Terjemahan Cerita I Cicing Dadi Radén Galuh
Ada sebuah kisah “I Cicing Dadi Radén Galuh”. Konon, ada seekor kucing barakan yang berkutu di sana-sini. Di pagi hari ia berkelahi dengan temannya yang masih segar, hingga terluka dan berlumuran darah. Ia merasa sedikit sedih, karena semua orang membencinya. Seiring waktu, penyakitnya semakin parah, bulunya kering, kaku, dan tubuhnya terus membengkak.
Konon, saat itu, I Cicing memohon ampunan kepada Ida Sang Hyang Wasa, memohon agar ia tidak selalu dipermalukan oleh kejahatan neraka. Kucing itu menjawab, “Ya Tuhan, aku hamba-Mu dalam wujud hewan yang sangat rendah hati, aku memohon rahmat-Mu, tolong berikan aku perhatian, agar aku tidak selalu dipermalukan.” Konon, Dewa Siwa turun dan berkata: “Wahai Kucing, Aku telah mendengar kata-katamu.” “Sekarang, apa yang akan kau minta dariku, apa yang akan kau minta dariku?”
Kucing itu berkata, “Ya Tuhan, aku memohon berkat-Mu, agar aku diberkati dan tidak dikalahkan. Jika Engkau berkenan, aku memohon sebuah padma capah, agar ada orang-orang yang mempersembahkan kurban di sana, memberiku makanan.” Dewa Siwa berkata, “Baiklah, wahai Kucing, aku mengabulkan permintaanmu. Kau harus pindah ke puncak pagar yang menghadap jalan. Di sana kau tempatkan singgasana Dewi Ganggadewi, istriku. Banyak orang yang mempersembahkan kurban di sana!”
Setelah sekian lama, aku, Cicing, berubah menjadi Padma Capah, dan tinggal di puncak pagar yang dekat dengan jalan. Banyak orang mempersembahkan kurban, masaiban, dan rarapan, sehingga aku, Cicing, mendapat berkah.
Setelah beberapa bulan, aku, Cicing, kembali menjadi Padma Capah, sehingga ia menjadi marah, karena ia berpikir bahwa jika ia bergantung pada makanan dari orang-orang yang lewat, ia tidak akan pernah mendapat berkah.
Kini, ia memohon belas kasihan Tuhan lagi. “Ya Tuhan, sekarang aku memohon kepada-Mu lagi untuk memberkatiku. Aku memohon kepada-Mu untuk menjadi Radén Galuh, di negeri Kertabumi. Raja telah kehilangan putra yang sangat dicintainya yang kini telah meninggal.” “Surga”. Permintaan I Cicing dikabulkan oleh Dewa Siwa, dan ia menjadi Radén Galuh.
Raja Kertabumi sangat sedih, karena ia ditinggalkan oleh putra dan putrinya satu-satunya yang telah meninggal. Itulah sebabnya raja selalu khawatir, dan hampir meninggal.
Saat Raja Kertabumi dikunjungi oleh para menteri dan pelayannya, seorang wanita cantik muncul, mengaku sebagai dewi dari surga.
Kedatangan wanita yang merupakan putri I Cicing itu dapat membersihkan pikiran raja karena wanita itu siap menggantikan Radén Galuh yang telah meninggal. Raja sangat senang, karena ada seorang wanita untuk menggantikan putranya yang telah menjadi dewa. Sejak hari itu, I Cicing, yang dulunya peri, menjadi seorang putri, bernama Radén Galuh. Raja sangat menyayangi putranya.
Radén Galuh, sahabat I Cicing, sangat bahagia. Suatu hari, sekitar tengah malam, I Cicing kembali berdoa kepada Tuhan, memohon berkah agar ia bisa menjadi… Seorang dewa, agar ia selalu diberkati dengan segala sesuatu yang diinginkannya.
Dewa Siwa turun dan berkata, “Wahai Kucing, engkau hanyalah seekor binatang, engkau tidak memiliki rasa syukur atas karunia Tuhan, engkau selalu mengikuti hati yang jahat.
Sekarang engkau kembali menjadi kucing, tidak berguna dan tidak berharga, selalu membuat hati orang-orang yang melihatmu marah.” Begitulah kata Dewa Siwa, dan Radén Galuh kembali menjadi kucing. Itulah akibat dari orang-orang yang selalu mengikuti hati yang jahat, tidak memiliki rasa syukur.
