, Omkara sumungsang hana ring nabhi, repsirep sahaning leyak kabeh lawan sahananing gumatap-gumitip…”. Mantra ini seketika menidurkan para bhuta, leyak, dan makhluk pemangsa di seluruh kahyangan.

Dengan perlindungan ajian sirep, Sang Siwa Gendu menyusup ke dalam kamar peraduan Cempaka Gadang yang tengah tertidur lelap, sementara adiknya bersiaga di luar. Tanpa ragu, Sang Siwa Gendu menikam Cempaka Gadang sebanyak tiga kali (katuwek ping trini). Tikaman ini membuat Cempaka Gadang berteriak histeris karena terperanjat, lalu melesat keluar menuju kuburan untuk memanggil murid-murid utamanya, Ni Leyak Anggrek Mas dan Ni Leyak Sungsang Mas. Ia mengabarkan bahwa ada pencuri sakti dari lapisan bumi ketujuh yang mencoba membunuhnya.

Para murid leyak segera maju menghadang Sang Siwa Gendu. Namun, dari ubun-ubun (siwadwara) Sang Siwa Gendu keluar kobaran api yang sangat dahsyat. Dengan kekuatan pikirannya, Sang Siwa Gendu membakar Ni Leyak Anggrek Mas hingga hangus menjadi abu seketika. Kematian tragis ini membuat murid-murid leyak lainnya lari kocar-kacir dalam ketakutan dan mengadu kepada guru mereka.

Melihat murid-muridnya tak berdaya, I Dewi Cempaka Gadang memutuskan untuk menghadapi Sang Siwa Gendu secara langsung. Pertemuan di kahyangan tersebut memicu pertempuran puncak yang sarat dengan adu kesaktian dan metamorfosis wujud (Teks 16a – 17b).

Tahapan Pertempuran Taktik Cempaka Gadang Taktik Siwa Gendu & Windhu Bajra Medan Tempur
Infiltrasi & Kejutan Tertidur lelap di ranjang (paturon) Sang Siwa Gendu masuk kamar; Sang Windhu Bajra melepas ajian penidur (Aji Sirep) Bilik tidur kediaman Cempaka Gadang
Serangan Awal Terkejut, ditikam 3 kali, berteriak, memanggil Ni Leyak Anggrek Mas & Sungsang Mas Menikam menggunakan senjata tajam secara presisi Kamar tidur hingga area luar (jaba)
Pertempuran Murid Ni Leyak Anggrek Mas menyerang dengan kekuatan api pengiwa Sang Siwa Gendu mengeluarkan api dari ubun-ubun (siwadwara) Kuburan (Setra)
Konfrontasi Pertama Berubah menjadi : Asap (kukus), Keranda (bade), Beringin sungsang, Api (agni), Bulan (candra) 7 rupa Menghadapi segala rupa ilusi tanpa rasa takut Kahyangan Setra
Pertempuran Udara Melarikan diri dan menyatu ke dalam sari teratai melayang (sarining padma) Sang Siwa Gendu : Kupu-kupu emas (kakupu mas); Sang Windhu Bajra : Kumbang putih (tambelilingan) Angkasa / Udara
Pertempuran Elemen Masuk ke dalam api yang melayang (gni anglayang) Berubah menjadi Hujan (hudan) dan Angin (maruta) untuk memadamkan api Angkasa
Pertempuran Air Menyelam ke laut (sagara) dan menjelma menjadi ikan (mina) Berubah menjadi Ikan Raksasa (mina agung) dan bertarung sengit Tengah Lautan
Pertempuran Awan Melesat ke langit menjadi awan (megha) Sang Siwa Gendu : Burung walet putih (sesapi putih) di langit; Sang Windhu Bajra : Anjing tanah (asu bolot) di bumi Langit / Awan dan Daratan
Klimaks & Kehancuran Sembunyi dalam api kusta busung (gni manusa gusug agung) Menggunakan senjata Gni Sawelas dan mantra Siwa Gni Putih untuk melepas api putih (gni petak) Area Kuburan Cemara Geseng

Peperangan mistis tiga arah ini berlangsung sangat sengit siang dan malam selama hampir satu bulan tujuh hari (sacandra sapta dina) tanpa makan dan minum. Kelelahan fisik dan batin yang luar biasa akhirnya memaksa kedua belah pihak untuk menghentikan pertempuran selama tujuh hari. Sang Siwa Gendu dan Sang Windhu Bajra memanfaatkan jeda ini untuk kembali ke Sapta Guminta demi memohon senjata pamungkas dari ayah mereka.

