Makna Upacara Banten

Eksistensi Upacara Banten dan Maknanya dalam Agama Hindu Bali


Astrologi dan Genesis Sarana Upakara

Pengaruh Kosmis Wuku Terhadap Kedirian dan Penyembuhan

Teks Lontar Tegesing Sarwa Banten membedah secara mendalam pengaruh getaran mistis dari wuku (sistem kalender astrologi Bali) terhadap kedirian manusia, lengkap dengan kode-kode aksara rahasia (rajah) serta metode penyembuhan esoteris yang berkaitan dengan hari-hari tersebut.

Nama Wuku Afiliasi Dewata Kode Sastra Mistik & Rajah Metode Ritual / Pengobatan Esoteris
Sinta

Dewa Brahma, Sang Hyang Pagerwesi

Rajah Padma Astadala dengan aksara Sa Ba Ta A I Na Ma Si Wa Ya

Pemujaan matahari; menyajikan bubur hijau (bubur gadang) dari temu-temuan, daun dadap, dan pudak sebagai penguat raga.

Landep

Dewa Brahma, Mahadewa

Aksara Ang Ah penengah kesunyian tunggal

Penguasaan ilmu tata ruang (Asta Kosala) melalui ketetapan sesajen serba tiga, delapan, dan dua.

Wariga

Dewa Agastya, Smara

Rajah Dasa Aksara pada teratai dan Ongkara Merta di lingkaran api

Menghaturkan ketupat telur (katipat antiga) pada pepohonan untuk mengharmoniskan batin manusia dengan alam.

Sungsang

Dewa Kumara, Ganesha

Aksara Ang (bawah), Ong (tengah), Ah (atas) dilingkari Tri Tunggal

Mempertemukan tujuan batin dengan sasaran spiritual melalui getaran suara suci Ong Ung.

Dunggulan

Dewa Siwa, Kamajaya

Rajah Cupu dengan sayap aksara Ung-Ang and mudra Ya

Upacara pembersihan (abyakala), perang pandan (adudut pandan), dan menyentuh telur tiga kali dengan kaki kiri.

Kuningan

Dewa suci pelindung pandita

Ongkara bertemu bunga tunjung; aksara Sang Bang Tang Ang Ing Nang Mang Sing Wang Yang

Puncak peringkasan sepuluh tenaga (dasa bayu) menjadi satu kesatuan batin yang seimbang.

Pahang

Dewa Bayu, Tantra, Siwa, Buddha

Rajah Padma berdaun empat dengan aksara Ong, Ang, Mang, Ung

Peleburan tiga noda (mala traya) di alam semesta menggunakan kekuatan tenaga petir (bayu bajra).

Uye

Dewa Panca Siwa, Kuwera

Aksara Ang, Ung, Mang, Ong, Ang Ah berhadapan muka

Penyelarasan alam semesta besar dengan alam semesta kecil (bhuana agung lan bhuana alit) demi kemakmuran bumi.

Wayang

Dewa Kala

Aksara Ang Ah bersatu dalam Ongkara Merta

Upacara perang pandan manusia (masunduk pandan wong) dan persembahan bubur merah putih bersegi empat.

Klawu

Dewa Wesrawana, Sedana

Rajah Padma Astadala dengan angka 3 di selatan

Penurunan kelimpahan pangan dan pakaian (sri) melalui persembahan uang (sadahana).

Watugunung

Dewa Brahma, Anantabhoga

Rajah Padma empat susun bertumpuk tiga kali

Penyatuan batin di mana bunga tunjung masuk ke teratai (terang memasuki ruang hampa tubuh).

Genesis Bahan Ritual dan Transmutasi Yadnya

Lontar ini juga menguraikan asal-usul esoteris atau genesis dari bahan-bahan ritual yang digunakan dalam upacara, menegaskan bahwa seluruh materi fisik persembahan merupakan bentuk transmutasi dari getaran aksara suci di alam raya :

  • Sang Hyang Nadha : Menjadi asal mula lahirnya genta atau suara suci (gana).
  • Sang Hyang Windu : Menjadi cikal bakal munculnya sembilan arah kesucian (sanga).
  • Sang Hyang Ari Cendani : Menjadi asal mula dari lampu minyak (dipa).
  • Wiswa : Menjadi asal mula terciptanya dupa perantara doa.
  • Iswara : Menjadi asal mula wewangian (ganda).
  • Wisnu : Menjadi asal mula dari beras suci persembahan (ksata).
  • Brahma : Menjadi asal mula hiasan bunga atau kalpika.
  • Tri Aksara : Menjadi asal mula sumbu suci sesajen (sawit).
  • Asta Dewi : Menjadi asal mula dari untaian tasbih doa (ganetri).
  • Panca Brahma : Menjadi asal mula japa pembuka pintu kesadaran.
  • Wyoma Siwa : Menjadi asal mula ikat kepala suci pendeta (sirowista).
  • Catur Dasa Aksara : Menjadi asal mula keindahan bunga persembahan (puspa).
  • Siwamba : Menjadi wadah air suci (argha), yang secara esoteris melambangkan pangkal leher manusia.

Sebagai kesimpulan ritual, teks mengelompokkan esensi pelaksanaan korban suci (yadnya) ke dalam dua tingkatan utama :

  1. Yadnya Menengah (Madya) : Upacara yang dipenuhi oleh perjamuan makanan (bhoga bhojana), di mana manusia menikmati kegembiraan sekadar sebagai hasil dari pencapaian kemakmuran lahiriah.
  2. Yadnya Utama : Tingkatan tertinggi di mana upacara diletakkan pada pencapaian batiniah melalui pelaksanaan brata, tapa, yoga, samadhi, dhyana, japa, puja, mona (berdiam diri), mantra, dan weda. Seluruh sarana fisik dilebur ke dalam lambang Sang Hyang Tri Sunia Nirmala serta Sang Hyang Tri Windu dan Tri Murti.

Pada puncaknya, sang pendeta yang telah menguasai esensi ilmu sastra (pinandite sastra aji) tidak lagi melihat adanya pemisahan antara subjek yang memuja, objek yang dipuja, dan mantra yang diucapkan. Ketiganya melebur menjadi satu kesatuan kesadaran kosmis yang mutlak di dalam tubuh raga.



HALAMAN TERKAIT
Baca Juga