Panyasap Loba ring Manik Bumi


Terjemahan Cerita Panyasap Loba ring Manik Bumi

Konon, di zaman dahulu kala, di kaki Gunung Agung yang rimbun, terdapat sebuah desa yang sangat indah bernama Desa Manik Bumi. Desa ini terkenal dengan pepohonannya yang besar, sungainya yang jernih, dan pohon-pohon buahnya. Penduduk desa hidup dari hasil bumi, tetapi seiring waktu, rasa syukur di hati manusia berkurang, digantikan oleh keserakahan.

Di desa ini, orang-orang semakin melupakan perilaku baik, terutama tentang melindungi lingkungan. Para pemuda dan pemudi di desa tersebut memupuk kemurahan hati di hati mereka. Karena ingin membangun rumah besar dan mencari kekayaan di kota, mereka menebang pohon-pohon besar di tengah hutan setiap hari.

“Kayu ini sangat penting. Jika kita menjualnya, kita akan menjadi kaya!” kata salah seorang penduduk desa sambil menebang pohon Bingin yang berusia ratusan tahun.

Jero Mangku, sebagai pemimpin upacara di desa tersebut, memberikan peringatan;

“Jangan, kau… jangan tebang pohon itu. Pohon adalah ‘payung’ bumi. Jika alam dihancurkan, para dewa akan marah. Karma tidak akan pernah dilupakan.”

Namun, nasihat Jero Mangku ternyata membawa keberuntungan. Penduduk desa bahkan tertawa. Mereka tidak peduli dengan sungai yang menjadi tempat pembuangan sampah dan bangkai hewan. Sungai paling suci yang digunakan setiap hari untuk mandi dan beribadah, kini menjadi kotor dan banjir.

Pada saat Sasih ketujuh, langit yang biasanya cerah, tiba-tiba menjadi gelap gulita. Angin kencang merusak pohon-pohon yang tersisa. Para dewa di Gunung Agung konon marah melihat hati manusia yang tidak memiliki rasa pengabdian kepada alam.

Tiba-tiba, hujan turun deras selama tujuh hari tujuh malam tanpa henti. Sungai yang biasanya tenang, kini menjadi lebih besar, membawa lumpur, batu, dan kayu yang telah ditebang manusia.

Di tengah malam, suara air terdengar seperti gempa bumi. Rumah-rumah reyot yang Hancur akibat penebangan hutan, kini konon hanyut terbawa banjir. Suara orang-orang berteriak minta tolong memenuhi dunia.

“Ya Tuhan, maafkan aku… maafkan aku!”

Maka orang-orang menangis dan memotong rambut mereka, tetapi air semakin tinggi.

Di sana, penduduk desa melihat bahwa pohon-pohon yang telah ditebang kini hanyut terbawa air dan menghantam rumah mereka. Kayu yang dulunya untuk mendapatkan kekayaan, kini menjadi senjata yang menghancurkan kehidupan. Inilah Karmafala dari kenyataan.

Ketika matahari terbit di pagi hari, Desa Manik-Manik Bumi rata dengan tanah. Yang tersisa hanyalah lumpur hitam dan air mata penduduk desa yang kehilangan keluarga mereka. Jero Mangku, yang selamat karena berada di tempat yang tinggi, duduk diam dengan air mata di matanya.

Di tengah lumpur, ada seorang anak yang menangis sambil memegang sebatang pohon cempaka kecil yang tidak tenggelam.

Anak-anak itu merasa bahwa hanya pohon itu yang dapat melindungi mereka dari tenggelam.

Dari bencana itu, penduduk desa yang selamat kini sadar. Ia menangis dan menyesali bahwa alam telah Bukan sesuatu yang bisa digaruk seenaknya. Alam adalah “Ibu”, yang menyusui manusia. Jika leher Ibu dipotong, ia akan marah.

Para dewa telah memberikan pelajaran yang sangat pahit: Pengabdian kepada para dewa tidak cukup hanya dengan mantra, tetapi harus disertai dengan pengabdian untuk menjaga pekerjaan-Nya.

Sekarang, Desa Manik Bumi sedang dibangun kembali. Tetapi sekarang tidak ada yang berani menghancurkan hutan. Setiap kali penduduk desa melewati sungai, mereka menundukkan kepala, mengungkapkan rasa syukur, dan mencoba menanam pohon baru. Mereka sekarang tahu bahwa kehidupan yang bahagia hanya terjadi ketika manusia, alam, dan para dewa dapat bersatu.


Pesan dari Kisah Ini:

  1. Karma Alam : Apa pun yang kita lakukan di alam, itu akan kembali kepada kita. Menghancurkan hutan adalah menabur bencana.
  2. Pelajaran dari para dewa : Bencana bukan hanya bencana, tetapi suara para dewa agar manusia mengingat “Sesana” sebagai penjaga bumi.
  3. Rasa Syukur : Kehidupan di zaman dahulu menuntun kita untuk selalu bersyukur kepada semua pohon dan sungai, karena itu adalah sumber kehidupan yang sebenarnya.