Pelaksanaan (Dudonan) Upacara Ngenteg Linggih


Pura sebagai titik pusat konsentrasi umat Hindu di samping merupakan sarana untuk meningkatkan dan memantapkan sraddha dan bhakti umat Hindu di Bali kepada Tuhan Yang Maha Esa, adalah juga sebagai sarana mempererat persaudaraan sesama umat Hindu apa pun latar belakang etnisnya, memajukan pendidikan dan usaha-usaha yang bersifat sosial budaya keagamaan.
Dengan berdirinya sebuah pura, umat Hindu akan lebih dekat mengenal sesama umat di sekitarnya, dan sebagai sarana pendidikan dan sosial kegamaan, maka seseorang dapat mengenal dan memahami aktivitas ritual dan seni sakral yang berlangsung secara periodik di pura tersebut, demikian pula sebagai sarana pendidikan, sangat berguna untuk memajukan pendidikan agama Hindu, utamanya pendidikan yang bersifat spiritual.

Artikel ini merupakan lanjutan dari artikel sebelumnya yang berjudul Stuktur & Makna Pura di Bali berdasarkan Asta Kosala-Kosali“.

Dalam keyakinan umat beragama, Tuhan Yang Maha Esa yang di dalam agama Hindu disebut dan digambarkan dengan ribuan nama dan rupa (sahasra nama rupa Brahman) diyakini ber-sthana di svargaloka atau kahyangan yang sangat indah penuh kegembiraan, kedamaian, kesejukan dan kebahagiaan. Penghuni sorga adalah makhluk-makhluk suci seperti Tuhan Yang Maha Agung, para Dewata (Dewi-Dewi
sebagai aneka perwujudan-Nya), roh-roh suci para maharsi agung (rsi siddha devata), vidyadhara-vidhyadari (makhluk-makhluk suci pengiring dan pelayan para Dewata), juga para seniman yakni penari-penabuh gamelan atau kinara dan kinari dan pasukan pengawal keamanan. Di samping makhluk-makhluk tersebut di atas, juga roh-roh suci leluhur juga mencapai dan tinggal di svargaloka.

Untuk mendekatkan umat manusia di bumi dengan Tuhan Yang Maha Esa, para Dewata, roh suci para rsi agung dan roh suci leluhur, maka umat Hindu berdasarkan petunjuk para rsi agung dan kitab suci Veda dan Susastra Hindu lainnya membuat bentuk tiruan (replica) sorga tersebut dan diturunkan atau dibuat di bumi ini. Bentuk tiruan sorga tersebut adalah berupa pura yang di dalamnya terdapat aneka bangunan suci atau palinggih, sebagai sthana Tuhan Yang Maha Esa, para Dewata, roh suci para rsi agung dan roh suci leluhur, oleh karena itu setelah pura dibangun harus segera disucikan dan difungsikan, di antaranya dengan upacara atau ritual ngenteg linggih untuk memantapkan serta menyucikan sthana-Nya.

Di dalam pura terdapat bangunan induk minimal sebuah padmasana yang melambangkan bumi dengan puncak gunung sebagai sthana Tuhan Yang Maha Esa, para Dewa, roh suci para maharsi dan roh suci leluhur, badawangnala atau empas (sejenis penyu masing-masing kakinya berjari 6 buah) yang dibelit 2 ekor naga (Anantabhoga dan Vasuki) melambangkan inti bumi yang dibelit oleh kulit bumi sedang naga bersayap (Taksaka) di asana (tempat duduk) pada puncak padma melambangkan atmosfir yang membungkus bumi menyelamatkan dari bahaya meteor yang menghujam bumi.



Buku Terkait
Baca Juga