Bé Bano


Terjemahan Cerita Bé Bano

Ada sebuah cerita “Bé Bano”. Konon, ada seorang pria bernama I Nyoman Jater, ia memiliki seorang istri bernama I Blenjo. Dikatakan bahwa I Blenjo adalah orang bodoh dan dungu, tetapi ia tidak pernah mau mengakui bahwa dirinya bodoh.

I Nyoman Jater hanya membajak sawah, setiap hari ia bekerja di sawah, I Blenjo mengunjungi sawah sambil membawa makanan. Padi selalu seperti itu, sampai I Nyoman Jater siap makan ubi jalar dan daun ubi jalar.

Konon, ketika Nyoman Jater selesai memanen, ia melemparkan sapinya ke dekat pantai. Pada saat itu, seorang nelayan datang untuk membersihkan perahu. I Nyoman Jater ikut naik perahu dan mengosongkannya ke tepi pantai. Setelah mereka selesai membongkar muatan perahu, I Nyoman Jater menyewa seorang bano (tukang masak).

Konon, setibanya di rumah, I Blenjo terkejut dan berkata, “Mimih, itu yang akan kau gunakan untuk membawa ular pulang? Tapi cepat pergi, aku tidak berani!” kata Blenjo. Nyoman Jater tertawa mendengar suara Blenjo. “Ini ular bega, ini ular, bé bano adanné. Ayo lablab untuk saus bé, ayo pulang sekarang.” I Nyoman Jater kemudian berjalan ke rumah.

Blenjo pergi ke dapur untuk menyalakan api, lalu menunggu panci. Bawa banon pulang dari payuké. Mari kita jujukanga melalui pendakian potongan. Jlempangangan, masih belum cukup di dalam panci. Jadi I Blenjo khawatir, karena panci tidak cukup untuk memasak bano. Lalu dia meminta tetangganya untuk meminjam panci.

“Wih … Mémén Wayan, Mémé punya panci panjang?” “Ibu Blenjo, aku pinjam panci panjang untuk masak!”, kata I Blenjo.

“Ibu tidak punya panci panjang. Ada panci di dapur, pakai saja! Begitu kata tetangga.

Ketika I Blenjo pergi ke dapur, ia mengambil semua panci, dan merasa tidak akan ada yang bisa dimasak, jadi ia berkata, “Ibu Wayan, aku mau pinjam panci ibu, semuanya tidak cukup.”

Blenjo kembali ke rumah tetangganya. “Ibu Nengah, ibu punya panci panjang, pinjam saja!”, kata I Blenjo. “Oh … jadi soleh asanné, di mana ibu mencari panci panjang?” “Ibu hanya punya panci bundar, itu ada di dapur, pinjam untuk Nyai!” kata tetangga.

Blenjo pergi ke dapur untuk memilih panci. Jadi semua orang merasa tidak seharusnya masuk ke dalam. Ia mencoba lagi meminjam panci panjang, tetapi tidak menemukannya. Sekarang, ia kembali.

Karena lelah meminjam panci tanpa hasil, ia menggantung ikannya di dinding dan pergi ke rumah, lalu tidur di selimut tebal.

Konon Nyoman Jater datang dari rumahnya dan mendapati ikannya masih tergantung. “Mengapa kau masih tergantung?” pikirnya, lalu berteriak, “Wih … Blenjo, né dadi depin Nyai bé banoné, kadén kundén icang nglablab, bé makuah? Mengapa kau masih tidur sekarang?”

Blenjo menjawab dari kamar tidur, suaranya gemetar. “Badanku kedinginan, kepalaku sakit dan aku tidak tahan.” jawab suaminya.

Karena I Nyoman Jater adalah seorang sadudarma, ia diam, lapar, dan marah. Sekarang ia sendiri menunggu panci, menyalakan api, mencampur bahan, memeriksa talenan, memotong bé banoné lalu tugel-tugela, kemudian memasukkannya ke dalam panci.

