Caru Labuh Gentuh

Pelaksanaan Upakara Caru Labuh Gentuh


Mulang Pakelem – Penutup Ritual Caru Labuh Gentuh

Penutup ritual diakhiri dengan ritual mulang pakelem di segara, Mapakelem berasal dari bahasa Bali, yaitu ma dan pakelem, ma berstatus sebagai awalan yang mengandung arti melakukan suatu pekerjaan. Istilah pakelem berasal dari kata ‘kelem’ yang berarti tenggelam dan mendapat prefiks ‘pa’, menyatakan benda yang dikenai pekerjaan.

Jadi, upacara mapakelem adalah suatu pelaksanaan kurban suci secara tulus ikhlas dengan cara menenggelamkan, menanam, atau melepas sarana-sarana upakara pada suatu tempat.
Ritual mulang pakelem dapat dilakukan di dua tempat, yaitu (1) di air danau atau di laut dan (2) di daratan atau pegunungan.

Wujud pakelem yang dipakai sebagai wujud sasajen juga ada dua, yaitu pakelek yang dipakai berupa sesajen memakai binatang kurban tertentu yang dimatikan. Pakelem memakai sesajen dengan binatang kurban tertentu yang masih hidup.

Mapakelem berasal dari kata kelem berati makhluknya akan tenggelam, lalu mati. Upacara mulang pakelem merupakan sarana untuk menyeimbangkan hidup antara manusia dan alam lingkungannya sebagai refleksi dari konsep tri hita karana yang diwujudkan melalui upacara pelepasan beberapa hewan. Hal itu dilakukan dengan memberikan panyupatan kepada para bhuta kala dan makhluk-makhluk yang dianggap lebih rendah tingkatannya dari pada manusia.

Pelaksanaan ritual caru labuh gentuh menggunakan hewan persembahan adalah kebo, sampi, kambing, banyak, ayam dan bebek. Berbagai macam sesaji untuk persembahan tersebut kemudian ditenggelamkan di tengah laut. Melaksanakan buwatan laut, yakni pakelem, masyarakat di Bali, baik para nelayan maupun warga yang tinggal di daerah pesisir, biasanya dapat lebih tenang dan pasrah menjalankan aktivitas sehari-hari.

 


Sumber :
Teo-Ekologi Caru Labuh Gentuh di Bali
Oleh :
Dr. Drs. I Wayan Sukabawa, S.Ag., M.Ag


Buku Terkait
Baca Juga