Terjemahan Cerita Prabhu Watugunung
Ada sebuah kisah dalam bahasa Bali tentang raja yang memerintah negeri Gilingwesi. Namanya dikenal di dunia sebagai Prabhu Watugunung. Raja Watugunung mempunyai dua istri. Kedua istrinya sangat cantik, tak ada tandingannya di dunia maupun di surga.
Konon para malaikat di surga pun merasa terintimidasi oleh kecantikannya. Istri pertama bernama Dewi Sinta, istri kedua bernama Dewi Landep. Raja Watugunung memang memiliki pasukan yang besar dan sangat kuat. Pasukan dan rakyat di wilayah Gilingwesi sangat setia kepadanya. Raja Watugunung mempunyai 27 (dua puluh tujuh) putra, semuanya berprestasi. Nama-nama putranya adalah: Ukir, Kulantir, Tolu, Gumbreg, Wariga, Warigadian (Warigalit), Julungwangi, Sungsang, Dunggulan, Kuningan, Langkir, Medangsia, Pujut (Julungpujut), Pahang, Krulut (Keruwelut), Merakih, Tambir, Medangkungan, Ukir, Ukir, Metail, Balagu, Balagu Wayang, Kelelawar, dan Rumput. Semua putra itu lahir dari ibu yang sama, Dewi Sinta.
Kisah Bali berlanjut, Kisah ini sekarang pada masa itu, memang benar bahwa tidak dapat dihitung. Apa yang mungkin hilang, tangkapan akan datang. Negeri Gilingwesi terkenal dengan keindahan dan kebijaksanaannya. Para prajurit berada dalam kesusahan besar, dan mereka gemetar setiap hari tanpa henti. Bulan berada di musim yang salah, panasnya menyengat, meskipun sedang musim hujan. Akhirnya, tanah Gilingwesi menjadi semakin miskin. Tanaman asing yang ditanam tidak berbuah, panen asing semuanya mahal.
Di seluruh negeri Gilingwesi, pada waktu itu, terdapat banyak tanda dan gejala. Bintang yang mengepul bersinar hampir seharian di langit barat daya. Bintang Mars tiba-tiba muncul seolah meminta poros planet. Untuk cerita-cerita Bali lainnya, klik di sini.
Saya akan melanjutkan cerita dalam bahasa Bali, Raja Watugunung sangat sedih melihat rakyatnya menderita. Mengenai hal ini, Raja Watugunung berpikir dan berdiskusi di halaman istana bersama pepatih dan bahudanda Tanda Mantri. Jika negeri Gilingwesi hancur, maka kerajaan Raja Watugunung akan runtuh. Setelah pertempuran usai, Raja Watugunung benar-benar tidak bisa mendapatkan kemenangan yang baik. Oleh karena itu, Raja Watugunung menikahi permaisurinya, Dewi Sinta. Raja Watugunung memutuskan untuk menghabiskan waktu bersama istrinya di aula yang telah disiapkan. Silakan menikmati karasmin. Dewi Sinta tidak mau menolak, menawarkan diri untuk menjadi istri. Begitu pula Dewi Landep, tidak mau menolak. Epot menawarkan jasanya kepada Raja Watugunung.
Ketika Raja Watugunung tidur di istana, mahkotanya diletakkan. Saat itu, Dewi Sinta dapat menyaksikan wajah raja. Seketika Dewi Sinta terkejut karena terdapat luka yang sangat parah dan masih bernanah. Karena itu, Dewi Sinta memutuskan untuk bertanya, “Apa yang membuat rajamu begitu marah?” Raja Watugunung dengan senang hati menjawab dan menceritakan semuanya. Konon, ketika Raja Watugunung masih kecil, ia adalah anak yang sangat nakal. Karena kekuatannya, ketika ibunya melempari pisau, karena ibunya terbakar amarah, Raja Watugunung menjadi sedikit mecara, hingga ibunya marah. Raja Watugunung kemudian memukul raja dengan ujung pedangnya. Hingga mengeluarkan banyak darah. Karena itu, anak itu menjadi patah hati, lalu pergi meninggalkan rumah ibunya, berjalan-jalan dengan linglung.
