- 1Teologi Sang Hyang Tiga Jnana dan Sakralitas Aksara Hidup
- 1.1Formula Sastra Esoteris dan Konsep Involusi Bunyi
- 1.2Metafor Sastra dan Karakter Getaran Bunyi
- 1.3Somatisasi Aksara dan Anatomi Spiritual Bhuwana Alit
- 2Astrologi, Penanggalan Wariga dan Kosmogoni Penciptaan
- 2.1Mitologi Geografis dan Transformasi Dewa Siwa Menjadi Nilakantha
- 3Ongkara Serta Letak Bijaksara dalam Tutur Ajisaraswati
- 4Pengringkesan Dasaksara dalam Tutur Aji Saraswati
- 5 Pemujaan dan Upakara Odalan (Pawedalan) di Hari Raya Saraswati
- 6Salinan Lontar Tutur Aji Saraswati
Tutur adalah teks yang berisi ajaran dan nasihat. Tutūr Aji Śaraśwatī berisi tentang ajaran kesehatan jasmani, rohani, dan kehidupan setelah mati (kamokṣan). Pembahasan dimulai dengan penjabaran makna simbolik dalam jenis (swalalita, wrĕśastra, modre) berserta fungsi aksara Bali. Hal ini dijelaskan pada awal kalimat pembuka naskah “wnang hingangge de sang wruhring sahalwaning akṣara wāya, prajñan ring tatwa carita tĕkaring wikrama’“.
Meskipun judul teksnya adalah Tutūr Aji Śaraśwatī, ia tidak secara eksplisit membahas tentang hal-hal yang menyangkut dewi Saraswati. Sebaliknya ia menjelaskan filosofi suara (sabda) dan huruf (aksara) sebagai sumber dari semua eksistensi di alam semesta ini. Saraswati di sini dipahami dalam arti yang lebih dalam, bahwa ia memberikan pengetahuan tentang suara dan huruf dari mana bahasa dikembangkan. Tanpa bahasa, tidak ada pengetahuan yang akan dikembangkan dan manusia akan berada dalam kegelapan.
Segala eksistensi secara esenssial adalah suara (sabda). Sabda mempunyai status ontologis sebagai asal dan tempat segalanya kembali. Hal ini nampak jelas jika mengamati bentuk Ongkara dimana unsur yang paling tinggi adalah Nada (suara kosmik). Begitu juga penekanan lebih banyak kepada penglukunan dan pengringkesan Dasaksara sebagai jalan pembebasan. Pemahaman atas konsep Rwa Bhineda, misalnya, antara bhuwana agung dan bhuwana alit menjadi sangat penting. Di dalam upaya mengusahakan kesucian, digunakan mantra-mantra beserta sarana-sarana lainnya seperti air.
Saraswati di dalam teks Tutūr Aji Śaraśwatī menarik dipelajari apalagi menjelang hari suci piodalan Sang Hyang Aji Saraswati pada Saniscara Kliwon Watugunung setiap 6 bulan sekali menurut perhitungan Kalender Bali. Pendalaman-pendalaman makna simbolis Saraswati senantiasa diperlukan di tengah-tengah kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Acuan-acuan mengenai Saraswati bisa ditemukan di dalam kitab Catur Weda Samhita, Purana, dan Itihasa berbahasa Sanskerta.
Teologi Sang Hyang Tiga Jnana dan Sakralitas Aksara Hidup
Doktrin teologis utama yang melandasi teks Tutur Aji Saraswati adalah keberadaan Sang Hyang Tiga Jnana, yaitu kesatuan tiga kekuatan pengetahuan suci yang menjadi jiwa dan mahkota dari seluruh sistem sastra. Tiga kekuatan ketuhanan ini meliputi :
- Sang Hyang Gurureka : Refleksi Tuhan sebagai pencipta, perancang, dan penggubah aksara suci di semesta.
- Sang Hyang Kawiswara : Manifestasi Tuhan sebagai raja para penyair (kawi), yang melimpahkan keindahan, estetika, dan kekuatan rasa dalam sastra.
- Sang Hyang Saraswati : Personifikasi dewi ilmu pengetahuan yang menganugerahkan kebijaksanaan batin dan kecerdasan intelektual.
