Makna Simbolis Pohon Beringin
Rimbunnya dedaunan, batangnya yang kokoh memberikan kesejukan dan keteduhan bagi orang yang berada di bawahnya. Pohon ini diyakini sebagai tumbuhan sorga, tempat anjangsana para pitara serta dewa-dewa. Dalam upacara keagamaan pun ini selalu digunakan, itulah keagungan dari pohon beringin.
Pohon beringin sering dikatakan sebagai tumbuhan sorga. Bijinya yang kecil dapat tumbuh menjadi tumbuhan besar yang memberikan kesejukan sekaligus peneduh bagi yang berteduh di bawahnya. Akarnya yang kuat melambangkan kekokohan yang tak tergoyahkan. Di balik semua itu, bagi masyarakat Hindu pohon beringin mempunyai arti penting, sama halnya dengan pohon kura bagi umat Islam, atau pohon bodi bagi umat Budha (Miarta Putra, 2009:34). Pentingnya pohon beringin bagi umat Hindu karena daunnya sering digunakan sebagai sarana upacara. Daun beringin secara filsafati bagi umat Hindu sebagai lambang kesucian, lambang agni, dan sebagai alas untuk kesucian, baik dalam upacara Dewa Yajnya, Pitra Yadnya, maupun pelaksanaan yajnya lainnya.
Keyakinan masyarakat Bali tersebut bukanlah suatu hal yang tidak beralasan, tanpa landasan sastra yang jelas. Secara mitologi, pohon beringin merupakan salah satu pohon yang mendapatkan panugrahan. Hal ini dikisahkan dalam pustaka lontar Siwagama yang ditulis oleh Ida Padanda Made Sidemen pada tahun 1860 Saka atau 1938 Masehi. Dalam bab pertama pustaka tersebut dikisahkan perjalanan Bhagawan Salukat yang sedang melakukan rangkaian Tirta Yatra. Suatu ketika, beliau tiba di pesisir Negara Daha. Saat itulah Bhagawan Salukat menemukan sebatang pohon waringin pandak (beringin).
Pohon beringin tersebut bisa berkata-kata seraya memohon kepada Bhagawan Salukat. “Yang Mulia Bhagawan Salukat leburlah dosa hamba, sebatang tanaman yang tumbuh di tempat-tempat suci, setiap waktu kurus dan selalu menjadi makanan hewan,” kata pohon beringin dengan kerendahan hati kepada Bhagawan Salukat. Bhagawan Salukat yang sudah mengerti akan hakikat hidup, serta dengan kemurahan hati dianugerahilah pohon beringin tersebut. “ih kamu pohon beringin, kini wajib kamu menjadi pendamai (membuat sentosa) dunia, melebur dosa, wajib menjadi pelindung para Dewa tumbuh di setiap tempat suci,” kata Bhagawan Salukat memberikan anugerah kepada pohon beringin.
Berdasarkan pustaka Siwagama tersebut, fungsionalnya pohon beringin dalam konteks upacara yadnya dapat dipahami. Ida Padanda Wayahan Tianyar seorang pendeta yang nyastra juga menyatakan bahwa pohon beringin yang dijadikan sarana upacara terutama dalam prosesi upacara Mukur bermakna wahana penyucian bagi arwah pitara agar menjadi Dewa Hyang. Dengan fungsionalnya pohon beringin dalam kehidupan masyarakat Bali terutama sebagai sarana upacara dan pengobatan, maka pohon beringin perlu dilindungi eksistensinya, baik hari ini maupun di masa depan.












