Makna Upacara Banten

Eksistensi Upacara Banten dan Maknanya dalam Agama Hindu Bali


Lontar Tegesing Sarwa Banten membahas eksistensi banten dan upakara yang digunakan dalam upacara yadnya keagamaan Hindu di Bali tidak hanya sebagai persembahan material lahiriah, melainkan sebagai media esoteris yang menghubungkan dimensi kemanusiaan dengan ketuhanan.

Lontar Tegesing Sarwa Banten menguraikan bahwa seluruh klasifikasi banten — baik yang suci, kotor (camah), ardah, urdah, maupun menengah (madya) — memiliki akar ontologis pada Sang Hyang Tri Bhuana yang termanifestasi melalui Brahma, Wisnu, dan Iswara, serta pada tataran kesadaran yang lebih tinggi melalui Siwa, Sada Siwa, dan Parama Siwa.

Seluruh ciptaan di bumi, langit, dan ruang hampa (awang-uwung) yang mengalami proses kelahiran (manganak), pertumbuhan (maletik), dan pembiakan melalui telur (mantiga) dipandang sebagai perwujudan konkret dari tri-tunggal daya hidup manusia, yaitu perkataan (sabda), tenaga (bayu), dan pikiran (idep).

Sinergi makrokosmos dan mikrokosmos ini menjadi landasan filosofis mengapa seluruh isi sesajen, termasuk caru besar maupun kecil serta segala bentuk makanan yang disajikan, tunduk pada hukum triadik. Relasi antara subjek yang memakan (sang amangan) dan objek yang dimakan (pinangan) pada hakikatnya adalah satu kesatuan yang bersumber dari Sang Hyang Tiga Jnana, tiga warna kosmis, serta aspek Tri Purusa.

Cikal bakal seluruh upakara ini muncul dari pancaran Sang Hyang Swalita, Modre, dan Wreastra, yang secara fungsional melahirkan sistem pengetahuan suci berupa Sang Hyang Wariga (astrologi mistis), Sang Hyang Weda (teologi dan ritual), serta Sang Hyang Usadha (pengobatan esoteris).

Aksara  Representasi Dimensi Kesadaran Fungsi Ritual
Aksara Swalita

Sang Hyang Wariga

Tri Pramana Sabda (Daya Suara)

Sastra Ung disuarakan Ang; berfungsi sebagai pelebur malapetaka dan neraka, serta mensucikan raga menjadi suci nirmala.

Aksara Modre

Sang Hyang Weda

Pertemuan bayu-sabda dan layang-pedaling ati (pikiran-ungkapan hati)

Formula suci Ung Sa Ba Ta A I Na Ma Si Wa Ya dan Ong I A Ka Sa Ma Ra La Wa Ya Ung; menjadi basis japa, mantra, dan banten madya.

Aksara Wreastra

Sang Hyang Usadha

Tri Pramana Bayu (Daya Hidup Bawah)

Sastra Ang, Ung, Mang, Ong dan pelafalan Ang Ah sebanyak sembilan kali; menguasai caru mentah di bawah (sor) serta menyelaraskan catur sanak dan panca sanak.

Pelafalan mistis Ang Ah sebanyak sembilan kali dalam ranah Aksara Wreastra tidak hanya berfungsi sebagai pelindung magis, melainkan bertindak sebagai penyejuk jagat raya (aerating jagat) yang menghidupkan seisi alam semesta. Melalui getaran aksara ini, Sang Hyang Usadha bekerja sebagai pengasuh spiritual bagi seluruh saudara spiritual manusia, menegaskan bahwa kesehatan fisik dan keheningan batin tidak dapat dipisahkan dari penyelarasan aksara suci di dalam tubuh.



HALAMAN TERKAIT
Baca Juga