Terjemahan Cerita Pasawitran Sehidup Semati
Konon, di desa Bukit Mabuat, terdapat dua anak yang setiap hari bepergian bersama, bekerja bersama sejak kecil hingga dewasa. Salah satunya bernama I Wayan Gati, seorang pria dari keluarga miskin, namun pekerja keras dan cerdas. Yang lainnya bernama I Made Kerta, seorang pria kaya namun tidak sombong, selalu menyayangi teman-temannya.
Di bawah pohon ringin besar di depan pura desa, Wayan dan Made pernah berbicara, bersumpah kepada bumi dan langit. “Made, ketika besok kita sudah tua, apa pun yang terjadi pada kita, kita tidak akan terpisah. Hidup dan mati, bahagia dan duka bersama,” kata I Wayan sambil tersenyum. Made Kerta tersenyum, “Wayan, sumpah ini telah didengar oleh Sang Hyang Akasa. Siapa pun yang berbohong, dia akan mendapatkan karmanya.”
Tahun-tahun berlalu, hidup seperti roda pemintal. Made Kerta menjadi lebih kaya, bisnisnya berkembang ke luar negeri. Wayan Gati tetap menjadi petani, tetapi dia bahagia. Meskipun Made kaya, dia tidak pernah melupakan Wayan. Setiap kali dia kembali ke desa, dia selalu menemani Wayan ke sawah, duduk bersama di gubuk, makan nasi bersama.
Namun, hidup tidak selalu cerah. Suatu hari, Made Kerta mengalami bencana besar. Bisnisnya mengalami kerugian total, dia ditipu oleh mitra bisnisnya di kota. Kekayaannya habis, rumahnya disita, dan dia menderita penyakit parah. Made sekarang menjadi orang miskin, tubuhnya hancur, kakinya lumpuh dan tidak bisa berjalan. Teman-teman kayanya di kota semuanya melarikan diri, tidak ada yang memperhatikannya, beberapa bahkan menertawakannya.
Made Kerta kembali ke desa dengan kursi roda. Dia merasa malu, dia merasa seperti beban. Dia tidak berani bertanya. Wayan Gati merasa tidak pantas berteman dengan orang pekerja keras seperti Wayan.
Wayan Gati yang mendengar kabar itu kemudian mengantar Made ke rumahnya yang reyot. Di sana Wayan melihat Made menatap dengan air mata di matanya. “Made, kenapa kau tidak memberitahuku?” tanya Wayan sambil mengusap bahu Made. “Wayan… sudahlah. Aku sekarang orang yang sederhana. Aku tidak punya apa-apa. Kita bersumpah untuk tidak malu, lupakan saja. Aku tidak ingin membuat Wayan menderita,” kata Made dengan air mata di hatinya.
Wayan Gati duduk di tanah, di depan kursi roda Made. “Made, ingat perasaan kita dulu? Hidup dan mati. Sumpah itu tidak terikat pada uang, tetapi terikat pada hati. Jika Made sedih, aku juga sedih. Jika Made lumpuh, kakiku juga terasa panas.”
Sejak hari itu, Wayan Gati mengundang Made untuk tinggal di rumahnya. Setiap pagi, Wayan mengajak Made ke sungai untuk mandi. Setiap kali pergi ke sawah, Wayan meminta Made untuk menempatkannya di sebuah gubuk agar ia bisa melihat matahari dan merasakan angin desa. Wayan tidak pernah mengeluh, meskipun ia harus bekerja dua kali lipat untuk mencari makanan dan obat-obatan untuk Made.
Ada penduduk desa yang bertanya, “Wayan, mengapa Made Kerta begitu kuat? Dia tidak punya apa-apa, hanya membuat Wayan ruyud dogen.” Wayan Gati hanya tersenyum getir. “Ini bukan tentang membantu orang miskin, ini tentang melindungi ‘Satya’. Jika aku memukulnya sekarang, maka aku akan mendapatkan karma sebagai penjahat.”
Tujuh tahun kemudian, penyakit Made memburuk. Di tempat tidurnya, Made menggenggam tangan Wayan. “Wayan… terima kasih. Karma baik Wayan akan selalu menyertai. Kurasa sudah waktunya…” Wayan menangis getir. “Made, bersama-sama.” Janji itu adalah hidup dan mati.”
Malam itu, Made Kerta meninggal dengan tenang. Yang menarik adalah, tepat pada saat yang tepat, ketika Wayan Gati bertemu dengan jenazah temannya, Wayan juga merasa jantungnya tenang, matanya gemetar, lalu ia pun duduk di samping Made Kerta.
Desa Bukit gempar. Kedua sahabat itu menghilang dalam waktu singkat. Dikatakan di desa, itu adalah kebenaran dari “Setia pada Persahabatan”. Karma baik Wayan yang dengan tulus menepati janjinya, dan karma Made yang selalu mencintai, membuat kedua jiwa itu dapat berjalan bersama ke dunia.
Mulai sekarang, di bawah pohon ringin, penduduk desa selalu mengingat: “Sahabat, janganlah seperti kucing dan anjing, tetapi hendaklah seperti kuku dan daging. Jika salah satu dari mereka sakit, keduanya merasakan sakit.”
Pesan Moral & Filosofi Karma:
- Satya (Kesetiaan) : Kisah ini menunjukkan bahwa janji sangat penting dalam kehidupan masyarakat Bali. Satya hredaya (setia pada hati) dan Satya wacana (setia pada ucapan) akan memberikan jalan yang terang.
- Karmaphala : Wayan Gati mendapatkan karma baik berupa “Kedamaian Pikiran” dan cahaya jalan di alam gaib karena ketulusannya. Dia tidak menderita karma linyok yang dapat menyebabkan penderitaan bagi jiwa.
- Esensi persahabatan : Sahabat sejati bukanlah untuk dicari ketika kita kaya, tetapi untuk dilindungi ketika kita miskin. Persahabatan seumur hidup dan sampai mati adalah hubungan karma yang sakral.