Ketika Raja Watugunung menceritakan kisahnya, Dewi Sinta sangat terkejut mendengar cerita Raja Watugunung. Blegbegan sangat sedih. Kemudian Dewi Sinta teringat akan situasi di masa lalu, memang Dewi Sinta pernah mampu menikam putra raja dengan pisau dan putranya menghilang hingga kini tak dapat ditemukan. Hal ini menurut cerita Raja Watugunung. Rasa sedihnya tak tertahankan, dosa besar tak pernah terbayangkan, apalagi jika dipikir-pikir lagi. Tubuhnya seperti wanita yang menikah dan memiliki anak. Karena itu, Dewi Sinta memutuskan untuk berpisah dan tidak lagi bisa menjadi istri Raja Watugunung.
Karena Raja Watugunung mendengar situasi itu dengan tenang, maka ia bertanya, “Dewi Sinta, kau begitu diam, mengapa kau diam saja?”
Dewi Sinta tidak ragu menjawab pertanyaan Raja Watugunung. Bahkan, yang ada di benaknya hanyalah kekaguman akan kebesaran dan kekuasaan Raja Watugunung.
Namun, seperti yang dikatakan Dewi Sinta, Raja Watugunung, meskipun perkasa, belum mampu menaklukkan surga dan belum menikahi dewi dari surga. Menurut pikiran Dewi Sinta, jika Raja Watugunung menikah dengan seorang dewi dari surga, akan terjadi perang, Raja Watugunung akan dikalahkan, dan pasti Raja Watugunung yang membawa dirinya sendiri akan menjadi dewa. Ia menggunakan ini sebagai cara untuk berpisah dari Raja Watugunung.
Ketika mendengar kata-kata Dewi Sinta, Raja Watugunung memutuskan untuk menikahi seorang dewi di surga. Ia kemudian memerintahkan para pepatih, punggawa, dan tentara untuk segera bersiap menikah atau jika tidak mau dan diizinkan dipukuli di Suralaya.
Di Suralaya, Dewa Siwa mengetahui bahwa Raja Watugunung akan menyerang surga, kemudian mengadakan pertemuan, dan menentukan kebijaksanaan yang digunakan untuk mengalahkan Raja Watugunung ketika ia naik ke surga. Sebagian besar dewa tidak merasa mampu menghadapi kekuatan Raja Watugunung, kecuali Dewa Wisnu.
Saya melanjutkan cerita ini dalam bahasa Bali. Oleh karena itu, ringkasan percakapan di Suralaya, Dewa Siwa mengutus Dewa Narada untuk menemui Dewa Wisnu, dan Dewa Wisnu setuju. Pada hari Minggu Kliwon minggu Watugunung, Dewa Wisnu mengucapkan selamat tinggal kepada para dewa, ditem ditemani oleh pasukannya untuk berperang, menunggu kedatangan Raja Watugunung. Memang, kedua komandan telah bertemu di medan perang. Karena merasa bahwa Raja Watugunung tidak dapat mengalahkan Dewa Wisnu, maka Raja Watugunung meminta pertempuran di medan perang, dan digantikan oleh pertempuran utama berupa sastra, yang dilemahkan dengan teka-teki penebusan. Jika Dewa Wisnu dapat menebak, Raja Watugunung mengakui kekalahan dan siap untuk dibunuh, demikian pula, jika Dewa Wisnu tidak dapat menebak isi teka-teki Raja Watugunung, para dewa di Suralaya harus mengatur dan menyerahkan semua dewi untuk dinikahi oleh Raja Watugunung.
Dewa Wisnu yang telah diberi kebijaksanaan, mengetahui keadaan etika, wartamana, nagata, terutama dalam bentuk tebag-tebagan, benar-benar dapat memenuhi permintaan Raja Watugunung. Oleh karena itu, Raja Watugunung mengeluarkan teka-teki sebagai berikut: “Ada pohon-pohon kecil dan lemah tetapi buahnya besar, tetapi ada juga pohon-pohon besar dengan buah kecil, apakah itu?”
