Pelaksanaan Upakara Caru Labuh Gentuh


Persiapan  Caru Labuh Gentuh

Membuat Upakara dan Metanding

Kegiatan membuat upakara banten dalam agama Hindu meliputi

  1. Adanya perasaan religius yang mendorong suatu ritual dilaksanakan,
  2. Adanya sistem keyakinan yang melandasi suatu ritual dilaksanakan (tattwa),
  3. Ada sistem ritual yang ditetapkan sesuai dengan jenis ritual (eed atau dudonan karya),
  4. Ada peralatan ritual yang sesuai dengan tingkatan yadnya (nista, madhya, uttama), dan
  5. Adanya prosesi masyarakat sebagai pendukung pelaksanaan ritual (umat, orang-orang suci, institusi keagamaan, dan sebagainya).

Aktivitas membuat upakara banten tidak lepas dengan kegiatan nyamuh (mekarya sanganan). Kegiatan nyamuh dilaksanakan empat hari sebelum upacara caru labuh gentuh. Jajan sasamuhan ini untuk benten suci yang terbuat dari tepung beras dicampur sedikit tepung ketan, agar mudah dibentuk lalu diulen dengan sedikir air. Kemudian dibentuk dengan tangan, dibuat bermacam-macam jajan suci. Merupakan kegiatan lanjutan dalam mempersiapkan upakara.  Jadi Nyamuh adalah kegiatan membuat jajan suci dan jajan bebangkit yang juga disebut jajan sasamuhan
Jajan yang dibuat, untuk jajan suci yang benwarna putih, yaitu kekeber, kepuan udang, canigara, padma, kerang, tuding, pucuk telu, kekuluban, murga, murgi, sedangkan untuk warna yang kuning dibuat seperti keberber polos, keberber mesari, canigara, kuluban, bungkung, temuli mentik, ratu magelung. Untuk penangkep suci dibuat simbar, kemimitan, klongkang, bungan temu, dan jajan saraswati.
Warna yang digunakan dalam adonan ada dua, yaitu putih dan kuning. Kemudian dibuat bermacam-macam jajan suci seperti kebeber polos, kebeber mesari, kepuan udang, canigara, padma, kerang, tuding, pucuk telu, kekuluban, bungkung, ratu megelung, bungan temu, klongkang, dan saraswati. Di samping sesamuhan jajan suci juga membuat jajan bebangkit.

Jajan bebangkit terdiri atas 20 jenis, yaitu labengkot, lobeng luih, marga pepek, lawangan keladi, ubi sikep, bagia, peras, penyeneng, kemulan, taksu, sugih mengkoh, sugih metajuh, tulus ayu, tulus bagus, bulan, matan ai, tadah, lemah lemeng.

Jajan pulegembal dasarnya 39 terdiri dari ante, empas, mimi, tapak tangan, tapak kaki, tasik segara, suruh agung, sampat, luwed agung, tingkih, prusa, prusi, bawang telur ayam, udel, seet mimang, lekeh, lelipi, takep 4 terbuka, takep lima tutup, simbar merica, lulut besi dan perak, lulut emas (kuning) sepasang kemangmang, marga tiga, marga empat, gelar, gemulung, saang putih, saang merah, klongkang poleng, bungan temu poleng, bayem raja, ider buana, sri sedana, pepek,medaka, sepasang cili, crème.

Pembuatan jajan pepohonan ada 18 macam, antara lain ancak, bingin, nagasari, ambengan, padang lepas, kelapa gading, ubi sikep, kladi,rebab, ngadeg, sepit gunting, lawangan, ungang, tagog, kukur, kuntul, cakup tiga, cakup empat. Penangkeb 12, antara lain gunung, tangkariga, lingga, sarad, taman, penganggo, dukuh maweda, penglikasan, wongkara, sesikepan.

Dalam tahapan persiapan ini yang laki-laki juga mempersiapkan bahan-bahan upacara, seperti mencari reramon, mengupas kelapa, membuat sanggar surya, tetaring, penjor, dan sebagainya.

Sebelum kegiatan nyamuh diadakan matur piuning. Banten yang digunakan untuk matur piuning waktu nyamuh, antara lain : daksina, peras ajuman, tipat kelanan, canang sari, dan dilengkapi dengan rantasan dan sesari. Banten tersebut sebagai sarana permohonan ditujukan ke hadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa agar dalam kegiatan nyamuh berlangsung lancar dan satu pun tidak terlupakan sampai kegiatan nyamuh selesai. Selesainya kegiatan nyamuh dilanjutkan dengan mejejaitan membuat upakara banten

Kegiatan membuat banten yang indah didasari pikiran yang memusat pada ketulusan hati dalam majejaitan. Pada saat majejahitan yang dilakukan oleh para pengayah, diupayakan dengan cara yang ikhlas tanpa adanya rasa sedih, kesal, ataupun pertengkaran di antara para pengayah. Bentuk jejahitan, antara lain taledan, celemik, tamas, bedogan daksina, ceper, sampian peras, kulit peras, lis, bebuu, tipat, tulung sampian penjor, canang dan lain-lainnya. 