Ketiga entitas gaib (suksma) ini bersatu di dalam aksara suci, menjadikannya sebagai aksara waya — yakni aksara yang hidup, berjiwa, dan memiliki getaran energi kosmik aktif. Pertautan mistis ini berakar pada ajaran purba dalam kitab Tutur Bhuwana Mabah, yang menyatakan bahwa Sang Hyang Guru menggunakan kekuatan aksara untuk membebat, menopang, dan menguasai tiga dunia (tribhuwana) beserta seluruh makhluk hidup secara bersamaan.
Dari interaksi elemen dasar alam semesta — yaitu tanah (pritiwi), air (apah), dan ruang angkasa (akasa) — muncullah tiga rumpun sastra utama yang menjadi kerangka manifestasi bahasa dunia. Ketiga rumpun sastra tersebut adalah :
| Jenis Sastra | Karakteristik Utama | Fungsi Esoteris |
| Swalalita |
Aksara yang digunakan untuk menulis bahasa Sanskerta dan mantra suci |
Media pemanggilan kekuatan dewa-dewi makrokosmos |
| Wrehastra |
Aksara Jawa Kuna/Bali yang terdiri dari 20 buah huruf utama (ha, na, ca, ra, ka, da, ta, sa, wa, la, ma, ga, ba, nga, pa, ja, ya, nya) |
Representasi unsur fisik-material dan organ tubuh bhuwana alit |
| Modre |
Aksara suci magis yang memiliki bentuk hiasan dan susunan simbolis khusus |
Pelindung batin, rajah penolak bala, dan sarana yoga tingkat tinggi |
Sistem teologi aksara ini membagi getaran sastra ke dalam tingkatan nista (rendah), madhya (menengah), dan utama (tinggi). Tingkatan ini berfungsi sebagai jembatan kesadaran yang menghubungkan alam bawah (bhuta), alam kemanusiaan (manusa), dan alam kedewataan (dewa).
Melalui pemahaman mendalam atas pembagian ini, seorang praktisi spiritual dapat menyelaraskan getaran batinnya dari tingkat yang paling rendah menuju tingkat kedewataan yang suci.
Formula Sastra Esoteris dan Konsep Involusi Bunyi
Teks Tutur Aji Saraswati menyajikan ajaran orisinal mengenai pengelompokan aksara ringkes (formula suku kata suci) berdasarkan jumlah suku katanya. Pengelompokan ini bukan sekadar klasifikasi linguistik, melainkan sebuah visualisasi dari proses penciptaan (evolusi/srishti) dan peleburan (involusi/pralaya) alam semesta.
Di dalam ajaran Siwa-Siddhanta, proses penciptaan bermula dari satu aksara tunggal yang kemudian memancar menjadi sepuluh aksara utama (Dasa Aksara) yang menguasai seluruh penjuru arah mata angin. Sebaliknya, jalan pembebasan batin dilakukan dengan cara menarik kembali kesepuluh aksara tersebut melalui meditasi, melipatgandakan kepadatannya, hingga kembali melebur menjadi satu getaran tunggal (Eka Aksara) di dalam diri manusia.
