Sunar Galang ring Sanggah Kemulan


Terjemahan Cerita Sunar Galang ring Sanggah Kemulan

Di sebuah desa terpencil di puncak bukit, hiduplah sebuah keluarga yang sangat sederhana. Ada seorang ibu tua bernama Dadong Niang, dan anak tunggalnya, I Putu Darma. Rumah mereka adalah sebuah gubuk, dengan atap bambu yang berlubang. Saat hujan, Putu dan ibunya harus duduk di sudut rumah mereka agar tidak basah.

Setiap kali ada upacara di pura desa, Putu selalu merasa sakit hati. Bukan karena dia tidak memiliki kacamata baru, tetapi karena penduduk desa diam-diam selalu meremehkannya.

“Putu, kau tidak punya banten gumianten yang rendah. Hanya dengan base dan canang sungsang. Apa yang akan kau berikan kepada leluhurmu jika hanya itu bantenmu?” kata I Gede Kaya, orang terkaya di desa itu, sambil tertawa di depan orang banyak.

Putu Darma hanya membungkuk. Air mata menetes di tanah. Dia tidak berani menjawab. Ibunya, Dadong Niang, kemudian mengisi tangan Putu dan berkata dengan lembut, “Putu, jangan bersedih. Leluhur kita tidak membawa persembahan yang tinggi, tetapi membawa ketulusan hati. Tetaplah beribadah, teruslah berusaha.”

Setiap malam, ketika desa sunyi, Putu Darma selalu duduk masungsat di depan Sanggah Kemulan (kuil leluhur) yang reyot dan kotor. Ia tidak meminta uang, ia hanya bersumpah dalam hatinya: “Ya Tuhan, berilah aku waktu untuk menyucikan nama pertamaku.” “Aku akan melakukan yang terbaik, agar ibuku tidak lagi menjadi bahan tertawaan.”

Putu kemudian meninggalkan desa. Ia pergi ke kota, bekerja apa pun yang bisa ia lakukan. Ia bekerja sebagai buruh kasar, penyapu jalan, dan bahkan tukang sepatu. Setiap uang yang didapatnya selalu dikirim ke desa untuk ibunya membeli beras. Uang lainnya dikumpulkan sedikit demi sedikit.

Yang menarik, Putu tidak pernah lupa untuk mempersembahkan sedekah setiap bulan purnama dan bulan baru, meskipun hanya sedekah sari yang dibeli di pasar. Ia merasa bahwa kekuatannya di kota adalah “anugerah” dari leluhurnya di desa.

Tujuh belas tahun berlalu.

Suatu hari, sebuah mobil yang sangat bagus datang ke desa. Penduduk desa semuanya terkejut. Mobil itu berhenti di depan gubuk Dadong Niang. Dari tengah mobil, keluarlah seorang pria tampan, mengenakan jilbab sutra, dan wajahnya berseri-seri. Namun, ia tampak sangat tampan.

Namun, Putu tidak memamerkan kekayaannya. Hal pertama yang dilakukannya adalah masuk ke gubuknya dan bersujud di kaki ibunya. “Aku… Putu pulang.” “Putu sekarang sudah menjadi anak kecil,” katanya sambil menangis.

Dadong Niang, yang matanya mulai kabur, memeluk putranya seerat mungkin. “Putu… Ibu tidak butuh kekayaanmu, Ibu hanya ingin Putu aman.”

Minggu itu juga, Putu Darma mengadakan upacara besar. Tapi itu bukan upacara untuk kesombongan. Ia menyewa tukang bangunan terbaik untuk membangun “Pamerajan” atau Sanggah Kawitan yang sangat indah. Kuil Kemulane, yang dulunya dilapisi emas, sekarang diukir dengan emas dan sangat indah.

I Gede Kaya, seorang pria kaya yang selalu malu untuk kembali kepada Putu, kini datang untuk memberi hormat. Ia merasa malu, karena sekarang kehidupan Putu jauh lebih tinggi daripada hidupnya. Tapi Putu Darma tidak ingin balas dendam. Ia bahkan mengundang Gede Kaya untuk makan bersamanya.

“Gede, tidak ada gunanya kita saling bersalaman.” “Terima kasih, karena pendapat Gede membuatku semakin bersemangat untuk mencoba,” kata Putu dengan sangat tegas.

Di puncak upacara Dewa Yadnya di puranya, Putu duduk di samping ibunya. Ia merasakan aura hangat menembus tubuhnya. Ia merasakan leluhurnya tersenyum dari keabadian. Putu menangis selama doa, bukan tangisan sedih, tetapi tangisan sukacita yang sangat dalam.

Ia kini tahu bahwa kesuksesan adalah kombinasi dari Karmaphala (hasil kerja kerasnya) dan Pitra Rin (hutang budi kepada leluhur). Ia yang dulunya dianggap sebagai orang rendahan, kini menjadi orang hebat yang dihormati oleh penduduk desa.


Pesan dari Kisah Ini:

  1. Pesan : Jangan pernah meremehkan seseorang karena orientasi seksualnya. Roda kehidupan selalu berputar.
  2. Pengabdian kepada leluhur : Dalam adat Bali, leluhur disebut “Dewa Hyang”. Pengabdian kepada leluhur dan orang tua (Guru Rupaka) adalah cara terpenting untuk mencapai kestabilan hidup.
  3. Ketulusan : Tuhan dan leluhur tidak menunjukkan ukuran banten, tetapi menunjukkan ketulusan yang kecil. dari hati yang memberi.