Adapun bentuk jejahitan yang juga dibuat adalah taledan gelar sanga, celemik, tamas, taledan kawas, taledan pesucian, taledan sesayut, bedogan daksina, ceper danan, peras, sayut, tulung, penyeneng, teterag, sampyan peras, sampyan penjor, cili, dan sebagainya. Selain itu dalam majejahitan juga dibuat perlengkapan banten.

Keterlibatan pihak krama (warga) pria sangat dibutuhkan dalam membuat piranti upacara yang lainnya, seperti membuat penjor; kelakat, sanggah cucuk, dan sebagainya. 

Kegiatan matanding dilaksanakan oleh tukang banten atau sarati bersama-sama dengan pengayah lainnya. Metanding merupakan kegiatan menata, memilah-milah, mengelompokkan secara teratur dan lengkap sesuai dengan jenis sorohan dan jenis tetandingan, seperti nanding banten penyeneng, dandanan, batekan, dan lain-lainnya.

 

Matur Piuning

Selain kegiatan matanding juga dilaksanakan ritual matur piuning. Ritual mepejati/ matur piuning dilaksanakan di pura kayangan tiga. Banten yang dipersembahkan adalah esoroh, yang meliputi penyeneng, peras, daksina, sayut sumajati, tipat kelanan, bayuan, tulung kelanan, penganteb, segehan manca warna, pengembak lawang, teenan, buu canang burat wangi-lenge wangi. Ritual ini dipimpin oleh pemangku desa dan pemangku di pura bersangkutan. Tujuan ritual ini adalah sebagai permakluman kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa dan Betara-Betari yang ber-stana di pura tersebut bahwa akan dilaksanakan ritual caru labuh gentuh dan mohon agar ritual ini terlaksana dengan baik dan lancar tanpa ada gangguan.

Banten untuk mohon tirtha ke pura sekitar wilayah Desa Adat Tuban, yaitu daksina, kusuma jati, tipat kelanan, penyacak manut pelinggih. Tujuannya adalah untuk mohon ke hadapan Ida Sang Hyang Widhi agar sarana yang dipakai dalam upacara irit (Wawancara, 27 Juni 2014).
Secara umum ada dua cara untuk memeroleh tirta. Ada dengan cara nuwur, yaitu memohon kepada Tuhan atau Ida Batara. Cara ini dapat dilakukan oleh pinandita atau pamangku. Ada dengan cara membuat tirta. Membuat tirta hanya beleh dilakukan oleh seseorang yang telah dwijati atau yang bersetatus pandita. Tirta yang didapat melalui banten di suatu Pura oleh pamangku adalah tirta pebersihan atau tirta penglukatan untuk menyucikan banten atau upakara yang dijadikan sarana persembahyangan dan ngalukat umat yang akan sembahyang. Ditinjau dari segi penggunaannya tirta dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu tirta yang berfungsi sebagai lambang (a) penyucian atau panglukatan, (b) pangurip, dan (c) tirta sebagai pemelihara kehidupan (Wiana, 2004:83).

 

Nuwur Tirta

Selain itu juga ritual nuwur tirta dimaksudkan sebagai permohonan kepada Bhatara agar beliau berkenan melimpahkan anugerah sehingga seluruh rangkaian ritual bisa berjalan dengan baik. Hal itu dilakukan melalui ngelinggihang tirta beberapa pura yang memiliki makna konotasi bahwa keberadaan beliau dipuja untuk dimohonkan anugerah di tempat upacara yang sedang berlangsung sekaligus sebagai sarana pemuput (menyelesaikan) ritual.

Tirta yang di-tuur adalah tirta dari pura sad khayangan di Bali, yaitu Pura Lempuyang Luwur, Pura Andakasa, Pura Goa Lawah, Pura Luhur Uluwatu, Pura Batukaru, Pura Ulun Danu Batur ditambah dari khayangan tiga. Semua tirta ini ditempatkan (linggih) di sanggar surya, sampai saat puncak karya digunakan sebagai serana pemuput ritual dengan cara memercikan pada upakara dan umat yang datang/hadir pada saat ritual berlangsung.

Untuk nuwur tirta tersebut banten yang diperlukan, antara lain suci asoroh, salaran, penegteg, dan bungbung. Sebelum dipersembahkan setiap upakara atau banten diperciki tirta pabersihan atau panglukatan.

Rangkaian persiapan ritual juga dilaksanakan ritual mapapada. Kata mapapada berasal dari kata “pada” yang berarti “kaki” lalu mendapat awalan “pa” dan awalan “ma” yang bersifat pengulangan sehingga menjadi “mapapada” yang artinya suatu tindakan (berulang-ulang) dengan berkeliling atau membawa keliling (berputar) berbagai jenis binatang berkaki (pada) untuk tujuan upacara yadnya.

