Makna Upacara Banten

Eksistensi Upacara Banten dan Maknanya dalam Agama Hindu Bali


Liturgi Kematian dan Siklus Ritual Perkembangan Hidup

Dualitas Liturgi Kematian : Jalan Buddha dan Jalan Siwa

Dalam penanganan jenazah (angutang wangke atau ngaben), Lontar Tegesing Sarwa Banten membedakan dua mazhab liturgi penyucian jiwa (mengaskara atau mabresih) berdasarkan arah aliran energi spiritualnya :

  • Jalan Buddha : Memulai pergerakan ritual dari atas menuju ke tengah, lalu diakhiri dan disatukan di ujung atau bawah (luhur ngatengahang, ngatep ring tanggu). Gerakan ini didasari oleh bakti yang tulus serta semangat saling mengasihi secara universal.
  • Jalan Siwa (Nawa Wedana) : Memulai pergerakan ritual dari tengah dinaikkan ke atas (awal), lalu bergerak dari ujung mencari pangkal (tengah ngamunggahang, sakeng tungtung ngerereh bungkah). Gerakan ini mengutamakan ketenangan batin (arimbawa) serta penyelarasan tiga kekuatan untuk menciptakan kedamaian di lubuk hati.

Selain perbedaan jalur energi tersebut, liturgi kematian juga melibatkan serangkaian sesajen yang memiliki fungsi penyeimbang makrokosmos dan mikrokosmos :

  • Rwa Welas : Melambangkan penyatuan dan keselarasan dua kekuatan kosmis yang saling mengasihi.
  • Resi Bojana : Menghaturkan derma suci (yadnya punia) kepada golongan pendeta suci (resi) serta menolong seluruh makhluk hidup.
  • Bhuta Yadnya : Berfungsi untuk memahami kondisi dan suara dari segala makhluk yang bernapas secara waspada.
  • Dewa Yadnya : Ucapan suci dan tutur kata baik yang mendatangkan kedamaian batin.
  • Aswamedha Yadnya : Penyatuan pikiran yang senantiasa terarah pada perbuatan kebajikan.
  • Uma : Pikiran luhur yang telah selaras dalam keadaan terang.
  • Mitra Yadnya : Komunikasi harmonis yang menyenangkan hati sahabat.
  • Bukur : Keinginan luhur untuk memahami rahasia kelahiran kembali serta tata krama dunia.

Pengkodean Aksara Mistik dalam Upacara Siklus Hidup Manusia

Lontar Tegesing Sarwa Banten menetapkan serangkaian upacara siklus hidup (manusa yadnya) yang dikunci menggunakan kode-kode aksara mistis serta hitungan hari yang presisi. Setiap tahap perkembangan usia manusia menandai babak baru penyelarasan kosmis di dalam diri.

Fase Usia Manusia Nama Upacara / Ketetapan (Widhi) Kode Aksara Mistik Esensi Filosofis dan Praktik Ritual
3 Hari

Upacara Tiga Hari (Tigang Wengi)

Tri Aksara & Windu Tiga

Penyatuan tiga unsur kekuatan hidup manusia (Sang Hyang Tiga Sakti) yang bersumber dari Sang Hyang Ongkara.

12 Hari

Upacara Dua Belas Hari (Rwa Welas Wengi)

Rwa Bhineda & 12/20 Aksara

Penghormatan kepada orang tua sebagai Sang Hyang Rwakarana agar anak tidak melupakan asal-usulnya.

37 Hari (Selapan)

Widhi Purwa (Tigang Dasa Pitung Dina)

Sapta Ongkara, Tri Aksara, Dasa Aksara

Pertemuan antara unsur tiga dan tujuh; peneguhan kasih sayang orang tua melalui hitungan serba puluhan.

90 Hari (3 Bulan)

Upacara Tiga Bulan (Sangang Dasa Dina)

Tri Aksara (dalam), Tri Dasaksara (luar)

Penyatuan batin yang merubah kesadaran menjadi Tri Kaya Parisudha dan kesunyian tiga (Tri Sunia).

6 Bulan (Otonan)

Upacara Enam Bulan (Nem Wulan)

Sastra 18 (Wreastra) & Sastra Sanga (3 & 6)

Penyelarasan enam golongan (sad warga atau sad windu) sebagai awal kesucian dewa, batara, dan kala di tubuh.

Akil Balig (Pubertas)

Tutug Klih / Usia 15 Tahun

Dualitas Energi (Rwa)

Laki-laki memakai kain kampuh (senjata); perempuan memuja Surya-Candra dan mengalami haid (sebel diraga).

