I Belog Magandong


Terjemahan Cerita I Belog Magandong

Ada sebuah cerita “I Belog Magandong” Dahulu kala hiduplah seorang pria bernama I Belog, ia bertemu dengan Pan Sari. Pan Sari mempunyai seorang anak perempuan bernama Luh Sari. I Belog ingin menghibur Luh Sari tetapi ia tidak berani berbicara.

Karena ia menyayangi Luh Sari setiap hari ia pergi ke rumah Pan Sari. Suatu hari, Pan Sari mengajak I Belog untuk bekerja di sawah. Karena I Belog tidak bisa bekerja, maka I Belog memutuskan, keesokan paginya ia pergi ke sawah untuk membantu Pan Sari ditemani membawa kue putih goreng pejang-pejang di bukit yang bentuknya seperti telur penyu.

Sesampainya di sawah, I Belog bekerja bersama Pan Sari. Ia bekerja hingga siang hari, ia lapar, lalu ia pergi ke bukit untuk mengambil makanan yang telah ia siapkan pagi-pagi tadi. Kemudian ia makan ciplak-ciplak seperti ciplak-ciplak bangkungé dengan makanan yang enak. Maka Pan Sari menatap penampilan I Belog yang makan seperti itu dan bertanya, “Belog. Belog, apakah makananmu terlihat sangat enak?”

I Belog menjawab, “Telur penyu yang kutaruh di bukit.” Lalu Pan Sari berkata, “Kalau begitu, jelaskan sedikit, ayo kita cicipi.” I Belog menjawab, “Yah, aku tidak bisa makan telur penyu seperti makanan goreng.”

Karena Pan Sari begitu baik hati, ia mengajak I Belog mencicipi makanan itu. Saat mencicipinya, rasanya sangat enak hingga ia mengeluh, manis sekali, ia ingin meminta I Belog lagi tetapi sudah habis. Kemudian ia mulai berjalan di bukit untuk mengambil telur-telur itu. Setelah memeganginya dan memakannya, ia berkata, “Pakpaka bagaimana cara makan jaja beginané.” Yah, ia tidak bisa merasakan telur-telur itu, andih, pengah, sepek, lalu ia muntah sampai isi perutnya keluar utahanga. Karena itu, Pan Sari bersembunyi dan tidur di bukit.

I Belog sudah pulang. Setelah Pan Sari ingat, ia pulang dan berbicara dengan anaknya. Luh Sari berkata, “Ayah, kalau begitu, Ayah sering tertipu oleh I Belog, kalau Lutung…” Tertipu oleh I Kakua. Begitu pula aku, aku juga pernah tertipu oleh orang-orang bodoh.

Karena itu, Luh Sari kemudian menghitung bahwa ayahnya akan membunuh I Belog. Konon setelah perhitungan itu, I Belog akan dibawa ke hutan untuk bertukar duk. Pan Sari berkata, “Baiklah Cai Belog, karena sanggah sudah dituduh, ayahku akan menikahkan sanggah dengan eduk, besok aku akan meminta maaf kepada Cai dan akan membawa ayahku untuk bertukar eduk ke hutan.” Begitulah kata Pan Sari.

I Belog menjawab, “Baiklah, aku akan ikut denganmu untuk membantu ayahku mencari eduk.” Keesokan paginya mereka berjalan bersama ke hutan untuk mencari eduk. Ketika sampai di hutan, Pan Sari berkata, “Baiklah, kau turun ke bawah, aku naik ke atas untuk menjemput eduk, kau yang naik tangga!”

“Baiklah, ayo kita naik, setelah ada yang jatuh aku akan mengambilnya dan menariknya kembali.” Pan Sari naik untuk mengambil eduk, lalu membuangnya. Ketika masih muda, ia duduk bersama I Belog dan bertanya padanya. Ketika banyak debu terkumpul, ia menggulungnya dan pergi ke tengah debu yang digulung ke tanah. Kemudian tegula dari tengah eduk hingga lehernya.

Dari tengah malam I Belog berteriak. “Ayah, Pan Sari, tolong aku, aku dimakan harimau.” Begitulah ia menangis. Dari puncak pohon, Pan Sari berteriak, “Benar, jangan takut pada Iban, hadiah suka menipu orang tua.” Begitulah Pan Sari berpikir sampai ia mencapai eduk yang digulung. Ia sangat senang membawa eduk itu, karena ia yakin bahwa I Belog telah dibunuh oleh harimau, dan bahwa jantungnya akan dimakan oleh harimau seperti I Belog.

Tak lama kemudian, ia sampai di rumahnya, meletakkan eduké di pura dan kemudian Pan Sari bercerita kepada anaknya bahwa I Belog telah mati dimakan harimau. Setelah itu, I Belog keluar dari gulungan dan kembali ke rumah dengan selamat.

Karena I Belog bodoh tetapi bisa membawa (mategen) kembali dari hutan sangkal sampai sekarang di Bali jika ada orang bodoh tetapi pekél, disebut orang bodoh yang membawa. Pada akhir cerita, Luh Sari menikah dengan I Belog.