 

Mapapada

Ritual mapapada, yaitu melakukan suatu prosesi spritual terhadap hewan yang akan digunakan dalam pelaksanaan upacara. Makna ritual mapapada adalah melakukan penyucian terhadap binatang /hewan kurban (wewalungan) sebelum disembelih untuk digunakan sebagai sarana ritual caru labuh gentuh. Kegiatan mapapada dilaksanakan sehari menjelang puncak karya caru labuh gentuh, yaitu dengan melakukan “purwa daksina”. Purwa daksina atau disebut juga pradaksina adalah melakukan putaran/perputaran (keliling) di tempat upacara yadnya dilangsungkan dengan mengambil arah dari timur ke selatan, dari kiri ke kanan (mengikuti gerak arah jarum jam). Kegiatan memutar dilakukan di sekeliling luar areal tempat pelaksanaan puncak upacara sebanyak tiga kali.
Betapapun panjang dan lamanya suatu proses perjalanan akan tetap berpatokan pada tiap tahapan (tri kona: awal, tengah, akhir). Ritual ini diakhiri dengan prosesi nuwek (menyentuh) hewan-hewan tersebut dengan senjata tajam sebagai simbolik bahwa hewan tersebut telah disembelih dan dipersembahkan secara ritual sebagai ritual bhuta yadnya berupa caru/tawur semoga bhuta kala menjadi somya

Semua wewalungan yang akan digunakan dalam ritual caru labuh gentuh adalah ayam putih, biing, putih siungan, hitam, brumbun, itik, banyak, angsa, anjing, kambing, sapi, babi, dan kerbau.

Mapapada juga untuk melepaskan (mengembalikan) unsur atman sebagai jiwa semua binatang tersebut ke sumbernya, yakni paramatman (Brahman) atau (Hyang Widhi). Badan (fisik), dimohon ke hadapan Brahman untuk dijadikan unsur dan tahapan tetandingan upakara, sebagai sadhana dalam ritual caru labuh gentuh. Ritual selain bersifat pamarisudha bagi seluruh binatang yang akan digunakan dalam upacara, juga tergolong ritual panyupatan karena telah berjasa sebagai sadhana persembahan dalam upacara itu sehingga kelak apabila telah mengalami reinkarnasi, semua binatang itu dimohonkan agar mengalami peningkatan. Dengan banten esoroh kemudian tirtha itu dipercikkan ke semua wewalungan yang akan dipakai dalam ritual.

Setelah ritual mapepada selesai dilanjutkan dengan kegiatan ngolah ulam caru. Pengolahan dipimpin oleh seorang mancaghra, yang memiliki keahlian khusus mengolah daging. Setiap binatang dibuat olahan sebagai wujud winangun urip, artinya setiap yang telah diolah itu dengan kepala dan kulitnya masing-masing dibentuk sedemikian rupa berupa bayang-bayang.

 

Puja Pepada

Ong, na, ma, si ,wa, ya, endah ta kita sang dua pada, sang catur pada, ingsun ngadeg Sang Hyang Dharma, tumon ta mangke, ingsun amerih anyupata sira, aja lupa aja lali sira ring tutur Sang Hyang Dharma, Sang duapada mantuk sira ring bhetara Iswara pasang sarga ta sira, rumekasan yan sira numadi ka merca pada, manadi ta sira manusa wiku sadhu dharma, muah mangke sira manadi yadnya manadi larapan bhakti, sang yazamana aja sira asilik gawe, elingngakna suarganta maring Iswara loka, Ong sang namah.
Ih kita sang catur pada riwekasan yan sira numadi ka mrecapada, menadi ta sira manusa mawibawa, apan mangke sira manadi yadnya, larapan bhaktin sang yazamana aja sira asilik gawe aja lupa aja lali ring tutur Sang Hyang Dharma, elingakna suarganta ring Brahma loka, Ong Bang Namah. Ung, Ang, Mang, Sarwa atma murswah wesat ah. ang, a, ta, sa, ba, i, sarwa bhuta musuah maring pertiwi.

Berdasarkan mantram yang disebutkan dalam ritual mapapada binatang itu dikelompok-kelompokkan senurut jenisnya. Dalam penggunaan sarana pecaruan, binatang-binatang dimaksud ditempatkan berbeda dengan pengelompokan jenis binatang yang diberikan mantram. Penempatan binatang berbeda-beda sesuai dengan jenis caru yang dilaksanakan.


Sumber :

Teo-Ekologi Caru Labuh Gentuh di Bali
Oleh :
Dr. Drs. I Wayan Sukabawa, S.Ag., M.Ag



Beryadnya dengan Sharing

Tak akan Mengurangi Pengetahuan

Baca Juga