Terjemahan Cerita I Balu Kawanan – I Balu Kanginan
Ada sebuah kisah yang diceritakan, “Aku Balu Kawanan dan Aku Balu Kanginan”. Konon, ada seorang pria yang tinggal di Banjar Kawanan yang istrinya telah meninggal. Karena itulah ia disebut Aku Balu Kawanan. Ada juga seorang wanita yang tinggal di Banjar Kanginan, yang suaminya telah meninggal. Ia disebut Janda dari Timur. Konon, Aku Balu Kawanan menyukai Aku Balu Kanginan, tetapi Aku Balu Kanginan tidak menyukai Aku Balu Kawanan. Aku Balu Kawanan sering mencoba membujuk Aku Balu Kanginan, tetapi tidak didengarkan. Hingga Aku diceritakan hal ini, bahkan Aku Balu Kanginan pun tidak setuju.
Kemudian, Aku Balu Kawanan pergi berjalan-jalan dan mengambil sebatang kayu. Lalu ia berkata kepada I Balu Kanginan, “Ya, Beli Wayan baru saja datang.” “Oh, aku baru datang, Luh. Karena aku akan pergi jauh, aku membawa tongkat ini, aku sangat bersemangat untuk pergi sekarang dengan tongkat.”
“O… Nah, ini dia!”, kata I Balu Kanginan. Kemudian tongkat itu dikembalikan kepada I Balu Kanginan dan diselipkan di sudut dinding rumah. Keesokan harinya ia tidak pergi berjalan-jalan. Lagi-lagi, belum. Keesokan harinya, ketika Balu Kawanan pergi bekerja, ia berkata kepada Balu Kanginan, “Ya, Beli Wayan telah datang.” Maka ia mengaku.
“Aa Luh, kalau kau bawa tongkatmu, aku akan membawanya pulang sekarang.”, kata I Balu Kawanan. Kemudian Balu Kanginan pulang dengan tongkatnya. Ketika ia sampai, tiba-tiba tongkat itu dimakan rayap.
“Beli Wayan, tongkatmu dimakan rayap,” kata I Balu Kanginan. I Balu Kawanan menjawab, “Baiklah, jangan makan tetanus itu, sekarang aku kena tetanus,” lalu I Balu Kawanan pulang. Keesokan paginya, I Balu Kawanan pergi ke sana. “Ya, Beli Kawanan, ayo,” kata Balu Kanginan. “Oo, kau baru datang. Ayo kita ambil tetanus yang akan kubawa pulang,” kata I Balu Kawanan.
Karena tongkat itu telah dilemparkan ke halaman, buahnya telah dimakan oleh ayam I Balu Kanginan. “Beli Wayan, tetanus Beliné telah dimakan oleh ayam,” kata I Balu Kanginan, “Baiklah, makanlah bersama ayam, sekarang sudah siap untukmu,” kata I Balu Kawanan.
I Balu Kawanan pulang. Malam berikutnya, ayam itu dibunuh oleh babi. Keesokan harinya, I Balu Kawanan kembali. Disambut oleh I Balu Kanginan, “Ya … Beli Wayan baru datang,” “Aa Luh, kau baru datang.” “Go jemakang ready beliné will slaughter now kadong dot gati with fish ready”, kata I Balu Kawanan. “Baiklah, saudara Wayan, kasihan sekali saudara yang tadi malam dibunuh serigala,” kata I Balu Kanginan.
“Baiklah, babi bibi yang mati sudah siap dibeli, sekarang babi itu milikmu,” kata I Balu Kawanan. Janda Kawanan kembali. Malam berikutnya, ada penyembelihan babi, dan dia meminta babi itu diberikan kepada I Balu Kanginan.
Keesokan harinya, Balu Kawanan datang untuk mencuri céléng dan diberi keranjang untuk digunakan sebagai wadah céléng. Dia berkata, “Beli Wayan, ayo.” Aa Luh, jika kau mengundang pedagang, kau akan menjual babi itu sekarang.” kéto I Know Herds.
“Ya, babi itu sudah bernilai tiga juta,” kata I Balu Kanginan. “Baiklah, jual babimu, sekarang kau punya tiga juta. Keesokan harinya, janda Kawanan kembali dengan tiga juta dolar untuk membeli beras. Keesokan harinya, janda Kawanan datang dan meminta uang itu.
“Baiklah, kalau kau pakai berasnya, sekarang beras itu milikmu,” kata I Balu Kawanan. Konon, selama sekitar sepuluh hari I Balu Kawanan tidak pernah pergi ke rumah I Balu Kanginan. Sekarang datanglah Janda Kawanan. “Ayo, Beli Wayan. Kenapa kau lama tidak datang, mau ke mana?” tanya Balu Kanginan.
“Arah, itu hanya perjalanan. Aku akan melamarmu, tapi aku tidak punya beras di rumah. Jangan pergi dan ambil berasku untuk dimakan besok,” kata I Balu Kawanan. Sepertinya waktu telah berlalu, karena I Balu Kanginan tidak bisa mendapatkan beras. “Sekarang, dia setuju untuk menikah.
Konon, dia telah menikah untuk waktu yang lama sampai dia memiliki seorang putra. Setiap kali anak menangis, aku, Balu Kawanan, merawatnya. Bernyanyi sambil bernyanyi. Inilah lagunya, “Karena ada kamu karena membuat tongkat. Tongkat makan tetani, tetanmé toltol siap, siap teteh céléng, céléngé adep Nyai, uang untuk membeli beras, beras telah kajakan, makan bersama ibumu. Lagu Balu Kawanan setiap kali dia menggendong anak-anaknya yang menangis.
