Tresna Asih Rerama


Terjemahan Cerita Tresna Asih Rerama

Di pinggir desa yang indah itu, terdapat sebuah rumah tua yang telah hancur. Di sana tinggallah Pan Sari, namanya. Pan Sari hidup sendirian, karena suaminya telah meninggal dua puluh tahun yang lalu. Ia telah membesarkan anak tunggalnya, Ni Putu, sejak kecil hingga sekarang. Setiap pagi, sebelum matahari terbit, Pan Sari bangun. Ia menyapu halaman, mempersembahkan sesaji di kuil, dan menyirami pohon-pohon yang layu.

Ni Putu, putrinya yang cantik, kini sukses di kota. Ia bekerja di salah satu hotel bintang lima. Putu tidak pernah kembali ke rumah. Setiap kali Pan Sari menelepon, Putu selalu berkata, “Aku sibuk, Ayah. Besok Ayah akan mengirimiku banyak uang.”

Namun, Pan Sari tidak mengambil uang itu. Yang dibutuhkan hanyalah Putu pulang, makan bersama, dan mengobrol di tempat tidur.

Setahun berusaha untuk maju. Keberhasilan Putu mengandung rasa bangga di hatinya. Dia melupakan awal mulanya. Dia melupakan bahwa dia pernah berada di dalam. Bahkan, ketika mendapat cuti, Putu tidak kembali ke desa, tetapi pergi berlibur ke luar negeri bersama teman-temannya yang kaya. Pan Sari di desa hanya bisa menatap, setiap malam berdoa di Sanggah Kemulan, memohon agar anak-anaknya selalu aman.

“Ya Tuhan, berikan kedamaian kepada Putu.” “Jika dia melupakanku, jangan lupa untuk menjaganya,” kata Pan Sari setiap pagi.

Suatu hari, tragedi menimpa Putu. Hotel tempat ia bekerja mengalami bencana besar, dan Putu difitnah sehingga dipecat (PHK) tanpa pemberitahuan. Tidak hanya itu, teman-temannya yang selalu bersamanya setiap hari, kini semuanya pergi ketika Putu tidak punya uang lagi. Putu menderita penyakit serius, lehernya tidak bisa berbicara, dan kakinya lemah dan tidak bisa berjalan.

Di sana Putu merasa hidupnya hancur berantakan. Ia tidak punya siapa pun di kota. Di tengah kesedihannya, ia bermimpi melihat ayahnya, Pan Sari, menyapu halaman yang rusak. Ayahnya tersenyum, tetapi matanya dipenuhi air mata.

Karena kecemasan dan kesedihannya, Putu mencoba kembali ke desa dengan sisa uangnya. Ia datang dengan taksi, tetapi ketika sampai di depan rumahnya, ia tidak bisa masuk. Ia merangkak di tanah, berjuang karena kakinya lemah.

Di sana ia melihat ayahnya, Pan Sari, Duduk di tempat tidur. Pan Sari semakin tua, penglihatannya semakin memburuk.

“Ayah… Ayah…” Putu mencoba berbicara, tetapi suaranya sangat serak.

Pan Sari yang mendengar seseorang merangkak, kemudian terbangun. Hal yang paling dipahami adalah meskipun Putu telah melupakan ayahnya, Pan Sari tidak marah. Ia memeluk Putu, menahan napas, dan menangis sambil menyeka air mata anaknya.

“Putu… Anakku… Akhirnya Putu pulang,” kata Pan Sari sambil memeluk Putu seerat mungkin.

Putu menangis di pelukan ayahnya. Ia merasa sangat bersalah. Ia merasa bahwa penyakit yang menimpanya adalah Karmaphala—akibat kelalaiannya terhadap orang tuanya. Namun, ia merasa berbeda. Cinta ayahnya juga merupakan karma dari kebaikan ayahnya yang selalu mendoakannya.

“Ayah, maafkan aku… Putu berdosa…” kata Putu dengan sangat lembut.

Pan Sari tersenyum, “Tidak perlu memaafkan, Putu. Orang tua tidak pernah menyimpan amarah pada anak-anak mereka.” Sekarang Putu sudah pulang, itu sudah cukup.

Rumah yang hancur itu kini menjadi saksi. Putu, yang dulunya sombong dan kaya, kini belajar menjadi pria sejati dari ayahnya yang rendah hati. Ia belajar bahwa kekayaan sejati bukanlah uang, tetapi pengabdian kepada orang tua dan rasa syukur kepada Tuhan.

Karma tidak selalu berupa air mata kesedihan, tetapi karma juga bisa menjadi kesempatan kedua bagi orang untuk kembali ke jalan yang benar.


Pesan Moral & Budaya:

  1. Karmaphala : Apa pun yang ditabur, itulah yang akan dipanen. Ni Putu menanam rasa lupa, ia merasakan kesepian. Tetapi pengabdian Pan Sari untuk menanam cinta, ia mampu mendapatkan kembali putranya.
  2. Pengabdian kepada orang tua : Di Bali, orang tua disebut “Guru Rupaka”. Menghormati orang tua adalah satu-satunya jalan menuju surga.
  3. Realitas Kehidupan : Kisah ini menunjukkan bahwa pariwisata dan kemajuan zaman dapat membuat kita kaya, tetapi jangan sampai kehilangan “ketahanan” untuk menjadi orang yang hebat.