Sang pendeta suci menenangkan hati anak-anaknya dan menganugerahkan sebuah senjata esoteris tertinggi yang bersumber dari anugerah purba Sanghyang Antabhoga. Senjata tersebut berupa kekuatan Sebelas Api (gni sawelas) yang memiliki sebelas warna cahaya berbeda, dikombinasikan dengan mantra pelepasan Siwa Gni Putih. Senjata ini adalah satu-satunya instrumen spiritual yang mampu menembus pertahanan mutlak Cempaka Gadang.

Kembali ke medan pertempuran di cemara geseng, kedua bersaudara menantang Cempaka Gadang untuk menyelesaikan pertarungan pada tengah malam. Peperangan udara kembali pecah dengan dahsyat. Di tengah gempuran Siwa Gni Putih, kekuatan Cempaka Gadang mulai melemah. Dalam keputusasaannya, ia mencoba bersembunyi dengan masuk ke dalam kobaran api milik manusia yang menderita kusta besar (gni manusa gusug agung). Namun, Sang Siwa Gendu segera melepaskan api putih suci (gni petak), yang seketika membakar habis seluruh tubuh fisik dan spiritual Cempaka Gadang hingga menjadi abu.

Penghakiman Atma dan Eksorsisme Pangruat

Setelah kematian fisiknya, narasi naskah bergeser ke alam baka (Yamaniloka) untuk menceritakan nasib akhir dari jiwa (atma) Cempaka Gadang (Teks 19b). Jiwa Cempaka Gadang dijatuhkan ke dalam kawah tembaga membara berbentuk kepala sapi (kawah tambra gomuka), tempat penyiksaan paling mengerikan bagi para pendosa berat.

Atas perintah Bhagawan Petra Raja (hakim alam kubur), bala tentara raksasa (bregala) juga menyeret dan menyiksa seluruh jiwa murid-murid leyak Cempaka Gadang. Mereka dimasukkan ke dalam kawah lumpur (kawah ndut), kawah kotoran (kawah bacin), dijepit dengan besi membara (sinepit dening wesi), dihimpit batu besar (sinepit dening sela agung), serta tubuh mereka dipotong-potong tanpa henti. Tangisan pilu dan jeritan histeris dari golongan leyak memenuhi alam neraka saat mereka menyaksikan penderitaan abadi guru mereka, menciptakan kegemparan luar biasa di kalangan para dewa.

Sementara itu, di bumi marcapada, Sang Siwa Gendu dan Sang Windhu Bajra berjalan pulang setelah menyelesaikan tugas suci mereka. Di tengah perjalanan, mereka bertemu dengan Sanghyang Siwa (Pramesti Guru) yang menyampaikan rasa terima kasih mendalam atas jasa besar mereka dalam menyelamatkan dunia. Namun, Sang Siwa Gendu menghaturkan sembah dan memohon penyucian batin (panghening idhep) kepada Bhatara Siwa. Ia mengungkapkan bahwa meskipun pembunuhan Cempaka Gadang dilakukan demi menegakkan dharma, tindakan mencabut nyawa tersebut telah meninggalkan residu kotoran spiritual (leteh punang hati) di dalam lubuk hati mereka. Permohonan tulus ini dijawab oleh Bhatara Siwa dengan memberikan upacara penyucian suci (majaya-jaya) untuk mengembalikan keharmonisan jiwa mereka.

Sinkretisme Siwa-Buddha dalam Naskah Cempaka Gadang

Naskah Cempaka Gadang mengandung ajaran teologis yang sangat kaya, terutama yang berkaitan dengan konsep non-dualisme (Adwaita) dalam tradisi Siwa-Buddha di Bali. Doktrin utama naskah ini bertumpu pada keyakinan bahwa seluruh eksistensi material dan spiritual bersumber dari satu prinsip tunggal yang transenden, yaitu Sanghyang Taya. Manifestasi benih (kama) Sanghyang Taya yang melahirkan Cempaka Gadang menunjukkan bahwa esensi kegelapan (pangiwa) dan kesucian (panengen) sebenarnya berasal dari sumber ilahi yang sama.