Teka-teki itu langsung dijawab oleh Dewa Wisnu, seolah-olah ia tidak merasa kesulitan. Pohon-pohon yang disebut kecil dan lemah adalah pohon sumangka. Dan pohon-pohon yang berbuah kecil tidak lain adalah pohon bingin. Karena telah mendengar jawaban Dewa Wisnu, Raja Watugunung seperti tongkat yang tidak bisa berbicara, merasa bahwa ia jahat. Dewa Wisnu segera menangkap dan menahan Raja Watugunung dan membayanginya serta menusuknya dan pada hari Jumat Senin Raja Watugunung meninggal. Hari kematian Raja Watugunung disebut Sandung Watang.
Keesokan paginya, Anggara Paing, jenazah Raja Watugunung dimakamkan oleh Dewa Lumanglang, sehingga hari itu disebut hari pemakaman. Pada hari Rabu Pon datanglah Buddha, Raja Watugunung hidup kembali, tetapi hanya karena ia dibunuh lagi oleh Dewa Wisnu. Pada hari Jumat Kliwon, Dewa Siwa mengetahui kematian Raja Watugunung, dan membangkitkannya kembali. Ketika Dewa Wisnu ingin membunuh Raja Watugunung, ia dihentikan oleh Dewa Siwa. Ia tidak diperbolehkan untuk dibunuh lagi.
“Wahai Dewa Wisnu, jangan lagi kau bunuh Raja Watugunung, sehingga ada cerita di bumi!”, demikian kata Dewa Siwa. “Wahai Dewa, pemimpin para dewa. Raja Watugunung memang seorang pendosa besar. Ia menikahi ibuku. Bukankah itu contoh yang buruk?” Dewa Wisnu tampak berani menolak kata-kata Dewa Siwa.
“Oh benar… benar seperti yang kau katakan, Ayah menekankan sekarang. Di masa depan, jangan menikah dengan orang tua. Ila-ila dahat, apa itu mencemari bumi, melanggar aturan penciptaan!”, demikian maksud kata-kata Dewa Siwa.
Kisah Bali selanjutnya, Dewa Wisnu mampu mengutuk Raja Watugunung; “Wahai Watugunung, karena dosamu yang besar, aku akan menghukummu. Jaksumat, biarlah kau jatuh selama enam bulan.” Raja Watugunung berkata, “Ya Tuhan, aku mengikuti firman-Mu. Jika aku jatuh ke laut, bumi akan menjadi panas, sehingga aku tidak akan kedinginan. Jika aku jatuh di tanah kering atau ladang, maka akan turun hujan di bumi, sehingga aku tidak akan kepanasan.”
Permintaan Raja Watugunung dikabulkan. Ketika candi Watugunung runtuh, hal itu juga menyebabkan karakter wuku hidup kembali di antara para dewa. Berkat berkah Dewa Siwa, minggu-minggu dijalani setiap hari Minggu. Dari hari Minggu dihitung tiga puluh minggu. Karena permintaan Dewa Narada kepada Dewa Siwa, maka Dewa Wisnu diminta untuk turun ke bumi untuk menjaga dunia dan isinya. Terutama ketika dunia akan berakhir, sehingga Dewa Wisnu turun untuk melindungi dunia. Itulah sebabnya bumi dan isinya kembali ke keadaan semula. Kehendak Tuhan dipatuhi, Dewa Siwa adalah penyebab semuanya.
Demikianlah kisah dalam bahasa Bali, mengenai isi cerita di atas, Tuhan turun dalam wujud Dewi Saraswati untuk memberikan cahaya suci dan pengetahuan kepada manusia, melalui pemberian ini, manusia di bumi sangat menyadari dirinya sendiri, dan dapat melakukan perbuatan baik.
