Terjemahan Cerita Belibis Putih
Konon, ada seorang pedagang bernama Narajana. Ia tinggal di pantai barat. Setiap hari Narajana mencari ikan di laut. Narajana naik perahu sambil memancing. Di sana ia juga menggunakan jaring. Narajana telah melakukan ini selama bertahun-tahun. Sekarang Narajana merasa kesal. Karena sejak pagi ikannya belum dimakan. Sampai siang Narajana tidak mendapatkan seekor ikan pun. Perutnya terasa lapar. Tubuhnya terasa panas. Keringatnya menetes karena panas.
Narajana pergi ke tengah laut. Di sana ia menemukan banyak sekali persediaan makanan. Kekesalannya mereda. Maka ia turun ke laut, membuka persediaan makanan. Kotak bekalnya diisi dengan nasi. Dua potong galeng. Akaputan. Isen macakcak dengan saus garam kusamba atemelosan.
Setelah makan, Narajana berteduh di bawah pohon. Ia berganti pakaian untuk waktu yang lama. Kemudian angin bertiup. Ia senang mendapatkan dayuh. Ketika Narajana melihat ke timur, ia melihat seekor tupai putih. Di sana ia menangkap burung dengan jaring.
Narajana terkejut mendengar burung itu berkata, “Ayah! Ayah! Jangan bunuh aku, Ayah! Jika Ayah berbaik hati menangkapku, aku akan membantu Ayah mencari ikan.”
Narajana menuruti suara burung itu. Karena terkadang ada burung Belibis Putih yang bisa berbicara bahasa jalma. Belibis berkata bahwa ia tahu di mana hewan-hewan berkumpul. Kemudian Narajana menunjuk ke tempat itu. Maka Narajana mendapatkan banyak ikan besar dan gemuk. Di malam hari, Belibis dibawa pulang. Kemudian ia membuat bada di pinggir rumah.
Narajana sangat menyayangi istrinya. Sering memberi makan seperti yang dimakannya sendiri. Maka Belibis sangat senang. Narajana menyayanginya seperti anaknya sendiri.
Tupai Putih mendengar kabar dari burung gagak. Ada banyak emas di mulut ular. Emas itu dicuri oleh pencuri di masa lalu. Sekarang pencuri itu sudah mati. Di sana Tupai Putih menyuruh Narajana untuk mengambil emas itu. “Ayah! Pergilah ke pantai barat.” “Lihatlah pohon besar dengan sarang ular itu.” Jika kau menemukannya, maka lihatlah. Jika ada emas, kau bisa menggalinya. Karena pencuri yang mencuri emas itu sudah mati. Dia mendapatkan emas dengan cara yang tidak jujur.
Raja bergegas ke pantai. Tiba-tiba dia melihat sebuah pohon besar dengan lubang yang sangat dalam. Untuk waktu yang lama dia tidak berani masuk. Karena takut digigit ular. Ketika dia melihat seekor tikus di mulutnya, Narajana berani menyelam. Dia takjub melihat begitu banyak emas. Kemudian dia pulang.
Tupai Putih mendengar suara kucing lagi. Ada banyak kekayaan yang terkubur di tanda itu. Harta karun itu disembunyikan oleh pencuri di masa lalu. Sekarang pencuri itu sudah mati. Di sana Tupai Putih kembali menyuruh Narajana untuk mengambil harta karun itu.
Narajana memiliki banyak emas dan kekayaan. Semua karena Tupai Putih. Dalam waktu kurang dari sebulan membesarkan I Belibis Putih, dia menjadi orang kaya. Itulah mengapa dia mencintai Tupai Putih.
Sekarang Raja Boja sedih. Karena mereka Tidak bisa memutuskan kasusnya. Ada dua pendeta. Mereka berdua menangkap sang istri. Sang istri tidak ingat suaminya. Mana yang asli, mana yang palsu. Di sana, Tupai Putih menyuruh Narajana pergi ke istana. Menawarkan keputusan dari pihak yang berlawanan. Jadi Narajana pergi ke istana. Dan makusara akan dapat menyelesaikan masalah tersebut.
Setelah raja selesai berbicara, Narajana berbicara kepada kedua pendeta. “Ya, Ratu Pandita! Ini sebidang tanah. Silakan masuk! Siapa pun yang bisa masuk, dia harus memiliki istri.”
Ketika Narajana mengatakan ini, pendeta yang asli merasa senang. Tubuhnya pucat, wajahnya pucat seolah-olah akan mati. Karena dia merasa tidak bisa masuk.
Tetapi pendeta iblis sangat senang. Dia benar-benar gembira. Rasanya tidak ada yang bisa menandinginya. Karena mudah baginya untuk berpikir. Lalu tidak bisa ditambahkan ke cara menyelam caratane.
Setelah masuk, Narajana kemudian memeriksa caratane. Kemudian hangus dan terbakar dalam api besar. Sampai akhirnya caratane terbelah dan pendeta yang meninggal itu meninggal sambil tersenyum. Maka raja sangat senang.
Karena ia mampu menyelesaikan perselisihan tersebut, maka Narajana menjadi Menteri Utama. Dan selalu mengikuti jalan Raja. Ketika memutuskan kasus-kasus sulit, Narajana selalu meminta nasihat dari I Belibis Putih.