Tradisi esoteris Bali memandang tubuh manusia (Bhuana Alit) sebagai duplikasi sempurna dari alam semesta (Bhuana Agung). Melalui mantra pakidhepa, naskah ini memberikan peta kosmologis-anatomis yang sangat detail, yang merinci bagaimana setiap organ tubuh terhubung langsung dengan elemen alam dan dewa-dewa penguasanya. Melalui penyatuan kosmis ini, unsur-unsur tubuh bertransformasi menjadi materi-materi suci nan mulia yang membentuk jadma wisesa (manusia sakti). Pengembalian unsur-unsur tubuh ke asalnya merupakan prasyarat mutlak untuk mencapai kesaktian tanpa batas di dunia, sekaligus kelonggaran jiwa saat menyatu kembali dengan Sang Pencipta pada saat kematian (kalepasan).

Pangruatan dan Ekologi Ritual

Dalam kosmologi Hindu-Bali, wabah penyakit (gring) dipandang sebagai indikator adanya ketidakharmonisan ekologis dan spiritual antara manusia dengan alam akibat akumulasi dosa dan penyalahgunaan kekuatan spiritual. Kematian Cempaka Gadang menandai runtuhnya dominasi kegelapan, namun sisa-sisa penyakit dan roh jahat pengikutnya harus disucikan (diruat) agar bertransformasi menjadi kekuatan positif yang mendukung kehidupan (landuh).

Naskah ini menjelaskan secara rinci pelaksanaan upacara marayascitta (penyucian alam semesta) yang dilakukan di perempatan jalan (marga catur) dan empat penjuru desa (catur desa).

Perempatan jalan dipandang sebagai titik temu energi kosmis yang paling labil, sekaligus tempat berkumpulnya kekuatan bhuta kala. Pemilihan jenis caru (kurban suci) yang digunakan dalam upacara ini sarat dengan makna simbolis teologis yang sangat mendalam :

Jenis Caru Dewata Penguasa Penempatan Arah Makna Filosofis
Asu Bang Bungkem Berbulu merah murni dengan moncong dan ekor berwarna hitam Barat Daya (Southwest) / Marga Catur

Lambang Dewa Brahma (merah/pencipta) dan Wisnu (hitam/pemelihara); digunakan untuk menetralkan energi anaranjana

Sata Manca Warna Ayam dengan kombinasi bulu lima warna kosmis Marga Catur (Perempatan Agung) Harmonisasi unsur Panca Maha Bhuta di alam semesta yang kacau akibat wabah sampar
Kambing Hewan kurban berenergi rajas terkendali Catur Desa (Empat Penjuru) Penyeimbang energi dinamis manusia dan peredam nafsu amarah
Angsa Unggas putih, simbol kebijaksanaan (wiweka) Catur Desa (Empat Penjuru) Penyaring energi negatif dan pemisah antara esensi suci dengan noda
Bawi Durung Acula Babi muda jantan yang belum dikebiri Catur Desa (Empat Penjuru) Lambang ketamakan duniawi (tamas) yang dikorbankan untuk disucikan (nyomia)
Yamaraja Persembahan lengkap ditujukan kepada Dewa Maut Pusat perempatan jalan Penyucian jiwa-jiwa pengikut leyak yang terikat di bumi agar kembali ke alam baka

Esensi utama dari upacara caru ini bukanlah pemusnahan kekuatan jahat, melainkan proses nyomia, yaitu mengubah sifat-sifat bhuta (destruktif, liar, dan kacau) menjadi sifat-sifat dewa (harmonis, damai, dan mendukung kehidupan). Setelah upacara penyucian ini dipimpin oleh seorang pendeta (dadukun / sanggadukun), bumi marcapada kembali mengalami keadaan landuh (subur, makmur, aman, dan tenteram). Para dewa di Siwa Bhuwana pun dapat kembali hidup tenang dan damai.

Kayu Suci Aji Janantaka

Kematian tragis Cempaka Gadang yang melarikan diri ke dalam “api manusia kusta besar” (gni manusa gusug agung) sebelum akhirnya musnah oleh gni petak memiliki hubungan intertekstual yang sangat erat dengan ajaran dalam Lontar Aji Janantaka. Lontar tersebut menguraikan klasifikasi kayu yang boleh dan tidak boleh digunakan sebagai bahan bangunan suci (parahyangan) di Bali.

