I Lutung Nayanin Kak Dukuh


Terjemahan Cerita I Lutung Nayanin Kak Dukuh

Ada sebuah cerita “I Lutung Nayanin Pekak Dukuh”. Konon, Lutung dan Kakua mulai akrab. Lutung sering digoda oleh Kakua. Kemudian ia mencuri biu dari ladang Pekak Dukuh. Saat Lutung sedang makan biu, Pekak Dukuh datang mengunjungi ladangnya. Di sana ia mendapati Lutung sedang bernyanyi. Inilah lagunya, “I Kakua di bawah pohon”. I Kakua melanjutkan dari bawah pohon, “I Lutung di bawah pohon melut biyu”.

Karena mereka sering bernyanyi seperti itu bersama, maka Pekak Dukuh teringat lagu itu. Lalu Dukuh membuka mulutnya, melihat I Kakua ngesil, kemudian ejuka membawanya pulang. Ketika sampai di rumah, ia melihat I Kakua di dapur. Pekak Dukuh memanggil cucunya yang bernama Luh Kancerung, “Wih Luh… pergilah ke toko, belilah beberapa bahan masakan untuk Kak memasak bé kakua.”

Mendengar kata-kata Pekak Dukuh bersama cucunya Luh Kancerung yang sangat berguna itu, Kakua teringat. Kini cucunya membawa bahan masakan dari pasar. Tak lama kemudian Pekak Dukuh membuat beberapa bahan masakan, ada bahan masakan rajang, bahan masakan kesuba cekuh, dan bahan masakan lainnya.

Tak lama kemudian, saat Pekak Dukuh sedang berbicara, Lutung datang menghampiri Kakua. Kakua bertanya, “Kakua… Kakua, kau di sini sekarang, sebentar lagi kau akan dimakan, digunakan untuk sate, kelelawar, dan lain-lain.”

“Ih … Lutung jadi karena kau pikir, kau tidak tahu aku akan menunggu cucu Pekak Dukuh? To, to, not Iba grandson jegég ngonér ané maboréh kuning.

Lutung menjawab, “Kalau begitu, jangan biarkan aku tinggal di sini agar aku bisa menikahi wanita cantik, cucu Pekak Dukuh. Kalau kau menikahinya, kau tidak pantas karena penampilanmu jelek, lecé flower, pendek, dan mapepelan. tidak cocok.

I Kakua menjawab, “Meskipun kau cantik, karena aku punya pedumané, pendek aku tidak memberimu karena aku ingin menikahinya.” Ketika I Lutung meminta I Kakua untuk menikahinya, Lutung melihatnya berbaring di sana dan tertawa, sangat ingin menikah. Karena Lutung ada di sana, Kakua berlari ke sungai.

Setelah Pekak Dukuh selesai berbicara, Luh Kancerung menyuruhnya mengambil tongkat dan berkata, “Luh, pergi ambil tongkat itu dan bawa ke sini!” Kemudian Luh Kancerung akan memeriksa I Kakua. Ketika sampai di sana, ia terkejut karena Lutung tersenyum.

Luh Kancerung berlari ke rumah kakeknya. “Kakek, kakek, I Kakua sedang tumbuh gigi. Lalu Pekak Dukuh pergi ke I Lutung untuk memotong giginya. Ketika sampai di sana, I Lutung tersenyum. “Nah, sekarang I Lutung sudah besar, dia lebih besar dari I Kakua.” “Sekarang kau akan dibantai.”

Kemudian, Lutung teringat bahwa ia telah digoda oleh Kakua. Kakek, Kakek, jika Kakek membantaiku, aku tidak bisa mati, jika Kakek yang membantai, tidurkan tubuhku dengan duk, di ujung kakiku gantungkan biyu aijas agar ada bekal bagi jiwaku untuk kembali ke kadituané.

Saat Lutung mengatakan itu, tubuhnya menjadi semakin berbeda, dan ia menggantungkan biyu di ujung ekornya. Kemudian eduké itu ditusuk oleh Pekak Dukuh.

Karena api sudah sangat besar, Lutung melompat dan menyerang rumah kakek Dukuh, menyebabkan api membakar rumah Kak Dukuh. Lutung melemparkan dirinya ke sungai. Setelah api padam, ia memanjat batu sambil memeluk biyu.