- 1Sistem Penanggalan Kalender Bali
- 1.1Tentang Kalender Caka
- 1.2Unsur-unsur yang ada dalam Kalender Caka Bali
- 2Nama dan Istilah Penanggalan Kalender Saka Bali
- 3Cara Menentukan Penanggalan Kalender Bali
- 3.2.1A. Cara menentukan umur sasih
- 3.2.2B. Cara menentukan susunan sasih
- 3.2.3C. Cara menentukan Tahun Caka (Nyepi)
- 4Algoritma Rumus Pengalantaka Purnama - Tilem
- 4.1Landasan Astronomis dan Struktur Kalender Saka
- 4.1.1Tiga Poros Waktu (Tri-Pramana)
- 4.1.2Anomali Lunar dan Konsep Tithi
- 4.2Algoritma Pengalantaka : Jantung Perhitungan Wariga
- 4.2.1Siklus 63 Hari (9 Wuku)
- 4.2.2Struktur Penanggal dan Panglong
- 4.2.3Mekanisme "Sungsang-Pahing" (The Anchor Point)
- 4.3Dinamika Mala Sasih : Algoritma Bulan Kabisat
- 4.3.1Aturan Metonik Bali
- 4.3.2Rumus Penentuan Nampih Sasih
- 4.3.3Implikasi Sosial dan Ritual
- 5Penentuan Dauh Ayu & Perhitungan Alahing Dewasa Ala
- 5.11. Sistem Panca Dauh (Sukaranti)
- 5.22. Sistem Asta Dauh
- 5.3Spesifikasi Dauh Ayu dalam Implementasi Panca Yadnya
- 5.4Mitigasi "Kala" (Energi Buruk) melalui Dauh
- 6Mengetahui Sasih Berdasarkan Tanda Alam
- 6.4.11. Kelompok Sasih Kemarau (Kasa - Katiga)
- 6.4.22. Kelompok Sasih Masa Subur (Kapat - Kanem)
- 6.4.33. Kelompok Sasih Masa Dingin (Kapitu - Kasanga)
- 6.4.44. Kelompok Sasih Akhir (Kadasa - Sadha)
- 6.5Hubungan Sasih dengan Rasi Bintang
- 6.6Cara Membaca Bintang Secara Tradisional
- 7Fenomena Ketidaksesuaian Kalender dan Tanda Alam
- 8Maca Isin Langit, Ngrasayang Isin Gumi
Mengetahui Sasih Berdasarkan Tanda Alam
Penentuan waktu atau bulan (Sasih) tidak hanya mengandalkan hitungan matematis, tetapi juga melalui pengamatan mendalam terhadap fenomena alam (Pranata Mangsa). Alam memberikan isyarat melalui perilaku hewan, siklus hidup tumbuhan, hingga perubahan cuaca.
Berikut adalah artikel panduan untuk mengenali Sasih berdasarkan tanda-tanda alam :
1. Kelompok Sasih Kemarau (Kasa – Katiga)
Pada periode ini, matahari mulai bergerak ke utara, dan udara cenderung kering serta panas.
- Sasih Kasa (Ke-1) : Ditandai dengan daun-daun pohon mulai berguguran (mrit) untuk menghemat air. Angin bertiup cukup kencang dari arah timur. Secara spesifik, pohon Bungli biasanya mulai berbunga.
- Sasih Karo (Ke-2) : Tanah mulai retak-retak karena panas yang menyengat. Tanda alam yang paling mencolok adalah berbuntunya pohon Randu (Kapok) dan mulai tumbuhnya tunas-tunas baru pada pohon mangga.
- Sasih Katiga (Ke-3) : Udara terasa sangat panas dan berdebu. Tanda alam utamanya adalah mekarnya bunga Gadung yang aromanya sangat harum, serta mulai munculnya sumber air yang mengecil atau mengering.
2. Kelompok Sasih Masa Subur (Kapat – Kanem)
Periode ini dianggap sebagai masa transisi menuju musim hujan, di mana alam tampak paling cantik dan produktif.
- Sasih Kapat (Ke-4) : Sering disebut sebagai “Sasih yang paling baik”. Ditandai dengan mekarnya berbagai bunga seperti Cempaka dan Kenanga. Burung-burung mulai membuat sarang dan berkicau riang. Udara terasa sejuk, tidak terlalu panas dan belum terlalu dingin.
- Sasih Kalima (Ke-5) : Hujan mulai turun sesekali (hujan awal). Tanda alam yang khas adalah munculnya serangga-serangga tanah dan mulai matangnya buah-buahan seperti Mangga dan Rambutan.
- Sasih Kanem (Ke-6) : Puncak musim hujan. Suara kodok saling bersahutan adalah tanda paling jelas. Namun, sasih ini juga dikenal sebagai masa munculnya berbagai penyakit tanaman atau hama (merana) karena kelembapan yang tinggi.
3. Kelompok Sasih Masa Dingin (Kapitu – Kasanga)
Matahari berada jauh di selatan, menyebabkan suhu udara di wilayah kepulauan terasa lebih dingin (bediding).
- Sasih Kapitu (Ke-7) : Udara terasa sangat dingin, terutama di pagi hari. Curah hujan masih tinggi disertai angin kencang. Tanda alamnya adalah pohon Bendo yang mulai berbuah.
- Sasih Kaulu (Ke-8) : Hujan mulai berkurang tetapi angin masih bertiup kencang. Hewan-hewan seperti kucing biasanya mulai masuk masa kawin pada periode ini.
- Sasih Kasanga (Ke-9) : Masa transisi (pancaroba) menuju kemarau. Alam menunjukkan tanda kegelisahan; cuaca tidak menentu. Hewan pengerat seperti tikus biasanya sangat aktif di sawah-sawah.