| Aksara | Formula Suara | Manifestasi |
| Caturdasākṣara (14) | Ung Sa Ba Ta A I Na Ma Śi Wa Ya |
Formula Modre yang menyatu dalam energi nafas (bhāyu) |
| Daśākṣara 1 (10) | Oṁ Sa Ba Ta A I Na Ma Śi Wa Ya |
Formula suci pembuka kesadaran kosmik |
| Daśākṣara 2 (10) | Oṁ A Ka Sa Ma Ra La Wa Ya Uṅg |
Formula peletakan jnana pada penjuru semesta |
| Saṅgākṣara (9) | Uṅg Uṅg Saṅg Baṅg Taṅg Aṅg Iṅg Naṅg Maṅg |
Penguasa sembilan arah mata angin (Sanga Dewata) |
| Aṣṭākṣara (8) | Oṁ Aṅg Maṅg Uṅg Saṅg Baṅg Taṅg Iṅg |
Penguasa delapan penjuru mata angin utama |
| Saptākṣara (7) | Oṁ Aṅg Uṅg Maṅg Śi Wa Ya |
Penyatuan Tri Aksara dengan Pancaksara |
| Ṣaḍākṣara (6) | Aḥ Iḥ Uḥ Eḥ Oḥ |
Getaran panca indra ditambah kesadaran utama |
| Pañcākṣara (5) | Oṁ Aṅg Maṅg Uṅg O |
Representasi Panca Brahma selaku penguasa elemen alam |
| Caturākṣara (4) | A I Sa Ña |
Pengikat empat pilar kesadaran diri |
| Triyākṣara (3) | Aṅg Uṅg Maṅg |
Tri Aksara (A-U-M) melambangkan penciptaan, pemeliharaan, peleburan |
| Dwiakṣara (2) | Aṅg Aḥ |
Rwa Bhineda (purusa dan prakerti / maskulin dan feminin) |
| Ekākṣara 1 (1) | Ya |
Kedudukan setara dengan sepuluh aksara |
| Ekākṣara 2 (1) | Aṅg |
Getaran tunggal mandiri (tunggal wawang) yang melesat bebas |
Proses pelipatan aksara ini melambangkan proses penarikan kesadaran material menuju kesadaran transendental. Ketika sepuluh aksara kosmis diringkas menjadi lima (Pancaksara), praktisi memusatkan elemen alam ke dalam dirinya. Ketika diringkas menjadi tiga (Tri Aksara/Ang-Ung-Mang), kesadaran menyatu dengan proses dasar alam semesta.
Peleburan menjadi dua aksara (Dwiaksara/Ang-Ah) melambangkan keseimbangan dualitas kosmis. Akhirnya, ketika seluruh aksara melebur menjadi satu aksara tunggal (Ekaksara/Omkara), jiwa praktisi telah sepenuhnya meninggalkan batasan jasmani dan siap bersatu dengan keheningan mutlak (Nirbana).
Metafor Sastra dan Karakter Getaran Bunyi
Teks Tutur Aji Saraswati sangat kaya akan penggambaran puitis dan metaforis mengenai getaran bunyi aksara serta tanda baca dalam proses penulisan lontar. Tanda baca dan ornamen aksara dicitrakan memiliki karakter mistis yang mencerminkan getaran batin penulisnya.
Tanda carik (garis batas aksara) digambarkan memiliki getaran laksana jerat bagi ayam hutan (panjratning sata). Penggambaran ini menyiratkan bahwa tanda carik berfungsi sebagai penangkap atau pengikat pikiran liar agar tetap terfokus pada kesucian batin. Carik juga dicitrakan bagaikan air suci kehidupan (amerta) yang mewujud dalam suara batin Aḥ.
Tanda pamada (penanda awal penulisan naskah) dicitrakan memiliki getaran suara yang halus bagaikan desau angin malam hari (kakisiki weni).
Metafor ini mengindikasikan bahwa permulaan penulisan sastra harus diawali dengan keheningan batin, ketenangan pikiran, dan kelembutan jiwa yang mendalam. Sebaliknya, tanda angka atau pembatas bilangan memiliki karakter getaran suara laksana telinga manusia yang ditutup rapat (karnati nukup), menyiratkan batas kedap suara kosmis yang memisahkan satu urutan bilangan spiritual dengan bilangan lainnya.
Proses penulisan fisik pada daun lontar juga tidak luput dari makna esoteris. Rongga tulisan pada daun lontar yang berada di dalam ikatan papan pengapit (takepan) mengeluarkan getaran suara gaib Ang-Ung-Mang. Ketika lembaran-lembaran lontar dibuka dan tergelar mekar di dalam cakupan takepan, getaran suaranya bertransformasi menjadi formula suci pembuka batin : Uṅg Sa Ba Ta A I Na Ma Śi Wa Ya.
Naskah ini juga merinci berbagai jenis getaran suara mantra pelindung dan tanda kehidupan batin. Getaran mantra pelindung atau penunduk batin dilambangkan dengan bunyi Ang Jem, yang dicitrakan bagaikan suara lebah kumbang (madhubrata) yang sedang mengisap sari madu bunga.
