- 1Etika dan Pengendalian Diri Wiku
- 2Patologi Spiritual dan Struktur Delapan Belas Mala
- 3Paradoks Kesadaran dan Kurangnya Yoga
- 4Esoteris Banten dan Kedirian Manusia
- 4.1Sinergi Saudara Kosmis dan Tri Karana dalam Wadah Kuil Suci
- 4.2Patologi Preta, Dengen dan Kala di Dalam Organ Tubuh
- 4.3Eksoterisme dan Esoterisme Banten Panjang Ilang
- 5Liturgi Kematian dan Siklus Ritual Perkembangan Hidup
- 5.1Dualitas Liturgi Kematian : Jalan Buddha dan Jalan Siwa
- 5.2Pengkodean Aksara Mistik dalam Upacara Siklus Hidup Manusia
- 5.3Liturgi Penebusan Utang Kosmis (Patebasan)
- 6Astrologi dan Genesis Sarana Upakara
- 6.1Pengaruh Kosmis Wuku Terhadap Kedirian dan Penyembuhan
- 6.2Genesis Bahan Ritual dan Transmutasi Yadnya
- 7Arti dan Makna Banten dan Sarana Upakara
- 7.1Banten dan Upakara Utama
- 7.2Sarana dan Perlengkapan Sesajen
- 7.3Jajanan Upakara (Sarana Jaja)
- 7.4Bahan Alam dan Tumbuh-tumbuhan (Sarwa Taru dan Padang)
- 8Terjemahan Naskah Lontar Tegesing Sarwa Banten
Lontar Tegesing Sarwa Banten membahas eksistensi banten dan upakara yang digunakan dalam upacara yadnya keagamaan Hindu di Bali tidak hanya sebagai persembahan material lahiriah, melainkan sebagai media esoteris yang menghubungkan dimensi kemanusiaan dengan ketuhanan.
Lontar Tegesing Sarwa Banten menguraikan bahwa seluruh klasifikasi banten — baik yang suci, kotor (camah), ardah, urdah, maupun menengah (madya) — memiliki akar ontologis pada Sang Hyang Tri Bhuana yang termanifestasi melalui Brahma, Wisnu, dan Iswara, serta pada tataran kesadaran yang lebih tinggi melalui Siwa, Sada Siwa, dan Parama Siwa.
Seluruh ciptaan di bumi, langit, dan ruang hampa (awang-uwung) yang mengalami proses kelahiran (manganak), pertumbuhan (maletik), dan pembiakan melalui telur (mantiga) dipandang sebagai perwujudan konkret dari tri-tunggal daya hidup manusia, yaitu perkataan (sabda), tenaga (bayu), dan pikiran (idep).
Sinergi makrokosmos dan mikrokosmos ini menjadi landasan filosofis mengapa seluruh isi sesajen, termasuk caru besar maupun kecil serta segala bentuk makanan yang disajikan, tunduk pada hukum triadik. Relasi antara subjek yang memakan (sang amangan) dan objek yang dimakan (pinangan) pada hakikatnya adalah satu kesatuan yang bersumber dari Sang Hyang Tiga Jnana, tiga warna kosmis, serta aspek Tri Purusa.
Cikal bakal seluruh upakara ini muncul dari pancaran Sang Hyang Swalita, Modre, dan Wreastra, yang secara fungsional melahirkan sistem pengetahuan suci berupa Sang Hyang Wariga (astrologi mistis), Sang Hyang Weda (teologi dan ritual), serta Sang Hyang Usadha (pengobatan esoteris).
| Aksara | Representasi | Dimensi Kesadaran | Fungsi Ritual |
| Aksara Swalita |
Sang Hyang Wariga |
Tri Pramana Sabda (Daya Suara) |
Sastra Ung disuarakan Ang; berfungsi sebagai pelebur malapetaka dan neraka, serta mensucikan raga menjadi suci nirmala. |
| Aksara Modre |
Sang Hyang Weda |
Pertemuan bayu-sabda dan layang-pedaling ati (pikiran-ungkapan hati) |
Formula suci Ung Sa Ba Ta A I Na Ma Si Wa Ya dan Ong I A Ka Sa Ma Ra La Wa Ya Ung; menjadi basis japa, mantra, dan banten madya. |
| Aksara Wreastra |
Sang Hyang Usadha |
Tri Pramana Bayu (Daya Hidup Bawah) |
Sastra Ang, Ung, Mang, Ong dan pelafalan Ang Ah sebanyak sembilan kali; menguasai caru mentah di bawah (sor) serta menyelaraskan catur sanak dan panca sanak. |
Pelafalan mistis Ang Ah sebanyak sembilan kali dalam ranah Aksara Wreastra tidak hanya berfungsi sebagai pelindung magis, melainkan bertindak sebagai penyejuk jagat raya (aerating jagat) yang menghidupkan seisi alam semesta. Melalui getaran aksara ini, Sang Hyang Usadha bekerja sebagai pengasuh spiritual bagi seluruh saudara spiritual manusia, menegaskan bahwa kesehatan fisik dan keheningan batin tidak dapat dipisahkan dari penyelarasan aksara suci di dalam tubuh.


