I Blenjo terbangun dari tempat tidurnya, ia mengintip melalui lubang di dinding, melihat I Nyoman Jater mengolah bé bano hingga maclempung di dalam panci ikan. Ngon I Blenjo dan ngrimik, “Ih … to kétoanga jené béné, o … to sibak-sibaka, to buin tugel-tugela, mara cemplunganga in payuké.

Dikatakan bahwa I Nyoman Jater sedang bermain di dapur, setelah mempelajari bahasa. Yah, itu bagus, sampai I Blenjo menciumnya. Yah, sausnya sudah siap, lalu I Nyoman Jater kembali memberi I Blenjo nasi, “Njo, Njo … Dong bangun dulu dan makanlah!” “Mau nasi Jemakanga Cang?”

Blenjo menjawab, “Perutku sudah kenyang, boleh aku makan sedikit!” Nyoman segera memberikan nasi kepada Blenjo. Blenjo bangkit, lalu mencicipinya. Ketika mendengar sausnya sangat enak, ia berteriak dengan suara gemetar, “Tidak ada nasi!” Nyoman Jater kembali makan nasi. Kemudian mengaduk nasi bersama Blenjo, ia kembali berteriak, “Oh… sausnya terlalu kental, sausnya terlalu kental!”

Sekali lagi, Nyoman Jater menyajikan saus. Blenjo kemudian mengaduk nasi, dan berkata sudah terlambat. Nyoman Jater kembali memasak nasi hingga piringnya penuh dan akhirnya ia makan nasi dengan saus bé banon. Dalam hatinya, Blenjo menyuruh Nyoman Jater pergi ke ladang agar bisa mendapatkan nasi lagi.

Dikatakan bahwa Nyoman Jater telah selesai makan, menatapnya dan pergi ke ladang. Begitu ia bangun, Blenjo pun bangun dan… pergi ke dapur untuk mengambil nasi dengan saus bé banon. Baan jaen kuh béné, lalu lablaba isi saus, lalu jambala sampai saus habis. Ketika sudah habis, lalu payuké pantiganga in jalikané sampai terbelah. 

Saat sudah larut malam, Nyoman Jater pulang dari rumahnya dan pergi ke dapur untuk mengambil nasi. Ketika anak itu memeriksa panci, ia mendapati panci itu pecah. Nyoman Jater bertanya kepada suaminya, “Njo … jadi pecah payuke?” Blenjo menjawab, “Aku lelah bekerja di dapur.” “Kenapa tidak?”, kata I Nyoman Jater melanjutkan.

“Biar aku masak, badanku kedinginan,” kata I Blenjo melanjutkan. Kemudian ibu Nyoman Jater menggunakan garam dan minyak untuk makan nasi.

Tak lama kemudian, di pura desa ia kembali bekerja bertiga, I Nyoman Jater malah mendapat giliran melayani. Ia menyuruh istrinya, I Nyoman Jater, untuk mengeluarkan pélas, lalu ia berkata kepada I Blenjo, “Wih … Njo, besok aku disuruh melayani dan mengeluarkan pélas enyuhan a bungkul, Nyai bisa membuat pélas?”

“Ya, batek ngaput pélas easy pélas decorate,” kata I Blenjo. I Nyoman Jater pergi ke pura untuk melayani dan kemudian makemit. I Blenjo berhenti sekarang untuk mencari tujuh lembar daun tlujungan dan bawang bombai cincang serta kunyit karena apa yang telah ia lakukan. Kemudian ia mengambil seekor sapi dan memolesnya. dengan lidahnya, lalu menutupinya dengan daun tlujungan. Sejak awal, lelaki tua itu tertutup hingga gelap dan lemah hingga lima pesel nelahang saang masih belum mau membeli pélasé.

Dikatakan bahwa pagi-pagi sekali, I Nyoman Jater datang, membuka mulutnya untuk mengambil papeson pélas untuk diserahkan ke kuil. Kemudian I Nyoman Jater bertanya, “Njo … ada apa?”

