Makna Upacara Banten

Eksistensi Upacara Banten dan Maknanya dalam Agama Hindu Bali


Arti dan Makna Banten dan Sarana Upakara

Melalui pemeriksaan mendalam terhadap naskah Lontar Tegesing Sarwa Banten, berikut adalah kamus, indeks, dan inventarisasi seluruh bentuk sesajen (banten), perlengkapan, serta sarana upakara lengkap dengan makna teologis, kosmologis, dan esoterisnya masing-masing.

Banten dan Upakara Utama

Untuk menampilkan bagian ini, diperlukan
Login Membership

Sarana dan Perlengkapan Sesajen

Nama Sarana Makna Esoteris dan Simbolisme dalam Lontar
Tamas (Alas Sesajen)

Kesungguhan dalam mengetahui dan senantiasa waspada (tuhu wruhwasa pada).

Sega / Sekul / Ajengan (Nasi)

Kebijaksanaan dalam perhitungan serta sifat tulus ikhlas dan selalu waspada dalam bertindak (pradnyan ring panyawatah, tur setata tangar).

Ulam / Iwak (Lauk pauk)

Ucapan atau tutur kata yang baik dan menyejukkan untuk didengar oleh sesama (rawose becik kapirengang).

Sesanganan / Jaja (Jajan/Kue)

Hal-hal atau tindakan yang selalu menyenangkan dan melegakan hati (sane setata ngaledangin kahyun).

Sampian

Bentuk pelaksanaan atau perbuatan nyata dalam kehidupan sehari-hari (pelaksanane).

Sedah Woh (Sirih dan Pinang)

Tindakan yang menghasilkan kebaikan di akhir (gumawe ita wesana), yaitu getaran pikiran yang baik untuk hidup rukun bersaudara, bertetangga, maupun berteman.

Pisang Bunga (Pisang Kembang)

Pikiran yang sudah bulat (ngawindu) dan mantap dalam keheningan batin yang menerangi.

Saji / Sasaji

Hidangan sesaji yang senantiasa mengikuti petunjuk ajaran suci sastra (manuti sakajaring aji/sastra).

Dupa Gni (Dupa Api)

Pikiran yang jujur dan benar (cipta abner duga-duga / pekahyunane jati bener) sebagai permulaan pembuka pintu sesajen.

Tirtha (Air Suci)

Lambang dari keadaan suci nirmala dan hening (nirmala suci hening) yang menyejukkan batin.

Plawa (Dedaunan)

Upaya untuk selalu mengusahakan hasil akhir (wasana) yang menyenangkan dan gembira.

Penjor

Lambang lengkapnya dewa Sapta Resi di Tri Bhuana, pertemuan antara tiga dengan tujuh (3 dan 7 menyatu) yang memancarkan cahaya (teja) dan pertanda (ciri) agar manusia memahami kewibawaan dan tahu cara menstanakan Ibu Bapak di dalam raga.

Puyung / Catra (Payung Agung)

Catra berarti payung agung. Melambangkan keluarnya serba tiga di Tri Bhuana dan isi bumi.

Jajanan Upakara (Sarana Jaja)

Nama Jaja Makna Esoteris dan Simbolisme dalam Lontar
Jaja Gina (Bagina)

Pengetahuan atau kemampuan untuk tahu dan paham (wruh).

Jaja Uli Barak Putih (Merah Putih)

Kegembiraan yang terang benderang serta bakti/kepatuhan yang tulus kepada kedua orang tua (rama rena).

Dodol

Makanan suci bagi pikiran yang setia dan lurus (pangan/ngajengang kasusatyaning citta satya).

Wajik

Ketekunan dan pendalaman rasa dalam mempelajari ajaran suci sastra (rasaning/telebe ring sastra).

Jaja Bantal

Hasil sejati yang diperoleh dari perjuangan antara dapat dan tidak dapat dalam kehidupan (sejati pikolih kalawan tusing).

Jaja Satuh

Keteladanan atau contoh yang baik untuk ditiru dan diikuti (tempa, tuwutang).

Tempani

Kesenangan atau kebahagiaan yang diletakkan pada tempat yang sudah semestinya/patut (sane kasukane sampun patut).

Calon

Proses perwujudan atau keluarnya suatu hasil secara perlahan-laman dan bertahap (medale alon-alon).

Grang / Grih

Pemahaman penuh dan ingatan yang jelas tentang asal-usul dari mana jiwa menjelma (sampun uning ring sangkaning dumadi).

Antiga (Telur)

Penyatuan dari tiga kekuatan hidup/pikiran di dalam diri (idep ikang tiga / panunggalan sane tatiga).

Bahan Alam dan Tumbuh-tumbuhan (Sarwa Taru dan Padang)

Nama Bahan / Tumbuhan Makna Esoteris dan Simbolisme dalam Lontar
Biyu Kayu (Pisang Kayu)

Munculnya keinginan dan kehendak murni dalam pikiran untuk selalu berbuat kebaikan (wenten pekayunan mekerti ayu).

Katik (Lidi / Tangkai)

Kesucian diri yang sudah menyatu dan tegak dalam kesunyian yang tunggal (kasuciane sampun nunggal / rasaning eka sunia).

Ambengan / Lalang (Alang-alang)

Titik temu dari segala bentuk kegembiraan di dalam raga (patemwaning lyang).

Padang Lepas

Kebebasan spiritual tertinggi yang dicapai oleh jiwa yang telah putus atau bebas dari belenggu duniawi secara sejati (jati wus putus).

Ambulu (Tumbuhan Ambulu)

Budi pekerti yang luhur dan mulia dari seseorang yang berkehendak melakukan kebajikan (budi, wang sane mahyun makerti ayu).

Ancak (Beringin Aceh)

Sesuatu yang mampu memunculkan rasa empati, kepekaan, dan getaran di dalam lubuk hati (sane ngawetwang pengrasa ring ati).

Waringin (Beringin)

Pemahaman yang sangat jelas, tuntas, dan mendalam mengenai asal mula dari kebenaran tattwa (sane tatas ring tattwa wit).

Semat (Lidi Penyemat)

Keselarasan yang sungguh-sungguh terjadi karena kesediaan menyelaraskan diri dan rukun dengan sesama (sangkaning jati nganutang raga).

Sahab (Penutup Wadah)

Keteguhan dan kemantapan batin yang berbakti penuh kehadapan Siwa (sane dreda bhakti ring siwa).

Andong (Daun Andong)

Manifestasi kebaikan dan hubungan harmonis kepada sesama umat manusia di bumi (becike ring sameton manusa pada).

Sarwa Wija (Biji-bijian)

Perbuatan yang membuahkan hasil berupa perasaan baik serta menerangi jalan kehidupan manusia (sane tatiga ngamedalang pangrasa ayu).



HALAMAN TERKAIT
Baca Juga