Makna dan Fungsi Pohon Beringin untuk Yadnya dan Pengobatan


Download Semua Konten PDF – 12 Bulan

Rp 100.000,00

Total: Rp100.000,00


Contoh PDF hasil dari download
Klik disini

  • Donasi untuk download semua konten yang ada di website ini ke versi PDF.
  • Hak akses download berlaku untuk 12 bulan.
  • Konten akan terus ada penambahan, dan anda bebas untuk download konten baru (selama akun aktif).
  • Pastikan menggunakan Email aktif untuk konfirmasi akun.
  • Pembayaran dengan Transfer Bank
  • Aktivasi akun mak. 1×24 jam setelah pembayaran. Mohon melakukan konfirmasi dengan membalas email jika sudah melakukan pembayaran. Tanpa konfirmasi, pihak admin tidak dapat mengetahui jika sudah ada pembayaran.

Pohon Beringin, Symbolisme Tri Tunggal

Pohon Beringin merupakan lambang  Dewa Tritunggal Hindu. Dewa Wisnu kulit kayunya. Dewa Brahma akarnya, dan Dewa Siwa cabang-cabangnya. Nama lain dari Dewa Kuwera, penjaga kekayaan para Dewa, yaitu Vatashraya, tinggal di pohon Beringin tersebut. Menurut tradisi, Pohon Beringin dikunjungi oleh Dewi Laksmi pada hari Minggu.

Dalam Purana diceritakan tentang Savitri yang kehilangan suaminya setahun setelah pernikahannya. Suaminya meninggal dibawah pohon Beringin dan dengan memuja pohon ini, Savitri berhasil menghidupkan suaminya kembali. Legenda ini telah mengawali munculnya sebuah upacara Puja khusus yang dilaksanakan pada hari Vat Savitri dimana pada saat itu para wanita berpuasa dan berjalan mengelilingi pohon Beringin.

Pohon Beringin dianggap sebagai lambang kesuburan, dipuja oleh mereka yang mendambakan anak. Kitab Mahabharata mengisahkan tentang seorang ibu dan putrinya yang memeluk dua pohon Beringin dan menjadi para ibu dari Pendeta Vishvamitra dan Pendeta Jamadagni.

Dalam Nattipala Jataka, kitab suci agama Buddha, terdapat cerita seorang wanita dengan tujuh putranya yang mengatakan bahwa ia telah berdoa kepada Dewa yang berdiam di pohon Beringin yang telah memberkatinya anak-anak.

Sebuah ziarah ke salah satu dari pohon-pohon Beringin yang utama dianggap setara dengan dua puluh tahun pengorbanan dan dipercaya bahwa seseorang yang mengurapi dirinya sendiri dengan abu dari bagian manapun pada pohon ini menjadi bebas dari dosa.

Dalam Mitologi Hindu, Dewa wisnu dilahirkan dibawah pohon Seringin. Salah satu bentuk terdahulu dari seni pahat India adalah Kalpa-vriksha atau pohon yang mengabulkan permohonan dari Besnagar, kini terdapat di Museum India, Calcutta. Pahatan itu telah diidentifikasi oleh Ananda Cammarasvami sebagai pohon Beringin. Bangsa Arya melukiskan Dewa Indra duduk dengan permaisurinya dinaungi oleh pohon Beringin yang dari cabang-cabangnya orang-orang mendapatkan permata, pakaian, makanan, dan minuman. Pohon Beringin yang disebut juga Agastyavata, yang melambangkan keabadian. Ketika seluruh dunia digenangi air selama terjadinya air bah yang hebat, daun-daun pohon Beringin menyelamatkan Dalmukunda.

Bagaimana Dewi Amba Dapat Mengambil Pohon Beringin dari Taman Naga Basuki
(Sebuah Legenda Suku Bhil dari Rajasthan)

Basuki adalah Dewa Naga dari Patataloka, Dunia Bawah. Di dalam tamannya yang megah ada sebuah pohon Beringin raksasa. Dewi Bumi, Amba, bermimpi tentang pohon ini. Karena terkesan oleh keagungannya, ia ingin membawanya ke Bumi. Tetapi ia tidak dapat menemukan jalan untuk memasuki Patataloka.

Ia bertanya pada seluruh burung dan binatang. Namun tak seorangpun yang pernah kesana dan kembali dari tempat itu. Dari seluruh serangga, hanya kumbang yang tahu, karena mereka sering terbang keatas dan kebawah mencari-cari jalan bagi mereka untuk menuju dunia-dunia tersebut. Tetapi mereka telah berjanji untuk merahasiakannya. Dewi Amba membujuk dan memerintahnya, namun Si Kumbang tidak mau memberitahukan rahasianya. Maka ia memerintahkan prajuritnya untuk membuang Si Kumbang ke dalam sebuah kawah yang berisi minyak mendidih. Tentu saja Si Kumbang menyerah dan mengaku.

Dewi Amba sampai di Taman Naga Basuki. Ia berjalan mengelilingi pohon itu untuk melingkarinya dengan mantra dan membawanya ketika Naga Basuki melihatnya. Api terpancar dari matanya dan Dewi Amba pun seketika jatuh ke tanah dan mati.

Mahadewa dan Dewi Parwati juga pergi untuk melihat taman kepunyaan Naga Basuki yang manakjubkan itu ketika mereka menemukan jenazah Dewi Amba. Dewa Parwati terkejut dan sedih. Ia bertanya kepada Mahadewa tentang apa yang telah terjadi karena beliau Mahatahu, namun diabaikannya pertanyaan-pertanyaan Dewi Parwati yang sedang kalut itu.

Dewi Parwati melihat ketidak acuhan Mahadewa. Dewi Amba adalah penjelmaan Dewi Parwati sendiri dan juga ia mengalami kesedihan yang sangat dalam. Ia memutuskan untuk menghukum Mahadewa dan menghilang. “Kembalilah, Parwati”, Mahadewa memanggil. Tetapi Sang Dewi merajuk dan menolak untuk kembali. Akhirnya Mahadewa menyerah. Ia menghidupkan kembali Dewi Amba.

Namun Dewi Amba masih marah dan begitu pula Dewi Parwati “Satu anugerah lagi. Setelah itu barulah aku kembali” kata Dewi Parwati. Apa yang dapat Mahadewa perbuat? Ia setuju untuk mengabulkan satu permohonan Dewi Amba. “Aku ingin membalas dendam pada Naga Basuki”. Basuki, Sang Dewa Ular, mempunyai seribu kepala. Dewi Amba memotong semua kepalanya kecuali satu dan ketika darah mengalir dari luka-lukanya, ia membawa pohon Beringin itu ke bumi.




Beryadnya dengan Sharing

Tak akan Mengurangi Pengetahuan

Baca Juga