“Ini pelasé Nyoman. Pergi dan bawa ke kuil dan serahkan sekarang! Ini pelasé, sudah pelas. Kemudian I Nyoman Jater pergi ke kuil untuk menyerahkan pepeson dalam bentuk pelas berisi sok, diserahkan kepada klien sarén. Kemudian pendeta itu tertawa, “Ha, ha, ha… Pendeta Jero, lihatlah, itulah kebahagiaan Nyoman Jater. Ini adalah hasil karya suami I Nyoman Jater, ini adalah seikat kelapa yang dibungkus daun tlujungan.”

Kerumunan orang berkumpul untuk menyaksikan pernikahan I Nyoman Jater. Semua orang tertawa bersama. Wajah I Nyoman Jater memerah dan ia diminta untuk menyerahkan kelapa itu. Klien meminta uangnya dikembalikan. Karena kemalasan I Nyoman Jater, ia segera pulang untuk mengambil uang.

Sesampainya di rumah, ia menemukan I Blenjo duduk di tangga dan telah dipukul oleh I Nyoman Jater dengan pisau, mengenai kepala I Blenjo dan jatuh dalam kegelapan. Setelah beberapa saat, Blenjo mengingat namanya dan mengingat namanya. Di sana semua tetangga bergegas untuk melihat.

Konon, di pura desa sekarang sedang ditanami bunga. Setelah tengah malam, bunga-bunga dipersembahkan, dan penduduk desa menyembelih babi.

Konon, I Nyoman Jater, karena ia diberi kepala putih. Kemudian I Nyoman Jater pulang membawa kepala babi. Ketika sampai di rumah, ia memanggil Blenjo. “Njo, Njo, sekarang olah kepala babi, buatlah saus tulang yang besar dulu. Setelah itu, baru lablab nyen pakai saus tulang! Aku akan pergi ke kuil lagi ke desa ngayahang,” kata I Nyoman Jater dan pergi.

Konon, I Blenjo pergi mencari bunga Jepang, bunga mitir, bunga ratna, sampai ia mendapatkan bunga yang bisa diganti-ganti. Kemudian mengambil ranting delima kering. Ia memiliki banyak bunga berwarna-warni. Bagus untuk dimainkan, ada yang digunakan gegempolan, ada yang ditusuk dengan tali panjang. Setelah itu, ia menghias tenda babi. Di telinganya ia memetik bunga maonggar, di tangannya.

Konon, Nyoman Jater baru saja pulang dari kuil. Saat sampai di rumah, ia melihat kepala babi yang dihiasi bunga maonggar-onggaran dan magegempolan. Nyoman bertanya, “Blenjo, apa yang kau lakukan di rumah sejak pagi?” Blenjo menjawab, “Itu pekerjaanku, aku sudah mencari bunga sejak pagi, lalu aku merangkainya untuk menghias kepala babi, agar bisa dipegang kakinya.”

Nyoman Jater kemudian bertanya lagi, “Untuk badannya, minta dibuatkan lidah besar, sedikit payas besar untuk kepala babi?” Blenjo menjawab, “Baiklah, kalau begitu, aku salah. Sekarang mari kita buat lidah.” Nyoman Jater kembali bertanya, “Untuk perintah membakar, kenapa tidak dibakar?”

“Ceritakan padaku tentang aku mencari bunga sejak pagi, sekarang mari kita pergi bersama nglablab!”, kata Blenjo tak mampu mengakui kebodohannya tak bisa memproses tanduk céléng.

Sekali lagi, Nyoman Jater membawa panci kecil dan menyalakan api. Kemudian mencampur ikan basa. Kepala babi dipotong, isinya dikembalikan ke panci. Sudah lama, ayo pulang. I Blenjo menatap ke sana, dan tersenyum mengingat usahanya mencari panci besar.

“Seandainya aku tahu kepala babi kemarin, aku pasti bisa.” Begitulah kata I Blenjo. Yah, sudah larut, lalu I Blenjo pergi melihat nasi, panci tembaga dengan saus balkung.