Nama Kayu Asal-Usul dalam Aji Janantaka Status Penggunaan Korelasi Teologis
Cempaka Putih Inkarnasi kesadaran Sanghyang Siwa murni Diperbolehkan dan sangat diutamakan Perwujudan dari ucapan suci (sabda) dan kesucian pikiran yang tegak lurus
Cempaka Kuning Simbol kewibawaan dan kesucian tunggal (Dwitayasa) Diperbolehkan untuk tempat ibadah Lambang kecerdasan spiritual dan keteguhan batin yang luhur
Cempaka Wilis (Hijau) Tumbuh dari inkarnasi manusia penderita kusta (leprosy) Dilarang Keras untuk tempat suci (parahyangan)

Menggambarkan mengapa Cempaka Wilis melarikan diri ke dalam api penderita kusta besar (gni manusa gusug agung); ia kembali ke asal-usul ontologisnya yang tercemar

Cendana Inkarnasi dari kesadaran tertinggi (Sanghyang Paramasiwa) Diperbolehkan dan sangat sakral Perwujudan dari daya kehendak (idep) dan arah spiritual yang lurus
Majegau Inkarnasi dari energi Dewa Brahma (Sanghyang Sadasiwa) Diperbolehkan untuk sarana pemujaan Perwujudan dari kekuatan hidup (bayu) dan energi tubuh yang dinamis

Hubungan teologis ini menunjukkan ketelitian penulisan naskah Cempaka Gadang dalam menyusun struktur narasi. Cempaka Gadang / Wilis digambarkan luluh dan hancur di dalam api penderita kusta karena secara mitologis-ontologis, keberadaan dirinya membawa noda bawaan kusta yang belum menerima anugerah penyucian kedewatan (waranugraha). Hanya melalui peleburan total oleh api putih suci (gni petak) dari ajaran Buddha-Siwa, noda purba tersebut dapat dilebur dan jiwanya disucikan kembali di bawah penghakiman Dewa Yama.

Dari Lontar ke Arena Pertunjukan Calonarang

Naskah Cempaka Gadang tidak hanya berhenti sebagai teks keagamaan yang statis, melainkan bertransmisi menjadi salah satu lakon paling populer dan sakral dalam seni pertunjukan Bali, khususnya drama tari Calonarang dan pementasan Wayang Kulit Calonarang. Pertunjukan ini dikenal memiliki nuansa magis yang sangat kuat karena mengeksplorasi secara terbuka rahasia ajaran jalur kiri (pangiwa) dan jalur kanan (panengen).

Dalam pementasan teater ritual tersebut, tokoh Diah Ratna Cempaka Gadang dipentaskan dengan dualitas karakter yang ekstrem. Pada awal pertunjukan, ia digambarkan sebagai sosok wanita cantik jelita yang anggun, ditarikan dengan gerakan tari Bali klasik yang halus. Namun, seiring meningkatnya ketegangan dramatik, mimik wajah penari seketika berubah drastis menjadi menyeramkan, jemarinya bergetar hebat, sorot matanya tajam membidik penonton, mengindikasikan masuknya kekuatan gaib leyak ke dalam tubuh sang penari. Karakter transisi ini menjadi salah satu peran favorit bagi para penari spesialis Calonarang di Bali, seperti yang kerap ditarikan secara totalitas oleh seniman tari Pradnya Larasari di berbagai pura suci.

Pementasan lakon Diah Ratna Cempaka Gadang ini diselenggarakan di pura-pura yang memiliki ikatan spiritual kuat dengan kekuatan mistis, seperti di Pura Musen Blangsinga, Blahbatuh, Gianyar, serta di Griya Agung Budha Salahin, Tanggahan Tengah, Bangli. Bagi masyarakat Hindu-Bali, pementasan Calonarang dengan lakon Cempaka Gadang bukanlah sekadar sarana hiburan (tontonan), melainkan sebuah ritual pembersihan lingkungan secara kolektif (tuntunan). Pertunjukan ini secara aktif memancing keluar energi-energi negatif (leak) yang ada di sekitar pemukiman warga untuk kemudian dinetralisasi dan dikembalikan ke asalnya (disomia) melalui kehadiran barong sebagai simbol pelindung kebaikan. Dengan demikian, seni pertunjukan Calonarang merupakan bentuk aktualisasi praktis dari ajaran pangruat yang termuat di dalam lembaran naskah lontar Cempaka Gadang.



HALAMAN TERKAIT
Baca Juga