Pernikahan

Pawiwahan / Masakapan

Rwa Bhineda dikalikan tiga (Sadgama)

Pertemuan mistis Surya-Candra disaksikan oleh alam semesta, bermanifestasi sebagai Hyang Ardhanareswari.

Dalam ritual otonan (enam bulan), dipraktikkan pula ritual tindik telinga (bolong karna atau kembang karna) yang bertujuan agar manusia selalu ingat akan asal mula kelahirannya melalui lubang pendengaran yang terang benderang.

Ritual potong rambut (ngutang rambut) memiliki makna esoteris sebagai simbol kemenangan atas keliaran sepuluh indra (dasendria) melalui praktik yoga.

Sementara itu, upacara potong gigi (meganti gigi atau maketus) merupakan simbolisasi dari kemampuan manusia dalam mengendalikan pikiran (cita manah) yang sering berganti-ganti, mengingat pikiran adalah motor utama yang menciptakan baik dan buruk lahir batin (sekala niskala).

Liturgi Penebusan Utang Kosmis (Patebasan)

Semasa hidupnya di marcapada, manusia tidak luput dari ikatan utang piutang karma, baik kepada kedua orang tua (yayah rena) maupun kepada seluruh saudara kosmisnya di jagat raya.

Lontar Tegesing Sarwa Banten mewajibkan pelaksanaan upacara penebusan (matebasan atau naur patebasan) selagi manusia masih bernyawa. Jika utang kosmis ini tidak ditebus semasa hidup, maka pada saat kematian tiba (pralaya), roh manusia akan diadang di sembilan lubang tubuh (nawa dwara atau songe 9) oleh saudara-saudara kosmisnya yang menagih piutang tersebut. Jiwa yang tidak melunasi utangnya tidak akan pernah menemukan jalan yang terang benderang menuju alam pembebasan.

Upacara penebusan ini dipimpin menggunakan kekuatan mantra penebus seluruh weda (anebas sarwa weda) yang berbunyi :

… Ong dewa anon pita arambu, bhuta angisep, manusa amuktya …

Mantra ini mengandung arti bahwa para dewa menyaksikan persembahan, para bhuta menghisap sari kotorannya, dan manusia menikmati berkah kesuciannya. Penebusan ini melibatkan penyelarasan spiritual terhadap seluruh tingkatan saudara kosmis yang bersemayam di dalam raga manusia :

Saudara Kosmis Afiliasi Sistem Kalender Dimensi Energi Tubuh
Meme Bapa

Dwi Wara & Dwi Aksara

Menguasai kesunyian tunggal hidup dan mati (pati urip).

Sameton Tiga

Tri Wara & Tri Aksara

Tri Pramana (Bayu, Sabda, Idep).

Catur Sanak

Catur Wara & Catur Aksara

Empat arah mata angin dalam tubuh.

Sanak Kalima

Panca Wara, Panca Brahma, Panca Aksara

Menjaga lima organ dalam (Panca Dewata).

Sanak Nenem

Sad Wara, Sad Bhuta, Sad Aksara

Sad Warga dan penyucian enam musuh diri (Sad Ripu).

Sanak Pitu

Sapta Wara, Sapta Ongkara, Sapta Jadma

Menguasai siklus tujuh lapis kelahiran kembali.

Sanak Asta

Asta Wara, Asta Dewata, Asta Kosala

Menjaga keseimbangan delapan penjuru angin tubuh.

Sanak Sanga

Sanga Wara, Nawa Sanga, Nawa Aksara

Menguasai sembilan gerbang energi tubuh (nawa dwara).

Dasa Aksara

Dasa Warna, Dasa Pandita, Dasa Bayu

Menguasai sepuluh tenaga hidup (Dasa Bayu) dan bumi (Dasa Bhumi).

Pelaksanaan upakara tebasan ini secara esoteris membebaskan raga dari penyakit dan bencana. Di dalam diri orang yang bijaksana (sang wruh), seluruh dewa bermanifestasi dan berkenan turun menyatu dengan raga kasar.

Hal inilah yang memungkinkan manusia menjalani aktivitas kehidupan duniawi secara seimbang — bermusyawarah, menyantap makanan, dan berpakaian indah — karena seluruh organ tubuhnya telah disucikan dan utang kosmisnya telah terlunasi sepenuhnya sebelum fajar kematian menjemput.



HALAMAN TERKAIT
Baca Juga