Makna Upacara Banten

Eksistensi Upacara Banten dan Maknanya dalam Agama Hindu Bali


Patologi Spiritual dan Struktur Delapan Belas Mala

Sebelum kesadaran spiritual dapat ditingkatkan, manusia harus terlebih dahulu melenyapkan kotoran batin (mala) yang melekat pada tubuh raganya. Mala diidentifikasi sebagai musuh paling berbahaya yang memiliki kekuatan sakti untuk memunculkan neraka di dalam tubuh fisik serta mengotori raga manusia.

Lontar Tegesing Sarwa Banten membagi patologi spiritual ini ke dalam delapan belas (pelekutus) jenis noda yang memengaruhi baik-buruknya jagat raya, yang bersumber dari penyimpangan fungsi elemen makrokosmos di dalam diri manusia.

Kelompok Sumber Penyimpangan Manifestasi Noda Spiritual (Mala) Ikatan Emosional / Gejala Fisik
Tri Mala

Deviasi energi Tri Bhuana

Kemarahan besar (duka), keserakahan (lobo), kemelekatan (kalulutan)

Memunculkan Tri Banda (ikatan kroda, lobo, dan tresna) yang membelenggu jiwa.

Panca Mala

Deviasi elemen Panca Maha Bhuta

Sering lupa, kemarahan/kesedihan (duka), duka mendalam (sungsut), gelisah (hamyah), iri hati (atelik)

Indria berkobar yang senang dalam kedukaan dan diliputi kegelisahan batin.

Dasendria

Keliaran sepuluh indra akibat deviasi Nawa Dewata

Ketagihan menonton, kecanduan wewangian, kerakusan makanan/minuman, ketidakmampuan menahan nafsu lidah, perzinaan (para dara), ketidaktahuan etika ekskresi

Ketidakmampuan menahan nafsu birahi (semara gama) dan hilangnya kontrol diri atas fungsi fisik.

Kombinasi dari delapan belas mala ini mengikat perilaku manusia sehari-hari dan menyeret kesadarannya menuju dunia neraka (neraka loka). Di dalam eskatologi Hindu-Bali, neraka diartikan sebagai kondisi batin yang diliputi besarnya kemelekatan, duka, dan sakit hati.

Teks menguraikan visualisasi kawah neraka secara esoteris sebagai pencerminan dari perbuatan buruk manusia semasa hidupnya :

  • Kawah Endut Blegada (Lumpur Mendidih) : Visualisasi bagi manusia yang dikuasai oleh sifat loba, angkara murka, dan iri dengki yang membakar batin.
  • Kawah Tahi : Lambang kegagalan spiritual di mana segala sesuatu yang diusahakan tidak pernah membawa kepuasan, disamakan dengan manusia yang terkena sumpah serapah (cor) serta kemarahan besar (geng krodo) yang menjelma menjadi banjir api (gentuh apui). Sifat pemarah ini membakar diri sendiri di dunia (marcapada) dan mengundang kedatangan Sang Hyang Kalamertyu.
  • Kawah Tambra Gohmuka : Bejana besar berkepala lembu tempat jiwa-jiwa berdosa dijatuhkan. Lembu melambangkan dharma atau kebenaran (kepatutan), kepala (amuka) melambangkan tujuan ucapan (tatujon rowose), dan bejana (jambangan) melambangkan ucapan yang keluar dari mulut berupa kutukan dan caci maki (temah wyahara).

Dampak dari pengabaian etika ini tidak hanya merusak spiritualitas individu, melainkan berimbas pada kerusakan alam semesta (makrokosmos). Deviasi moral manusia menyebabkan hujan salah musim (udan salah masa), kekeringan melanda dunia (etuh trak), wabah penyakit tanpa sebab (lara rogha wigna), perselisihan antarmanusia, serta bencana kematian massal.

Oleh karena itu, manusia diinstruksikan untuk menggunakan pikiran yang damai (budi santosa) guna menghindari kedua jalan buruk tersebut.



HALAMAN TERKAIT
Baca Juga