4. Kelompok Sasih Akhir (Kadasa – Sadha)
Periode penutup siklus sebelum kembali ke awal.
- Sasih Kadasa (Ke-10) : Langit terlihat sangat bersih dan biru (cerah). Tanda alam yang paling utama adalah kembalinya kesuburan; padi mulai menguning dan burung-burung kecil (pipit) mulai ramai di sawah.
- Sasih Jiyestha (Ke-11) : Udara mulai kembali panas. Tanda alamnya adalah pohon-pohon besar mulai menggugurkan daunnya kembali, dan burung Srigunting mulai sering terlihat.
- Sasih Sadha (Ke-12) : Matahari tepat berada di garis balik utara. Udara sangat kering dan jarang ada hujan. Ini adalah puncak musim kering sebelum siklus kembali ke Sasih Kasa.
Ringkasan Tanda Alam Utama
| Sasih | Fenomena Alam Utama | Indikator Tumbuhan/Hewan |
| Kapat | Cuaca Paling Sejuk | Bunga Cempaka Mekar |
| Kanem | Puncak Hujan | Suara Kodok Riuh |
| Kapitu | Puncak Udara Dingin | Pohon Bendo Berbuah |
| Kadasa | Langit Cerah | Padi Menguning |
Mengenali Sasih melalui tanda alam bukan sekadar mitos, melainkan etno-sains yang digunakan nenek moyang untuk :
- Pertanian : Menentukan waktu tanam agar terhindar dari hama.
- Kesehatan : Mengantisipasi musim penyakit (gering).
- Upacara : Menentukan hari baik berdasarkan kondisi lingkungan.
Hubungan Sasih dengan Rasi Bintang
Dalam tradisi Nusantara, khususnya Jawa dan Bali, pengamatan rasi bintang disebut dengan Ilmu Falak Tradisional atau bagian dari Pranata Mangsa. Bintang bukan sekadar hiasan langit, melainkan “jam raksasa” yang menentukan waktu tanam dan panen.
Ada empat rasi bintang utama yang menjadi acuan masyarakat agraris :
- Rasi Waluku (Orion) : Berbentuk seperti “Bajak Sawah”. Ini adalah penanda musim tanam paling utama.
- Rasi Kartika (Pleiades) : Disebut juga Lintang Kerti atau Wuluh. Bentuknya seperti sekelompok bintang kecil yang menggerombol (tujuh bersaudara).
- Rasi Gubug Penceng (Crux/Pari) : Berbentuk seperti salib atau layang-layang. Digunakan untuk menentukan arah selatan dan musim hujan.
- Rasi Banyakangrem (Scorpio) : Berbentuk seperti “Angsa yang Mengeram”. Menandai akhir musim hujan.
Berikut adalah tabel korelasi antara Sasih, bulan Masehi, dan posisi rasi bintang sebagai penanda alam :
| Sasih / Mangsa | Perkiraan Bulan | Rasi Bintang Penanda | Kedudukan Bintang & Makna Pertanian |
| Kasa (1) | 22 Juni – 1 Agt | Kartika | Bintang Kartika muncul di timur saat fajar. Petani mulai membersihkan lahan (ngerendeng). |
| Katiga (3) | 25 Agt – 17 Sep | Waluku | Waluku muncul di timur saat fajar. Musim kering puncak, persiapan benih. |
| Kapat (4) | 18 Sep – 12 Okt | Kartika & Waluku | Keduanya terlihat jelas di tengah langit pada tengah malam. Musim terbaik, udara sejuk. |
| Kalima (5) | 13 Okt – 8 Nov | Waluku | Waluku berada tepat di atas kepala (zenit) saat tengah malam. Isyarat hujan segera turun. |
| Kanem (6) | 9 Nov – 21 Des | Waluku | Waluku mulai condong ke barat saat tengah malam. Musim tanam padi dimulai (ngurit). |
| Kapitu (7) | 22 Des – 2 Feb | Gubug Penceng | Rasi Pari terlihat tegak lurus di selatan saat subuh. Puncak musim dingin dan hujan lebat. |
| Kasanga (9) | 2 Maret – 25 Mar | Banyakangrem | Rasi Scorpio muncul di timur saat tengah malam. Masa transisi, waspada hama tikus. |
| Kadasa (10) | 26 Mar – 18 Apr | Waluku | Waluku tenggelam di ufuk barat saat fajar. Tanda padi mulai berisi dan siap menguning. |
Cara Membaca Bintang Secara Tradisional
Masyarakat zaman dulu menggunakan metode visual yang sederhana namun akurat :
- Metode Bayangan (Tongkat) : Menggunakan tongkat yang ditancapkan untuk melihat kemiringan matahari yang kemudian dicocokkan dengan posisi rasi bintang di malam hari.
- Waktu Kemunculan : * Jika rasi Waluku muncul tepat saat matahari terbenam (Maghrib) di ufuk timur, itu tandanya hujan akan turun sangat lebat dalam sebulan ke depan.
- Jika rasi Kartika sudah menghilang dari langit sebelum subuh, itu tandanya musim kemarau akan segera tiba.
- Posisi Sudut : Bintang yang berada tepat di atas kepala (Zenit) pada tengah malam menunjukkan bahwa sasih tersebut sedang berada di puncaknya.
Penggunaan rasi bintang ini membuktikan bahwa leluhur kita memiliki pemahaman astronomi yang sangat maju. Dengan mengikuti isyarat bintang :
- Keseimbangan Ekosistem : Petani tidak memaksakan menanam padi jika bintang menunjukkan tanda kemarau panjang, sehingga gagal panen bisa dihindari.
- Manajemen Air : Pembagian air irigasi (Subak di Bali) diatur berdasarkan Sasih agar semua petani mendapat jatah yang adil sesuai musimnya.
















