Terjemahan Cerita I Lelasan tekén I Sampi
Konon ada sebuah cerita “I Lelasan Tekén I Sampi” Dahulu kala, hiduplah sebuah hutan yang mengerikan yang dipimpin oleh I Sangmong. Ketika ia ingin menghakimi karakter hewan-hewan yang telah berbuat salah, I Sangmong dibantu oleh I Lutung. Konon sekarang, I Lutung akan menghakimi I Tumisi, I Capung Bangkok, I Blatuk, I Kunang-kunang, I Beduda, dan I Sampi.
Yang pertama pergi ke pengadilan adalah I Tumisi, ia bertanya, “Wih … Iba Tumisi, né semua kenyamanan makaengan, jadi mengapa Iba ileh-ileh selalu membawa rumah, Ibi tidak suka tinggal di sini?” tanya Lutung.
Lalu I Tumisi menjawab, “Maafkan aku, Jero Lutung, itu sebabnya aku takut padanya, I Capung Bangkok, dia selalu datang membawa tombak. Kalau dia berhenti membawa tombak, aku juga akan berhenti membawa rumah.”
Karena kami melihat I Tumisi, lalu mencari I Capung Bangkok dan I Lutung, kemudian bertanya, “Wih… Iba Capung Bangkok, karena kamu I Tumisi ileh-ileh membawa rumahnya.”
I Capung Bangkok menjawab, “Ini Jero Lutung, yang memanggilku untuk membawa tombak, karena saudara I Blatuk memukul bola. Kupikir ada pancabaya.”
Setelah mendengar jawaban I Capung Bangkok, kalau ada bambu, sebaiknya keluar dengan gegawan, pelihara pancabaya di sana agar mudah membantu. Maka Lutung pergi ke Blatuk dan bertanya padanya, “Wih… Kamu Burung Blatuk, kenapa kamu menggali lubang biru?” Hingga I Capung Bangkok keluar membawa tombak. “Ada apa?”
Blatuk menjawab sekarang, dengan suara seperti ini. “Ketika Jero Lutung, alasan mengapa aku memukul bel, karena aku Kunang-kunang ileh-ileh membawa api. Aku takut, besok rumah keluarganya terbakar.” Sekali lagi, Lutung merasa bahwa tidak salah bagi Blatuk untuk menggali lubang. Jadi dia menatap Kunang-kunang dan bertanya, “Oh Kunang-kunang, mengapa kau membawa api? Kaulah yang menyebabkan Blatuk memukul kulkul.”
Kunang-kunang menjawab, “Benar, Jero Lutung. Itulah mengapa aku selalu membawa api, karena aku Beduda selalu menggali tanah di jalan. Jika aku tidak membawa api, jalan tidak akan aman untuk dilewati di malam hari. Sekarang, aku Beduda berbalik dan bertanya, “Wih … Iba Beduda, né Iba selalu ngusak-nguakang jalan, sampai aku Kunang-kunang membawa sundih ngentasin jalan.” “Nak, kenapa ada jalan Urek Iba?”
Beduda menjawab, “Beginilah kedengarannya.” “Baiklah, Jero Lutung, kalau kotoran sapinya sebesar itu, maukah kau membiarkannya jatuh di jalan? Aku menggali jalan karena aku membantu keluargaku agar tidak menginjak kotoran sapi. Raja pergi dan melihat jalan itu bersih dari kotoran. Karena itulah aku membuang kotoran sapi itu.”
Sekarang lihat sapi itu dan tanyakan, “Oh sapi, kau benar-benar tidak punya perasaan, selalu buang kotoran di jalan. Karena itulah aku, Beduda, menggali jalan untuk membuang kotoranmu.” Konon sapi itu tidak menjawab. Di sana, I Sampi dihukum, karena ia melarikan diri dari kemakmuran dunia, tidak memperhatikan kebersihan lingkungan. Sekarang sapi itu bisa menjadi makanan Raja Sangmong.
Konon I Sampi menangis tersedu-sedu karena mengira akan dimakan oleh I Sangmong. Sekarang ia melihatnya, teringat pada I Lelasan. Lelasan bertanya, “Oh, Sampi, mengapa kau menangis seperti anak kecil? Sapimu begitu besar dan kuat, sehingga kau bisa menangis sleguk-sleguk? Ada apa?”
I Sampi menjawab, “Lelasan, mengapa aku menangis seperti ini? Karena aku salah dan dijatuhi hukuman mati, karena aku keluar ke jalanan, aku akan dimakan oleh Raja I Sangmong.”
Lelasan menjawab, “Baiklah, jika hanya itu yang membuatmu menangis, jangan terlalu sedih, aku akan siap membantu, biarkan aku melawan I Sangmong. Cepat pergi, katakan padaku apa yang kau makan!”
Sekarang I Sampi akan bertemu dengan I Sangmong. Ketika mereka bertemu, sapi itu berkata, “Ratu Sang Prabu, aku benar-benar salah, aku bukan hyunanmu. Tetapi ada pesan dari I Lelasan bahwa aku harus datang ke sini karena dia ingin memperebutkan tahta Cokoridéwa.” Jika dia jahat, maka aku akan disebut sebagai hyunanmu, Paludéwa.”
I Sangmong menjawab dengan marah, “Bagaimana bisa, Sampi, I Lelasan ingin bersaing denganku? Kenapa dia tidak bisa berdiri, dia tidak mengenalku? Aku kuat, perkasa, gigiku garang-garang, kukuku lanying-lanying, jangan anggap dia hewan yang rendah hati, kecil, jika kau berani berkelahi, aku akan melawanmu. I Lelasan, di mana dia ingin bersaing?”
Sapi itu menjawab, “Lelasan akan menemani Cokoridéwa ke ladang bambu besok.” “Baiklah, kalau begitu aku siap. Pergi beri tahu dia, I Lelasan, cepat pergi!” jawab Sangmong.
Tak lama kemudian, keesokan harinya, I Sangmong dan I Lelasan bertarung di ladang bambu, sementara I Lelasan menatap I Sangmong yang membuatnya sangat marah.
Lalu I Sangmong akan mendengarkan suara tongkat bambu sampai giginya tertancap di tongkat bambu tersebut.
Di situ, I Sangmong kalah dalam pertandingan melawan I Lelasan. Dan sapi itu lolos dari dandapati. Itulah sebabnya sampai sekarang persahabatan antara I Sampi dan I Lelasan sangat erat. Jika ada Lelasan yang bertarung dengan ular, dan jika ular itu terjebak di kotoran sapi, dia tidak akan dikalahkan oleh ular tersebut.