Terdapat pula getaran batin Ang yang diulang sebanyak tiga kali, menghasilkan frekuensi mistis yang digambarkan bagaikan suara sayap burung suci yang jatuh dari langit (paksyi jawuh). Penunggalan aksara modre di dalam batin menghasilkan getaran suara menggelegar bagaikan kobaran api besar dan hempasan angin kencang yang disimbolkan dengan bunyi Aḥ. Sementara getaran nafas kehidupan (urip) di dalam tubuh manusia dilambangkan dengan perpaduan suara Ang-Ah.
Somatisasi Aksara dan Anatomi Spiritual Bhuwana Alit
Pusat kekuatan ajaran Tutur Aji Saraswati terletak pada doktrin somatisasi aksara, yaitu penempatan getaran aksara suci pada anatomi fisik tubuh manusia (bhuwana alit). Tubuh manusia diposisikan sebagai wadah suci tempat bersemayamnya kekuatan kosmik. Di dalam naskah ini, aksara suci Swalalita dialirkan dari pusat tenaga/nafas (bhāyu), mengalir menuju hati yang suci (hati putih), masuk ke dalam pusar (puser), naik ke pangkal tenggorokan (canteling kulungan), dan akhirnya memenuhi seluruh pembuluh darah di tubuh manusia.
Penempatan spesifik aksara suci pada bagian anatomi tubuh manusia diuraikan dengan sangat detail dalam naskah. Setiap aksara memiliki fungsi spiritual untuk menjaga kesucian organ tersebut dari serangan penyakit fisik maupun gangguan energi negatif :
| Aksara Suci | Bagian Anatomi Tubuh (Bhuwana Alit) | Fungsi Esoteris Organ |
| Śa | Persendian (buku-buku) |
Pengikat kekuatan gerak fisik raga |
| Wa | Pertengahan Tubuh (madhya) |
Pusat penyeimbang energi atas dan bawah |
| Ma | Mulut / Cangkem |
Pintu keluar-masuknya ucapan dan nafas |
| Ga | Punggung (tundung) |
Tiang penyangga struktur tubuh manusia |
| Ba | Pinggang (ceking) |
Pusat kekuatan fisik dan kelenturan tubuh |
| Nga | Hidung (hirung) |
Saluran keluar-masuknya udara kehidupan |
| Pa | Bahu (pala) |
Penyangga beban tanggung jawab hidup |
| Da | Dada (tangkah) |
Benteng pelindung emosi dan perasaan batin |
| Ja | Jaringan Organ Dalam (jajaringan) |
Jaringan penghubung seluruh sistem kehidupan fisik |
| Ya | Lambung / Perut (wala) |
Pusat pencernaan makanan dan energi fisik |
| Nya (Ña) | Organ Reproduksi / Asmara (smara) |
Saluran penciptaan keturunan dan cinta kasih |
Selain penempatan aksara wrehastra, naskah ini menjelaskan peletakan tanda baca dan simbol suci pada titik vital bhuwana alit. Tanda batas (carik) diletakkan pada telapak kaki serta jantung bagian kanan. Pada lubang pelepasan (anus) ditanamkan aksara suci Oṁ. Pada organ hati ditanamkan aksara suci Uṅg. Sedangkan pada empedu, aksara suci diulang sebanyak tiga kali di atas landasan jantung.
Praktik somatisasi ini melahirkan kesadaran akan keberadaan tiga mata spiritual (netra tiga) pada manusia. Di dalam batin manusia menyala satu pelita suci yang bertindak sebagai mata ketiga (mata batin), sedangkan di luar tubuh fisik memancar dua cahaya yang bertindak sebagai mata indrawi. Seseorang yang senantiasa waspada dan merenungkan penataan aksara ini di dalam batinnya akan terhindar dari jalan menuju neraka.
Sebaliknya, jika pikiran manusia terlalu bercabang dan didominasi oleh keinginan duniawi yang sia-sia, ia akan terikat dalam hitungan tiga lingkaran neraka (trika narakan) yang dipenuhi kesengsaraan. Jiwa manusia yang demikian akan mengalami penurunan tingkat kesadaran batin, sehingga raganya mewujud laksana bhuta yang dipenuhi kegelapan menuju kematian penuh kepalsuan.
















